Mr.Snowman

Mr.Snowman
Makam



Setelah semua kegiatan perkuliahan yang mereka lalui, sampailah keduanya pada hari kedua janji Dave pada Kimmy yaitu membiarkannya ikut menemani latihan.


Sepanjang perjalanan ke sasana, Dave terganggu dengan pikirannya mengenai ucapan Kimmy pada Hendrik. Namun sesungguhnya enggan ia bahas lagi.


Dave memukuli samsak dengan tak beraturan, batinnya belum tenang jika tak menanyakan hal ini pada Kimmy.


Ia mendatangi Kimmy ke tempatnya menunggu.


Kimmy melambaikan tangan kegirangan, merasa ia akan dihampiri.


"Jadi lu udah tau semua masa lalu gue?"


Tanya Dave dengan raut wajah kesal.


"Iya."


Jawab Kimmy polos.


"Soal yang mereka ucap tadi?"


Tanyanya masih ingin diperjelas.


"Tau, dari Renata."


Kimmy berkata jujur.


"Terus lu masih suka sama gue?"


Tanya Dave penuh keraguan.


"Masihlah."


Ucap Kimmy super yakin.


"SUKA atau KASIHAN?!"


Dave membentak Kimmy dengan pertanyaan.


Kimmy terkejut dan hampir menangis, ia paling tak bisa mendengar orang berbicara dengan keras padanya. Dia memilih diam.


"Kenapa diam? Benerkan lu cuma kasian sama gue yang gak punya teman? Atau bahkan Renata udah ceritain soal perempuan yang ninggalin gue karena masa lalu gue?"


Tanya Dave terus berteriak. Suaranya menggema di tempat yang hening ini.


"Pergi darisini!"


Minta Dave melemah.


Kimmy mulai menangis, ia tak terima dituduh hal yang bukan-bukan. Kemudian berdiri seraya berkata


"Gue emang tau masa lalu lu, Re ngasih tau setelah gue udah suka sama lu. Dan setelah gue tau, itu gak ngerubah apapun. Soal perempuan yang lu sebut tadi, Renata gak pernah cerita!"


Ucap Kimmy sambil menangis terisak. Kemudian ia berjalan meninggalkan Dave sendiri.


Ia pulang dengan kekesalan yang telah berlalu bersamaan air mata yang tertumpah. Kimmy tidak pernah menyimpan marah dan dendam berlarut-larut.


"Dia gak keluar dari kamar?"


Tanya Marcel yang dari kemarin tak melihat adik perempuannya.


"Enggak, semenjak pulang kuliah sore kemarin, sampai hari ini belum keluar."


Jawab Tomi.


"Udah siang, dia belum makan. Takutnya sakit."


Ucap Marcel perhatian.


"Dia capek kali seminggu ini kerjain tugas. Biarin aja hari liburnya dipake buat tidur."


Tutur Tomi. Kebetulan ini hari minggu, mereka bertiga berkumpul di rumah.


Marcel yang tak tenang, mencoba membuka pintu kamar adiknya, beruntung tidak dikunci. Kemudian ia memanggil Tomi untuk ikut masuk bersamanya.


Dilihatnya Kimmy masih tertidur dengan memeluk bingkai foto papa dan mama mereka.


Seketika keduanya merasa bersalah telah mendiamkan adiknya berhari-hari.


Kemudian mereka keluar lagi dari kamar tanpa membangunkan Kimmy.


Kimmy terbangun satu jam setelahnya dan bergegas mandi kemudian makan. Hari ini Tomi memasak sup ikan kesukaan Marcel.


"Ganti baju, Dek."


"Mau kemana?"


Tanya Kimmy, namun Marcel tak menjawab, malah berjalan meninggalkannya ke teras.


Dilihatnya Tomi memakai baju hitam sama dengan Marcel. Maka ia putuskan untuk memakai baju dengan warna yang sama.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil yang dikendarai Marcel. Ia duduk di jok belakang, tak banyak tanya hendak kemana akan dibawa.


Setengah jam sudah mereka menempuh perjalanan. Kimmy mulai paham tujuan mereka. Pemandangan disepanjang ruas jalan ini adalah arah menuju persemayaman terakhir kedua orangtuanya.


