Mr.Snowman

Mr.Snowman
Anak kecil itu, kamu



Berita kepergian Anne telah sampai pada telinga Dave dan juga keluarga Kimmy.


Dave diberi kelonggaran waktu dari para petinggi akademi melihat ibunya untuk terakhir kali. Ia begitu terpukul mengetahui kenyataan pahit yang datang bertubi-tubi kepadanya dalam tahun terakhir ini.


Lena mengajak keluarga Kimmy untuk ikut berbelasungkawa ke kediaman Dave dimana jasad Anne berada sebelum dikebumikan.


"Arrghh anak itu pergi dari rumah, apa dia bisa jaga diri sendiri? Selama ini gak pernah jauh dari kita."


Gerutu Marcel yang duduk di kursi kemudi.


"Udahlah kita biarin dulu. Dia kan ninggalin kontaknya yang baru. Alamatnya juga ada. Nanti habis Wanda lahiran kita kesana."


Ucap Tomi menenangkan Marcel.


"Nanti Dave ada disana. Kalian tolong jaga pesan Kimmy untuk gak bocorin keberadaannya. Biarin Kimmy tenang dulu. Dan biar Dave berusaha memperjuangkan Kimmy."


Kata Lena.


"Gak perlu tau lah dia tan. Biarin Kimmy bahagia sama orang lain."


Jawab Tomi yang merasa sakit hati mendengar kabar bahwa sebelum kematian Anne, ia ingin mencelakai adiknya.


"Kamu gimana sih? Kan ibunya Dave udah gak ada. Berarti aman dong?"


Jawab Wanda.


"Husshh. Ibu hamil jangan suka ngomong sembarangan."


Gea membungkam mulut Wanda yang asal bicara.


Mereka berhenti di depan rumah yang pekarangannya terdapat karangan bunga bertuliskan belasungkawa terhadap Alm. Anne.


"Yakin ini rumahnya?"


Tanya Marcel heran.


"Iya itu ada James."


Lena menunjuk seorang pria yang bersalaman dengan para pelayat.


"Ini dulu kan panti kita Cel. Sebelum pindah."


Tomi menunjuk bangunan di sebelah rumah Dave yang kini menjadi rumah mewah.


"Iya gue dari tadi mikirin itu. Harusnya ini rumah Omen kan?"


Tanya Marcel lagi.


"Iya. Tapi mungkin dibeli keluarga Dave."


Jawab Tomi sambil mengangkat bahu tak yakin dengan jawabannya.


Kelimanya masuk dan mengucapkan belasungkawa terhadap James dan Dave.


Dave memutar badannya mencari keberadaan Kimmy ditengah mereka.


"Kamu sabar ya. Kimmy pergi dia kerja dan tinggal di suatu tempat yang kita gak bisa sebut karena sudah janji. Selesaikan pelatihanmu. Baru fokus dengan yang lain."


Ucap Tante Lena saat mengetahui apa yang ada di pikiran Dave.


Arrghh apalagi ini. Aku butuh kamu Kim. Kenapa kamu tinggalin aku disaat-saat begini?


Dada Dave bergemuruh. Ingin teriak namun semua percuma. Semua pergi meninggalkannya.


Dave mempersilahkan keluarga Kimmy untuk masuk ke kediamannya. Tomi dan Marcel terguncang sesaat, ketika pigura terletak di setiap sudut tembok rumah besar ini. Foto dimana yang menunjukkan perjalanan hidup Dave dan keluarganya dari ia kecil hingga dewasa.


"Omen"


Ucap Tomi bergetar. Marcel tak kalah terkejut.


"Gue yakin itu foto Om James dan Tante Anne waktu muda. Berarti anak itu ... "


Marcel berbisik dan tak melanjutkan kalimatnya.


Keduanya berulang kali melirik foto Omen dan Dave yang berada di tengah mereka bergantian.


"Gue tau lu juga penasaran. Tapi ini suasana berduka. Gak tepat nanya Dave sekarang."


Marcel menepuk bahu Tomi yang terlihat antusias.


Dave duduk termenung di samping peti ibunya. Ia sama sekali tak memperhatikan dua orang yang berbisik mengenai dirinya.


James meminta maaf kepada keluarga Kimmy.


