Mr.Snowman

Mr.Snowman
Dua Polisi muda



Hari-hari baru Dave jalani sebagai pengabdi negara. Ia tinggal di rumah keluarga Wardhana. Ya sahabatnya itu memiliki sebuah rumah keluarga di kota ini. Jadi, selama satu tahun ke depan mereka akan tinggal bersama.


"Beruntung juga punya temen kaya lu."


Celetuk Dave.


"Giliran ada maunya, muji-muji gue."


Balas Wardhana. Dave terkekeh kecil.


Dave dan sahabatnya tersebut menatap ke depan. Mereka menikmati pemandangan malam dari balkon rumah tersebut. Wardhana tersenyum sendiri, membuat Dave yang berada di sampingnya keheranan.


"Kenapa senyum-senyum gitu? "


Tanya Dave.


"Ternyata bener ya Dave kata lu. Kalo jatuh cinta sama orang itu baunya aja kita hapal. Sekarang gue lagi liatin atap rumahnya aja deg-degan."


Jawab Wardhana sambil terus melamun.


"Hahaha siapa sih emang? Baru juga satu bulan kita disini."


Dave tertawa meledek.


"Gak butuh waktu satu menit buat suka ni cewe. Cantik, mandiri, rambutnya wangi, ah galaknya buat luntur ingatan gue tentang cewe-cewe yang pernah gue pacarin."


Wardhana masih dalam khayalannya.


"Jadi penasaran gue. Cewe kaya gimana yang bisa naklukin playboy kaya lu."


Ucap Dave.


"Kalau soal body ya kalah lah dari cewe-cewe lain. Dia gak terlalu tinggi. Cenderung imut. Tapi galak, Dave. Dia gak bisa luluh sama pesona Wardhana polisi tertampan di kota ini."


Jawab Wardhana.


"Emang lu apain kok dia galak?"


Dave tertawa.


"Jadi dua minggu yang lalu, dia pulang lembur kan. Kebetulan gue lagi patroli. Terus digodain gitu sama berandal. Gue tolongin dia. Abis itu gue tanya nama sama alamatnya mau gue anter balik. Dia jual mahal. Gue bilang 'hemm kamu wanita malam yang kerja disitu ya?' and you know, what she did?"


Wardhana menceritakan awal pertemuannya.


Dave mengangkat kedua bahu, tak ingin menebak apapun hanya ingin mendengar cerita temannya tersebut sampai habis.


"Gue di tampar. Dan gue bukan marah malah ngikutin dia sampai rumahnya takut dia kenapa-kenapa. Pertama kalinya gue di rendahin perempuan dan gue malah suka. Gila gak tuh? "


Tanya Wardhana.


"Karma namanya. Lu suka nyakitin perempuan. Sekarang lu suka perempuan yang nyakitin lu. Terus, terus pas sampai rumah lu disuruh masuk? "


Dave masih penasaran.


"Boro-boro Dave. Bilang makasih juga enggak. Gue malah dibawain sapu. Untung gue punya alasan karena rumah gue disini."


Wardhana mengelus-elus pipinya.


Dave tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Wardhana.


"Tapi gue percaya, jodoh gak kemana. Rumah kita aja sebrangan gini."


Wardhana berapi-api.


"Iya-iya terserah lu."


Dave meninggalkan Wardhana yang masih dengan kehaluannya.


Baru saja Dave akan merebahkan tubuhnya yang lelah setelah bekerja selama seharian ini, ia dikejutkan dengan Wardhana yang berlari kencang melewatinya dengan wajah panik.


"Kenapa ? "


Dave mengikuti Wardhana.


"Itu cewe teriak. Tadi pas lu masuk, dia balik dianter cowo. Baru masuk ke rumah langsung teriak-teriak minta tolong."


Wardhana menjelaskan sambil mencari kunci gembok pagarnya.


"Ah lama lu."


Dave memanjat pagar. Begitupun Wardhana mengikuti cara instan Dave.


Dave dan Wardhana mendobrak pintu rumah tetangga wanita yang disukai Wardhana tersebut. Pemandangan yang mencengangkan keduanya. Seorang laki-laki menindih tubuh perempuan dengan paksa. Bajunya sudah entah berada dimana.


"Ngapain kalian? Ini pacar gue."


