
Kimmy terus mendengar percakapan mereka dari balik pintu kamarnya, ruang makan tempat mereka berbicara bersebelahan dengan kamarnya.
Tiba-tiba setelah beberapa menit suara itu menghilang, ia makin merapatkan telinganya dengan pintu. Mungkinkah daun pintu ini mendadak menebal atau kedua kakaknya berpindah tempat?
Bukan Tomi namanya kalau tak mengusili saudaranya barang sehari. Dibuka pintu kamar Kimmy dengan sengaja, ia mendadak berperasaan adik kecilnya tengah menguping pembicaraan mereka. Dan Bruaakkk, Kimmy terpelanting. Lalu berlari ke arah Marcel untuk mendapatkan pembelaan. Tomi terus tertawa.
Marcel yang memeluk Kimmy memarahi Tomi seperti biasa yang terjadi. Lalu..
"Tapi Tomi kali ini gak salah banget sih, tukang nguping juga salah."
Ucap Marcel menyindir Kimmy.
Sungguh yang ia takutkan adalah hukuman dari Marcel, tak apalah di marahi atau dikutuk sekalipun seperti yang di dapat Tomi, tapi sayangnya berbeda, jika Kimmy yang bersalah Marcel tak akan memarahinya melainkan mendiamkannya berhari-hari.
"Kak, tadi aku mau keluar. Gak denger kok kalian ngomong apa. Lagian juga kenapa ada rahasia sih?"
Tanya Kimmy sembari merajuk, mungkin dengan cara itu Marcel yang akan merasa bersalah dan tak jadi menghukumnya.
"Hayoo berarti denger tuh."
Tomi memanasi situasi.
Kimmy hanya melempar bibir yang dimajukan beberapa mili.
Marcel diam menunggu adiknya mengakui apa yang ia dengar, Kimmy cukup mengerti sifat Marcel yang seperti ini.
"Oke, Kimmy setuju Kak Marcel nikah sama Kak Gea. Orangnya baik, sama baiknya dengan Kak Dayana."
Cerocos Kimmy menyentil kedua kakaknya dengan satu ucapan.
Marcel terkesiap, terlebih lagi Tomi langsung menghentikan tawanya.
"Nih ya, Aku kesel sama kalian berdua. Aku itu bukan batu sandungan buat kalian bahagia.
SE-HA-RUS-NYA!"
Marcel terdiam kaku, sementara Tomi mengambil gelas dan meneguk air mineral berkali-kali.
"Tau gak gara-gara sikap kalian kaya batu ke perempuan-perempuan baik itu, akhirnya karmanya ke aku. Pernah kepikiran gak yang namanya karma? Sekarang aku suka sama orang yang sama kaya kalian bekunya."
Ucap Kimmy tak sadar mencurahkan segala apa yang dirasa.
"Sama siapa?"
Tanya Marcel menatap dinding dengan tajam.
"Buat apa tau, hah? Kakak aja nyimpen rahasia dari aku. Untuk apa aku terbuka soal apapun sama kalian."
Kimmy pergi ke kamar membanting pintunya. Ia tak suka diasingkan kedua kakaknya.
Seenaknya mau tau urusanku, bisa-bisanya mereka punya rahasia dibelakangku.
Tutur Kimmy kesal.
Marcel dan Tomi mematung menyadari kesalahan mereka, padahal sewaktu kecil sudah berikrar untuk tak ada rahasia diantara mereka.
Tapi Dayana, kenapa dia bandingin dengan Gea.
Gelisah merayapi hati Tomi.
"Udah, tidur. Besok pagi juga udah balik lagi moodnya."
Ucap Marcel pada Tomi, ia mengira adik laki-lakinya sedang memikirkan adik bungsu mereka yang marah.
Mereka masuk ke kamar masing-masing. Tomi memikirkan Dayana, gadis yang tuturnya halus, lembut , memikat hatinya saat pertama kali ia melihat perempuan tersebut tertawa. Tapi keduanya mengemas hubungan mereka dengan tali persahabatan.
Keduanya tak saling mengetahui perasaan masing-masing. Dan Tomi juga tak berniat memberitahu apapun pada Dayana. Persahabatan ini cukup untuk saling berbagi perasaan. Sama dengan Marcel, Tomi tak ingin menjanjikan perasaannya dan waktunya pada siapapun. Ia masih memiliki adik yang harus dijaga sepenuh jiwanya.