Mr.Snowman

Mr.Snowman
Sampai padamu



Operasi itu pun berjalan dengan lancar. Seluruh keluarga bersyukur untuk keselamatan Ali. Namun kondisi Ali pasca operasi belum stabil. Setelah mendapat kabar dari Tomi mengenai keadaan Ali, Dave segera menghampiri mereka. Tak peduli lagi dengan cacian dari Kimmy ataupun Tante Lena ibunda Ali. Baginya Ali lebih berharga dari sekedar kutukan yang dilontarkan beberapa orang kepadanya.


"Tante, Gimana keadaan Ali? "


Tanya Dave yang berlari tergopoh-gopoh.


"Ali belum sadar pasca operasi."


Jawab Lena tegar.


"Maafin saya dan Mami ya Tan. Saya siap menerima hukuman setelah memastikan kondisi Ali. "


Ucap Dave menyesal.


"Kamu pulang aja ya. Kimmy masih terguncang, kasian dia. Kasian juga kamu jadi pelampiasannya."


Lena dan Dave melihat kearah Kimmy yang duduk dengan sikap berdoa.


"Saya gak bisa ninggalin Ali lagi Tan. Tapi kalau tante gak keberatan, Dave mau tetap disini sampai dia sadar."


Minta Dave.


"Ya sudah, tapi kalau Kimmy marah Dave sebaiknya cari tempat yang agak jauh ya. "


Jawab Lena .


"Tante gak benci sama saya? "


Tanya Dave gagap.


"Enggak Dave. Tadi sebelum tante tanda tangan persetujuan operasi Ali, Ali sempat sadar dan dia bilang -- Ma tolong sayangi Dave seperti mama sayang Ali.-- Jadi, tante gak bisa marah lagi sama kamu."


Lena mengusap bahu Dave dengan lembut.


Dave pun tersenyum penuh haru. Kini hanya satu orang yang membencinya akibat peristiwa ini. Ya, wanita di sudut kursi tunggu pasien. Kekasih Ali yang juga menjadi belahan jiwanya. Kimberly setelah berdoa matanya masih menghunus tajam diri Dave yang tak bersalah.


"Kim kamu belum makan apapun daritadi."


Marcel menyodorkan teh hangat dan sepotong roti.


"Enggak, di perut masih ada bakso yang aku makan sama Ali tadi."


Kimmy mulai menangis lagi mengingat hal yang terjadi antara dirinya dan Ali sebelum peristiwa naas itu terjadi.


"Nanti Ali sadar, lu malah pingsan. Makanlah sedikit dek."


Ucap Tomi yang selalu tau cara membujuk sang adik. Kimmy pun makan tanpa *****, memikirkan kondisi Ali yang tak kunjung sadar.


Di dalam tidurnya, Ali bermimpi bertemu sepasang suami istri yang menyambutnya hangat. Ia terus mengingat dimana pernah bertemu.


"Ali Christian, Terimakasih telah menjaga anak kami dan membuatnya bahagia."


Ucap Seorang laki-laki gagah yang umurnya tak jauh dari ayahnya.


"Ayah ibu Kimmy? Berarti saya sudah... ? "


Tanya Ali terkejut.


"Lihat dibawah, Kimmy masih membutuhkanmu dan berdoa untukmu . Pergilah kepadanya, jangan biarkan kebencian merusak hatinya."


Ibunda Kimmy berkata dengan lembut bak malaikat yang menyejukkan Ali.


...***...


Seorang perawat dari kamar Ali berlari tergesa-gesa memanggil dokter.


"Kenapa sus? "


Kimmy dan Lena panik melihat ekspresi perawat tersebut. Namun perawat itu tak memberi penjelasan apapun. Ia tetap berlari mencari dokter yang menangani Ali.


"Keluarga pasien harap tetap menunggu diluar."


Ucap perawat sekembalinya dengan seorang dokter.


Kimmy menggigiti ujung jarinya, kekuatirannya begitu besar.


Dalam beberapa menit perawat tadi keluar lagi.


"Pak Ali sudah sadar, kalau mau ke dalam satu persatu ya. Jangan berisik. Pak Ali masih pemulihan."


Ucap perawat tersebut.


Kimmy sesungguhnya sudah tidak sabar melihat keadaan kekasihnya. Namun ia masih berpikir realistis, seorang ibu pasti lebih menyayangi anaknya lebih dari siapapun. Maka ituu ia mempersilahkan Lena menemui Ali lebih dulu.


Lena pun memandangi anaknya yang pucat, Ali yang sama seperti tujuh tahun lalu. Terbaring lemah.


"Ali sayang mama."


Ucap Ali perlahan menahan sakit.


"Mama juga sayang kamu."


Lena memeluk anaknya.


