
Pagi ini matahari begitu percaya diri menampakkan panasnya lebih awal, Kimmy sudah mengipasi wajahnya dengan kipas kecil yang ia bawa di dalam tasnya, sambil berjalan dari tempat ia diturunkan Tomi dan kemudian masuk ke dalam kawasan kampusnya.
tak sengaja bertemu Dave yang baru memarkirkan motornya.
"Pagi snowman.."
Sapa Kimmy.
Yang disapa tak bergeming.
Ia menarik tangan Dave yang sudah turun dari motornya, lalu berlari sambil menyeret Dave.
"Lu apaan sih?"
Protes Dave yang tak dijawab Kimmy.
Kimmy terus menarik tangan Dave sampai tiba di kelas. Dave melepaskan tangannya, malu dilihat mahasiswa sekelasnya.
"Nah adem nih"
Ucap Kimmy sambil menatap pendingin udara di ruangannya.
"Terus apa urusannya sama gue?"
Tanya Dave kesal.
"Snowman, nanti lu cair kena panas. Gimana gue bisa liat lu lagi?"
Ucap Kimmy menggombal.
Tak sadar yang digombalinya mulai ikut kepanasan. Hatinya tak karuan.
"Freak! Gue bilang nama gue bukan Snowman."
Ucap Dave ingin menjelaskan namanya tapi dipotong oleh Kimmy.
"Gue gak mau tau siapa nama lu. Nanti kalo lu udah suka sama gue dan gak sedingin ini lagi, baru kenalin nama lu.. Hehehe"
Jawab Kimmy sambil membiarkan Dave berpikir.
Heh mimpi.
Gumam Dave takabur.
Mata kuliah teori ekonomi mikro dimulai, Dosen meminta mahasiswa membagi kelompok yang terdiri dari enam orang melakukan survey mengenai fluktuasi kenaikan harga barang di beberapa pasar setempat dan membuat laporan kemudian di presentasikan Dua minggu ke depan.
"Eh lu sama gue ya."
Minta Renata pada Kimmy.
"Oke. Atur aja."
Jawab Kimmy sambil berpikir pasar dan pedangang mana saja yang akan ia wawancarai.
Sedang Renata dan beberapa orang lainnya sibuk mencari teman untuk berkelompok.
Ucap Renata yang sudah membawa ketiga teman lainnya kehadapan Kimmy.
"Snowman, lu belum ada kelompok kan? Ikut kelompok kita ya."
Minta Kimmy pada manusia dingin di belakangnya.
Belum sempat Dave menjawab, Renata dan tiga lainnya tidak setuju.
"Gak ah, kita mending sama Xavier."
Menunjuk salah satu mahasiswa yang hobinya tidur saat mata kuliah berlangsung. Jika memasukkannya ke dalam kelompok hanya menjadi benalu tentunya.
"Ya udah sama Xavier aja. Gue out. Gue bareng Snowman."
Ucap Kimmy mengancam mereka.
Keempatnya sepakat lebih baik kehilangan Kimmy ketimbang bekerjasama dengan Dave si raja tega.
"Lu gak usah kasihanin gue. Gabung aja sama mereka."
Ucap Dave masih dengan nada yang sombong.
"Gue mending sekelompok cuma dikit, tapi kerja semua daripada kelompoknya banyak, tapi kerja sendiri."
Jawab Kimmy sambil menyindir empat orang dihadapannya. Mereka tak beda dengan Xavier, sama-sama pemalas. Hanya saja tak lebih malas dari Xavier.
Lagi juga Kimmy mengetahui Dave termasuk pandai, hanya saja tak mau menonjol.
Keempatnya pergi dengan muka masam.
"Enak kita bisa berduaan terus, siapa tau lu jadi suka sama gue.."
Ucap Kimmy berbisik pada Dave.
Dave tak menghiraukan, ia mulai fokus membuat rencana tugasnya. Lalu memberikan selembar kertas yang tertulis rencananya pada Kimmy.
Kimmy terkejut saat membaca rencana Dave sudah jauh lebih matang dan bagus ketimbang dirinya yang masih melamunkan rencananya yang belum terlintas di benaknya.
"Jadi, setuju nih se tim sama gue?"
Kimmy terus menggoda.
"Gak jadi, sini!"
Ucap Dave sambil menarik kertas yang ia berikan tadi.
"Haha iya iya, tukang ngambek."
Ledek Kimmy makin menjadi.
Ia senang bisa mengenal Dave lebih dekat. Pria misterius, yang ia pikir jika bersama keluarganya, maka akan sejinak Tomi.