
Kimmy terbangun pukul empat pagi. Mendapati dirinya sudah tertidur selama enam jam di kamar Tomi, ia keluar dan menemukan Dave dan Ali tertidur di sofa ruang tamu. Ia kembali lagi ke kamar dan mengambil dua buah selimut kemudian menyelimuti keduanya.
Setelah itu, Kimmy memasak untuk seluruh anggota keluarga. Ia memasak nasi goreng kali ini. Setelah menatanya diatas meja, Kimmy memilih mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan bersiap-siap kuliah.
"Wahh udah cantik adik kecil, Kak Marcel."
Kata Marcel menggoda adiknya. Suaranya memenuhi ruangan sehingga membangunkan Dave dan Ali.
Kimmy memberi kecupan selamat pagi di pipi Marcel, lalu beralih mengambil satu sendok nasi dan menghampiri Ali.
"Al, Aaaaaa..."
Kimmy menyodorkan suapan ke mulut Ali. Dave merasa terganggu melihat pemandangan di depannya itu.
"Gue baru bangun, Kim. Sana ih."
Tolak Ali.
"Ali jahat."
Kimmy kembali ke meja makan dan meletakkan sendok tersebut ke piring miliknya.
Ali berlari ke arahnya dan langsung memakan satu piring nasi goreng yang rasanya sangat asin tersebut. Ia tak mau membuat Kimmy kecewa.
"Yeay habis."
Ucap Kimmy senang.
Tak lama semua berkumpul bersama untuk menikmati hidangan yang sudah Kimmy siapkan.
"Emm Dek, kamu udah cobain?"
Tanya Marcel. Kimmy menggeleng.
"Kenapa kak?"
Tanya Kimmy, kemudian Dave menyuapkan sesuap nasi ke mulut Kimmy.
"Ih asin."
Ucap Kimmy menilai masakannya sendiri.
"Emm yaudah aku beliin bubur ayam ya di depan."
Kata Kimmy menebus kesalahannya. Sebelumnya, ia sempatkan mengambil semua piring yang masih penuh dengan nasi buatannya.
Kimmy berjalan ke dapur dan membuangnya sambil sesekali menitikkan air mata.
"Kim, jangan dibuang biar gue aja yang makan. Gue masih laper."
Ucap Ali tak tega melihat Kimmy bersedih.
"Jangan pernah bohongin gue lagi! Gue gak suka di kasihanin. Kalo gak enak, lu tinggal bilang gak enak. Kenapa harus bohong?"
Kimmy berteriak pada Ali dan melanjutkan tangisannya yang kian deras.
"Kim gak gitu.."
Ali mengejar Kimmy yang berjalan keluar rumah untuk membeli bubur.
"Gak usah ngomong sama gue!"
Bentak Kimmy. Ali patuh, ia mengikuti Kimmy sampai di tukang bubur tanpa bicara sepatah katapun.
"Buburnya lima bang."
Ucap Kimmy memesan.
Ali terus mengekor Kimmy hingga kembali ke rumah. Setelah meletakkan kelima bubur di atas meja. Kimmy mengambil tasnya dan pergi berangkat kuliah dengan kesal. Ali hendak mengejarnya namun ditahan oleh Marcel.
"Jangan dikejar. Nanti juga dia membaik sendiri."
Ucap Marcel pada Ali.
"Dave tolong susul."
Ali meminta tolong pada Dave. Ia yakin laki-laki tersebut adalah orang yang dapat menenangkannya.
Dave mengangguk dan mengejar Kimmy.
"Naik ke motor gue."
Minta Dave pada Kimmy yang sedang menunggu angkutan umum. Kimmy menuruti perintah Dave.
Sepanjang perjalanan, Dave memperhatikan wajah Kimmy yang murung melalui spion. Dave memberhentikan laju motornya di taman kota.
"Kenapa berhenti?"
Tanya Kimmy.
"Kita gak akan lanjut ke kampus kalo muka lu masih begitu."
Jawab Dave.
"Ini semua gara-gara Ali, Dave. Dia kenapa harus bohong? kan akhirnya gue jadi malu."
Ucap Kimmy sambil menyeka air matanya.
Tutur Dave menjelaskan sosok Ali yang dikenalnya baik.
"Gue jahat ya sama dia?"
Tanya Kimmy menangis dan menyesali perbuatannya.
