
Dave merebahkan diri di kamarnya, menyaksikan gambar dirinya di sudut ruang. Gambar tersebut menampilkan diri Dave yang sedang mengangkat kedua tangan sambil tersenyum puas. Foto tersebut diambil ketika selesai bertanding tinju diatas ring dan merayakan kemenangannya.
Foto itu diabadikan oleh seorang perempuan yang ia cintai, Jemima namanya. Perempuan mandiri berparas cantik dan menawan, cara berjalannya anggun, tuturnya menenangkan jiwa Dave kala risau melanda. Namun ia pergi saat mengetahui masa lalu Dave. Mulai saat itu, Dave tidak mau membuka perasaannya pada siapapun. Terlalu sakit sudah mencintai namun ditinggalkan karena sesuatu yang tak bisa diulang.
Di sudut lain, foto ia saat berusia lima tahun dengan kedua orangtuanya. Mungkin masa ini tak akan terjadi lagi sampai kapanpun, saat ia menjadi kebanggaan. Calon penerusku. Kata ayah bangga didepan teman-teman seprofesinya. Boro-boro menjadi pengabdi negara seperti sang ayah, kata ayah hanya seonggok benalu di keluarga.
"Huuffhhhtt"
Dave menghembuskan nafas sekuatnya. Berharap segala pikiran negatifnya keluar bersamaan karbondioksida yang ia buang.
"Aku memang tak pantas memiliki siapapun yang ku sayang. Bahkan Tuhan yang kusembah pun buang muka waktu ku minta kembalikan Jemima."
Gumam Dave meratapi nasib buruknya.
Bip..
Ponsel bergetar, Dave bangun dari tidurnya yang tak terpejam. Dibuka pesan dari Kimberly Freak.
Snowmaaann.. gue gak sabar besok ketemu manusia terwangi kedua setelah wangi masakan Kakak gue.
Isi pesan dari Kimmy yang ambigu, membandingkan bau parfumnya dengan bau masakan. Apakah ini sebuah pujian atau penghinaan. Dave malas meladeninya.
"Saat ini, Tuhan bukan hanya membuang muka , tapi juga sedang membuang gue ke tempat yang jauh dari penglihatanNya. Gue kena musibah gini aja dibiarin."
Gerutu Dave menyamakan Kimmy dengan musibah.
Begitulah manusia kadang sering salah paham dengan maksud Tuhan.
Sementara itu, di kediaman ketiga anak mendiang Pak Douglas.
"Ih kok chat gue gak dibales sih?"
Gerutu Kimmy di dalam kamarnya.
Sedang menunggu balasan dari Dave yang entah kapan sampai kapan, sayup-sayup terdengar suara kedua Kakaknya berbicara.
"Lamar Cel, keburu diambil temen lu."
Ucap Tomi memberi saran pada Marcel.
"Gak lah, gue takut gak fokus sama Kim."
Respon Marcel menolak.
"Ya habis nikah, tinggal sini. Lagian dia bisa jadi temen buat Kimmy loh. Lu emang ngerti kemauan perempuan seumur Kimmy? Kalo lu punya istri kan bisa jadi temen curhatnya Kim."
Tomi tak menyerah.
"Curhat apa? kan ada kita."
Jawab Marcel tak mau kalah.
"Waktu kecil iya, tapi semenjak remaja emang kita pernah ngerti masalahnya dia?"
Tanya Tomi mengingatkan mereka akan kejadian tiga tahun lalu, saat pertama kali Kimmy mengalami menstruasi.
Usianya saat itu masih lima belas tahun, ia baru saja duduk di bangku SMA, Mereka baru saja akan memulai sarapan saat sang adik bertanya
"Kaaaakkkk, celana dalem aku kok ada darahnya?."
Tanya Kimmy yang baru mulai menstruasi.
"Kok bisa? Lu duduk dimana?"
Tanya Tomi panik mengira sang adik tertusuk benda tajam.
"Bangun tidur udah berdarah Kak."
Kimmy mulai menangis.
Tomi terlihat masih panik, sedang Marcel mengerti apa yang dialami adiknya.
"Itu namanya menstruasi Dek, normal dialami remaja seumuran kamu. Kakak beliin pembalut dulu ya."
Jawab Marcel menenangkan kedua adiknya yang bodoh.
Lalu pergi berjalan ke minimarket dekat rumah, setelah ia masuk ke rak kebutuhan wanita. Ia dihadapkan banyak pilihan. Semuanya nampak sama tapi berbeda panjang maupun bentuk.
Diambilnya banyak pembalut dengan merk berbeda, dari yang bersayap, tidak bersayap, panjang dua puluh sembilan sentimeter, empat puluh dua sentimeter, tujuh belas sentimeter, varian sirih, yang mengklaim anti bocor, extra slim, bahkan yang bertuliskan menyegarkan, semua ia masukkan ke dalam keranjang.
Setelah itu ia pulang.
Tomi sedang mengelus-elus punggung adiknya yang ketakutan.
"Nih pake Dek."
Marcel memberikan tiga kantung penuh berisi pembalut.
Kimmy menerimanya dan masuk ke dalam toilet beberapa menit kemudian keluar lagi.
"Pakenya gimana Kak?"
Tanya Kimmy bingung sudah dibuka semua Bungkusnya sama saja.
"Coba liat dibungkusnya."
Jawab Marcel.
Tomi melihat seluruh plastik pembungkus pembalut.
"Cel, lu beli segini banyak gak ada cara pakenya di belakang."
Ucap Tomi menyalahkan Marcel.
"Hooh, coba Kak Tomi cari yang di bungkusnya ada cara pakainya."
Minta Kimmy pada Tomi.
Gantian kini Tomi pergi ke minimarket, dilihatnya satu persatu bungkus belakang semua pembalut yang ada di minimarket namun tak satu pun di temukan. Ia duduk kelelahan di lorong rak yang menyediakan perlengkapan wanita.
"Mas, cari apa?"
Tanya Dayana seorang pegawai toko minimarket tersebut dengan senyumnya yang santun.
"Cari pembalut yang ada keterangan cara pakenya mba di bungkus."
Jawab Tomi tanpa menoleh.
"Hahahaha, emang mie instan mas ada cara penyajiannya?"
Dayana tertawa renyah sambil ikut duduk di samping Tomi.
"Emang gak ada?"
Tanya Tomi heran. Kali ini ia memperhatikan wajah Dayana yang masih tertawa geli. Dayana hanya menggeleng. Tak mampu berkata-kata.
"Buat siapa?"
Tanya Dayana masih tersenyum.
"Adek gue."
Jawab Tomi singkat.
"Dimana orangnya?"
Tanya Dayana mulai memahami apa yang terjadi.
"Di rumah."
Jawab Tomi.
Kemudian Dayana menawarkan membantunya, mereka berjalan menemui Kimmy bersama.
Di rumah, Kimmy mengucapkan banyak terimakasih pada wanita yang membantunya tersebut.
"Kalo ada yang gak ngerti, tanya aja ya Kim."
Ucap Dayana sambil memasang heelsnya lalu kembali ke tempatnya bekerja.
Dayana menyesal telah menertawai mereka tadi, setelah mendapat jawaban dari Kimmy tentang kehidupan mereka bertiga, Dayana merasa simpati, lalu sempat bertukar nomor ponsel dengan Kimmy jika sewaktu-waktu ada hal yang tak ia mengerti mengenai masalah wanita dewasa.