
Malam harinya..
"Dek, gue ngamen dulu ya. Lumayan buat jajan lu besok."
Ucap Tomi berpamitan pada Kimmy.
"Hmm.. ya.. ya... yang banyak cari uangnya."
Jawab Kimmy sambil menguap dengan gerakan tangan mengusir. Namun tetap bertahan dengan membaca buku dasar akuntansi.
"Tidur sana jangan dipaksa nanti sakit."
Ucap Tomi kembali melewati Kimmy sambil mendorong kepala adiknya.
Kimmy hanya mengusap usap kepala belakang yang disentuh kakaknya tersebut.
Kemudian Tomi menstater motor sportnya dan berlalu meninggalkan Kimmy.
Kimmy masih duduk diteras dengan posisi yang sama hingga ia tak sengaja tertidur.
Marcel yang setelah menjemput adiknya, kembali bekerja. Pulang larut malam. Ia mengambil banyak lemburan. Pekerja yang giat demi masa depan kedua adiknya. Kadang ia rela mengerjakan pekerjaan sampingan membuat aplikasi di perusahaan lain pada waktu libur. Ya pekerjaannya tak lain adalah sebagai Software developer staff IT.
Jangan tanya gajinya, sudah sangat menjanjikan. Ia tak mendapatkannya semudah itu, ia belajar pagi sampai siang lalu bekerja paruh waktu hingga malam, kemudian dini hari ia belajar lagi. Ia telah menuai apa yang ia tanam.
Sedangkan Tomi, ia mencari pendapatan dari menjadi vokalis band lokal yang menjajakan musiknya di cafe-cafe, atau club-club malam.
Ia melakukannya karena tak enak hati dengan Marcel yang terus menanggung biaya kuliahnya.
Perlu diketahui, Tomi merupakan mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan swasta jurusan teknik.
"Dek, kamu tuh udah berat."
Gerutu Marcel sambil mengangkat tubuh Kimmy masuk ke dalam rumah dan ia rebahkan di atas kasur . Kemudian keluar ,tak lupa menutup pintu .
Mereka tinggal dirumah masa kecilnya ketika ayah dan ibu masih ada. Tepatnya sudah lima tahun belakangan ini, ketika paman Lukas menikah dengan wanita pilihannya.
Marcel melihat kontak di aplikasi pesan instan miliknya. Dipandangi foto profil salah satu kontak bernama Gea.
Gea adalah perempuan penganggum terberat Marcel dari SMA hingga saat ini, namun sedikitpun tak pernah Marcel menanggapinya, walaupun di dalam lubuk hatinya ia sudah merasakan ketertarikan yang sama.
"Maaf membuatmu lama menunggu, sebaiknya kau cari laki-laki baik lainnya. Waktuku masih lama. Kimmy belum menikah. Maafkan aku."
Ucap Marcel sambil mematikan layar ponselnya.
"Belom tidur lu?"
Tanya Tomi.
"Hampir".
Jawab Marcel sambil duduk menemani Tomi.
"Lu mikirin tu cewe lagi yah? Ya udah sana kasih tau perasaan lu dan cepetan nikah. Gue bisa jaga Kimmy kok."
Ucap Tomi sambil membuka satu bungkus sate yang ia beli di pinggir jalan.
"Gak lah, gampang itu. Kalo jodoh gak kemana. Kalo gak jodoh ya takdir."
Balas Marcel sambil memasukan satu tusuk sate ke dalam mulutnya.
Marcel tak pernah menceritakan mengenai perempuan tersebut pada Tomi, namun bukan Tomi namanya jika tak usil membuka ponsel saudara-saudaranya.
"Umur lu udah dua puluh tujuh, Cel. Cari pacarlah."
Tomi masih mendorong kakaknya agar berbahagia tak hanya memikul tanggungjawab yang seharusnya tak ia rasakan.
"Lu aja duluan. Emang lu udah punya?"
Timpal Marcel.
"Gue? Enggaklah. Ntar Kimmy sama siapa?"
Jawab Tomi yang membuat Marcel tertawa.
"Udah gak usah ajarin gue. Lu juga sama."
Tandas Marcel.
"Tapi umur gue masih dua puluh lima bro. Santuy!"
Jawab Tomi tetap tak mau kalah.
Keduanya takut jika memiliki pasangan, maka kasih sayang ke sang adik akan berkurang.