Dave yang tertunduk segera berdiri tersentak mendengar kenyataan yang baru ia ketahui.


"Maksudnya pi? "


Tanya Dave menunggu penjelasan.


"Tadi pagi, Kimmy ke rutan nemuin mami. Dia pamit dan bilang mau pergi dari hidupmu, makanya dia minta mami untuk ngelepasin kamu dan gak menekan kemauannya lagi."


Jawab James.


Dave yang sedari tadi menguatkan dirinya untuk tidak menangis akhirnya luruh juga.


"Dulu aku yang ninggalin kamu untuk kebaikanmu, sekarang kamu berbuat itu untukku."


Ucap Dave lirih.


Tomi menepuk bahu Dave berharap ada kekuatan yang mengalir di dirinya. Setelah melihat seluruh foto, ia tak niat bertanya tentang Omen pada Dave. Karena ia yakin betul, mereka adalah sosok yang sama.


Besok pagi adalah acara pemakaman Anne. Marcel dan Tomi yang sejak awal tak berniat lama-lama, justru malah menginap menemani Dave. Sedangkan Lena, Gea dan Wanda mereka pulangkan menggunakan taksi.


Semalaman mereka tak tidur. Ketiganya sibuk dengan pikiran sendiri-sendiri tak ada suara hanya asap rokok mengepul diantara ketiganya.


"Dave, lu kenal anak kecil yang di foto itu?"


Marcel yang tak tahan akhirnya melemparkan pertanyaan juga.


Tomi mendorong Marcel tak percaya tadi laki-laki itu yang meminta bersabar, namun justru ia yang memecahkan pertanyaan tersebut.


"Iya kak. Itu gue. Kenapa? Gendut ya? "


Jawab Dave cengengesan.


"Iya persis Omennya Kimmy."


Ucap Marcel dan seketika Dave tersedak asap rokoknya sendiri.


"Dari respon lu, berarti lu tau lu adalah Omen yang disebut Kimmy selama ini?"


Tanya Tomi mengetatkan rahang. Ia kesal jika Dave menyembunyikan kebenarannya.


"Gue mau Kimmy nerima gue sebagai Dave. Gue gak mau dia nerima gue karena berhutang terimakasih sebab kejadian di masa lalu kami."


Jawab Dave.


"Dengan menyembunyikan itu dari kita juga?"


Tanya Marcel.


"Iya kak, gue mau diterima sebagai Dave dengan cerita yang gak sesempurna Omen. Gue Dave orang yang mempunyai citra jelek tapi kalian masih mau nerima gue. Gue minta maaf."


Ucap Dave tertunduk.


"Lu pantes perjuangin adek gue. Tapi maaf cari cara sendiri. Kita gak bisa bantu lagi."


Timpal Tomi.


"Ya, Dan gak usah buru-buru. Lo selesaiin study lu yang tinggal setahun lagi. Dia itu gak akan kemana-mana hatinya kecuali Ali hidup lagi."


Marcel tersenyum mengingat adiknya yang super unik.


Dave sedikit membaik setelah mendapat restu dari kedua kakak Kimmy. Kini ia hanya akan membuktikan bahwa dirinya akan terus berjuang untuk cintanya dan untuk masa depannya.


Obrolan mereka menyampaikan ketiganya pada pagi yang cerah. Alam merestui perjalanan terakhir Anne. Ia akan dimakamkan saat ini juga. Dave terus meneteskan air mata saat peti mati diturunkan ke dasar tanah.


Selamat jalan, Mi. Mami tetap ada di hati Dave sejauh apapun mami berjalan. Seburuk apapun mami dimata orang. Dave tetap cinta mami. Terimakasih mi sudah berjuang melahirkan Dave. Maaf Dave gak bisa penuhin keinginan Mami.


Dave berbicara didalam hatinya. Lena yang menyaksikan kesedihan Dave, memeluknya memberi kekuatan. Bagaimanapun ia pernah berada di sisi Dave kehilangan orang yang paling dicintai.


"Mama"


Ucap Dave lirih melihat ke arah Lena.


"Ya kamu masih punya mama dan mama punya kamu, anak nakal."


Lena mencium tangan Dave seperti ia sering memperlakukan Ali dahulu.


Like, comment dan Vote yah 💕