Akhirnya mereka telah sampai, Kimmy menyempatkan diri mampir ke toko bunga . Ia membeli dua buah buket bunga untuk kedua orangtuanya.


Marcel dan Tomi menabur bunga diatas tanah makam papa dan mamanya yang bersebelahan.


"Pa, maafin Marcel belum bisa sebijak papa."


Ucap Marcel di makam papanya. Ia menyesal menghukum Kimmy terlalu lama.


"Ma, maafin Tomi yang gak bisa sesabar mama. Tomi masih sering berantem sama Marcel dan Kimmy."


Ucap Tomi di makam mamanya.


Kimmy ikut menyesal, keegoannya membuat kedua Kakaknya merasa bersalah.


"Maafin Kimmy. Kimmy ngaku salah."


Ucap Kimmy penuh penyesalan. Ia berlari memeluk kedua kakaknya. Mereka bertiga berpelukan.


Kalau dongeng orangtua jaman dulu adalah sebuah kenyataan yang mengatakan orang-orang yang telah tiada masih bisa melihat kita dari kejauhan. Mungkin kedua orangtua mereka sedang berbangga bahkan boleh saja menyombongkan diri terhadap penghuni surga lainnya, sambil menunjukkan ketiga anaknya yang telah sukses saling menjaga dan menyayangi.


Kimmy memposting kegiatan mereka sore ini di sosial media miliknya. Dengan sebuah kalimat yang menyentuh "Terimakasih papa mama, telah menitipkan saya pada kedua malaikat ini. 17tahun mengenang kepergian kalian."


Renata yang sedang bersantai menikmati sorenya dengan menikmati rujak buah sembari melihat-lihat beranda sosial media miliknya, dikejutkan dengan postingan terbaru Kimmy.


"Berarti Kimmy? Pantes Tomi segitunya sama adeknya. Kimmy kuuu sayang.."


Gumam Renata yang merasa ikut menanggung kesedihan Kimmy.


Di dalam mobil perjalanan pulang,


"Cel, besok gue gak bisa anter Kim."


Ucap Tomi bermaksud meminta Marcel yang mengantarnya.


"Masih marah sama gue, Kak?"


Tanya Kimmy sedih.


"Hahaha, bukan gitu. Besok gue ada acara di kampus, jadi berangkat lebih pagi."


Jelas Tomi sambil mengelus-elus kepala adiknya.


"Iya besok gue yang anter."


Marcel menanggapi perkataan Tomi.


Malam ini, Kimmy dapat tidur dengan damai tanpa perasaan bersalah. Begitu juga dengan Tomi, namun tidak dengan Marcel. Hidupnya dihantui ketakutan. Takut bila Gea membuka hatinya untuk orang lain. Takut bila batas kesabaran Gea berakhir. Takut kehilangan perhatian Gea yang awalnya mengganggu dan menyebalkan menjadi sebuah candu bagi Marcel. Ketakutan yang ia rasakan sebelum terjadi.


"Ge, bisakah kamu menunggu saya beberapa tahun lagi?"


Marcel berbicara pada langit-langit kamarnya.


Di tempat lain, di kediaman Gea.


"Cel, kapan sih kamu sedikit aja lihat aku?"


Gea yang memandangi foto Marcel di ponselnya.


Keduanya tertidur dengan hasrat ingin memiliki satu sama lain. Tapi pendirian Marcel yang kuat menutupi jalan cerita mereka untuk waktu yang panjang.


"Telepon, enggak, telepon, jangan.."


Ucap Dave sambil menghitung jumlah keramik lantai di kamarnya.


Dave kehilangan pesan masuk yang bertubi-tubi dari Kimmy, ia mengira perempuan itu masih marah terhadapnya. Padahal Kim memang tak sempat menghubunginya, karena setelah bangun tadi ia menghabiskan waktu seharian dengan kedua kakaknya.


"Besok ajalah, ngomong secara langsung. Gue udah keterlaluan juga kemarin."


Ucap Dave pada dirinya sendiri.