
Kimmy ikut tertidur bersama dengan Dave, malah ia yang lebih pulas ketimbang Dave. Pukul dua belas siang Dave telah terbangun, ia sibuk menghubungi beberapa orang. Sedangkan Kimmy sampai saat ini, tepatnya pukul dua siang dia baru saja mengerjap-ngerjapkan matanya, karena sayup-sayup mendengar suara Dave membentak seseorang.
"Kamu kenapa Dave?"
Tanya Kimmy.
"Ini loh, aku minta jadwal nikah kita lebih cepat, tapi kata petugasnya minimal satu bulan pengajuan. Tadi aku sedikit keras, akhirnya dikasih lebih cepat tapi tetap gak bisa besok."
Ucap Dave.
Sontak Kimmy langsung berdiri dari tidurnya.
"Kenapa kamu kaget? Kamu yang bilang besok."
Tanya Dave heran.
"Aku kira kamu ngigau Dave."
Jawab Kimmy.
"Maksud mu kamu sembarang jawab gitu? Ah udahlah mau besok atau setahun lagi, kamu tetap jadi istriku. Lagian aku udah hubungin Kak Marcel, bang Tomi, Papi sama Mama. Semua setuju dan mau bantu untu carikan tempat, catering, dan lain-lain keperluan kita. Jadi kita terima beres."
Jawaban Dave lagi-lagi membuat Kimmy terlonjak.
"Ini siapa yang ulang tahun sih? Kok aku yang dapat surprise?"
Tanya Kimmy.
Dave menarik tangan Kimmy dan menenangkannya padahal ia sendiri tak tenang dengan persiapan yang serba mendadak ini.
"Kamu tuh gak pernah mikir sebelum bertindak ya Dave? Aku masih terikat kontrak juga disini. Sabar masih empat bulan lagi. Aku gak mau keluarin uang bayar penalti."
Kimmy kembali meradang.
Bukankah begitu, setiap pernikahan tak ada yang berjalan mulus? Selalu ada saja masalahnya.
"Ya siapa yang suruh kamu resign memangnya?"
Tanya Dave ikut meninggikan suaranya. Kesal disalah-salahkan.
"Om James bilang setelah menikah kita harus balik kesana.Kamu lupa?"
Tanya Kimmy .
"Ya ampun Kim, empat bulan kita disini gak akan masalah. Mereka paham. Nanti setelah kontrakmu habis dan aku dipindahtugas disana, kita akan wujudin keinginan papi."
Jawab Dave penuh perencanaan.
"Ah terserah kamulah. Terus gaunku, siapa emang yang bisa pilihin modelnya? ukuran bajunya? gak ada diantara mereka yang sekecil aku.Kak Gea sama Wanda tinggi-tinggi."
Kimmy semakin gelisah.
"Bukannya kamu mau menikah pakai baju belle kesukaanmu?"
Tanya Dave.
"Enggak Dave. Aku tiap liat baju itu, ingat kejadian di butik mami mu."
Kimmy melemah. Ia takut dengan suara senjata yang Anne todongkan padanya.
"Oke oke, minta cuti satu minggu, kita akan kesana minggu depan. Untuk pilih gaunmu dan mengundang beberapa kerabat."
Jawab Dave sambil memeluk Kimmy dari belakang agar perempuan ini sedikit tenang.
Kimmy pasrah karena sepertinya Dave sudah memikirkannya secara matang dalam waktu yang singkat. Hari yang harusnya menjadi indah berubah menjadi menegangkan.
Sore hari Dave keluar membeli makan malam untuk mereka, ia terpaksa menginap di rumah Kimmy hingga besok pagi sampai Wardhana menyelesaikan lemburnya. Saat itulah Kimmy marah terhadap dirinya sendiri. Kimmy membentur-benturkan kepalanya ke ranjang menyesali ucapannya yang tak dipikir terlebih dahulu . Tapi sebetulnya ia lebih kesal dengan Dave yang bertindak sebelum berpikir.
Mereka makan tanpa suara, tak ada cerita seperti pagi tadi. Semuanya hening dengan pikiran masing-masing. Dan Dave pun enggan membujuk Kimmy atau membatalkan niatnya karena sudah melibatkan kedua keluarga.
Suara notifikasi ponsel Kimmy berdering. Ia membaca sebuah pesan dari Marcel.
