Mr.Snowman

Mr.Snowman
Taman kota



Kimmy, Marcel, Ali, Gea beserta Miracle sudah tiba di kediamannya. Tepatnya setelah tiga hari berlibur. Sedangkan dua pasangan baru yang masih di mabuk asmara, menambah bulan madu mereka hingga akhir pekan. Menikmati hari-hari yang tenang tanpa gangguan Marcel ataupun Kimmy.


"Ali tau kan kalian harus urus secepatnya soal kemarin? ehem"


Ucap Marcel sambil memberi kode untuk hal yang ia malas ucapkan.


"Baik Kak."


Jawab Ali patuh.


"Kak, tapi Kak Marcel harus denger dulu kejadian yang sebenarnya."


Rengek Kimmy, yang membuat Gea segera membawa Miracle ke dalam kamar.


"Gak ada alasan untuk gak bertanggungjawab atas perbuatan memalukan kalian kemarin! "


Gertak Marcel.


"Memalukan gimana? Kami gak berbuat apa-apa Kak. Jadi Ali itu ... "


Belum sempat Kimmy menjelaskan, Marcel kembali memotongnya.


"Apa? Kamu mau ceritain kelakuan yang gak bermoral itu ke saya? "


Tanya Marcel mengingat kejadian ketika Kimmy dan Ali berpelukan tanpa berpakaian lengkap.


"Maksud kakak siapa yang gak bermoral? Satu-satunya di rumah ini yang gak punya moral cuma Kak Marcel. Ali orang yang sangat menjaga martabat Kimmy!"


Teriak kimberly disusul tamparan keras dari Marcel.


Semuanya tersentak, bahkan Gea di dalam kamar dapat mendengar jelas bunyi tamparan Marcel di pipi adiknya.


"Besok saya langsung urus semua keperluan pernikahan kami, Kak."


Ucap Ali sembari membawa masuk Kimmy yang menangis ke dalam kamarnya.


Kimmy yang malu dengan kejadian tersebut, berbaring dan menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Ali dapat mendengar bahwa perempuan tersebut masih menangis tersedu.


"Kim, gak usah takut ya. Kita bakal ngelewatin ini sama-sama."


Ucap Ali sambil mengusap rambut Kimmy yang menjuntai keluar.


Seketika suara tangisan berhenti,


"Kamu pulang aja Al. Besok kamu sibuk."


Ucap Kimmy tanpa sedikitpun mau memperlihatkan wajahnya dari dalam selimut.


"Hemm iya".


Jawab Ali pasrah. Kini yang ada dibenaknya hanya kerisauan bahwa Kimmy tak betul-betul mau menikah dengannya.


"Apa ada yang mengganjal dihatimu Kim untuk nikah sama aku? "


Dengan penuh kekuatan Ali melemparkan pertanyaan yang mungkin akan menambah kesakitan Kimmy.


Ali bisa-bisanya dia mikir begitu. Gue baru kena tampar Kak Marcel depan mukanya. Malu banget Al , gue berhadapan sama lu. Pake di sangka yang bukan-bukan. Grrr


Batin Kimmy ikut teriak sekarang. Mau keluar dari dalam selimut malu, tapi bertahan di dalam akan membuat Ali salah paham.


Tak ada jawaban dari Kimmy, ia masih memilih bersembunyi. Ali akhirnya bangkit dari ranjang Kimmy dan berjalan kearah pintu.


Baru saja handle ditekan, Kimmy yang keras kepala akhirnya mengalah dan berlari kearah Ali kemudian memeluknya dari belakang.


"Aku mau nikah sama kamu Al."


Ucap Kimmy.


Ali menutup kembali pintu kamar yang sudah sedikit terbuka tersebut dan berbalik membalas pelukan Kimmy.


"Aku pamit pulang. Jangan berantem lagi sama Kak Marcel."


Pesan Ali.


"Tapi dia gak ngasih kesempatan orang untuk ngomong yang sebenarnya, Al. "


Ucap Kimmy.


"Kadang tanpa kita perlu menjelaskan apa-apa, semua kebenaran terbuka sendiri. Hanya tunggu pesannya sampai."


Ucap Ali sambil mencium kening kekasihnya sebelum akhirnya pulang.


Selepas kepulangan Ali, Kimmy yang lambat laun mulai bosan memilih berjalan keluar menikmati angim segar di malam hari. Tujuan tak ada, hanya sekedar meluapkan kesedihannya atas tuduhan dan tamparan Marcel tadi siang.


Tak terasa selama satu jam kakinya akhirnya mengantarkannya ke taman kota. Dimana Ali pernah menemukannya saat ia bersedih saat Kimmy putus dengan Dave.


Ia duduk termenung, kakinya sudah terasa sakit berjalan terlalu jauh. Sesekali ia mengusap air matanya yang jatuh terus-menerus. Tamparan dan ketidakpercayaan Marcel membuat luka lebih dalam daripada ketika ia diputuskan oleh Dave empat tahun yang lalu.


"Auuuwww"


Kimmy terkejut pipinya terasa dingin.


"Es krim cokelat."


