
"Hoooaaaammm..."
Ali menguap kencang.
"Baru bangun kok udah ngantuk?"
Tanya Marcel yang sedang mengaduk susu hangat untuk adiknya.
"Jaga benteng dia."
Ledek Dave.
"Kayanya kalian akrab banget."
Ucap Marcel tersenyum simpul.
"Dulu."
Timpal Ali.
Ia masih kesal, semalaman tak tidur karena taruhan yang dibuatnya sendiri. Sempat hampir tertidur kemudian buru-buru mencuci matanya dengan air mineral yang ia bawa ke dalam kamar. Ali teringat ucapan Dave perihal dirinya yang sering memeluk Dave saat tertidur.
"Bisa-bisanya manusia ini tidur gak bergerak sama sekali."
Gerutu Ali sambil memperhatikan Dave. Sesaat ia merindukan Dave sahabat lamanya. Namun hatinya masih terluka dengan ibunda Dave, karena ulah perempuan itu pernikahan orangtuanya tak dapat diselamatkan. Belum lagi Dave pernah membuatnya lumpuh beberapa bulan. Kalau mengingat itu, rasa rindunya berubah menjadi kebencian yang teramat.
"Pagi Dek."
Ucap Marcel pada sang adik yang baru bangun.
Mata Dave dan Ali tak dapat menahan wajah bangun tidur Kimmy yang begitu menggoda. Walaupun rambutnya terlihat berantakan, tetap saja pesonanya tak terbantahkan.
"Pagi Kak."
Balas Kimmy sambil menenggak susu yang sudah disiapkan Marcel.
Ali dan Dave menghitung bersamaan di dalam hati, berharap Kimmy mengucapkan selamat pagi kepada salah satu dari mereka. Persaingan ini begitu ketat, hal kecil saja sangat bermanfaat untuk menjatuhkan mental lawan.
"Pagi duo tampan."
Ucap Kimmy sambil menyentuh pipi kedua pria itu bersamaan.
Kimmy segera berlari ke kamar mandi setelah itu, ia seperti melakukan kebodohan barusan.
"Itu kan Snowman, Kiiiimmm..."
Gerutu kimmy. Rasanya bukan Dave ataupun Ali yang salah tingkah. Justru dirinya sendiri yang merasakan degup jantung tak beraturan.
Dengan kesembronoannya, ia mandi begitu saja dengan tak membawa handuk dan baju ganti. Niat hati ingin melupakan kejadian memalukan tadi, tapi yang ada malah bertambah malu.
"Kak Marceeellll, tolong ambilin handuk sama pakaian."
Teriak Kimmy dari kamar mandi. Tak ada sahutan dari luar. Tak berapa lama seseorang mengetuk pintu kamar mandinya.
"Siapa?"
Tanya Kimmy.
"Gue."
Jawab Dave.
"Ngapain? Gue lagi mandi."
Tanya Kimmy.
"Tadi lu minta handuk sama pakaian kan?"
Dave balik bertanya.
"Ke Kak Marcel."
Jawab Kimmy.
"Kak Marcel sama Ali lagi beli sarapan. Buka pintu sedikit dan Keluarin tangan lu."
Minta Dave kaku. Ia sebenarnya juga ragu. Tapi daripada Kimmy menggigil kedinginan di kamar mandi menunggu Marcel pulang. Pikirnya.
Kimmy menuruti perintah Dave. Ia mengeluarkan tangan kanannya dan meraih handuk serta pakaian yang dibawa Dave.
Kimmy mulai mengelap sisa air di tubuh dan rambutnya menggunakan handuk, setelah itu ia memakai satu persatu pakaian mulai dari ****** *****, bra, dan polo shirt serba merah serta short pants warna hitam. Saat hendak keluar pintu kamar mandi, ia baru terpikirkan sesuatu yang tak beres.
"Daavveee..."
Teriak Kimmy membuat Dave ikut terkejut.
"Ada apa?"
Dave datang menghampiri Kimmy.
"Yang milih pakaian dalam gue, lu juga?"
Tanya Kimmy ragu-ragu.
"Iya."
Jawab Dave masih bingung.
"Iiiihhh Daavveee!!"
Teriak Kimmy sambil memukuli bahu Dave.
"Kenapa sih? Lu gak suka warna merah?"
Tanya Dave. Kimmy malah semakin malu. Ia masuk ke dalam kamar mengunci diri.
Gue maluuuu... gimana keluar dari kamar ini tanpa ketemu dia..
Ucap Kimmy dalam hati. Ia membayangkan yang tidak-tidak. Mengira Dave berpikir jorok saat tadi memilih pakaian dalam untuknya.
"Dek, sarapan yuk."
Marcel mengetuk pintu kamarnya. Membuat Kimmy mau tak mau harus keluar. Wajah Kimmy memerah seperti kulit tomat segar. Ia malu bertatapan dengan Dave.
"Muka lu kenapa Kim?"
Tanya Ali perhatian sambil memegang pipi Kimmy.
Dave memberi kode agar keduanya tak terlalu dekat.
"Laundrynya kok gak rapi gini sih? Berantakan."
Gerutu Marcel melihat kantung baju laundry yang baru dikembalikan.
