
Marcel dan Kimmy mengambil kursi paling dekat dengan panggung, memperhatikan Tomi dan kawan-kawannya menghidupkan suasana cafe yang awalnya hening.
Dari kejauhan, Ali dan Jemima yang sedang berkencan duduk di sudut lain.
"Perempuan yang disana itu pacar baru Dave?"
Tanya Ali.
"Kayanya."
Jawab Jemima yang terkejut dengan kehadiran Kimmy. Kemudian matanya mencari sosok Dave yang tidak ada di sebelah Kimmy. Makin terkejutlah ia saat melihat ke arah panggung, pria yang dicari sedang menabuh drum dengan keahliannya.
Kimmy memperhatikan Dave dengan mata berbinar. Bisa dibilang ia akan menjadi fans pertama Dave jika sampai terkenal. Dave yang merasa dipandangi, melihat ke arah Kimmy dan melempar senyumnya pada wanita itu. Keduanya kini saling menatap.
Jemima yang melihat kemesraan keduanya merasa kesal dan mengajak Ali untuk segera pulang. Ia sengaja melewati sisi panggung agar Dave melihat kebersamaannya dengan Ali, setidaknya bikin Dave cemburu. Pikirnya percaya diri.
Dua jam berjalan dengan mulus, artinya sisa waktu satu jam lagi Tomi dan Dave selesai memberikan hiburan bagi pengunjung Cafe.
Marcel memanggil pramusaji, ia memesan satu gelas minuman beralkohol. Setelah habis, ia memesan lagi sampai habis tiga gelas. Kimmy yang terlambat mengetahui, memberhentikan Marcel ketika akan memesan gelas ke empat.
Ia sejak tadi tak paham minuman apa yang ditenggak saudaranya. Namun saat bicaranya sudah tak jelas, Kimmy baru menyadari Marcel tengah mabuk.
"Ada apa sih Kak? Gak biasanya minum, jadi mabuk kan!"
Ucap Kimmy memarahi Kakaknya.
Marcel yang sedang dibawah pengaruh alkohol menunjuk ke sisi bar cafe. Seseorang yang ia tunjuk adalah Gea. Perempuan tersebut sedang duduk dengan seorang laki-laki yang tak dikenalnya.
Dari gerakannya Kimmy dapat melihat, Gea tak nyaman dengan lawan bicaranya yang genit.
Kemudian Kimmy memberi kode pada Tomi jika Marcel sudah tidak bisa ia tangani sendiri. Mulutnya terus meracau.
Tomi turun dan melihat kondisi Kakak mereka yang memprihatinkan. Patah hati adalah kesimpulan yang mereka tangkap dari ocehan Marcel.
"Tunggu dua puluh menit lagi, Dek. Gue gak enak sama yang punya cafe."
Minta Tomi yang disanggupi oleh Kimmy.
Marcel berjalan ke toilet dengan sempoyongan, membuat Kimmy kerepotan harus mengikutinya sampai di depan toilet. Kimmy hanya bisa menunggu di luar dengan perasaan cemas.
"Hey Kimmy adiknya Marcel kan?"
Sapa Gea yang keluar dari toilet wanita.
Belum sempat Kimmy menjawab, Marcel keluar dari toilet pria.
"Hah katamu cinta saya, akan tunggu saya kapanpun..Omong kosong. Wanita jalang! Saya benci kamu."
Ucap Marcel menunjuk-nunjuk wajah Gea.
"Maaf ya kak, Kak Marcel mabuk."
Ucap Kimmy tak enak hati sambil pergi menuntun Kakaknya.
"Gea hahah saya cinta kamu.hahaha tapi juga benci."
Marcel meracau mengungkapkan perasaannya yang paling jujur.
Gea senang akhirnya ia mengetahui perasaannya tak bertepuk sebelah tangan. Tapi juga bingung memikirkan apakah perkataan orang yang sedang dibawah pengaruh alkohol dapat dipercaya.
Kimmy langsung membawa masuk Marcel kedalam mobil, takut Marcel makin tak terkendali. Tak lama Tomi dan Dave datang terburu-buru. Tomi mengambil alih kemudi, sedang Marcel duduk di kursi belakang dengan Kimmy. Kimmy terus memeluk saudaranya yang meracau tak tentu arah. Ia menangis mendengar penderitaan Marcel yang dikenalnya sebagai sosok paling tegar. Tak pernah disangka selama ini sebenarnya ia rapuh.
