Mr.Snowman

Mr.Snowman
Persahabatan Dave dan Ali



Dave dan Ali terpaksa menurunkan ego agar bisa bersaing mendapatkan hati Kimmy, mereka mau tidur di satu kasur yang sama.


"Awas lu kalo sampe masuk teritori gue."


Ancam Ali sambil membagi kasur Tomi untuk mereka berdua.


"Kalo sampe?"


Tanya Dave dingin.


"Gue menang dan lu jauhin Kim."


Jawab Ali.


"Kalo sebaliknya?"


Tanya Dave.


"Kalo gue kalah, gue yang jauhin Kim."


Jawab Ali terlihat yakin.


"Yakin? Oke. Gue terima."


Ucap Dave. Ia memberi salam sebagai tanda kesepakatan.


"Percaya diri sekali bapak."


Timpal Ali sambil menerima jabat tangan Dave.


"Lu lupa siapa yang suka meluk kalo lagi nginep di rumah gue?"


Tanya Dave sambil meletakkan kepala diatas kedua tangannya. Ali terdiam, ia kembali pada kenangan ketika mereka masih menjadi sahabat.


"Gue gak inget apa-apa."


Jawab Ali sambil membelakangi Dave.


Mereka kemudian tak saling bicara, keduanya tenggelam dalam masa lalu yang sama. Saat semuanya masih indah. Saat Dave selalu membela Ali yang tertindas. Saat Ali menunjuk Dave sebagai pahlawan bahkan idolanya. Sampai-sampai Ali mengikuti jejak Dave menjadi seorang petinju.


Semua bermula ketika Dave dipindahkan sekolah oleh kedua orangtuanya dan tinggal dengan neneknya, baru dua tahun ia sudah tidak kerasan. Selalu merengek minta pulang. Dave kecil rindu dengan tiga kakak beradik penghuni panti yang tak jauh dari rumahnya. Ia mengingat nama panggilan ketiganya namun tak pernah mengetahui nama asli mereka.


Bahkan gadis kecil yang ia lindungi di sekolah lamanya sudah tak pernah terlihat semenjak kepulangannya ke tempat itu. Dave selalu menunggu ketiganya di jendela kamar, ia biasanya bisa melihat aktifitas anak-anak penghuni panti dari kamarnya yang berada di lantai dua. Menunggu Jeri sahabat dekatnya, yang dua hari sekali pasti selalu mengendap endap keluar untuk main diluar area panti. Ya, Jericho Thomas. Panggilan kecil Tomi oleh penghuni panti lainnya menggunakan nama depan. Sedangkan Marcel dikenal dengan nama Julian. Dan Kimmy, Dave tak pernah mengetahui namanya. Ia selalu memanggilnya dengan sebutan Sun yang berarti matahari.


"Kamu gak sedih masih kecil gak punya papa mama? "


Tanya Dave kecil.


"Kata Kakakku, aku gak boleh sedih, papa mama liat aku dari langit. Kalo aku nangis nanti mereka juga nangis."


Sahut Kimmy yang lebih kecil dua tahun dari Dave.


"Wah enak dong, papi mamiku disini tapi mereka gak pernah liat aku. Apa aku minta aja sama Tuhan biar mereka ke langit supaya bisa liatin aku?"


Ucap Dave.


"Jangan."


Timpal Kimmy.


"Kenapa?"


Tanya Dave.


"Nanti kalo kamu di panti, makanannya gak cukup buat kamu. Kamu kan makanya banyak Omen."


Jawab Kimmy mengkhawatirkan stok makanan panti.


"Hahahaha iya yah bener juga. Yaudah deh sansan aku gak jadi minta sama Tuhan."


Ucap Dave tergelak.


"Sansan?"


"Kemarin guru les bahasa inggris ku bilang Sun itu artinya matahari. Matahari itu cerah kaya kamu. Gak pernah sedih. "


Jawab Dave sambil tersenyum lebar.


"Asik aku deket dong sama mama papaku. Makasih Omen."


Ucap Kimmy sambil melompat-lompat bahagia disamakan dengan matahari. Itulah hari terakhir pertemuan mereka.


Dave melewati hari-harinya sebagai orang yang baik, ia bak malaikat bagi mereka yang dibully. Dave tak segan menyakiti orang-orang yang tega menyakiti orang lain. Namun bagi orangtuanya, Dave hanyalah sebuah mesin pembuat keonaran. Ia berkali kali dipindahkan sekolah dalam kota yang sama.