Teks dari Marcel mencairkan suasana yang semula dingin.
"Kamu ngomong sama Kak Marcel soal gaunku?"
Tanya Kimmy pada Dave.
"Iya, aku bilang minggu depan kita balik mau cari gaun untukmu. Terus Kak Marcel buru-buru matikan handphonenya."
Jawab Dave mengingat percakapan terakhir dengan calon kakak iparnya.
"Nih"
Kimmy menyodorkan ponselnya agar Dave membaca pesan dari Marcel. Seketika senyum mengembang dari wajahnya yang sedari tadi muram.
"Syukurlah, ada jalan keluar. Tapi minggu depan kita tetap pulang ya. Ada beberapa hal yang harus kita urus."
Dave memeluk Kimmy yang kini sudah berbaring di sofa bed. Persis sebelahnya.
"Hmm"
Jawab Kimmy enggan.
Dave masih menikmati pertarungan gulat di TV hingga pukul satu malam. Tak sadar wanita di sampingnya telah terlelap dari dua jam yang lalu. Tepatnya ketika pertandingan baru saja dimulai.
Ia tersenyum memandangi Kimmy yang meringkuk kedinginan di sampingnya, kemudian menggendong tubuh kecil tersebut ke dalam kamar dan mengecup keningnya. Setelahnya ia keluar lagi untuk tidur dan menunggu Wardhana di sofa depan TV.
...***...
Seminggu berlalu dengan kepadatan pekerjaan masing-masing. Hari ini mereka bertemu di dalam mobil, masih hening. Keduanya terlarut dalam kelelahan masing-masing.
Bagaimana tidak, Kimmy mengerjakan pekerjaannya selama dua minggu ke depan hanya dalam lima hari. Ia lembur pagi malam demi memberikan dedikasi yang baik pada perusahaannya. Dave pun begitu, karena ia terhitung masih junior, para senior banyak memberinya tugas sebelum ia mengambil cuti seminggu ke depan.
"Kan aku udah bilang, kita naik pesawat atau travel aja."
Gerutu Kimmy yang melihat Dave mengendarai mobil sambil menguap berkali-kali serta mengendurkan otot ototnya yang tegang.
"Repot baliknya nanti Kim. Setelah pemberkatan besoknya kan kita langsung pulang."
Ujar Dave.
"Lebih repot begini Dave. Belum lagi kalau kita gak selamat sampai sana karena kondisi tubuh kamu yang gak fit."
Ucap Kimmy ketus.
Setelah rencana pernikahan, keduanya tak mesra seperti sebelumnya. Jarang berkomunikasi dan sekalinya dihadapkan berakhir adu mulut seperti sekarang ini.
"Kamu kalau capek, tidur aja ya. Aku pastiin kita sampai rumah baik-baik aja."
Lelah Dave meladeni Kimmy yang selalu memarahinya.
Selain faktor kelelahan karena aktivitas di kantornya selama seminggu lalu, ia juga mengerti bahwa Kimmy sedang tegang dengan pernikahan mereka yang sama sekali tak di tangani keduanya. Hanya mempercayakan kepada keluarga. Ditambah lagi, ia baru saja datang bulan.
Semua perempuan sama. Jika konsep pernikahan merupakan pilihan orang lain, pasti hatinya tak tenang. khawatir perias tidak cocok, hidangan tamu tak sesuai selera, dan pelaminan tak seperti bayangannya. Secara pernikahan itu hanya satu kali seumur hidup. Jika tidak sesuai apakah harus mengulangnya? Jelas tidak. Itu yang ada di benak Kimmy belakangan ini. Menurutnya semua ini akibat kebodohan Dave.
Ia tidur dalam hati yang terus menerus jengkel dan menyalahkan Dave.
Bruaaaakkk
Pada akhirnya dentuman mobil yang begitu kencang membuatnya terbangun dari tidur yang tak mengenakkan itu.
Ia membuka mata perlahan. Tak dilihatnya Dave disampingnya, dengan pintu yang terbuka. Ia mulai ketakutan sama seperti saat kehilangan Ali saat-saat mendekati hari pernikahan mereka.
Ia menangis tanpa suara, traumanya kembali hadir.
Davee Daveee
Hatinya meraung-raung memanggil nama Dave.