
"Thank you, Kak. Take care."
Ucap Kimmy pada Marcel yang mengantarkannya sampai turun dari mobil. Sembari memberi kecupan hangat di pipi Kakak sulungnya tersebut.
"Iya Dek. Belajar yang serius."
Balas Marcel sambil mengelus kepala adiknya.
Marcel meninggalkan Kimmy setelah ia masuk ke dalam area kampus dan tak terlihat lagi, sedang di parkiran motor Dave yang salah paham mengurungkan niatnya meminta maaf pada Kim.
Dave berjalan ke dalam kelas dengan wajah masam, Kimmy yang sedang mengobrol dengan Renata, menyapanya
"Snowmaaaannn..."
Sapa Kimmy ramah.
Renata memilih menyingkir dari mereka daripada menjadi sasaran kemarahannya.
"Lu masih marah sama gue? Sorry ya Snowman. Senyum dong."
Kimmy merayu Dave. Kemudian ia makin berani, berdiri dari kursinya dan mendekati Dave untuk membujuknya.
"Senyum dong Snowman. Jangan begitu."
Rengek Kimmy terus menerus, membuat Dave jengah, lalu spontan mendorong tubuh kecil Kimmy untuk yang kedua kalinya.
Renata berdiri membangunkan Kimmy yang terjatuh, sedang Dave tak menghiraukan sama sekali.
"Kan gue bilang jangan deket-deket sama si raja tega ini."
Ucap Renata mengingatkan Kimmy.
Bukan Kimmy namanya kalau cepat menyerah, jam istirahat dia tetap mengikuti Dave. Dibelakang keduanya terdapat Renata yang membuntuti Kimmy, takut pria yang terkenal tak ada belas kasih itu menyakiti sahabatnya lagi.
"Lu jangan ganggu gue lagi!"
Kata Dave pada Kimmy yang ikut berjalan ke Pos Bahagia.
"Gue mau ikut, ketemu adik-adik."
Jawab Kimmy merengek seperti anak kecil.
"Orangtua lu gak pernah ngajarin ya untuk gak maksain kehendak sendiri?"
Tanya Dave kasar. Emosinya sudah memuncak.
Sedang Kimmy terpukul mendengar perkataan Dave, orangtuanya tak salah apapun. Ia tak meminta dibesarkan tanpa didikan dari orangtua. Namun, hati Kimmy memaafkan perkataan Dave. Karena ia mengerti bahwa Dave tak tahu apa yang sedang diucapkan.
Kimmy terus berjalan dalam diam. Tak lagi banyak bicara. Dave semakin kesal dengan keras kepalanya Kimmy.
"Kenapa masih ikut?"
Tanya Dave menahan geram.
"Gue nyaman istirahat bareng lu."
Jawab Kimmy sangat jujur.
"Udahlah ratu gombal, lu jangan kira bisa gombalin gue. Lu pikir bisa punya pacar banyak dalam satu waktu? Emang gue gak liat tadi pagi lu dianter laki-laki yang lu cium mesra?"
Dave menuduh Kimmy tanpa bertanya, hati Kimmy sebenarnya berbunga-bunga mendengar perkataan Dave seperti orang yang sedang cemburu.
"Haduh,.senyum lagi. Jangan-jangan orangtua lu yang ngajarin untuk jadi perempuan yang pura-pura polos padahal murahan."
Dave menyambung kalimat yang belum sempat Kimmy jawab.
Kali ini batin Kimmy tak dapat menerima sisi positif apapun dari kalimat Dave. Hatinya sakit, jiwanya terluka. Kimmy menangis tanpa suara, perkataan itu benar-benar menyakitinya.
Dave masih dengan pendiriannya, ia mengira Kimmy hanya berpura-pura untuk mendapat simpatinya. Besok juga akan baik lagi. Pikirnya.
Kimmy masih terus mengeluarkan air mata tanpa suara. Sedang Dave hanya melihatnya tanpa berbuat apapun, ia merasa sudah mengatakan hal yang benar.
Ucap Kimmy sambil terus tersedu. Suara tangisnya begitu pilu. Kemudian ia berbalik arah berjalan meninggalkan Dave.
Renata yang sedari tadi membuntuti Kimmy mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Dave. Walaupun sebenarnya berada di depan Dave saja dia sudah gemetar, apalagi sampai bicara. Baginya ini merupakan kebanggaan bisa menumpas kesewenang-wenangan Dave.
"Heh Dave! Lu bukan cuma gak punya hati, tapi juga gak punya otak! Lu tau, dia udah ditinggal orangtuanya dari bayi? Udah tau dia berjuang bertiga sama kakak-kakaknya dari kecil?"
Renata mengambil napas panjang, kakinya mulai bergetar, jantungnya berdegup keras. Sesungguhnya ketakutannya sangat besar. Namun kemarahannya lebih besar daripada rasa takut.
