
Mau sekencang apapun Dave berlari tadi, ia dan Kimmy tetap terlambat. Membuat keduanya mendapat ceramah didepan seluruh teman kelasnya.
Kimmy hanya tersenyum saat dimarahi, sedangkan Dave yang emosinya hampir terpancing mereda melihat sikap Kimmy yang seperti itu.
Dua puluh menit sudah Dosen membuang waktunya menceramahi kedua mahasiswanya.
Dave dan Kimmy kembali ke tempat duduknya.
Dilihatnya wajah Kimmy berseri-seri setelah dimarahi.
Gila, cuma telat masuk dua menit, diceramahinnya dua puluh menit.
Gerutu Dave.
"Heh, Kenapa lu diomelin malah senyum-senyum terus?"
Tanya Dave kesal dengan Kimmy. Tak kompak menurutnya.
"Hehehe, soalnya gue gak denger si bapak ngomong apa."
Jawab Kimmy berbisik
"Hah?"
Dave menghela napas, terkejut dengan jawaban Kimmy. Dave yakin Kimmy manusia yang jarang berbohong, buktinya selama ini selalu jujur mengutarakan apa yang ia rasakan terhadap Dave.
"Iya, gak usah dengerin hal yang bakal buat mood kita jadi jelek, Snowman."
Ucap Kimmy mengajarkan manusia tempramental dibelakangnya.
Dave tak lagi mengajaknya berdebat, percuma menurutnya.
Pulang kuliah, saatnya mereka mengerjakan tugas wawancara terakhir. Dave cukup lega, besok-besok dia tak perlu dibuntuti manusia yang merepotkannya ini.
Kimmy keluar kelas terlebih dahulu dan sudah bertengger diatas jok belakang motor Dave.
"Ngapain lu disini?"
Tanya Dave heran.
"Kan kita mau kerjain tugas terakhir."
Jawab Kimmy mengingatkan.
"Terus?"
Dave menanti alasan yang kuat.
"Bareng. Nanti lu kuatir lagi sama gue."
Ucap Kimmy sambil mengipasi wajahnya yang mulai berkeringat.
"Gue kuatir sama lu bukan apa-apa. Nanti kalo lu lecet sedikit, abang lu lebay."
Jawab Dave sambil memakai helm membiarkan Kimmy ikut dengannya.
"Peluk jangan?"
Tanya Kimmy pada Dave yang sudah menstater motornya.
"Jangan pernah!"
Ucap Dave tegas yang dipatuhi Kimmy.
Mereka sampai di tempat terakhir, mengerjakan dengan terburu-buru. Mendadak Dave di hubungi seseorang mengenai jadwal pertandingan yang berlangsung dua jam lagi.
Hanya dalam satu jam mereka telah menyelesaikan tugas. Dave menarik gas motornya dengan kencang berpacu dengan waktu.
Kimmy memeluknya dengan penuh ketakutan. Takut jatuh pastinya ketimbang takut diomeli Dave karena telah memeluknya. Sedang Dave terlupa bahwa dirinya membawa perempuan ini bersamanya.
Dave turun dari motor meninggalkan Kimmy di parkiran arena tanding. Kimmy ikut masuk ke dalamnya tanpa disuruh. Kemudian duduk di kursi penonton. Lima menit berselang, Dave keluar menggunakan sarung tangan dan celana boxer berwarna merah. Di sisi lain, lawannya memakai kostum berwarna biru.
Pertandingan di mulai, Kimmy maju ke depan, tepat di samping ring, kemudian memperagakan gerakan-gerakan bertinju.
"Hiyaa.. Hiyaa... rahangnya, hajar hajar."
Kimmy berteriak sambil beradegan seolah dia petinju profesional.
Bruaakk
Dave terpelanting dihajar telak oleh musuh.
Matanya tak lagi fokus pada lawan, ia fokus pada perempuan yang menyemangatinya dengan cara yang aneh itu.
Ronde pertama berakhir, Dave memanggil Kimmy ke sudut ring miliknya.
"Pulang lu! Sial gara-gara ulah lu nih."
Ucap Dave.
"Tunggu sampe selesai ya Snowman, plis."
Ucap Kimmy memohon.
