Mr.Snowman

Mr.Snowman
Dua Kubu



Sudah seminggu Dave di rumah sakit. Sore ini ia akan pulang bertepatan dengan kepulangan Tomi.


Kimmy menyiapkan acara penyambutan kecil-kecilan untuk keduanya. Ia berencana akan memasak beberapa menu dibantu oleh Gea dan Dayana.


"Aliii"


Teriak Kimmy memanggil Ali yang berada di ruang tamu.


"Hmmm berapa menu lagi yang harus gue coba?"


Tanya Ali pasrah. Ia membuka mulutnya menerima suapan dari Kimmy.


"Ini yang terakhir."


Jawab Kimmy setelah menu ke tujuh yang dicicip Ali.


"Enak."


Jawab Ali kemudian ia berjalan kembali ke ruang tamu. Kimmy mengejarnya sambil memberikan pelukan dari belakang.


"Sayaaanngg sama Ali."


Ucap Kimmy senang.


"Iya, iya, udah sana lanjutin masaknya."


Ali melepaskan pelukan Kimmy dan mengelus kepalanya. Ia mencoba berpikir positif bahwa Kimmy hanya menganggapnya sama seperti Marcel dan Tomi.


Marcel menjemput Tomi kemudian mampir ke rumah sakit untuk menjemput Dave yang sudah diperbolehkan pulang. Selama diperjalanan, Tomi mendengarkan kejadian yang menimpa mereka. Ia berharap dapat segera bertemu dengan Dayana.


"Mereka pulang..."


Ucap Kimmy melompat kegirangan. Ia membuka pintu dan merentangkan kedua tangan hendak memeluk Tomi, namun sang kakak malah melewatinya dan menghampiri Dayana. Marcel segera memahami situasi. Ia memeluk Kimmy agar tak kecewa.


"Sebel sama Kak Tomi."


Bisik Kimmy di telinga Marcel.


Marcel hanya mengacungkan telunjuknya di depan bibir, agar adiknya diam.


"Maafin aku. Harusnya aku dengar waktu kau minta kubawa lari."


Tomi memeluk Dayana. Ia percaya dirinyalah yang bersalah atas apa yang menimpa Dayana.


"Gak apa-apa Tom. Ini takdir aku."


Ucap Dayana menahan tangis. Ia tak mau Tomi bersedih di hari kepulangannya yang sebentar.


Tomi menyeka air matanya dan mulai menyadari melewatkan sesuatu.


"Adik kecil gue mana? Sini."


Ucap Tomi sambil meraih tubuh Kimmy untuk dipeluk. Namun sang adik malah menghindar.


"Selamat datang kembali Dave."


Teriak Kimmy sambil memeluk Dave. Ia membalas Tomi. Mereka tertawa melihat tingkahnya.


"Ini Ali."


Ucap Marcel memperkenalkan anggota baru mereka. Tomi menajamkan matanya mencoba mengingat wajah yang pernah ia kenali entah dimana.


"Lu yang waktu itu pegang dagu adek gue kan di parkiran?"


Tanya Tomi membuat Marcel seketika tersadar juga.


"Sudah sudah ayo makan."


Ucap Gea memecah suasana yang hampir kaku


Ketujuh orang tersebut mencoba segala jenis hidangan yang disiapkan Kimmy, Gea dan Dayana.


"Jadi setelah dikasih lisensi pacaran, pacar lu siapa Dek?"


Tanya Tomi sambil menggigit daging yang belum terlalu empuk.


"Gak ada."


Jawab Kimmy singkat.


"Masa adek gue yang cantik ini gak laku?"


Tanya Tomi menggoda.


"Tau nih, Ali kapan ngungkapin perasaan ke Kim? Keburu diambil orang loh."


Ucap Marcel membuat Ali tersedak kuah sup.


"Gak bisa. Kim harus sama Dave. Dia udah terbukti tanggungjawab jaga Kimmy selama gue gak ada."


Tolak Tomi.


"Ali lebih mampu jaga perasaan Kim. Makanan gak enak aja, dia bilang enak supaya Kimmy gak kecewa."


Sanggah Marcel.


"Udah udah... Dave sama Ali cuma temen."


Jawab Kimmy melerai perdebatan kedua kakak.


Dave dan Ali tertegun mendengarnya. Tak ada satupun dari mereka yang dipilih oleh Kim.


"Terus pacar lu?"


Tanya Tomi masih belum puas mendengar penjelasan Kim.


"Jodoh gue, Omen."


Jawab Kimmy sambil memicingkan matanya.