"Yang lu liat, cowo yang tadi pagi nganter dia, itu Kakaknya juga selain Tomi. Ngerti? Emang lu gak pantes dapet perhatian dari Kim!"
Renata berkata sambil menunjukkan foto Kimmy dan kedua kakaknya di makam kemarin sore.
Dave terdiam, terpaku, langit seperti runtuh diatas kepalanya, petir menyambar-nyambar dadanya. Malaikat menyayangkan tindakannya, dan iblis sedang menari diatas kebodohannya.
Renata berlari menghampiri Kimmy, sedang Dave melamun ditengah kerumunan adik-adik di Pos yang ia bangun bersama Kim. Ia sangat menyesal menyakiti Kimmy selama ini. Orang yang ia bilang manja ternyata melalui kehidupan yang lebih sulit darinya.
Kimmy yang terkejut dengan pengakuan Renata atas perbuatannya terhadap Dave, memarahinya.
"Gue gak suka dikasihanin, Re."
Protes Kimmy yang masih terus menangis di pelukan Renata.
"Re, janji jangan bilang Kak Tomi ya."
Minta Kimmy usai tangisnya reda dan sebagai teman yang baik, Renata menyanggupinya.
Mulai siang itu, tak ada lagi gangguan yang didapati Dave dari Kimmy. Tak ada yang memanggilnya dengan sebutan Snowman, tak ada yang membujuk Dave melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, tak ada pula gombalan yang menyenangkan hati Dave, dan tak ada lagi pesan di ponsel Dave yang berkata tak sabar menunggu pagi untuk bertemu dirinya.
Kimmy benar-benar hilang dari kehidupan Dave, istirahatnya tak lagi berbagi kebahagiaan dengan anak-anak kampung di samping gedung universitas mereka. Mulai hari itu, waktu Istirahatnya sering digunakan dengan membaca buku-buku di perpustakaan.
Tak jarang, anak-anak di pos bahagia menanyakan dan merindukan Kimmy.
Dave melihat ke sudut pos tempat biasa Kimmy menghabiskan bekalnya, tertawa dengan beberapa anak-anak.
"Kak Dave, kangen Kak Kim? Liat aja fotonya di galeri hp."
Ucap Gugun yang seolah mengetahui kegundahan hati Dave. Ia tersentak melihat hasil foto Gugun yang tak pernah diketahuinya.
"Makasih ya Gun."
Ucap Dave sambil tersenyum memperhatikan semua gambar Kimberly.
Bukan ada yang kurang di tempat ini, tapi ada yang hilang di hati Dave.
Setiap Dave hendak mengajak Kimmy beristirahat bersama, Renata seolah tak rela. Ia dengan cepat menarik tangan Kimmy menjauh sebelum Dave sempat berbicara.
Sudah hampir satu minggu, Kimmy memperlakukan Dave seolah tak ada. Menurut Dave Rasanya hukuman ini sangat menyiksa. Lebih baik membiarkannya mengoceh panjang lebar atau memukuli mulutnya yang sudah berbicara seenaknya daripada didiamkan berlama-lama seperti ini.
Sekarang sudah hari minggu lagi, artinya besok adalah waktu bagi semua mahasiswa kelas mereka untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
Dave memegang kertas yang dari seminggu lalu sudah Kimmy berikan. Berisi rangkuman survey yang telah mereka lakukan. Ia baca isinya, kemudian beberapa disempurnakan. Sungguh tim yang lengkap. Keduanya berkontribusi baik di dalam tugas mereka.
Senin pagi..
Dosen memanggil satu persatu dari enam kelompok yang ada. Ia menyayangkan seharusnya Kimmy dan Dave masuk ke dalam kelompok yang berbeda. Tak apa terdapat kelompok berisi tujuh orang katanya, daripada hanya berdua.
Kimmy dan Dave maju sebagai kelompok terakhir yang dipanggil.
"Oh pantas rela berdua doang. Ini sih bukan cuma kerja kelompok. But a couple of this day. Liat outfit aja janjian."
Ucap Bu Lusi Dosen mata kuliah ekonomi mikro.
Dave mengenakan kemeja lengan panjang hitam dan denim putih, serasi dengan Kimmy yang mengenakan kemeja oversize berwarna putih dan legging hitam. keduanya juga sama-sama memakai sneaker sebagai alas kaki mereka.
Kimmy dan Dave saling melihat pakaian mereka dari bawah hingga atas, kemudian mata keduanya saling bertemu. Kimmy segera membuang tatapannya kearah lain, sedang Dave masih terus memperhatikannya.
Kimmy memulai membacakan hasil laporan mereka. Dave mengoperasikan proyektor. Kemudian setelah setengah laporan sudah Kimmy presentasikan, gantian Dave yang melanjutkan. Begitulah kekompakan tim mereka.
Berkat tugas ini, Dave yang awalnya dikenal kejam, mulai di lirik dan diperhitungkan mahasiswi lain sebagai laki-laki yang menarik dan cerdas.