Mr.Snowman

Mr.Snowman
Perubahan Kimmy



Dua hari sudah Kimmy menginap dan memetik pelajaran dari seorang anak kecil. Kini ia lebih tegar dan tangguh. Siapapun tak bisa membuatnya menangis tanpa alasan.


"Kim, gue mau bicara."


Ucap Dave mengawali pembicaraan di pagi hari.


"Oh iya boleh."


Jawab Kimmy sambil tersenyum. Ia kembali menjadi dirinya yang periang.


"Gue minta maaf Kim, gue udah salah paham."


Ucap Dave dengan mata penuh penyesalan.


"Gak apa Dave udah lewat, gue udah lupa. Semangat ya."


Ucap Kimmy sambil menepuk lengan atas Dave yang kekar.


Dave?


Batin Dave merasa ada yang janggal.


"Kita...."


Dave ingin melanjutkan ucapannya.


"Gue lanjut baca lagi ya."


Potong Kimmy yang mengetahui arah pembicaraan Dave.


Kimmy menghindari segala bentuk perasaan cinta yang orang lain bilang indah. Namun baginya bak lebam yang membiru, terasa sakit tapi entah di sebelah mana harus mengobatinya tak pernah ada yang tau.


Kini waktu istirahat, ia gunakan membaca buku resep makanan di perpustakaan. Kemudian pulang sekolah ia sempatkan melatih membaca beberapa anak di Pos Bahagia.


Sebisa mungkin Kimmy menghindari perasaannya dengan tidak bertemu dengan Dave.


Sudah sebulan ini ia rutin melakukan hal itu.


Begitu juga Ali, selama Kimmy dan Dave menjauh, ia rajin mengunjungi gadis pemilik nama asli Kimberly tersebut. Tak seperti cara Dave, ia melakukan pendekatan emosional dengan Marcel. Ali mengetahui kelemahan Kimmy ada pada kedua Kakaknya.


Tapi hingga saat ini, Kimmy menganggap Ali tak lebih dari teman baik. Ali tak mempermasalahkan itu, ia tak pernah memaksa Kimmy mencintainya dengan cepat.


"Pagiiiii... Sekarang cobain pancake buatan Chef Kimmy."


Ucap Kimmy pada Marcel dan Ali yang sudah menunggunya di meja makan sejak tadi.


Tok Tok Tok..


Baru saja Marcel akan menyuap makanan ke mulut, ia dengan sigap berdiri membukakan pintu.


"Aku aja Kak."


Ucap Kimmy.


"Udah Kak Marcel aja. Al, lanjutkan makannya."


Seru Marcel dengan senyum kemenangan.


Licik. Dia sengaja menghindari makanan ini.


Gerutu Ali dalam hati.


Marcel terkejut dengan seseorang yang berada di hadapannya, di rangkulnya sebagai pelepas kerinduan.


"Udah lama gak kesini lu Dave. Tambah kurus aja."


Kata Marcel sambil mengajak Dave ikut sarapan.


"Oh ya ni kenalin Ali, Ali ini Dave bagian keluarga ini."


Ucap Marcel memperkenalkan keduanya. Namun yang ada Ali dan Dave saling menajamkan tatapan mereka.


Kimmy merasa canggung dengan keberadaan Dave yang tiba-tiba.


"Mereka udah kenal Kak."


Ucap Kimmy menghentikan aksi tatap keduanya.


"Ayo makan, mudah-mudahan ini enak ya. Kimmy sebulan ini masak terus, Dave. Tapi gak ada yang bisa dimakan, kadang gue kira lagi minum air laut, atau makan batu, atau kadang rasanya persis buah mengkudu. Untung si Ali lidahnya mati rasa. Dia yang selalu habisin masakan Kim."


Jelas Marcel mengkritik adiknya sekaligus memuji Ali.


"Enak kok."


Ucap Ali bersemangat. Kimmy hanya melihat ekspresi mereka. Ia tak mau ikut dalam kelinci eksperimennya.


"Bohong lu."


Timpal Marcel.


"Beneran Kak coba deh."


Kata Ali bersemangat. Kimmy membuka mulut ragu-ragu ke arah Ali. Ini hal yang sudah mulai terbiasa dilakukan keduanya saat mencicipi makanan buatan Kimmy.


Hap


Kimmy menggigit suapan pancake dari sendok Ali. Dave mengepal tangannya. merasakan hatinya panas seperti berapi, namun tak dapat melakukan apapun. Bukan haknya untuk melarang Kimmy dekat dengan pria manapun termasuk seseorang yang pernah menjadi rivalnya.


"Yeeaayy berhasil. Aku mau ikut Kak Tomi kalo udah jago."


Ucap Kimmy sambil melompat-lompat.


"JANGAN!"


Ucap Dave dan Ali serempak. Keduanya tak ingin jauh dari wanita ini.


"Hahaa kalian percaya aja. Si Kimmy kan cita-citanya kerja sama gue di Bank. Tapi di bagian accounting. Makanya ambil jurusan akuntansi."


