
Dayana menemui Tomi ke salah satu cafe. Ia melambaikan tangan ke arah Tomi, laki-laki itu terkejut melihat kedatangannya.
"Aku akan menikah satu bulan lagi."
Dayana memberikan sebuah kartu undangan.
"Kalau kau memintaku untuk kabur sekarang juga, aku akan lakukan."
Ucap Dayana melanjutkan niat kedatangannya. Tomi terdiam, ia menyadari seberapa besar cinta perempuan ini padanya.
"Lanjutkan pernikahanmu. Kalau kau gagal menikah, orangtuamu pasti tak akan menyuruhku bertanggungjawab. Mereka akan mencari oranglain lagi."
Ucap Tomi pesimis.
"Aku mau kawin lari denganmu. Kau punya tabungankan? Tabungan kita bila digabung akan cukup untuk merintis usaha baru. Kita kan hobi memasak, nanti kita buat usaha kuliner kecil-kecilan, Tom. Itukan mimpimu?."
Dayana memaksa ia kehilangan akal sehat.
"Pulanglah Day, aku bukan orang yang tega menyakiti hati orangtua."
Ucap Tomi sambil mengusap kepala Dayana.
"Selamat tinggal Tom."
Dayana berdiri dari kursinya dan mencium pipi Tomi kemudian pergi.
Keduanya melepas dengan berat. Mereka tau, tak akan ada lagi kesempatan untuk saling memiliki.
Tomi dan Dayana tenggelam dalam kenangan kebersamaan mereka selama tiga tahun belakangan ini.
"Tomiii...."
Dayana berlari mengejar motor Tomi yang lewat di depan tokonya. Tepat dibulan kedua perkenalan mereka bersamaan dengan hari pertama haid Kimmy.
Tomi menarik tuas rem motornya setelah melihat dari kaca spion seorang wanita seperti berlari ke arahnya. Wanita itu semakin mendekat, wajahnya dipenuhi keringat.
"Dayana? Ada apa?"
Tanya Tomi setelah melihat jelas.
"Ini, aku titip jamu pereda nyeri untuk Kim. Kamu mau pulangkan?"
Jawab Dayana dengan napas tersengal-sengal.
"Iya, emang Kimmy kenapa?"
Tanya Tomi mulai panik.
"Gak apa-apa, sakit perut biasa kalo lagi datang bulan."
Jawab Dayana tersenyum menenangkan Tomi yang sangat kuatir dengan adiknya.
"Oh gitu. Yuk bareng aja ke rumah."
Tomi mengajak.
"Gak bisa, aku masih kerja. Ini pasti udah ditunggu. Bye Tom."
Ucap Dayana sambil melihat jam tangannya kemudian berbalik arah.
Tomi tersentuh oleh perhatian Dayana pada adiknya. Tiba waktu malam di hari yang sama, Dayana yang sedang menunggu angkutan umum dikejutkan dengan kemunculan Tomi. Ia menawarkan tumpangan pulang sebagai bentuk terimakasih karena telah peduli terhadap Kimmy.
Semenjak hari itu keduanya semakin dekat, dan memiliki hubungan layaknya kekasih.
"Kata Kim, kalo mood mu lagi jelek. Kamu suka makan es krim cokelat."
Ucap Dayana sambil menyodorkan sepotong es krim pada Tomi. Pria yang sedang kesal tersebut tiba-tiba meleleh sambil mengeluarkan senyum termanisnya.
"Kimmy cerita apa aja sama kamu?"
Tanya Tomi sambil memperhatikan wajah Dayana yang terlalu cantik.
"Gak ada."
Ucap Dayana sambil menorehkan es krim ke hidung Tomi.
Belum sempat Tomi membalas, Dayana mengambil ancang-ancang untuk berlari menjauhinya. Tomi mengejarnya hingga Dayana kelelahan.
"Capek Tom."
Ucap Dayana yang kini menyandarkan kepalanya di bahu Tomi. Tomi yang bingung dengan perasaan hatinya, hanya terdiam.
Ia sesekali melirik ke arah Dayana memandangi wanita dengan es krim cokelatnya.
"Aku mau kaya gini terus Tom."
Ucap Dayana tanpa menoleh Tomi.
Tomi mengelus rambut wanita itu, seakan berkata ia juga menginginkan hal yang sama.
"Kamu punya mimpi apa?"
Tanya Dayana yang mulai ingin tahu lebih banyak mengenai lelaki pemilik perasaannya ini.
