
Kimmy berlari ke pos bahagia. Ia tak membeli apapun hari ini. Tadi pagi sudah ia siapkan semua kebutuhan acara kejutan ulang tahun Dave lengkap dengan kue dan cemilan.
Ia mencari solusi dengan adik-adik yang tak sabar menunggu Dave.
"Gimana nih Snowmannya ngambek beneran?"
Tanya Kimmy pada semua yang sudah hadir.
"Pinjem hp Kak Kim, serahin sama Gugun."
Ucap Gugun dengan yakin.
Kimmy memberikan ponselnya. Gugun melancarkan aksinya.
"Kak Dave, ini Gugun. Kak Kimmy sakit kecapean."
Ucap Gugun berbohong demi mensukseskan acara ini.
Dave langsung mematikan teleponnya dan berlari ke tempat mereka.
"Gun, kalo boong yang bagus dikit dong. Kalo Kak Kim sakit, dia gak akan peduli."
Ucap Kimmy putus asa.
"Siapa bilang? Kak Dave kan sayang sama Kak Kim. Waktu dicuekin aja dia jadi murung."
Gugun membocorkan kegalauan Dave.
Kimmy senang mendengarnya, serasa ia yang sedang berulang tahun dan mendapat kejutan.
"Kak Dave dataaanngg..."
Ucap salah seorang anak yang bertugas menjaga di ujung gang.
Semua bersiap di posisinya. Kimmy memegang kue dan lilin.
3..2..1.. Dave telah sampai, mereka bernyanyi lagu-lagu perayaan ulang tahun secara beruntun dan penuh keceriaan.
"Happy birthday Mr.Snowman. Tiup lilinnya dan buat satu permintaan."
Ucap Kimmy sambil menyodorkan lilin yang berada diatas kue.
Dave memejamkan mata memohon satu permintaan pada Sang Pencipta agar ia diberi kesempatan untuk membawa kebahagiaan dan harapan untuk adik-adik yang hadir disini. Ia ingin hidupnya berguna setidaknya sekali saja.
Kemudian lanjut meniup lilin.
"Kenapa senyum-senyum mandangin kue?"
Tanya Kimmy yang keceriaannya kembali seperti sedia kala.
"Itu pasti lu yang mesen kuenya kan? HBD Mr.Snowman."
Jawab Dave sambil membaca ucapan diatas kue.
"Hahahaha iya. Kan gue belum tau nama lu."
Tutur Kimmy menggoda. Mengingatkan Dave bahwa dirinya masih menyukai pria ini.
Dave hanya tersenyum mendengarnya, ia belum terlalu yakin dengan perasaannya pada Kimmy.
"Jadi lu gak beneran marah sama gue?"
Tanya Dave mengalihkan pembicaraan.
"Tadinya udah enggak, cuma mereka-mereka ini yang punya ide sekeren ini."
Kimmy menunjuk adik-adik yang sedang berswafoto menggunakan kamera Kimmy.
"Kak potong kuenya dong.. Kita udah gak sabar mau cobain."
Ucap anak-anak meminta agar dibagi kue ulang tahun Dave.
Dave memotong kuenya diiringi lantunan lagu dan tepuk tangan dari anak-anak tersebut.
"Kue pertama buat siapa ni?"
Tanya Devi.
"Buat Gugun lah yang idenya keren banget."
Jawab Kimmy masih sambil memegangi kue, mengangkat alisnya dan melirik kearah Gugun.
Tak mendengar perkataan Kimmy, Dave menyodorkan kue pertama ke mulut Kimmy, membuat suara-suara riuh yang menggoda mereka. Gugun tak melewatkan kesempatan ini. Ia mengambil gambar ketika wajah Kimmy terkejut menerima suapan dari Dave.
"Aahhh gue seneng..."
Ucap Kimmy tak henti-hentinya semenjak diberikan potongan kue pertama.
"Lu gak bisa sedikit sembunyiin apa yang lu rasain?"
Tanya Dave yang heran dengan pola tingkah Kimmy.
"Enggak."
Jawab Kimmy menyeringai. Sikap yang Dave rindukan darinya satu bulan ini.
"Thanks ya Kim."
"Apa? Gak kedengeran."
Ledek Kimmy yang tersanjung, untuk pertama kalinya tak disebut freak atau aneh oleh pria dingin ini.
"Balik ke kampus."
Kata Dave tak mau mengulang kalimatnya.
Mereka berpisah dengan para adik asuhnya.
"Lu mau hadiah apa? Gue bingung mau beliin apa."
