
Gea mendatangi tenda Marcel, ia benar-benar sudah gila memasang tenda di dekat pemukiman warga.
Marcel telah tertidur lelap meringkuk kedinginan, selimutnya terlepas. Gea menyelimutinya dari kaki hingga ke leher. Bagaimanapun ia berusaha melupakan, pria ini tetap masih bersemayam di hatinya.
Selepas memperhatikan wajah Marcel yang kian tampan, Gea berniat keluar. Namun tangannya tertahan sesuatu.
"Saya tau kamu akan datang Gea Ajeng Wulandari."
Ucap Marcel dengan mata masih terpejam. Gea berusaha melepaskan cengkraman Marcel namun gagal.
Gea perlahan melonggarkan jari-jari Marcel. Mencoba tidak mengeluarkan suara sekecil apapun agar tak membangunkan pria itu.
"Saya sudah bangun semenjak kamu masuk kedalam sini menyelimuti dan diam-diam mencuri menatap wajah saya berlama-lama."
Ucap Marcel sekarang dengan mata terbuka.
"Lepasin saya Cel. Atau saya teriak."
Ancam Gea.
"Silahkan, saya jamin kamu gak tega ngebiarin saya dihukum warga."
Tantang Marcel dan benar saja Gea tak melakukannya.
"Kamu tau darimana aku disini?"
Tanya Gea.
"Derap langkahmu yang berisik itu masih sama kaya dulu waktu kamu buntutin saya pulang."
Ucap Marcel.
"Maka saya sengaja bilang keras-keras besok akan pulang. Saya tau kamu dibelakang saya."
Ucap Marcel melanjutkan.
"Dasar licik."
Gea memukul tangan Marcel.
"Saya akan minta izin dan sekaligus minta Restu nenekmu besok untuk membawamu pulang dan menikahimu."
Ucap Marcel.
"Gila kamu. Aku gak mau kesana lagi. Lagian kita gak ada apa-apa. Jadi jangan paksa aku."
Tolak Gea.
"Ada. Kita ada ikatan. Kamu jangan bohong Ge. Saat saya tanyakan apakah orang-orang di desa ini mengenal Gea perempuan dari kota, mereka malah bergosip mengenai perempuan tak bersuami bernama Ajeng yang sedang hamil muda dari kota. Untung saya ingat namamu. Saya bilang saja kalau saya suamimu datang menjemput."
Jelas Marcel.
"Pulang Ge dengan saya. Saya akan membuatmu dan calon anak kita merasakan kasih sayang yang cukup."
Ucap Marcel.
"Lalu adikmu?"
Tanya Gea.
"Dia sedang mencari jati dirinya. Sudah saya serahkan dia ke orang yang bertanggungjawab. Ali namanya."
Jawab Marcel.
"Aku sudah kerasan disini Cel. Biar aku dan calon bayi ini punya kehidupan baru."
Tolak Gea untuk kedua kalinya.
"Jadi kamu mau anak kita nanti gak dapat kasih sayang sama seperti mu dan bekerja keras dari kecil seperti saya?"
Tanya Marcel melemah mendengar keputusan Gea. Perempuan itu menggeleng. Ia tak mau anaknya bernasib sama dengannya.
Gea akhirnya menuruti kemauan Marcel. Malam itu juga, mereka berpamitan pada sang nenek. Nenek Gea begitu gembira jika pada akhirnya cucu kesayangannya mendapat kebahagiaan.
"Kenapa harus tengah malam?"
Tanya nenek.
"Biar besok sampe sana siang hari Nek. Marcel mau langsung ke dokter cek kandungan Gea."
Jawab Marcel. Beruntung nenek sudah tau terlebih dahulu dari Gea tentang masalahnya. Kalau tidak bisa terkena serangan jantung mendadak nenek mengetahui cucunya hamil sebelum menikah.
"Kamu pegal?"
Tanya Marcel perhatian. Ia mengubah jok Gea ke posisi rebah.
"Kamu mau minum?"
Tanya Marcel kembali sambil mengambilkan sebotol air mineral.
Tak lama ia bertanya lagi
"Kamu ngantuk? tidurlah. Saya akan kendarai mobil ini baik-baik.
"Kamu tuh kenapa Cel? Kok aku jadi asing ngeliat kamu begini?"
Protes Gea.
"Dasar perempuan. Di perhatiin salah, di cuekin lebih salah."
Gerutu Marcel.
"Iya terimakasih Marcel. Tapi aku suka kamu apa adanya."
Ucap Gea.
"Ya ini saya yang sebenernya. Kamu boleh tanya Tomi dan Kimmy."
