
Dave mengantar Kimmy dan Miracle ke rumahnya. Mereka disambut hangat oleh dua kakak dan istri-istri mereka.
Kimmy masuk ke dalam kamarnya, betapa terkejutnya ia saat melihat kamarnya dipenuhi warna merah dengan ornamen kartun Moana.
"Kamar gueeee..."
Teriak Kimmy.
"Maaf Kim, Miracle selalu merengek minta kamar sendiri. Karena kita belum sempat renovasi rumah ini, jadi sementara pinjam kamarmu. Maaf gak izin."
Ucap Gea tak enak hati.
"Haha gak apa-apa. Cuma barang-barangnya dimana?"
Tanya Kimmy lagi.
Gea mengantar Kimmy ke kamarnya dan Marcel, sebagian barang Kimmy mereka letakkan di kamarnya.
Kimmy membuka kotak berwarna cokelat yang menurut Gea berisi barang-barang kecil milik Kimmy. Kimmy mencari sekotak hadiah pemberian Ali saat gaji pertamanya. Dan ia menemukannya kemudian menyimpannya di dalam tas.
"Auntie nanti tidur sama aku ya."
Ujar Miracle.
"Gak bisa sayang, besok pagi-pagi sekali auntie harus berangkat lagi sama uncle Dave."
Jawab Kimmy.
"Terus maksudnya kamu tidur dimana?"
Tanya Wanda.
"Aku sama Dave mau gangguin pengantin baru."
Ucap Kimmy.
Semuanya tertawa mendengar jawaban Kimmy kecuali Miracle. Ia begitu kecewa mengetahui tantenya tak bermalam disini. Dave yang peka akan hal itu, menggendong Miracle dan memberikannya sekotak besar es krim untuk di makan bersama baby Jo.
Menjelang sore hari mereka berpamitan dan bermalam di rumah pengantin baru. Lena begitu senang dengan kehadiran mereka, berbeda dengan James.
"Gak tau papi harus seneng apa kesel kalian disini malem ini. Udah tau ini jadwal unboxing papi. Masih gak peka juga."
Gerutu James.
Lena mencubit paha James disusul ledakan tawa Kimmy dan Dave.
"Pak tua, bukannya bahagia mereka mau nginep disini."
Lena memarahi James.
"Kan aku bilang kita pindah ke rumah ku. Disana kamarnya banyak. Kalau dua anak nakal ini mau tidur gak perlu ganggu kita. Disini kamarnya dua. Pasti nanti kamu suruh aku tidur dengan Dave. Kamu dengan Kimmy. Kamu bilang gak mau pindah kesana karena jaga perasaan Dave, Dave aja gak jaga perasaan kita sekarang."
James menggaruk garuk kepalanya kesal.
Lena semakin gemas dan mencubiti seluruh tubuh James termasuk menarik kumisnya.
"Ha.. ha.. ha.. Ya udah nanti papi tidur sama mama. Dave sama Kimmy."
Celetuk Dave.
"Enak aja kamu. Bapak dan anak sama aja otaknya."
Ucap Lena.
"Lagian ya Ma. Dave gak pernah keberatan kalau mama mau tinggal di rumah kami. Mama kan udah bagian dari kami. Besok pindah aja kesana."
Ujar Dave.
"Gak lah, mama gak bisa gantiin mendiang Anne. Lagi juga rumah ini penuh kenangan sama Ali. Mama gak mau tinggalin. Rumah itu buat kalian aja nanti setelah nikah."
Ucap Lena.
"Kayanya Kim udah jatuh cinta di kota sana deh ma. Mau menikah dan tinggal disana aja."
Jawaban Kimmy membulatkan tiga pasang mata yang mendengarnya.
"Kita gak pernah bahas itu kan?"
Tanya Dave dan Kimmy menggeleng.
"Jangan gitulah, Papi sama mama sudah tua. Kalau jauh dari kalian siapa yang nolong kami kalau ada apa-apa? Pikir lagi lah masak-masak, Kim."
James mendadak mengharu.
"Ha.. ha.. ha..iya iya nanti Kim pikirin lagi deh. Udah gak usah sedih sedih. Kimmy bawain mama hadiah ni."
Kimmy mengeluarkan sekotak hadiah berisi baju tidur yang sangat terbuka.
James tersenyum bangga berbeda dengan Lena yang tersipu malu.
