Mr.Snowman

Mr.Snowman
Level



Kimmy membantu Anne menyiapkan makan malam. Anne menuangkan makanan yang ia pesan di restoran seafood ke atas piring-piring mewah nan elegan berwarna putih dengan dikeliling garis berwarna gold di bagian luar. Sedang Kimmy sibuk menerima piring-piring yang sudah diisi makanan tersebut dan mengantarnya ke meja makan. Lalu ia susun sedemikian rupa.


"Ini makanan kesukaan Dave loh, Kim."


Kata Anne memecah keheningan.


"Iya Tan, tapi boleh saya buatkan telur goreng buat Dave? Belakangan ini dia sedang suka menambahkan telur di makanannya."


Ucap Kimmy tak enak hati.


"Oh boleh. Silahkan."


Anne mempersilahkan Kimmy membuat telur goreng untuk Dave. Karena hanya itu makanan yang tak mendapat komplain dari Marcel, Gea dan Dave jika ia hidangkan.


Kimmy meletakkan telur di meja yang akan menjadi tempat makan Dave. Anne memperhatikannya dengan tersenyum.


"Kamu tau darimana saya suka kue-kue ini?"


Tanya Anne sambil mengunyah buah tangan Kimmy.


"Dari Dave Tan ."


Jawab Kimmy berbohong. Ia berniat membantu Dave dan ibunya berbaikkan seperti yang pernah ia lakukan terlebih dahulu pada Dave dan ayahnya.


"Ah anak itu, saya kira dia gak peduli. Oh iya, jadi orang tua kamu kerja dimana?"


Tanya Anne.


"Saya yatim piatu dari kecil, Tan. Saya dan dua kakak saya dulu tinggal di panti."


Jawab Kimmy.


"Loh si Dave ini bodoh atau gimana?"


Gumam Anne yang terdengar oleh Kimmy.


"Kenapa Tante?"


Tanya Kimmy bingung.


"Saya sudah pernah bilang kalau tidak bisa cari pasangan yang lebih tinggi levelnya dari kami. Minimal satu level lah."


Jawab Anne sinis. Wajahnya yang ramah mendadak menyeramkan.


"Memberi level pada seseorang berdasarkan apa Tan kalo saya boleh tau?"


Tanya Kimmy polos.


"Dari bibit, bebet, bobotnya. Lah kamu gimana liatnya? orang tua aja udah gak ada. Nentuin levelnya gimana dong?"


Ucap Anne. Kimmy berusaha menahan air mata sekuat batinnya.


"Iya Tan, kami memang gak ada levelnya. Kami cuma punya kehangatan dan cinta yang banyak."


Kimmy menceritakan apa yang ia dan dua saudaranya miliki.


"Gak penting, non. Kami butuh nama baik dan reputasi."


Jawab Anne.


"Nama baik yang buat Dave sebatang kara? Reputasi yang buat Dave lebih kerasan tinggal di rumah kami?"


Tanya Kimmy telak. Tak terasa air mata yang dari tadi ditahannya tumpah juga.


"Kamu tau pintu keluar kan?"


Anne mengusir Kimmy. Kimmy bergegas meninggalkan tempat itu tanpa permisi pada Dave dan James.


Ia berjalan tak tentu arah, tubuhnya lemas. Cintanya dan Dave yang sudah mendapat restu dari sang kakak justru mendapat penolakan dari Ibunda Dave.


Dave dan James keluar bersamaan, Dave sudah siap dengan kaos tanpa lengan, mempertontonkan otot di tangannya. James juga sudah mengganti pakaian dinasnya.


"Kim, mana Mi?"


Tanya Dave sambil melihat telur dadar diantara seafood mahal pilihan Anne. Ia sadar satu yang berbeda itu adalah masakan Kimmy.


"Pergi katanya ada perlu. oh iya tadi dia gorengin telur katanya kamu lagi suka makan itu ya?"


Jawab Anne.


"Gak mungkin Mi, Dave tau banget Kim."


Ucap Dave sambil meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Kimmy. Namun tak berhasil, panggilannya tak tersambung.


"Pi, Mi.. Dave cari Kim dulu.".


Dave memohon izin. James mengangguk.


"Loh ini makan dulu. Mami udah siapin makanan kesukaan kamu loh."


Anne menahan langkah anaknya.


"Dave takut ada apa-apa sama Kim."


Jawab Dave panik.


"Udahlah. Anak dari keluarga gak jelas gitu. Kamu balik aja sama Jemima."


Ucap Anne membalikkan tubuh Dave yang sudah mau beranjak.


"Oh jadi bener ya pasti gara-gara Mami."


Geram Dave. James mengelus-elus kepalanya yang mulai pusing mendengar pertikaian anak dan istrinya.