Dave tersenyum mendengar jawaban Kimmy. Ia merasa menjadi dua sosok yang berbeda.


"Gue dukung lu Dave."


Ucap Tomi.


"Gue dukung Ali."


Ucap Marcel tak mau kalah.


Malam ini Dave dan Ali tidur terpisah. Mereka tidur dengan pendukungnya sendiri-sendiri.


Sedangkan Dayana, Kimmy dan Gea tidur di satu kasur yang sama.


Tengah malam Kimmy terbangun, ia merasa kasihan pada Gea yang sejak tadi gelisah seperti tak nyaman. Karena kehamilannya, ia merasa sering kepanasan bahkan di tempat yang dingin. Kimmy keluar dan memilih tidur di sofa.


"Kenapa tidur disini?"


Tanya Dave yang baru saja dari dapur.


Kimmy menjelaskan alasannya keluar dari dalam kamar.


"Lu sendiri?"


Tanya Kimmy.


"Nih."


Dave menunjukkan gelas berisi air es yang ia minum.


Dave gelisah sama seperti Gea. Ia tak dapat tidur. Mengingat perkataan ayahnya beberapa hari ini di rumah sakit. Permintaan yang sama sejak dulu. Tapi baru kali ini Dave merasa terbeban memikirkannya.


"Dua bulan lagi akan ada penerimaan Akademi Polisi. Saya harap kamu bisa buat keputusan yang bijak . Karena ini kesempatan terakhirmu. Tahun depan usiamu gak akan masuk kualifikasi."


Ucap Pak James seminggu terakhir ini. Tentu ia berbicara ketika Kimmy lengah dan tak ada. Bisa saja Pak James membawa anaknya melalui jalur khusus tapi ia tak mau. Baginya Dave harus merintis karirnya dari bawah tanpa membawa jabatan dirinya.


"Dave, lu kenapa?"


Tanya Kimmy mengusap wajah Dave.


"Gapapa. Apa begini rasanya perasaan Tomi waktu mau ninggalin lu?"


Tanya Dave sambil memeluk Kimmy.


"Emang lu mau ninggalin gue?"


Tanya Kimmy.


"Gak akan."


Jawab Dave.


"Kalo bohong?"


Tanya Kimmy.


"Lu boleh benci gue selamanya".


Ucap Dave sambil menyodorkan kelingkingnya dan menautkannya pada kelingking Kimmy.


Dengan begitu Dave menguatkan hatinya agar tidak menuruti keinginan Pak James, ayah kandungnya. Ia tak bisa berjauhan sedikit saja dengan wanita ini. Apalagi dalam jangka waktu yang lama.


Dave duduk disebelah perempuan itu. Mereka menghabiskan malam dengan bercerita banyak hal. Kimmy bersandar di bahu Dave, ia sudah beberapa kali menguap. Tangannya melingkar di pinggang pria itu.


Dave beberapa kali mencium kepala wanita disampingnya itu. Kimmy mendongakkan kepala memperhatikan wajah Dave yang kian mengantuk.


"Kenapa?"


Tanya Dave. Kimmy hanya menggeleng.


Seketika bibir mereka sudah berpagut. Mata mereka saling menatap, tak ada lagi kecanggungan diantara keduanya. Semenjak kejadian di klub malam. Kimmy semakin lihai memainkan lidahnya.


"Eheeemm"


Suara Tomi membuat mereka terkejut dan menjauhkan jarak.


"Kenapa? lanjut aja. Gue gak liat apa-apa kok."


Ucap Tomi sambil menutup kedua mata dengan tangannya dan kembali ke dalam kamar.


Kimmy mengejar saudara laki-lakinya tersebut.


"Kak maaf."


Ucap Kimmy pada Tomi.


"Kenapa?"


Tanya Tomi tak mengerti.


"Em kejadian tadi.."


Jawab Kimmy ragu.


"Adik gue tersayang. Lu dan Dave udah dewasa. Gue gak akan marah. Cuma gue pesan tau batasan ya. Jangan berbuat sama seperti Marcel."


Ucap Tomi mengingatkan adiknya.


Kimmy mengangguk dan memeluk sang Kakak.


"Gue minta maaf juga bang."


Ucap Dave di muka pintu. Tomi memberi kode agar ia masuk.


"Kalian kenapa sih? Hahahaha... Untuk lu Dave, gue juga pesan jaga batasan. Jangan mencuri sesuatu yang belum jadi hak lu. Paham kan?"


Minta Tomi pada Dave.


Dave mengangguk, ia tahu betul apa yang dimaksud Tomi.