Mr.Snowman

Mr.Snowman
Dayana si pegawai minimarket



Tiga tahun silam semenjak pertemuan keduanya di minimarket, Tomi diam-diam mengaggumi Dayana. Perempuan pekerja keras yang membantu perekonomian keluarganya. Ia tak sempat mengenyam pendidikan di universitas, semenjak lulus SMA kedua orangtuanya tak mempunyai biaya cukup untuk melanjutkan pendidikan putri pertama mereka.


"Sudahlah Day, terima saja lamaran Mas Deri. Pamali nolak, nanti jodohmu jauh."


Ucap Bu Tri, ibunda Dayana. Menasehati anaknya yang baru saja lulus SMA.


"Yang bener aja bu, masa aku nikah sama laki-laki beristri?"


Protes Dayana.


"Loh yang pentingkan hidup kita terjamin, kecukupan, usahanya dia ada dimana-mana. Mau punya istri berapa juga semua pasti kebagian banyak."


Ucap Pak Roy, Ayah Dayana.


"Bapak jual aku?"


Dayana mulai kesal.


"Jangan munafiklah Day, kita butuh uang. Nama baik udah gak kita butuhin lagi. Utang kita dimana-dimana. Utang beras seliter aja digosipin sana sini, udah biasa. Yang penting perut kenyang. Gak kelaparan."


Ucap Pak Roy yang menyerah dengan kehidupan.


"Enggak! Aku mending cari kerja buat bantu makan sehari-hari."


Tukas Dayana sambil berangkat tak tentu arah menaruh lamaran di setiap perusahaan. Yang penting jauh dari rumah, tak mendengar omongan bapak ibu mengenai pernikahan, hutang, atau kehidupan mereka yang makin melarat.


Berbekal uang lima puluh ribu yang boleh ia peroleh dari hasil mencuci dan menyetrika baju tetangga. Dayana menaiki bus kota mendatangi kantor demi kantor yang membutuhkan tenaga tambahan. Pada saat itu lumayan banyak lowongan bagi pelamar baru, namun sangat disayangkan ijazah yang dibawanya tak memenuhi kriteria yang dibutuhkan.


"Duh cuma punya ijazah SMA, sedangkan semua tempat syaratnya minimal D3. Kerja apa ya? hari ini harus dapet, biar gak disuruh nikah sama si tukang kawin. "


Keluh Dayana yang keringatnya bercucuran.


Ia mampir ke minimarket di dekatnya sekedar membasahi tenggorokannya yang kering sekalian mencari hawa sejuk dari pendingin udara yang disediakan di dalamnya.


Dibutuhkan karyawan minimarket minimal SMA, Perempuan, penampilan menarik.


Saat hendak membayar sebotol air mineral di kasir, tertera jelas pengumuman pencarian karyawan baru. Dengan semangat ia bertanya banyak pada kasir mengenai lowongan tersebut. Diputuskan ia akan datang besok pagi, menemui pemilik toko ini.


Dayana bergegas pergi menuju rumah salah satu teman yang hidupnya jauh lebih beruntung daripada dirinya, ia berniat meminjam pakaian yang lebih baik. Daritadi otaknya kepikiran dengan kalimat berpenampilan menarik.


Sebenarnya Dayana sangat cantik, makanya dilirik oleh Deri juragan ayam potong di tempatnya tinggal. Tingginya 173cm, kulitnya kuning langsat, rambutnya hitam dan lurus persis bintang iklan sampo. Tak ada yang kurang dari dirinya kecuali penampilannya. Beli baju bisa dihitung jari paling tiga tahun sekali, itupun kalo sudah benar-benar sobek.


"Susah kan cari kerja? Makanya bapak bilang nikah aja."


Ucap bapak di pintu masuk. Padahal Dayana sudah sengaja pulang larut. Agar ia sampai ketika orangtuanya sudah tidur.


"Besok aku kerja. Udah bapak tidur."


Sebelum tidur, Dayana berdoa sepanjang malam. Meminta Tuhan memberikan pertolonganNya. Tak banyak mintanya, hanya memohon mendapat pekerjaan dengan segera dan selamat dari pernikahan yang tak diinginkannya itu..


Pagi hari ia telah bersiap lebih rapi daripada hari kemarin, teman yang meminjamkan baju cukup baik, ia juga memberikan beberapa peralatan make up sebagai modal untuk Dayana bekerja.