Ucap James kemudian menarik tangan Lena ke dalam kamar serta tak lupa membawa hadiah tersebut.
"Ha.. ha.. ha.. Om James. Papimu tuh .. "
Kimmy tertawa lepas saat James mengunci kamar.
"Gak usah ketawa, aku anaknya loh. Gak akan beda jauh darinya. Tunggu aja waktunya."
Bisik Dave mengancam di telinga Kimmy.
"Hii.. udah ah aku tidur."
Kimmy berlari keatas, rasanya amat merinding mendengar perkataan Dave.
Dave menyusulnya membawa tas yang berisi baju tidur mereka.
Namun saat sampai di kamar, Kimmy sudah berada di dalam kamar mandi. Dan Dave merebahkan dirinya yang lelah diatas kasur.
Dasar ceroboh. Mandi tapi gak bawa apa-apa.
Batin Dave.
Kimmy yang sudah terlanjur mandi baru menyadari handuk dan segala perlengkapannya masih dibawah, mencoba mencari akal. Namun tak ada apa pun untuk menutupi tubuh polosnya.
Kalau panggil Dave pasti diketawain.
Pikir Kimmy.
Dengan tak pikir panjang, Kimmy keluar dari kamar mandi tanpa penutup apapun. Saat sampai di dekat ranjang, ia buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Namun Dave yang saat itu telah tidur juga menarik kembali selimut itu. Berhubung tenaga Dave lebih kuat, Kimmy yang berdiri di bibir ranjang ikut tertarik bersamaan dengan selimut. Menimpa tubuh Dave.
"Aaarrggghh Daveeeee."
Kimmy berteriak tepat di wajah Dave.
Dave yang ikut terkejut karena punggung kimmy tak berbalut apapun langsung memeluknya menggunakan selimut.
"Kamu kenapa masuk kamar gak bilang-bilang?"
Tanya Kimmy yang masih tengkurap diatas tubuh Dave.
"Gak di kunci. Lagian aku juga bawain tas mu. Kenapa gak manggil?"
Jawab Dave yang berakibat saling menyalahkan.
Keduanya tak mau disalahkan. Sorot mata Kimmy yang tajam membuat Dave begitu gemas. Ia langsung melahap bibir perempuan itu. Kimmy pun tak diam, ia membalasnya. Karena masih kesal, ia menggigit bibir Dave hingga pria itu semakin beringas. ciumannya menjadi teramat panas. Padahal pendingin ruangan telah dinyalakan.
Setelah beberapa menit terjebak dalam ciuman yang begitu menggairahkan, Dave melempar tubuh Kimmy ke sampingnya. Kemudian ia bangkit berdiri.
"Kamu marah?"
Tanya Kimmy heran.
"Bukan. Aku gerah. Kamu mau aku jadi kaya papi malem ini? Udah sana pakai baju. Aku mau mandi."
Dave masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan berkecamuk.
Bagaimanapun ia adalah seorang pria yang memiliki hasrat besar. Jika tak di tahannya, ia akan melukai hubungan mereka dan merusak kepercayaan yang telah dilimpahkan untuk menjaga perempuan itu. Jadi ia memutuskan untuk menuntaskan hasratnya seorang diri di dalam kamar mandi.
Leher mu Kim, belum lagi tadi .. ah.. dada kita menempel hanya bersekat selimut.
Dave memikirkan Kimmy di dalam kamar mandi.
Suara yang mengganggu tak sengaja ia keluarkan dan terdengar oleh Kimmy.
Kimmy menutup telinganya dengan bantal. Ia tak tahan mendengar lenguhan Dave.
Lama ia menutup telinga dan wajahnya sampai tak mengetahui Dave telah berada di dekatnya.
"Kamu kenapa?"
Tanya Dave heran melihat Kimmy memejamkan mata dengan keras.
"Hii kamu udah disini? "
Kimmy memperhatikan dari bawah sampai atas, Dave telah wangi dan bersih serta memakai pakaian lengkap.
"Iya. Kenapa?"
Tanya Dave masih tak paham.
"Kamu tuh bilang Wardhana otaknya traveling. Ternyata kamu sendiri kaya gitu."
Kimmy melempar bantal ke arah Dave.
"Ha.. ha.. ha.. kedengeran ya? Ya maaf, daripada aku khilaf. mending kaya gitu kan?"
Dave mencolek dagu Kimmy.