"Ayo makanlah. Mami udah beli di resto yang mahal itu loh. Kan kamu suka."


Minta Anne.


"Bahkan Kimmy yang baru satu tahun kenal sama Dave, lebih tau Dave ketimbang Mami yang dua puluh tahun sama Dave."


"Tau kenapa Kimmy gorengin telur untuk Dave? Karena Dave alergi udang dan semua seafood mahal yang Mami beli. Tapi dia hebat gak mau nyinggung perasaan Mami yang udah susah payah siapin ini.


Dave melanjutkan ucapannya.


"Alasan."


Ucap Anne.


"Iya Dave memang suka. Tapi setelah kita pulang dari resto itu tubuh Dave merah-merah. Dave demam. Mami emang gak pernah tau. Mami langsung pergi saat itu. Sampe ibu kepala panti sebelah yang bawa Dave ke rumah sakit."


Dave mengingat kejadian beberapa tahun lalu.


Anne menutup mulutnya, ia terpukul mengetahui pandangan anaknya terhadap dirinya. Air matanya mengalir deras.


"Maafin Mami, Dave. Mami akan ubah sikap Mami selama ini. Tapi tolong jauhin perempuan tadi. Kembali lah sama Jemima."


Minta Anne memohon.


"Buat apa? Biar Dave bernasib sama kaya papi? Apa bedanya Mami dan Jemima? Sama-sama menjual cinta demi reputasi. Mami nikah sama papi karena nama baiknya kan? makanya Mami gak bahagia begitu juga sama papi. Dia gak bahagia mi. Lepasin aja papi."


Cerocos Dave tak terhenti. Ia mengeluarkan segala yang ada di kepalanya selama ini.


Plaaakkkk


Sebuah tamparan dari Anne mendarat di pipi Dave.


"Anne! Dia bukan Dave kecil yang bisa kita pukul lagi. Dia sudah besar. Jangan kau sentuh lagi."


Teriak James memekakan telinga.


Dave pergi tanpa permisi, ia meninggalkan Anne dan James tanpa menyentuh makan malam yang sudah disiapkan.


"Keterlaluan."


Gerutu James pada Anne sambil kembali ke dalam kamar.


Anne masih terus menangis.


Kamu dimana, Kim? Ini sudah mau hujan


Batin Dave tak tenang.


Sedang Kimmy masih berjalan dibawah rinai hujan yang mulai turun.


Tiinnn..


Lamunan Kimmy dikejutkan dengan suara klakson motor.


"Naik. Ini akan hujan deras."


Seru seseorang dibalik helm full face berwarna hitam.


"Ali..."


Ucap Kimmy terhenyak. Ia segera naik ke atas jok motor Ali.


Hujan semakin deras, Ali tak menepi sesuai permintaan Kimmy.


"Al mau kemana?"


Tanya Kimmy yang merasa jalan diambil Ali bukan arah ke rumahnya.


"Ke rumah gue dulu. Lu mau Kak Marcel liat lu begini?"


Jawab Ali.


"Tapi nanti nyokap lu gak suka sama gue. Udah ah gue gak mau denger hinaan dari Mama lu atau Mami Dave lagi."


Teriak Kimmy.


"Hahahaa Mama nanyain lu kemarin. Setelah gue jelasin, perkataan Mama menyinggung lu yang sudah gak ada orang tua. Mama merasa bersalah."


Ucap Ali.


"Maaf Dave.."


Ali menarik tangan Kimmy agar memeluk pinggangnya erat. Angin bertambah kencang. bersamaan dengan laju motor Ali yang menabrak dinginnya hujan.


Ali bisa merasakan tangisan Kimmy di punggungnya yang basah karena hujan dan air mata Kim.


Gue udah bilang jangan sekali lagi buat dia nangis.


Geram Ali.


Lena menyambut keduanya dengan hangat.


"Kalian mandi dulu."


Ucap Lena pada Ali dan Kimmy.


"Gak mau. Kan udah gede Tan."


Jawab Kimmy polos. Membuat anak dan ibu tersebut tertawa.


"Ali di kamarnya. Kamu di kamar tante."


Ucap Lena sambil menyiapkan beberapa bajunya yang cukup untuk Kimmy.


Selesai mandi, Kimmy memperhatikan pigura di kamar Lena yang banyak terpampang foto Ali.


Ganteng juga lu, Li


Gumam Kimmy sambil memegang foto di nakas kamar Lena.


"Itu foto waktu Ali baru sembuh. Wajahnya udah gak pernah tersenyum lagi. Baru tadi Tante liat dia ketawa lagi pas nyuruh kalian mandi dan denger jawaban kamu."