Jelas Marcel sambil mentertawai keduanya.


"Tapi aku serius Kak. Kalo udah jago masak. Aku mau ikut Kak Tomi. Kalo gak enak, ya baru deh jadi akuntan."


Kata Kimmy meyakinkan.


"Labil."


Timpal Dave.


Ucap Ali.


"Hahaha, biar gue gak jadi ikut Kak Tomi gitu?"


Tanya Kimmy sambil memukuli tangan Ali.


Dave merasa asing di tempat ini. Ali orang baru bisa begitu dekatnya dengan Kimmy dan Marcel.


"Kalo gitu, gue pamit pulang dulu."


Ucap Dave merasa tak nyaman berada disini.


"Loh cepet banget Dave? Nanti dulu lah. Temenin Kimmy. Gue sama Ali mau beli keperluan hiking. Sore udah balik. "


Minta Marcel. Sekarang giliran Ali yang merasa tak nyaman. Ia takut keduanya kembali dan harapannya mendekati Kimmy musnah. Ali tahu jelas dari sorot mata Dave dan Kimmy, mereka masih saling mencintai.


"Gak usah Kak. Aku gak apa-apa sendiri."


Tolak Kimmy, ia tak ingin terjebak dalam satu waktu dan hanya berdua dengan Marcel.


Ali lega ketika Kimmy melakukan penolakan.


"Oke kak, Gue temenin Kim kalo gitu. Siapa yang mau hiking?"


Tanya Dave.


Dan kini Ali kembali gelisah.


"Ya dia lah, lagi belajar jadi pendaki. Mau cari Kak Gea yang hilang cita-citanya. Dari dulu ada, dicuekin. Hilang dicariin. Carinya di gunung pulak. Nyari Kak Gea apa nyari wangsit? Lagian emang kata-kata terakhir Kak Gea itu apa? dia bilang mau bertapa?"


Ledek Kimmy tak berhenti.


Marcel melotot kearah Kimmy. Seketika mulut perempuan itu berhenti tertawa.


Kemudian Marcel segera mengajak Ali berangkat, malas mendengar sang adik berlama-lama menggodanya yang tidak-tidak.


Kini tinggal Dave dan Kimmy berdua.


Keduanya terdiam bingung hendak membicarakan apa.


"Kalo mau istirahat langsung ke kamar Kak Tomi aja. Masih ada barang-barang lu. "


Ucap Kimmy membukakan pintu kamar Tomi dan sedikit merapikannya.


"Masih sama. Ali gak nginep disini?"


Tanya Dave yang ikut masuk kedalam kamar Tomi.


"Enggak. Ali biasa dateng pagi pulang siang atau datang sore pulang malam. Tergantung Kak Marcel ada di rumah jam berapa."


Jawab Kimmy yang sekarang sedang menyapu.


"Dari kapan rajin begini?"


Goda Marcel.


"Semenjak gak bisa mengharapkan siapa-siapa lagi."


Jawab Kimmy sambil tertawa. Ia tak bermaksud menyinggung Dave, tapi memori Dave terasa tersentil ketika ia merasa tak dapat diandalkan di masa-masa sulit Kimmy.


"Maafin gue, Kim."


Tiba-tiba Dave memeluk tubuh Kimmy. Mendekapnya dengan penuh kerinduan.


"Dave lepasin."


Berontak Kimmy.


"Sejak kapan lu manggil gue dengan sebutan itu?"


Tanya Dave yang masih memeluk Kimmy.


"Sejak kita putus."


Jawab Kimmy.


"Ya udah gue tarik. Kita gak jadi putus."


Ucap Dave.


"Enggak bisa gitu Dave."


Tolak Kimmy.


"Lu pacaran sama Ali?"


Tanya Dave. Kimmy menggeleng.


"Lalu?"


Dave menunggu penjelasan.


"Gue emang masih belum dewasa. Belum bisa ngerasain sakit karena sebuah hubungan. Jadi gue putusin untuk gak mau terikat. Mending fokus bahagiain Kak Marcel dan Kak Tomi."


Jawab Kimmy.


"Kalo Ali nyatain perasaannya, apa lu akan jawab hal yang sama?"


Tanya Dave yang masih menaruh cemburu pada Ali.


"Ali gak akan ngomong begitu, dia tau tujuan gue sekarang. Lagian kami cuma berteman."


Jawab Kimmy yakin. Karena memang saat-saat hati Kimmy tersakiti oleh Dave, Ali adalah orang yang membantunya bangkit.


"Jadi sampai kapan gue harus nunggu lu?"


Pertanyaan terakhir Dave.


"Gue gak minta lu nunggu gue. Lu berhak bahagia dengan cara lu sendiri."


Jawab Kimmy sambil melepaskan pelukan Dave. Setegar ia melepaskan pria ini untuk berjalan meraih mimpinya.


"Baik."


Sahut Dave lemah.