
"Tom, Dek. Semalam Kakak kirim ke rekening kalian ya uang jajan tambahan."
Ucap Marcel pada kedua adiknya yang sedang sarapan.
Kimmy dan Tomi mengecek saldo mereka di ponsel masing-masing. Mereka terkejut dengan jumlahnya.
"Waaaww gila sih lu Cel, ngepet dimana?"
Tanya Tomi terheran.
"Bonus masang program di perusahaan temennya Paman Lukas."
Jawab Marcel sambil melahap nasi dan soto buatan Tomi.
"Kak, simpen aja buat biaya Kakak nikah sama Kak Gea."
Ucap Kimmy mendesak keduanya cepat menikah. Takut kalau ramalan kemarin tepat.
"Hahahahahaha...."
Tomi tertawa terbahak. Sedang Marcel terbatuk.
"Jangan boros ya."
Ucap Marcel seraya berjalan mengambil kunci mobilnya, ingin cepat-cepat pergi.
Tomi dan Kimmy ikut berangkat menggunakan motor Tomi tentunya. Di atas motor Tomi tak berhentinya menertawai reaksi Marcel tadi, sedang Kimmy tak mengerti sisi mana yang lucu.
Sampai di kampus, ia bertemu dengan Kenny.
Namun Kimmy hanya berjalan, malas bertegur sapa dengan manusia congkak.
Tapi tak bisa sampai disitu, Kenny ikut masuk ke dalam kelas Kim dan mengajar sesi pertama.
Ia langsung memborbardir Kim dengan pertanyaan-pertanyaan mencari celah untuk mempermalukannya. Tapi sayang tak ketemu, yang ia dapati malah kekaguman berlebih, ada orang baru yang dapat menyaingi caranya berpikir. Namun tak sombong seperti dirinya. Kimmy selalu berlagak bodoh setelah menjawab.
Waktu istirahat ia menunggu Kimmy untuk mengajaknya makan siang bersama. Berharap dapat menggali lebih banyak dari mana ia mendapatkan ilmu yang dimilikinya.
Namun Kimmy sudah berlari mengejar Dave yang acuh.
Kimmy ikut mengambil beberapa cemilan dan es krim untuk lima belas orang anak yang menunggu mereka. Ya makin hari tambah banyak yang bergabung.
"Lagi banyak uang?"
Tanya Dave.
"Ia dapet dari Kakak."
Jawab Kimmy.
Tanya Dave sambil tertawa terkekeh.
"Bukan. Dari Kakak gue yang pertama."
Jawab Kimmy sambil memberi uang kepada kasir.
"Lu gak marah gue bilang Kakak lu begitu?"
Tanya Dave heran.
"Soalnya yang ngomong sesama berandal."
Jawab Kimmy sambil tertawa dan berlari.
Dave tersenyum, entah kapan dia merasa bahagia diakui sebagai orang yang tak baik, tapi tetap ditemani.
Hari ini Devi membawa kartu tarot, katanya lebih spesifik ramalannya. Kimmy menolak diramal lagi, kemarin ia sudah dibuat kepikiran seharian karena ramalan garis tangan.
Anak-anak mendorong Dave agar dibacakan masa depannya. Dave yang awalnya tak mau terpaksa mengikuti kemauan mereka. Ia mengambil satu buah kartu yang kemudian di bacakan oleh Devi.
"Kak Dave suram, tidak pernah bahagia?"
Tanya Devi terkejut melihat kartu Dave. Dave sendiri malu mengakuinya.
"Tapi nanti Kakak akan bahagia setelah ketemu jodoh Kakak. Orang yang Kak Dave benci. Nah Kak jangan teramat benci sama orang."
Ucap Devi membacakan perihal perjodohan, sedang mata Dave melirik Kimmy. Satu-satunya wanita yang pernah sangat ia benci hanya Kimmy. Mengganggu kehidupan tenangnya diawal-awal kuliah.
"Karir Kakak, bagus. Tapi jalannya gak sesuai kemauan Kak Dave. Kakak akan berkorban untuk seseorang yang Kak Dave sayang."
Devi menjelaskan yang terakhir yaitu peruntungan karir Dave.
Waktu istirahat akan usai, Dave terus memikirkan ramalan Devi.
Akankah gue berjodoh sama manusia freak ini atau ada manusia lainnya yang akan lebih menjengkelkan daripada dia di masa depan gue?
Tanya Dave dalam hati.
Sedang Kimmy memikirkan pertanyaan pertama Devi yang tak dijawab oleh Dave bahwa ia tak pernah bahagia. Membuat Kimmy merasa terbebani membahagiakan manusia disampingnya ini. Mulai timbul perasaan lain dihati Kimmy, jika kemarin hanya sebatas suka. Hari ini ia merasakan lebih . Tak tahu sekedar iba atau memang sayang.
"Woi cuma ramalan kata lu kemarin. Ngapain dipikirin?"
Tanya Kimmy sambil menepuk bahu Dave.
Dave terkejut dibangunkan dari lamunannya yang berkembang. Ia membayangkan jika mempunyai anak dari anak manja ini. Yang ada dia bakal kerepotan.
Bergidik Dave hanya membayangkannya saja. Apalagi betulan. Pikirnya.