"Pengen punya cafe, terus aku sendiri kokinya. Ada live musicnya dan aku sendiri yang tampil. Hahaha"
Tomi tertawa menceritakan mimpi besarnya.
Ucap Dayana meyakinkan bahwa Tomi tak mustahil meraih impiannya.
"Kamu percaya aku bisa?"
Tanya Tomi heran. Biasanya teman-teman yang tau mimpinya akan menerwatakannya. Lu anak jurusan teknik sipil mau jadi koki? Masak sup oli? Tumis baut? atau oseng-oseng besi? . Sejumlah sahabat di kampusnya mengejek impian Tomi yang jauh dari jurusan kuliah mereka.
Tomi kehilangan kepercayaan diri meraih itu semua. Hingga saat Dayana berbicara seperti itu, Tomi mulai giat menabung untuk memenuhi cita-citanya.
"Kalau semua itu mungkin, aku bakal rekruit kamu jadi asisten aku."
Ucap Tomi sambil mencium kepala Dayana.
Dayana senang bukan kepalang, untuk pertama kali Tomi menunjukkan perasaannya dengan sentuhan fisik.
Tomi tidak pernah menyatakan perasaannya secara langsung, namun Dayana mengetahui pria ini mencintainya sungguh-sungguh. Ia bahkan tak pernah mengizinkan siapapun masuk ke dalam hatinya. Baginya, pengakuan yang keluar dari mulut Tomi tak penting, selama ia dapat merasakan perhatian yang besar dari pria yang dicintainya tersebut.
Dayana melepaskan semua kenangan dengan derasnya air mata yang turun. Ia harus siap dengan kehidupan baru dengan pria yang tak dikenalnya.
Sedang Tomi, ia tetap memilih masih duduk di tempat tadi melihat bayangan Dayana yang tersenyum padanya seraya mengucapkan selamat tinggal.
Awal penyesalan Tomi seumur hidupnya.
"Bro, ayo pulang."
Dave menepuk bahu Tomi. Ia melihat semua kejadian dengan jelas. Dirinya tak menyangka Tomi bisa selemah ini seperti dirinya dulu. Tomi yang ia anggap sebagai sosok kuat dan keras. Bisa melemah karena seorang wanita.
"Duluan aja."
Ucap Tomi.
Dave patuh, ia menjauh dari Tomi namun tak meninggalkannya. Diperhatikan Tomi dari kejauhan, takut bila terjadi hal yang tak diinginkan.
Gue tau rasanya di posisi lu.
Batin Dave.
Terlalu lama Tomi tak juga bergerak dari pandangannya yang kosong.
Dave kembali lagi menghampirinya.
"Ikut gue yuk."
Dave merangkul pundak Tomi menyeretnya pergi dari tempat itu.
Tomi heran, mengapa Dave masih ada disini.
Dave memboncengi Tomi membawanya ke sasana milik ayah Dave tepat pertama kali keduanya bertemu dan berduel. Kemudian melemparkan sarung tinju ke arah Tomi.
"Maksudnya?"
Tanya Tomi tak mengerti.
"Gue nantang lu duel bang."
Ucap Dave menjalankan strategi agar Tomi sedikit melupakan masalahnya dan meluapkan kekecewaannya.
"Haha, lu nantangin gue? Hadiahnya apa?"
Tanya Tomi.
"Kalo lu menang, gue traktir lu makan macaron sepuasnya. "
Ucap Dave asal.
"Lu tau darimana gue suka macaron?"
Tanya Tomi kebingungan.
"Gue malah gak tau lu suka, cuma dulu waktu kecil gue punya temen deket. Nasibnya kurang beruntung dibanding gue. Kalo nyokap gue pulang dari paris bawa oleh-oleh. Gue suka bagi dia, dia bisa abisin sekotak sendiri. haha lagi inget aja."
Ucap Dave mengenang sosok Tomi kecil yang tak disadarinya.
"Terus dia kemana?"
Tanya Tomi.
"Gue gak tau, gue pindah ke rumah nenek waktu itu. Pas gue balik lagi. Dia juga udah gak ada."
Jawab Tomi dengan wajah sedih.
"Ah udah jangan sedih. Trus kalo lu yang menang gimana?"
Ucap Tomi yang merasa salah bicara.
"Kimmy buat gue."
Jawab Tomi sambil naik ke atas ring.
"Jangan coba-coba minta yang itu."
Ancam Tomi sambil menyunggingkan senyum pahit.
"Bercanda gue."
Ucap Dave tak mau mengambil resiko dijauhkan dari Kimmy.