"Maafin Ali ya ma selama ini cuma nyusahin mama. Sekarang Ali gak akan buat mama susah lagi."


"Ma, nikah lagi lah ma. Supaya ada teman mama di masa tua mama. Ali gak mau mama kesepian terus. Dan anggaplah Dave anak mama juga seperti Ali. Jangan sedikitpun membencinya."


Ali masih berbicara dengan senyum khasnya. Wajah konyol seakan tak terjadi apapun.


"Makasih Ali udah buat mama jadi orangtua yang berhasil. Berhasil mempunyai anak berhati malaikat seperti kamu."


Lena meletakkan kepalanya diatas kasur Ali. Menumpahkan air matanya yang sudah tak dapat dibendung lagi.


"Mama keluar ya. Nanti mama panggilin Kimmy. Kasian dia nangis terus."


Lena mengedipkan matanya.


"Sekalian Dave ya Ma."


Minta Ali.


Walaupun ragu karena Kimmy terlihat begitu tak suka dengan keberadaan Dave, Lena tetap menuruti kemauan anak semata wayangnya.


Baru membuka handle pintu, Kimmy sudah berdiri di hadapannya.


"Dave kamu ditunggu Ali."


Lena menyampaikan pesan Ali.


"Ya udah lu duluan aja."


Kimmy mundur dan mempersilahkan Dave.


"Dua-duanya kata Ali."


Ucap Lena lagi.


Kimmy terperangah mendengarnya. Namun ia tetap menyanggupi kemauan kekasihnya.


Di dalam ruangan, Kimmy mengambil tempat sebelah kanan Ali. Sebisa mungkin tak bersentuhan dengan Dave yang berada di sebelah kiri Ali.


"Maafin gue ya Al."


Dave mengawali pembicaraan terlebih dahulu, karena Kimmy hanya terdiam memandangi kekasihnya yang terlihat bak mayat hidup. Wajahnya sangat putih namun tak ada gairah.


"Enggak usah minta maaf Dave. Ini bukan salah lu. Gue justru mau berterimakasih tadi mau lindungi Kimmy dengan tubuh lu."


Ucap Ali membuat Kimmy tersentil. Ia membenci orang yang mati-matian melindunginya.


"Al, banyakkin istirahat. Ngomongnya udahan dulu ya."


Minta Kimmy yang khawatir dengan keadaan prianya.


"Iya aku istirahat sehabis ngomong sama kalian."


Ucap Ali tersenyum.


"Kim, makasih udah buat hari-hariku berwarna. Makasih udah mencintai aku dengan tulus. Tapi kembali pada awalnya, aku cuma mengantarmu untuk sampai kembali pada Dave."


Ali melanjutkan pembicaraannya.


"Ngomong apa sih Al? Kimmy itu cintanya cuma sama lu. Ayo lah Al semangat lu bakal sehat kaya dulu lu pernah berjuang."


Dave menyemangati Ali.


"Dengerin gue.,kalian akan saling menjaga. Janji sama gue."


Ali menyatukan tangan Kimmy dan Dave diatas tubuhnya.


"Cukup Al. Aku cinta sama kamu. Sampai kapanpun gak akan aku ubah."


Kimmy mencium bibir Ali dihadapan Dave. Dave memalingkan wajahnya dari pemandangan itu.


"Kim, mau aku sampein apa ke ayah dan ibumu?"


Tanya Ali sembari tertawa.


"Kamu ngaco Al. Lebih baik aku keluar dulu. Efek biusnya masih kerja kayanya, sampe kamu ngelantur kaya gitu."


Kimmy berjalan ke pintu dengan wajah masam.


"Itulah kenapa kemeja dan jas Beast nya bolong. Karena memang bukan untuk aku. "


Ali masih meledek Kimmy, membuat Kimmy benar-benar marah dan membanting pintu.


Kemeja nya bolong kan karena kena tembakan. Dasar ngelantur.


Gerutu Kimmy di dalam hati.


"Udahlah Al, jangan digoda terus. Lu mau dia tambah benci gue? Baru pertama kali liat dia memusuhi orang dan itu gue. haha"


Tawa Dave begitu terpaksa.


"Benci dan cinta itu lebih tipis daripada sehelai kertas, Dave.-- Gue udah menuhin janji gue, untuk berjalan mengantar dia sampai ke elo. Kalau dia berhenti di tempat gue menyerahkannya ke lo, itu adalah tugas lu untuk membawanya berjalan maju lagi. Tugas gue selesai."


Ucap Ali bersamaan dengan rekam layar jantung yang menggambarkan garis datar dan bunyi yang membuat kaki Dave terkulai lemah.


Jangan lupa Like, Comment dan Votenya yah. Akhirnya double up. Bisa kali Bunga, Hati atau kopinya 😂💕