"Kenapa nangis?"
"Kasian Kak Marcel, dari dulu dia sibuk bahagiain kita, sampe lupa bahagiain dirinya sendiri."
Jawab Kimmy sambil menangis tersedu.
Tomi hanya terdiam, ia tak tahu harus berkata apa. Marcel terlalu keras kepala dengan pendiriannya. Sedang Dave hanya dapat mendengar dan mencoba mencerna setiap kalimat mereka.
Kimmy tertidur sambil memeluk Marcel yang juga sudah mulai sedikit tenang.
Sesampainya di rumah, Tomi langsung memapah tubuh Marcel.
"Dave kuatkan?"
Tanya Tomi mengisyaratkan Kimmy adalah bagiannya.
Dave menggendong Kimmy ke kamarnya. Ia memperhatikan wajah wanita yang selalu ia kutuki dulu. Penyesalannya teramat mendalam. Kalau ia boleh mengulang waktu, keinginannya hanya satu, yaitu berbuat baik pada Kimmy.
Dave membaringkan tubuh Kimmy ke atas kasur, kemudian ia melepaskan sepatu Kimmy satu per satu. Dave terkejut melihat punggung kaki Kimmy. Terdapat bekas luka bakar diatasnya. Apakah dia perempuan yang saya janjikan, akan saya jaga seumur hidup?
Dave mengingat kejadian dua belas tahun silam, sebelum ia mematahkan pergelangan tangan teman sekelasnya. Bulan itu adalah musim hujan, anak perempuan yang merupakan siswa kelas satu pada saat itu, hanya memiliki satu buah sepatu. Dimana saat itu sepatunya basah akibat hujan, lalu keesokannya ia terpaksa menggunakan sendal sebagai alas kakinya.
Hal itulah pemicu dirinya menjadu bahan perundungan oleh teman-temannya di sekolah, bahkan termasuk kakak kelas yang duduk di kelas tiga atau setara dengan Dave.
Perempuan kecil itu hanya menangis sewaktu kakinya dilempar mercon oleh teman sekelas Dave. Dave yang melihat hal itu, memberi hukuman atas kejahilan temannya. Ia memelintir tangan anak laki-laki itu dengan kuat hingga patah. Saat kejadian itulah keduanya berikrar akan saling menjaga.
Dave tak ingin berpikir terlalu jauh. Ia masih mengumpulkan berbagai bukti untuk mengakui ketiga orang ini adalah sahabatnya dulu ketika ia sering ditinggal kerja kedua orangtuanya.
Dave melihat meja belajar Kimmy, banyak buku dan kertas berserakan, ia berniat sedikit merapikannya. Tak disangka, ia malah menemukan banyak kertas persis yang tadi siang jatuh diatas wajahnya. Gambar wajah dengan keterangan Mr.Snowman di pojok kiri bawah. Dengan raut wajah yang berbeda, satu gambar tersenyum, satu gambar bersedih, ada lagi yang tertawa, terkejut, namun lebih banyak gambar dengan ekspresi membenci.
Kenapa gambar gue kaya gini?hehe. Gue ambil satu kayanya gak apa.
Gumam Dave dan mengambil satu gambar yang ia suka. Yaitu gambar dirinya ketika tertawa. Gambar yang lebih hidup seakan sedang menertawai dirinya. Kemudian kembali ke kamar Tomi.
"Kak Marcel, Kak Tomi, Mister Snowman bangun...!!"
Teriak Kimmy di ruang tengah sambil memukul-mukul pantat wajan.
Ketiganya keluar dari kamar terganggu suara gaduh yang ditimbulkan adik mereka.
"Apaan sih lu berisik banget?"
Protes Tomi.
"Tuh."
Kimmy menunjukkan jam dinding yang sudah bergerak ke angka tujuh. Kemudia mereka berlari ke kamar mandi dan berebut untuk saling mendahului.
"Gue duluan. Mata kuliah Pak Rendy nih pertama. Bisa abis gue."
Ucap Dave memaksa masuk ke kamar mandi.
"Gak bisa. Gue harus duluan. Gue udah janjian sama Dosen gue. Please dia susah ditemuin."
Ucap Tomi tak mau kalah sambil mendorong tubuh Dave.
Selagi kedua orang itu bertengkar, Marcel memanfaatkan momen ini. Ia masuk ke dalam kamar mandi.
"Byeeee.."
Ledek Marcel sambil mendadahi keduanya.