Entah kenapa jika Kim berbicara diujungnya berakhir kata please, Dave luluh dan tak berani menolaknya.
"Tapi jangan nyusahin!"
"Iya gue duduk diem deh. Janji."
Jawab Kimmy sambil mengangkat dua jarinya.
Ia tak lagi berulah, hanya memperhatikan Dave dari kursinya. Kimmy sungguh makin terpesona melihat tubuh atletis milik Dave yang kalau bisa ingin ia menyandarkan kepala diatasnya.
Dua ronde terakhir, Dave balik melumpuhkan lawannya berkali-kali. Menjadikannya juara di pertandingan ini. Kimmy melompat kegirangan menyaksikan kemenangan Dave.
Saat Kimmy sedang melompat-lompat dari tempatnya, disitulah isi kepala Dave mulai kembali mengenang Jemima. Gadis SMA yang selalu memberikan tepuk tangan usai pertandingan, memberinya semangat dengan caranya yang anggun. Tidak seperti Kimmy yang tak bisa diam.
"Selamat ya."
Kimmy mengulurkan tangannya ke Dave yang masih mengkhayalkan Jemima berada di depannya.
"Iya Je, thank you."
Jawab Dave sambil tersenyum menerima jabatan tangan Kimmy.
"Je? Gue Kim."
Kimmy memprotes kesalahan Dave.
Lalu dengan segera Dave mendorong tubuh Kimmy ketika tersadar dari lamunannya.
"Aduh, kenapa harus di dorong sih?"
Tanya Kimmy sambil berusaha berdiri.
Dave terdiam melihat Kimmy yang menepuk-nepuk celananya, sepertinya agak sakit terlihat dari mimik wajahnya. Ia menunggu Kim bereaksi, tak sabar melihat kemarahannya.
Mana mungkin gak marah, udah salah panggil nama, didorong juga sampe jatuh.
Dari ketidaksengajaan, itulah yang Dave harapkan. Perempuan ini marah, diam, ngambek, dan tak lagi mengganggu hidupnya.
"Yuk pulang.."
Ucap Kim tersenyum manja setelah berdiri.
"Lu gak bisa marah? Gimana supaya lu marah?"
Tanya Dave keheranan.
Kimmy menggeleng. Ia juga tidak tahu caranya marah. Dari dulu sebelum ia meluapkan emosinya, kedua kakaknya sudah terlebih dahulu memarahi orang yang menyakiti dirinya. Ia tidak pernah punya kesempatan untuk membela dirinya sendiri.
"Gak tau dan gak penting juga."
Jawab Kimmy.
"Gue akan cari tau caranya!"
Ucap Dave ngotot pada dirinya.
"Jangan coba!"
Balas Kimmy memperingati sambil berjalan keluar menunggu Dave.
Kemudian Dave mengantar Kimmy pulang sampai di tempat biasa.
Tak ada kata yang diucapkan Dave walaupun sekedar basa-basi.
Kimmy berjalan menuju rumah dan berpapasan dengan Tomi. Namun Kakak laki-lakinya tersebut hanya diam saja tak menawarkan tumpangan.
Loh kok jadi dia yang diemin gue?
Gerutu Kimmy.
Sampai dirumah, Tomi sudah menyiapkan makanan di atas meja untuk adiknya. Ia tak berbicara selama di rumah, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
Kimmy yang juga tak mau kalah, ikut mengurung diri di dalam kamar, sebelumnya mengambil dan membawa masuk makanan yang sudah disiapkan Tomi.
Kimmy membuka laptop dan mulai mengerjakan laporan surveynya beberapa hari ini.
Dikerjakannya hingga malam, sampai kelelahan dan tertidur dengan kertas yang berserakan.
"Dia masih ngambek?"
Tanya Marcel yang baru sampai di rumah.
"Iya, gak keluar dari tadi."
Jawab Tomi melaporkan yang ia lihat.
"Udah makan belum?"
Tanya Marcel lagi yang khawatir.
"Tadi sore udah, dibawa masuk ke kamar."
Jawab Tomi yang daritadi mengintip adiknya dari celah pintu kamar.
"Ya udah biarin dulu."
Perintah Marcel agar membuat efek jera pada sang adik.