Jawab Marcel.
Gea tersenyum menatap pria yang ia cintai sepuluh tahun belakangan ini, wajahnya masih tetap sama hanya gurat halusnya mulai terlihat. Ia tertidur dalam kenangannya. Berharap ketika bangun ini bukanlah sebuah mimpi.
"Selamat datang di kehidupan saya."
Ucap Marcel sambil mencium tangan Gea.
Siang hari Marcel telah sampai di rumah sakit kota. Ia segera memeriksakan calon bayi mereka ke dokter kandungan. Betapa terkejutnya ia ketika berpapasan dengan Kimmy.
"Kak Gea? Kak Marcel? poli kandungan?"
Tanya Kimmy heran.
"Nanti Kak Marcel jelasin. Kita masuk dulu."
Ucap Marcel gugup.
Kimmy sungguh-sungguh menunggu penjelasan dari keduanya. Ia menunggu Marcel dan Gea selama dua puluh menit di kursi tunggu pasien.
"Jadi penjelasannya apa?"
Tanya Kimmy.
Gea dan Marcel saling menyenggol menunjuk satu sama lain untuk berbicara.
"Emm, kamu akan menjadi seorang bibi."
Jawab Marcel.
"Maksudnya?"
Tanya Kimmy masih tak paham.
"Kamu ngapain disini?"
Marcel mengalihkan pembicaraan.
"Itu nanti aku jelasin. Sekarang jelasin dulu maksud aku akan jadi bibi."
Tanya Kimmy penasaran.
"Oke kita bicara di cafe."
Ucap Marcel. Mereka kemudian berjalan ke cafe rumah sakit. Marcel menjelaskan panjang lebar mulai dari kejadian dirinya mabuk hingga terjadi hal tersebut.
"Apa??? Seorang Kak Marcel yang aku anggap paling pintar di muka bumi ini bisa lakuin sebuah kebodohan besar?"
Tanya Kimmy tak percaya.
"Maaf Kak Marcel ngecewain kalian, Dek."
Marcel menunduk malu terhadap dirinya sendiri.
"Jahat banget sih. Untung Kak Gea kebaikan hatinya lebih lebar dari manusia normal."
Ucap Kimmy sambil memukuli lengan Marcel.
"Maafin kakak ku yang bodoh ini ya Kak Gea."
Ucap Kimmy berdiri membungkukkan badan ke Gea. Kemudian ia pergi.
Marcel dan Gea mengikutinya.
Tiba ketiganya di ruang perawatan Dave.
"Dayana, Dave, ada apa?"
Tanya Marcel melihat wajah Dayana yang masih banyak luka dan Dave yang terbaring dengan penyangga leher.
Kimmy menceritakan apa yang mereka alami.
Marcel segera mengecek tubuh dan wajah adiknya takut-takut terjadi hal buruk pada adik kesayangannya ini.
"Aku gak apa-apa."
Ucap Kimmy melepaskan tubuh dari Marcel. Ia masih terlihat kecewa dengan kesalahan yang diperbuat kakaknya tersebut.
"Saya baru tinggal dua hari loh. Udah kaya gini. Gimana saya tinggal dua bulan?."
Tanya Marcel tak mengira.
"Maaf Kak, ini karena aku yang minta tolong ke mereka."
Jawab Dayana.
Marcel tersenyum kearah mereka.
"Gak ada yang salah. Kalau jadi kalian, saya juga akan ngelakuin hal yang sama."
Ucap Marcel bijak.
Kimmy memeluk Marcel. Ia melupakan kesalahan laki-laki itu karena dukungan baik yang sudah Marcel berikan.
Tak lama Marcel berpamitan pulang, ia akan segera mengurus keperluan pernikahannya dengan Gea.
Kimmy beralih mengurus Dave, menyeka tubuhnya dengan tisu basah, menyuapi makan dan memijit-mijit lembut tangan Dave.
"Pulanglah, istirahat. Lu udah capek."
Minta Dave.
"Siapa yang capek? Liat dong gue masih segar bugar begini."
Jawab Kimmy. Dave hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan perempuan ini.
Tak lama pijatannya melemah. Kepalanya tengah menggangguk-angguk. Menahan kantuk.
Dave mengelus kepala wanita itu sampai ia tertidur lelap. Kemudian pria itu turun dari ranjangnya dan mengangkat tubuh Kimmy ke atas. Ia menahan sakit di punggungnya demi perempuan yang disayanginya.
"Segar bugar apanya?"
Gerutu Dave sambil memberi kecupan hangat di kening Kimmy.