Sampailah ia di sekolah ke sembilan. Semua tunduk dan hormat padanya. Mereka mengetahui desas desus tentang Dave dari teman-teman di sekolah lain yang sudah pernah Dave singgahi.


Dave tak pernah melihat ada satupun keributan disana. Hingga suatu waktu, seorang bocah berperawakan kecil mengganggu pandangannya.


"Siapa nama lu?"


Tanya Dave yang sudah kelas enam SD.


"Ali. Jangan pukulin lagi. Yang kemarin masih sakit."


Minta Ali mengiba.


"Siapa yang mukulin?"


Tanya Dave.


Seluruh anak laki-laki di kelas itu gemetar. Berharap Ali tak menunjuk salah satu diantara mereka. Namun Ali tak mengerti, ia mengira Dave adalah ketua dari geng para pembuli. Ali menunjuk lima orang anak yang memukulinya. Dave seketika berdiri merangkul Ali seraya berkata "Jangan ganggu temen gue."


Semenjak hari itu Ali rajin membawakannya makan siang, tak jarang menginap di rumah Dave. Kedekatan mereka sering membuat orang beranggapan bahwa keduanya adalah saudara. Dimana ada Dave disitu pasti ada Ali. Dave melatih Ali bela diri, tak jarang keduanya berlatih di Sasana milik ayah Dave. Dilatih oleh Bang Josh, pelatih Dave hingga saat ini.


Sampai tiba mereka duduk di kelas menengah atas. Ali mengalami masalah keluarga yang serius. Ia sering murung melihat kedua orangtuanya yang selalu bertengkar membicarakan perpisahan. Dave berinisiatif mengajak Ali untuk tidur di rumahnya selama beberapa waktu. Agar tak terganggu dengan pertengkaran orangtuanya.


Namun Dave salah, Ali justru menemukan kenyataan yang menyakitkan ketika ia menginap di rumah Dave. Malam itu Ali tak sengaja terbangun. Ia membuka tirai kamar Dave untuk melihat seseorang yang baru turun dari mobil yang mesinnya dibiarkan masih menyala.


"Oh Tante Anne. Tapi kenapa turun di depan gerbang?"


Gumam Ali.


Tak lama muncul sesosok pria dari kursi kemudi yang mencium Ibunda Dave begitu mesra. Ali terhentak bukan hanya karena adegan yang tiba-tiba itu. Melainkan pria itu bukan Pak James, ayah Dave. Tapi justru ayahnya sendiri. Ia mengerti sekarang keretakan hubungan orangtuanya ditengarai oleh ulah ibu sahabatnya sendiri.


Ali murka, namun ia tahan. Ketika pagi Dave melihat air mukanya yang kesal.


"Kenapa Li?"


Tanya Dave yang baru saja bangun.


"Kenapa lu gak bilang kalo ibu lu pelacur?"


Umpat Ali.


"Maksud lu?"


Tanya Dave yang ikut kesal mendengar Ali berkata kurang ajar.


"Iya ibu lu perusak hubungan orangtua gue."


Bentak Ali. Dave berdiri dan menghajar Ali tanpa ampun. Ali sempat beberapa kali berdiri dan membalas. Namun tetap tenaga Dave lebih besar.


"Lu tarik ucapan lu. Gue berenti."


Ucap Dave yang sebenarnya tak tega memukuli Ali.


"Gue liat Tante Anne semalam ciuman sama bokap gue. Murahan. cuih"


Ucap Ali disusul pukulan demi pukulan oleh Dave.


Dave baru berhenti ketika melihat Ali sudah tak sadarkan diri. Kemudian menggotong tubuh Ali ke dalam mobil dan mengantarnya ke rumah sakit.


Ia menunggui Ali dengan setia hingga Ali tersadar. Mami Dave memohon pada ayah Ali agar tak melaporkan anaknya ke pihak berwajib. Dan disetujui. Tapi tidak untuk Ali. Ia meminta ibunya melaporkan tindakan Dave. Bukan karena ia membenci Dave, namun membenci Tante Anne ibunda Dave.


Ali memberi pelajaran untuk Tante Anne bahwa ditinggalkan satu anggota keluarga itu rasanya menyakitkan.