
Lamunan Dave terhenti ketika orang yang pertama membuatnya terlamun mengejutkannya.
"Snowman, Ayo kita ke pos bahagia."
Kimmy menarik tangan Dave tak sabar ingin menghabiskan waktu istirahat bersama Dave dan adik-adik yang kurang beruntung.
Dave hanya terdiam, tak melawan seperti biasanya, bayangan wajah Jemima masih jelas dikepalanya.
Kimmy masih menuntut Dave sampai di minimarket.
Kimmy segera berinisiatif memasukkan air mineral ke dalam keranjang Dave, karena sudah daritadi tatapan Dave begitu kosong, Kimmy enggan bertanya apa yang dipikirkannya. Cukup menjadi teman istirahat Dave saja cukup menurut Kim untuk saat ini.
lalu saat tiba di kasir, Dave yang seperti orang terkena hipnotis akhirnya tersadar. Kemudian mengeluarkan dompet dan membayar tagihan sesuai struk yang dibacakan kasir.
"Kok cuma air mineral?"
Protesnya pada Kimmy.
"Masih untung gue bantuin. Anter gue ke resto padang depan ya."
Minta Kimmy dan terpaksa dituruti Dave, daripada nanti tangannya ditarik lagi.
Kimmy memesan dua puluh bungkus nasi lengkap beserta lauknya. Ia sungguh teramat lapar, dalam benaknya makan bersama anak-anak pasti akan membawanya kembali bernostalgia masa kecilnya.
Dua bungkus plastik merah diberikan pramusaji kepada Kim, Kimmy menolak menerimanya, ia memberi kode pada Dave untuk membawanya.
Ini kalo Je, pasti dia bawa sendiri. Dan gue yang pasti merasa bersalah. Gak kaya anak ini!
Gumam Dave kesal dimanfaatkan oleh Kimmy.
"Lu laper apa rakus makan segini banyak?"
Tanya Dave protes membawa tentengan sebanyak itu.
"Laper. Gak enak ya ngambek? jadi laper."
Jawab Kim sambil mengelus elus perutnya yang kelaparan.
"Ngambek sama siapa?"
Tanya Dave.
"Kakak gue lah."
Jawab Kimmy sambil tersenyum menampilkan gigi kelincinya.
"Apa urusannya ngambek sama Kakak lu, terus gak makan? Emang nyokap lu diem aja?"
Tanya Dave tak paham.
Kimmy hanya tersenyum, enggan menjawab. Menurut Kimmy kisah hidupnya tak perlu ada orang yang tau terkecuali ingin masuk kedalamnya dan jadi bagiannya.
Sebetulnya ia ingin sekali Dave menjadi salah satu bagian dirinya, tapi tentu bukan karena iba yang jadi alasannya. Ia ingin siapapun yang akan menjadi pasangannya sungguh mencintainya tanpa mengasihani dirinya.
"Bisa punya rahasia juga lu?"
Ucap Dave tak percaya, sebelumnya manusia ini seenaknya mengungkapkan perasaannya. Namun kali ini ia tak mau terbuka.
"Ngomongin apa? Makan jangan sambil bicara."
Ucap Dave memperingati lima anak laki-laki yang sedang asik mengobrol sambil makan.
"Kata Bang Ian, Kak Dave sama Kak Kim pacaran ya?"
Tanya Adi anak yang paling kecil diantara gerombolan yang bergosip tadi.
Kimmy tersenyum, sementara Dave berwajah masam.
"Doain aja ya adik-adik. Mr.snowman sok jual mahal soalnya."
Timpal Kimmy sambil membuang bungkus nasinya yang sudah habis.
"Apa sih? gue gak mau berjodoh sama lu."
Ucap Dave spontan mendorong kepala Kim dengan tangannya yang berlumur kuah rendang.
Kimmy terkejut mendapati rambutnya yang kotor akibat ulah Dave. Ia membuka ikatan rambutnya pertama kali di hadapan Dave.
Dave terkesima, wanita yang selama ini ia tuding tidak jelas dan aneh, ternyata memiliki rambut yang membuat wajahnya menjadi sangat cantik.
Atau sebenarnya Kim memang pada dasarnya sudah cantik, hanya saja mata Dave tertutup untuk mengakui itu.
Kim menumpang mencuci rambut di rumah salah satu anak yang makan bersama mereka. Kini rambutnya basah, Dave makin tak berkedip memandanginya.
"Hmm tuh kan di bilang jangan terlalu benci, nanti suka."
Ucap Devi si peramal kecil membuat seluruh anak tertawa.
Kimmy yang sedang mengeringkan rambutnya dengan flanel miliknya ikut tertawa. Membuat jantung Dave berdegup tak beraturan. Lalu bergegas membuang muka.
Kimmy terlihat mempesona saat ini. Dengan rambut panjang yang basah, t-shirt tipis berwarna putih yang biasa ia timpa flanel milik Tomi. Namun kali ini flanel tersebut telah beralih fungsi menjadi handuk untuk rambutnya. Membuat seluruh bagian tubuh Kim terekspos. Dadanya ranum, pinggulnya sempurna. Pantas kedua kakaknya tak membiarkannya memakai pakaian yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.
"Udah yuk balik."
Kimmy panik melihat jam sudah menunjukkan selesai istirahat.
Mereka berlari bersama berkejaran dengan langkah Dosen yang hendak memasuki ruangan mereka.
"Capek."
Ucap Kimmy seraya naik ke punggung Dave yang sedang mengatur napas.
Dave gelagapan. Dada Kimmy menempel dipunggungnya.
"Turun!"
Bentak Dave.
"Plis kali ini aja, sampe di gerbang."
Minta Kimmy memohon sambil mencekik leher Dave. Ia sungguh menyerah untuk berlari atau sekedar berjalan cepat.
Dave akhirnya mengikuti kemauan Kim berjalan sambil menggendongnya. Untuk petarung seperti Dave, bobot tubuh Kimmy tak ada rasanya.