Teriak laki-laki tersebut kasar.


Dave dan Wardhana hampir mundur mengingat ini bukan ranah mereka. Apalagi masalah pribadi seperti ini. Dipastikan keduanya sama-sama menginginkan.


Dengan susah payah perempuan yang mulutnya disumpal tersebut berkata. Keduanya tak melihat bahwa perempuan itu sedang dalam ancaman karena letak tubuhnya yang masih dibawah pria kasar itu.


Dave dan Wardhana kembali dengan tujuan mereka. Melumpuhkan pria aneh tersebut.


Wardhana mengunci gerakan sang pria sedangkan Dave mengamankan hal-hal yang mungkin dapat menjadi barang bukti.


"Jangan lu apa-apain, Dhan!"


Perintah Dave agar tak menyakiti Pria itu.


Perempuan malang tersebut masih menangis dalam lipatan kakinya yang berada di depan dada. Selain menutupi ketakutannya juga menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dibagian atas.


"Ehem, pakai ini."


Dave menyerahkan sarung yang sedari tadi ia kenakan menyisakan celana pendek hitamnya.


Perempuan itu menerima tanpa memperlihatkan wajahnya sedikitpun.


"Mba, kalau mau diproses secara hukum. Sekarang mba berpakaian yang baik. Kita ke kantor polisi."


Setelah sang perempuan malang mengenakan sarung menutupi dadanya. Dave memintanya untuk mengganti pakaian.


Namun tak ada jawaban, tubuh wanita itu terguncang hebat karena tangisan. Ia begitu trauma dengan apa yang baru dialaminya. Dave menyentuh bahu putih yang tak tertutup tersebut dengan lembut. Mengharapkan adanya jawaban.


Namun yang ada hanya mata bertemu mata. Keduanya saling menatap. Tak lama perempuan tersebut kembali menangis lagi dalam lipatan kakinya.


Dave mengepalkan tangannya dengan geram. Ia berjalan ke arah Wardhana dan memukul pria yang hampir menodai wanita tersebut.


"Udah lu apain dia?"


Dave bertanya sambil melayangkan pukulannya.


"Gak ada. Dia meronta terus dan kalian langsung masuk."


Jawabannya membuat Dave terus menerus memukuli pria itu.


"Bang*at lu! Lu tau dia siapa?"


Dave mendidih dan tak melepaskan pria yang sudah tak berdaya itu.


"Dave, udah! Lu bilang jangan diapa-apain."


Wardhana melerai.


Namun Dave seperti kesetanan tak melepas barang sedetikpun. Hingga pria tersebut limbung dan jauh ke lantai. Dave masih belum juga puas. Ia masih memberi pelajaran.


"Udah Dave."


Sang perempuan berlari kearah Dave dan memeluknya menahan amarahnya.


"Dia pacarmu?"


Tanya Dave. Dan perempuan itu menggeleng.


"Terus kenapa dia ada di dalam rumah berdua sama kamu?"


Dave membentak, membuat Wardhana kebingungan.


"Dia teman kerjaku. Besok pagi ada rapat. Dia butuh data dari aku malam ini. Jadi dia ikut kesini untuk ambil beberapa berkas."


Jawabnya dengan terus menangis mengingat kejadian tadi.


Dave yang melihat guncangan di tubuh wanita tersebut akhirnya melembutkan suaranya dan meraih tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.


"Maafin aku."


Ucap Dave lirih.


"Eh eh kok?"


Wardhana kebingungan.


"Pakai baju dulu. Kita ke kantor polisi."


Dave memberi perintah. Dan diikuti dengan baik.


"Nanti aja gue jelasin. Kita urusin dulu brandal satu ini."


Dave mengerti tatapan heran Wardhana.


Dave kembali memanjat pagar rumah dan berganti pakaian serta membawakan juga pakaian yang layak untum Wardhana. Tak ketinggalan ia pun mengeluarkan mobil untuk membawa pria yang diketahui bernama Daren mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Sepanjang perjalanan tak ada yang bersuara. Dave masih marah dengan pria yang saat ini sedang duduk di kursi tengah bersama Wardhana. Sedang Wardhana pun tak banyak tanya, ia tahu betul tabiat Dave, jika ia marah.


Jangan lupa Like, Comment, dan Votenya yah . 💕


trimikiciiihh