
Semenjak kepergian Dave, Kimmy selalu menoleh ke belakang tempat duduknya, memperhatikan kursi yang selalu di tempati Dave kini hampa.
Bahkan beberapa teman sekelasnya yang hendak menduduki kursi itu harus rela di usir Kimmy berkali-kali.
"Udahlah Kim, Dave udah berangkat. Lu mau ni kursi diisi penunggu lain? "
Tanya Renata yang tak sanggup melihat tingkah Kimmy.
"Paling arwahnya Dave. "
Jawab Kimmy sembarang. Niat menakuti Kimmy, justru malah Renata yang ketakutan.
Kimmy berubah menjadi pribadi yang tak menyenangkan di mata teman-temannya. Sikapnya sedingin Dave mantan kekasihnya dulu, itu yang mereka ucapkan di belakang Kimmy. Hanya Ali yang mampu menahan sikap Kimmy yang menjengkelkan itu.
Pria itu berusaha tak banyak tanya, setiap menjemput Kimmy ia hanya diam tak mau mengganggu pikiran kimmy, karena ia jelas tau isi pikiran Kimmy hanya menyangkut Dave.
"Dia kenapa sih Al? Seminggu ini kaya mayat hidup gitu. "
Tanya Marcel yang bingung melihat perubahan drastis pada sang adik.
"Kak Marcel tanya langsung aja."
Jawab Ali.
Marcel mendatangi kamar Kimmy, memperhatikan adiknya yang menatap layar ponsel sambil tiduran.
"Kamu gak mau cerita sama Kakak, Dek? "
Tanya Marcel. Kimmy segera menyimpan ponselnya yang tertera gambar dirinya dan Dave.
"Udah lewat Kak. Gak ada yang penting. "
Jawab Kimmy.
"Kalau udah lewat dan gak penting, pasti hari ini gak akan murung. "
Kata Marcel.
Kimmy menarik lengan Marcel kemudian keduanya terduduk di tepi ranjang, Kimmy merebahkan kepalanya di bahu Marcel.
"Hari kakak nikah, Dave mutusin aku. Dan udah seminggu ini dia ikut akademi kepolisian. "
Ucap Kimmy lemah.
"Terus kalian LDR? "
Tanya Marcel.
"Boro-boro. Dia malah niat nikahin mantannya pulang dari pelatihannya. "
Jawab Kimmy.
"Terus kamu sedih? Sebaiknya kamu gak egois mikirin hatimu sendiri. Nanti nyesel kaya Kakak. Coba belajar pikirin orang-orang yang mencintai kita. Contohnya Ali. "
Marcel mulai dengan sabdanya.
"Ali emang baik sih Kak. Tapi aku belum bisa usir Dave darisini. Itu manusia udah tancapin paku di singgasananya disini. "
Kimmy menunjuk dadanya.
"Ali akan bantu mencabut paku-paku itu, asal kamu izinin dia masuk. "
Jawab Marcel.
"Entahlah Kak."
Ucap Kimmy bimbang. Ia tak ingin Ali hanya sebagai pelampiasan.
Marcel keluar dari kamar adiknya, ia menghampiri Ali yang hendak pulang.
"Gue bentar lagi jadi ayah. Gue titip Kimmy ke lu ya. Mungkin gak akan lagi banyak waktu gue dan Tomi untuk dia. "
Ucap Marcel.
"Iya kak."
Ali bersedia tanpa disuruh pun.
"Lu suka sama dia? "
Tanya Marcel.
"Iya tapi Kak Marcel jangan kuatir, Kimmy akan gue jaga sampai Dave balik. "
Jawab Ali.
"Enggak, Al. Lu jaga dia seumur hidup lu. Jangan cuma dekati dia, tapi sentuh hatinya. "
Minta Marcel.
"Gue akan jaga dia Kak kaya lu dan Kak Tomi jaga dia. "
Kata Ali.
"Bukan itu maksud gue. Lu pantas jadi pendamping Kimberly, Al."
Marcel menepuk bahu Ali.
"Kimmy itu untuk Dave dan Dave untuk Kimmy."
Sanggah Ali.
Tanya Marcel lagi.
"Bukan gitu kak, kan Dave pergi karena ada alasannya."
Ali berusaha menjelaskan.
