
Sudah pukul dua siang, artinya seluruh mahasiswa sudah diizinkan pulang. Kimmy berjalan cepat keluar kelas. Ia tak sabar ingin berbicara dengan Tomi.
Dave merasa aneh dengan sikap Kimmy yang tak mengganggunya sedari tadi selesai istirahat.
Gue keterlaluan sih tadi. Tapi siapa yang kuat gak marah digituin? mulutnya doang bilang enggak, padahal sama aja.
Gumam Dave yang menyamakan Kimmy dengan semua orang yang pernah ia jumpai. Padahal hampir saja ia anggap berbeda.
Kimmy berlari ke arah Tomi yang sudah menunggunya. Dengan tampang cemberut ia naik ke motor Tomi.
"Kenapa lagi?"
Tanya Tomi.
"Lu ngapain kak ribut sama temen gue?"
Kimmy bertanya balik.
"Siapa yang bilang? Dia ngadu?"
Tomi jengkel.
Kimmy tak menjawab lagi. Ia menunggu sampai di rumah untuk membahasnya.
Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah.
"Lain kali jangan asal mukulin orang!"
Ucap Kimmy seraya turun dari motor.
"Terus dia dorong lu boleh?"
Tanya Tomi tak terima.
"Tapi kan emang gue duluan yang gangguin. Lu sok tau Kak."
Protes Kimmy.
"Iya emang dari dulu selalu lu yang gangguin orang dan gue yang kena hukuman. Sadar lu?"
Tomi memuncak. Niat hati membela sang adik malah disalahkan.
"Ya udah jangan ikut campur urusan gue lagi. Nanti kena masalah."
Ucap Kimmy sambil membanting pintu kamarnya.
Ia menangis di dalam kamar meratapi nasibnya yang dibesarkan kedua kakaknya dan menyusahkan mereka.
Tomi menyadari kalimatnya yang terlalu keras. Ia mengetuk pintu kamar Kimmy namun tetap tak dibukakan.
"Dek, maafin gue ya."
Ucap Tomi penuh penyesalan.
Hingga Marcel pulang, Kimmy masih juga mengurung dirinya di dalam kamar. Tomi sudah kelelahan berkali-kali memintanya keluar.
"Berantem lagi lu berdua?"
Tanya Marcel yang meletakkan bungkusan makanan diatas meja.
"Hmm."
"Dek, keluar. Kakak bawa ayam kremes Bu Ratna."
Marcel membujuk adiknya dengan makanan kesukaannya sejak kecil.
Ayam kremes Bu Ratna dulu hanya sebuah kedai kecil sewaktu mereka kanak-kanak. Paman Lukas rajin membawanya setiap hari Minggu. Seiring berjalannya waktu sudah menjadi restoran terkenal dengan pelayanan bintang lima.
Pintu dibuka.
Kimmy berlari keatas meja mencari makanan favoritnya. Ia membukanya dan langsung makan.
Kedua kakaknya tersenyum melihat tingkah adik mereka yang masih seperti anak kecil.
"Ayo makan."
Kimmy memanggil kedua kakaknya.
"Maaf ya Dek."
Ucap Tomi seraya mengelus kepala adiknya merasa bersalah.
"Iya tapi gak boleh berantem lagi."
Ancam Kimmy.
"Oke, asal jangan deket-deket juga sama tu orang."
Tomi balas mengancam.
"Gak ah.. dia baik kok. Gue suka."
Ucap Kimmy sambil memasukkan suapan berikutnya. Tak sadar mata sinis kedua kakak sudah menghunus dirinya.
"Siapa?"
Tanya Marcel dengan nada dingin.
Tomi menjelaskan kejadian tersebut pada Marcel secara rinci.
"Jauhin, Kim!"
Minta Marcel sangat serius.
"Orangnya baik kak. Dia tuh kaya Kak Tomi. Cuma nutupin kelemahannya."
Jelas Kimmy.
"Tau darimana baru tiga hari kenal!"
Marcel tak dapat dibantah. Segala ucapannya adalah kewajiban bagi Kimmy.
"Ya."
Jawab Kimmy malas memperpanjang.
Tomi merasa menang kali ini. Biasanya ia yang selalu dimarahi Marcel jika bertengkar dengan Kimmy. Tapi sebenarnya ia juga tak tega melihat Marcel terlalu keras dengan adik mereka.
"Anter jemput tiap hari Tom. Jangan kecolongan."
Kedua kakak overprotektif mulai mengeluarkan pertahanan utamanya.