"Sedikit. Hehe. Udah yuk , nanti kita terlambat"
Dave melanjutkan perjalanan, ia lega melihat penyesalan di wajah Kimmy. Setidaknya ia tidak akan salah sangka lagi dengan niat baik Ali.
Selama berada di kampus, pikiran Kimmy tak tenang, ia mulai gelisah memikirkan salahnya pada Ali.
Kim, gue minta maaf soal tadi pagi. Sekalian gue pamit, kasian nyokap sendirian terus.
Pesan singkat dari Ali di ponsel Kimmy.
Al, lu marah ya sama gue? Maaf ya gue salah. Kita masih bisa ketemu kan?
Kimmy membalas pesan singkat Ali. Namun Ali tak menjawabnya lagi, ia sedang sibuk dengan tugas kuliahnya sehingga lupa membalas pesan Kimmy.
Sudah empat jam menunggu, Ali tak kunjung membalas pesannya. Kimmy merasa semakin bersalah.
"Dave nanti pulang kuliah anter ketemu Ali ya."
Minta Kimmy memohon.
"Iya."
Jawab Dave.
**
Sementara itu, di Mess Wanda berkali-kali mengetuk pintu kamar Tomi. Pria yang baru jadi kekasihnya kemarin tak kunjung keluar kamar. Semalaman Tomi memandang foto wajah Dayana yang disimpannya di dalam dompet. Ia memperhatikan senyum Dayana yang merekah sewaktu mereka menghabiskan waktu bersama di sebuah bazar tahunan.
"Jalan kalian dipenuhi angin kencang. Akan ada batu karang di depan. Teruslah kendarai perahu dengan benar. Jangan menabrak ataupun berputar arah. Badai itu akan tenang jika kalian tetap memiliki keyakinan untuk tetap bersama."
Seorang cenayang membacakan kartu ramalan milik Dayana. Mereka tak sengaja memasuki sebuah tempat yang awalnya mereka kira adalah arena rumah hantu, setelah masuk ke dalamnya, seorang ibu paruh baya mempersilahkan Dayana mengambil kartu jodoh milik mereka.
Dayana keluar dan tertawa mendengar penuturan orang yang disebut sebagai Mami Ruwi.
"Hahahaha hari gini percaya takhayul."
Tawa Dayana.
"Itu bukan takhayul. Itu pesan untuk kita agar tetap yakin dan selalu bersama."
Ucap Tomi, membuat Dayana menghentikan tawanya.
"Kita selalu sama-sama kok. Emang berniat deket sama cewek lain dan gantiin aku?"
Tanya Dayana masih sambil kembali tertawa.
"Gak akan Day."
Jawab Tomi malu-malu dan menunduk menggaruk kepala belakangnya.
Ketukan pintu yang semakin kencang membuyarkan mimpi dan kenangan Tomi. Dengan gontai ia membukakan pintu dan membiarkan Wanda masuk.
"Kamu mabuk semalaman?"
Tanya Wanda kesal. Ia segera merapikan kamar Tomi yang berantakan.
"Cepat mandi, satu jam lagi kita akan berangkat."
Ucap Wanda, seakan mulai detik kemarin Tomi sudah menjadi tanggungjawabnya.
Tomi tak menggubris, ia tetap melanjutkan tidurnya sedangkan waktu terus berjalan, Wanda makin tak sabar menghadapi Tomi.
"Bangun Tom. Kamu baru kerja tiga bulan mau di pecat?"
Wanda menarik-narik lengan Tomi.
"Diam! Jangan ganggu! Keluar sana!"
Teriak Tomi. Namun Wanda tak peduli, ia tak menyerah membangunkan Tomi.
Tomi bangun dari tidurnya dengan wajah yang masih kusut, matanya sayu, jalannya lunglai.
Ia menarik tubuh Wanda dan mencium wanita itu dengan ganas.
"Day .."
Ucap Tomi sambil mencium Wanda.
"Lepasin Tom. Siapa Day?"
Wanda memberontak dan mendorong Tomi menjauh.
Pria itu masih terlihat kuat menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Namun tatapannya masih sama. Ia seperti melihat Dayana di hadapannya .
"Nih. Mandi sana! Dasar gak waras!"
Wanda melempar handuk ke wajah Tomi dan menghardiknya. Kemudian segera keluar meninggalkan Tomi yang masih berdiri mematung, dengan menatap nanar entah kemana.