"Sorry Al gue gak mau denger penjelasan apapun soal tindakan Dave. Apapun alasannya gue percaya akan tetap menyakiti Kimmy. Gue besarin adek-adek gue bukan untuk disakiti. Kalo lu gak mampu jaga dia, lebih baik lu jangan terlalu dekat sama dia. Biar dia cari laki-laki lain yang bisa jaga dia."
Marcel membalikkan tubuhnya.
"Baik kak, gue akan jaga dia sepanjang hidup gue."
Janji Ali. Namun ia tak berharap lagi sedikitpun Kimmy akan mencintainya. Cukup menjaganya untuk Dave. Baginya itu lebih dari cukup.
**
Lima bulan berlalu, Kimmy sedikit membuka dirinya ketika kelahiran Miracle , putri dari Gea dan Marcel. Gea memberikan nama itu saat Kimmy sering mengelus perutnya dan berbicara tanpa pernah meninggalkan kata Miracle di dalam ucapannya.
Marcel mencintai istri dan anaknya dengan sempurna, hidupnya kini sudah bahagia dengan hadirnya Miracle.
"Hey Miracle, nanti kalau kamu udah besar aunty ajarin pake pembalut ya biar papamu gak usah beli pembalut sama toko-tokonya."
Ujar Kimmy terkekeh.
Marcel mendengus. Sedang Ali dan Gea tertawa mendengarnya.
"Wah kita kedatangan keluarga baru nih."
Ucap seseorang yang baru saja sampai di ruang perawatan Gea.
"Kak Tomi... "
Kimmy berlari memeluk Tomi dan menggelayut di lehernya persis seekor monyet.
"Astaga berat banget badan lu. Sana ih gue mau gendong bayi cantik ini. "
Tomi melepaskan pelukan Kimmy.
"Ya gimana gak gemuk? Kerjaannya tiap hari kurung diri di dalam kamar, rebahan sambil ngemil. --Miracle, kamu kalau patah hati jangan kaya aunty mu ya. "
Sindir Marcel.
Tomi menghentikan langkahnya, ia menoleh kearah Ali menunggu penjelasan. Ali hanya mengangguk, tahu apa yang Tomi maksud lewat tatapannya.
"Haloooo musuh bebuyutanku.. "
Wanda datang menyapa Kimmy, membuyarkan suasana yang mulai tegang.
"Ih Kak Tomi ngapain bawa koper juga? "
Tanya Kimmy, semua melihat ke arah Tomi tak ada koper yang dibawa hanya ransel berukuran sedang di punggungnya. Hanya Tomi yang mengerti maksud Kimmy, ia tertawa sendiri.
Wanda memukul lengan Kimmy pelan. Kemudian mereka berpelukan.
Selesai bercengkrama melihat keponakan barunya, Tomi membahas kembali hal yang sempat terpotong tadi.
"Kalian putus? "
Tanya Tomi diluar ruangan. Semua keluar ruangan karena Gea dan bayinya akan dibersihkan.
"Iya."
Jawab Kimmy sedih.
"Kan gue bilang lu cocoknya sama Ali. Liat deh ini foto lupa gue kirim. Kalian gemesin banget."
Wanda membuka galeri ponselnya, terdapat foto Kimmy sedang menindih tubuh Ali sewaktu tidur.
"Hah?? Jadi yang di hp gue kerjaan lu juga? "
Tanya Kimmy terkejut.
Tomi dan Marcel memperbesar foto yang diambil Wanda tersebut. Kemudian memperbesar bola matanya tak percaya dengan apa yang dilihat.
"Ih ini gak gitu Kak. Ada Kak Tomi kok. "
Kimmy berusaha menjelaskan.
"Tapi gue gak ada di foto itu, pas gue ke kamar mandi pun kalian tidurnya cuma saling menghadap gak sampai tindih menindih gini. "
Sanggah Tomi.
"Bener kok Tom, ini kejadian pas lu mandi. "
Ucap Wanda.
"Wandaaaa, lu lempar granat ke gue dan lu juga yang mau selametin nyawa gue. "
Protes Kimmy.
"Sorry gue gak nyangka brothers lu pada lebay gini. "
Jawab Wanda.
"Kalian harus menikah! "
Ucap Tomi dan Marcel serempak.
Readers, Mr. Snowman, jangan lupa ya tinggalin like dan komennya. 💕