Seorang pria menempelkan sepotong es krim di pipi Kimmy.


"Kenapa ada dimana-mana sih? Kaya setan."


Tanya Kimmy sambil menyurutkan tangisnya.


Sembarangan dibilang setan! Aku tuh malaikat yang diam-diam harus lindungin kamu.


Batin pria tersebut.


"Nangis tuh harus disini ya?"


Tanya pria tersebut enggan menjawab celotehan Kimmy.


"Gak juga. Kamu kenapa disini? Diusir dari pelatihan? "


Tanya Kimmy sambil menikmati es krim cokelat tersebut dengan lahap.


"Hahaaa, Gak juga. Kadang ada hal yang perlu kita korbanin untuk kepentingan orang yang kita sayang."


Ujar Dave.


"Eheeemm siapa sih emang? Yang waktu itu dibahas di rumah Wanda?"


Tanya Kimmy menggoda, seketika moodnya kembali membaik. Entah karena es krim cokelat atau obrolan ringan bersama pria disebelahnya.


"Hemm, iya dia."


"Hahaha, akhirnya Dave berbahagia juga. Kapan-kapan kenalin ya."


Ucap Kimmy antusias.


Gimana caranya? Kan kamu!


Batin Dave.


"Dave!! Ih kok malah bengong? "


Kimmy meneriaki Dave.


"Iya nanti kalau udah tepat waktunya."


Janji Dave yang tak dapat dipegang.


Mereka bersenda gurau bersama. Menghabiskan waktu hingga malam menjelang. Bagai dua sahabat yang lama tak berjumpa. Kimmy lupa dengan kesedihannya. Sedang Dave menikmati masa-masa yang mungkin tak akan terulang lagi dengan wanita yang dicintainya tersebut.


"Aku dan Ali akan menikah."


Ucap Kimmy bahagia di sela-sela obrolan.


Deg!!


Ya ini tak kan terulang lagi. Karena sebentar lagi kamu menjadi istri sahabatku.


Batin Dave.


"Terus kenapa nangis? "


Tanya Dave.


"Hmm padahal aku hampir lupa. Kamu ingetin lagi."


Jawab Kimmy murung.


"Oke, oke. Maaf. Sekarang aku antar kamu pulang ya."


Ucap Dave.


"Huufhht bisa gak sih gak usah pulang kerumah? males banget ketemu Kak Marcel."


Keluh Kimmy.


"Oh jadi sedih karena Kak Marcel?"


Tanya Dave dan Kimmy mengangguk.


"Tapi kamu tetap harus pulang. Jangan tambah masalah baru."


Dave mengusap kepala Kimmy.


"Iya iya Dave."


Jawab Kimmy lemas.


Mau tak mau ia harus menurut duduk diatas motor Dave. Dave menyalakan mesin motornya dan menarik gas dengan perlahan.


"Kenapa pelan banget Dave bawanya? "


Tanya Kimmy heran.


"Itu kemarin ada masalah sama koplingnya. Belum sempat aku bawa ke bengkel."


Jawab Dave gugup


"Oh"


Ucap Kimmy tak mengerti masalah perbengkelan.


Maaf Kim aku bohong. Aku hanya ingin menikmati perjalanan ini lebih lama denganmu.


Dave.


Diatas motor banyak hal yang mereka bahas. Mulai dari perkuliahan Kimmy, pelatihan kepolisian Dave sampai Pos Bahagia yang Kimmy bangun dengan baik bersama relawan di lingkungan kampusnya.


"Aku antar sampai depan ruko ya."


Izin Dave.


"Loh kenapa? Gak mau ketemu Kak Marcel?"


Tanya Kimmy polos.


"Gak ah udah malem."


Jawab Dave.


Kimmy tak lagi bertanya. Namun sampai ruko yang dituju. Tempat mereka dulu sering bertemu sewaktu menyembunyikan hubungan. Kimmy memukul-mukul bahu Dave.


"Katanya sampai ruko. Ini kelewatan."


Protes Kimmy.


"Ya udah gak apa. Sampai warung Romi aja."


Jawab Dave terkesan tak rela cepat berpisah dengan Kimmy.


Sesampainya di depan warung Romi yang sudah tutup karena hari sudah larut. Kimmy turun dari motor Dave. Tiba-tiba suara pintu Kimmy yang berada di sebrang warung Romi berdecit hendak dibuka.


Dave yang mengetahui hal itu langsung menyalakan mesin motornya dan berpamitan dengan Kimmy kemudian melajukan motornya dengan cepat.


Ia sangat menghindari Marcel. Tak mau siapapun mengkhawatirkan keselamatan Kimmy karena dekat dengannya.


Loh Dave katanya koplingnya rusak.


Kimmy terheran namun pria itu sudah menjauh.


Kimmy melambaikan tangan pada Gea yang membukakan pintu untuknya.


"Cepet masuk. Kakakmu udah tidur. Jangan sampai kedengeran kamu baru pulang."


Ucap Gea berbisik.


"Iya Kakak iparku yang cantik."


Ucap Kimmy menggoda.


Jangan lupa Like, Comment dan Vote nya ya readers 💕