Tak ada alasan bagi pemilik toko menolak Dayana, ia menarik, tutur katanya santun, ramah dan gampang bergaul. Hari itu juga Dayana resmi diterima sebagai karyawan magang.


Ia bekerja dengan giat dan tak pernah berniat mencari pekerjaan di tempat lain, hingga akhirnya Dayana diangkat menjadi karyawan tetap. Walaupun tempat ini tak membuatnya kaya, namun dari tempat inilah hidup keluarganya membaik, tak lagi berhutang hanya untuk makan, dan yang paling penting ia bersyukur pada pemilik toko yang menyelamatkan dirinya dari lamaran juragan ayam potong.


Sampailah di tahun keempatnya bekerja, ia bertemu Tomi. Tepatnya tiga tahun yang lalu. Sejak pertemuan itu keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tomi terpikat tawa Dayana saat pertama kali bertemu, dan yang membuatnya makin menyukai wanita ini adalah ia sering membantu Kimmy dengan tulus.


Sedang Dayana menyukai Tomi, saat si pria dengan penampilan macho ini merelakan waktunya berkutat dengan pembalut wanita dalam waktu yang lama demi kasihnya pada sang adik.


Diam-diam Tomi sering menjemput Dayana setiap tutup toko. Hubungan mereka terus berjalan tanpa status, Tomi tak mau mengikat Dayana tanpa kepastian. Sama dengan kakaknya Marcel, ia juga menunggu Kimmy menikah terlebih dahulu. Kemudian baru menjemput kebahagiaannya sendiri.


Orangtua Dayana pun tak pernah lagi memaksa anaknya agar menikah dengan Deri pria beristri itu, namun saat mereka mengetahui kedekatan anaknya dengan Tomi yang pekerjaannya tak tentu sebagai band pengisi di cafe, terkadang ada job, terkadang tak ada sama sekali. Mereka mulai khawatir dengan masa depan Dayana.


"Kan udah kami bilang, cari yang mapan. Kalo kerjaannya aja gak jelas, cuma nambah-nambahin bebanmu nanti ke depannya."


Ucap Bu Tri setengah berteriak sengaja agar terdengar Tomi yang menunggu Dayana bersiap untuk bekerja.


Di tengah perjalanan, Dayana berkali-kali memohon maaf pada Tomi atas perkataan ibunya yang menyinggung.


"Gak apa, ibumu emang bener. Sama aku gak ada masa depan. Bukan cuma soal pekerjaan, waktuku juga belum jelas. Keburu kamu jadi perawan tua. Menikahlah kamu segera, turuti kata orangtuamu. Aku gak akan menahan."


Jawab Tomi atas permintaan maaf Dayana.


Dayana kesal, seolah-olah Tomi menganggap waktu mereka bersama tak ada artinya. Tomi pun mulai menjauh, tak mau berharap dan memberi harapan.


Dayana dan Kimmy yang sudah berteman akrab, mengetahui rahasia masing-masing, termasuk masalah hubungannya dan Tomi. Namun Kimmy tidak pernah membahasnya lagi pada sang Kakak. Kimmy percaya, Tomi adalah orang yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


**


Tok..tok..tok..


Dave datang ke ruang perawatan Kimmy. Setelah gadis itu memberitahu mengenai keadaannya. Seharian Dave mengkhawatirkan kondisi kesehatan perempuan yang ia sebut aneh itu, setelah kemarin diantar pulang, Kimmy tak membalas pesan ataupun mengangkat telepon dari Dave. Baru tadi ketika dirinya sedikit membaik, ia membalas pesan Dave dan sedikit memberi penjelasan mengenai kondisinya.


"Gue kesana."


Ucap Dave mengawali dan mengakhiri panggilan di telepon sebelum sampai kesini.


Kimmy hendak melarangnya, ia takut bila Dave dan Tomi bertemu. Bisa-bisa Rumah sakit mendadak ketambahan dua pasien sekaligus. Namun telepon di akhiri begitu saja oleh Dave, sebelum Kimmy bicara.


Beruntung saat Dave datang, kedua kakaknya sedang tidak di ruangannya. Mereka berdua izin ke kantin Rumah Sakit, mengisi perut, sekaligus membeli cemilan titipan adiknya, yang sebetulnya akal-akalan Kimmy, ia tahu Dave akan segera sampai.