"Oh maaf Kak, itu tadi gue yang abis ambil baju Kimmy. Dia lupa bawa pakaian jadi gue ambil disitu."
Ucap Dave membuat Kimmy lega. Hampir saja ia mengira yang bukan-bukan.
Kimmy menarik tangan Dave agar menjauh dari Marcel dan Ali.
"Apa?"
Tanya Dave tak mau melihat wajah Kimmy.
"Jadi lu asal ngambil kan?"
Tanya Kimmy memastikan.
"Apanya?"
Tanya Dave tak mengerti.
"Emmm Bra sama panties gue."
Ucap Kimmy ragu.
"Iya."
Jawab Dave singkat.
"Hufhtt gue kira..."
Ucap Kimmy sambil meninggalkan Dave yang masih merasa percakapan ini menggantung, namun Kimmy sudah berjalan lagi kearah Marcel.
"36B"
Ucap Dave sambil menyusul Kimmy.
Kimmy berhenti melangkah mencerna omongan Dave kemudian setelah mengerti, ia meloncat kearah punggung Dave sambil mencekik leher Dave dari belakang dengan lengannya.
Dave menepuk-nepuk kaki Kimmy agar perempuan itu segera turun dan melepaskannya. Sebenarnya bisa saja ia melepas kuncian Kimmy. Namun pasti akan menyakiti gadis yang dicintainya itu.
Wajah Dave membiru seperti kekurangan oksigen. Marcel terlihat panik sedangkan Ali merasakan cemburu yang memanas.
"Lepasin Dek. Ya Tuhan gak ada Tomi sekarang sama Dave."
Minta Marcel sambil menarik adiknya dari punggung Dave.
"Gak mau. Dave mati ajaaaaa... "
Teriak Kimmy makin mengencangkan kunciannya. Marcel menarik kuat-kuat adiknya yang seperti sedang kesetanan. Dan ia berhasil, kini Kimmy masih meronta-ronta dipelukannya.
Dave terbatuk-batuk setelah terlepas dari cengkraman Kimmy.
"Lepasiiinnn.."
Teriak Kimmy yang masih belum puas menghajar Dave.
"DIAM!"
Bentak Marcel yang langsung dituruti Kimmy. Ia paling takut jika Marcel sudah berteriak seperti itu.
"Minta maaf."
Ucap Marcel memberi perintah pada Kimmy.
"Gak mau."
Tolak Kimmy.
"Kamu hampir bunuh oranglain kalo begitu caranya."
Marcel marah.
"Kamu mau beneran Dave mati?"
Tanya Marcel membentak. Kimmy menggeleng, ia tak sungguh-sungguh dengan ucapannya. Setelah mengerti kesalahannya, Kimmy mendatangi Dave dan mengulurkan tangan kanannya seraya meminta maaf.
"Maaf."
Ucap Kimmy sambil menunduk menyesali perbuatannya.
Dave tersenyum kearah Kimmy dan menerima permintaanmaafnya. Lalu Kimmy segera mengambil segelas air dan obat luka untuk Dave. Ia melihat banyak luka goresan seperti terkena cakarannya.
Ali yang mengetahui niat Kimmy untuk membersihkan luka Dave segera mengambil alih. Ia tak ingin melihat kemesraan kedua orang ini berlama-lama.
"Sini gue aja yang besihin lukanya."
Ali menawarkan diri. Dave terkejut dan Kimmy merasa senang, mengira hubungan keduanya membaik.
Dengan perlahan Ali merawat luka di leher dan wajah Dave akibat perbuatan Kimmy. Dave hampir saja tersentuh oleh kejadian ini, ia memilih menghindar. Tak mau melemah. Dave tau, ia selalu bisa mengalah jika berurusan dengan Ali sejak dulu. Seakan Ali adalah kelemahannya. Tapi kali ini, urusan Kimmy ia berusaha tak serta merta merelakannya.
"Biar gue aja."
Ucap Dave seraya merebut obat dari tangan Ali dan langsung masuk ke dalam kamar Tomi.
Kimmy menyusul, mengira Dave masih marah dengannya.
"Lu masih marah sama gue?"
Tanya Kimmy di muka pintu. Dave yang sedang duduk di ranjang tersenyum kearahnya dan melambaikan tangan memberi isyarat agar perempuan itu masuk.
Kimmy masuk dan mengambil obat merah yang Dave letakkan diatas kasur. Ia mengangkat dagu pria itu dan melanjutkan pekerjaan Ali yang belum selesai.
"Maafi ..."
Baru sepatah kata akan terucap dari mulut Kimmy, Dave sudah mengecup bibir mungil itu yang berjarak sangat dekat dengannya.
Kimmy yang terkejut langsung berdiri, namun tubuh kuat Dave memeluk pinggangnya sehingga dada Kimmy kini berada tepat diwajah Dave. Kimmy berusaha melepaskan pelukan Dave namun pria itu malah menyandarkan kepalanya di dada Kimmy.
"Biarin seperti ini sebentar."
Ucap Dave dengan pandangan kosong. Kimmy diam tak memberontak lagi. Ia kini mengelus kepala Dave. Ada perasaan sedih yang ia rasakan dari seorang Dave.