Kim mengawali obrolan sepanjang perjalanan singkat sampai ke kampus.
"Gak ada, tapi kalo lu mau kasih, besok gue ada tanding. Jadi supporter gue gimana?"
Tanya Dave.
"Oke siap."
Jawab Kimmy menyetujui.
Keduanya terlihat semakin dekat, Dave pun sudah mulai berdamai dengan masa lalunya semenjak Kimmy tidak menghakiminya seperti yang lain.
**
Dave terkejut bukan main. Ia tak tau siapa orang yang jadi rivalnya kali ini. Bang Josh selaku pelatihnya bahkan tak memberitahunya.
Ya berdiri di hadapannya Ali. Air muka Dave berubah bingung.
Bagaimana kalau orang ini akan mengalami kelumpuhan lagi oleh karena dirinya?
Pikirannya kembali pada kejadian lima tahun lalu.
Kali ini, lu yang akan gue buat ngerasain apa yang gue derita dulu. Duduk di kursi roda jadi orang yang gak berguna.
Batin Ali mendendam.
Ronde pertama dimulai, Dave sudah dikalahkan secara mental. Ia tak siap menerima serangan Ali.
Ali pun tak memberinya ampun, saat wasit sudah memintanya berhenti, Ali masih terus menghajar kaki Dave.
Di kursi penonton Kimmy mengingat nama Ali, Renata pernah sekali menyebut nama itu. Dan tak jauh dari tempat Kimmy sekarang, ada Hendrik Cs, orang yang mengganggunya tempo hari. Ia segera menghubungi Renata mencari informasi tentang Ali.
"Orang yang dibuat cacat sama Dave dan yang buat Dave dipenjara itu loh."
Ucap Renata dengan kesoktahuannya.
Kimmy jadi berpikir keras, bagian mananya yang cacat? Manusia ini terlihat segar bugar bahkan kuat.
Pertandingan kedua berakhir sama dengan pertandingan pertama. Kaki Dave dihajar terus menerus oleh Ali.
Kimmy mendatangi sudut ring Dave.
"Snowman, ini cuma soal mindset. Lupain masa lalu, dan liat orang di depan lu gak akan kesakitan kalo lu hajar balik. Pake teknik yang bener pastinya."
Ucap Kimmy memberikan motivasi pada Dave agar melawan. Karena semenjak tadi Dave hanya diam tak membalas.
Dave kembali bersemangat, ia hendak memberi perlawanan pada Ali di ronde terakhir. Namun semua dibuyarkan oleh suara perempuan yang sangat ia kenal. Dave menoleh mencari sumber suara, membuat Ali berkesempatan memenangkan pertandingan ini.
Banyak kejutan hari ini, mulai dari kehadiran Ali dan sekarang wanita yang dicintainya. Jemima.
Ia menyoraki Ali, memberi semangat pada rivalnya.
Pukulan demi pukulan diterima Dave. Ia oleng, dan akhirnya terjerembab jatuh bukan sepenuhnya karena pukulan Ali, melainkan jatuh karena ekspektasinya yang tinggi mengenai wanita itu, ia mengkhayalkan Jemima kembali untuk menerimanya. Padahal kenyataannya jauh lebih tak masuk akal. Dia bersama Ali saat ini, di pihak Ali. Musuh besar Dave.
Ali menghantam kaki Dave tanpa ampun, pertandingan telah usai namun tak dilepaskan.
Kimmy berlari keatas ring memeluk Dave agar dirinya tak lagi menerima pukulan dari lawannya.
"Minggir!"
Teriak Ali pada Kimmy.
"Tolong jangan sakitin dia lagi."
Ucap Kimmy memohon pada Ali.
Dave sudah babak belur, Ali dan teman-temannya beserta Jemima meninggalkan Dave begitu saja.
Dave tak sedang kalah dalam pertandingan. Ia kalah melawan kenangannya.
Kimmy dengan sabar mengobati lebam-lebam di wajah dan tubuh Dave akibat serangan Ali yang membabi buta.
"Perempuan baju cokelat tadi?"
Tanya Kimmy pada Dave yang masih melamun melihat kursi tempat dimana Jemima duduk tadi.
Dave mengangguk.
"Gue sering liat dia di kampus. Anak farmasi. Renata juga pernah ngobrol sama dia. "
Ucap Kimmy sambil membersihkan tubuh Dave.
Dave tercengang. Bisa-bisanya ia tertipu. Katanya ia hendak kuliah di luar kota.