Mr.Snowman

Mr.Snowman
Kemunduran Ali dan Tomi.



"Cuma perasaanku aja atau memang foto terakhir Dave dan Kimmy tatapannya gak biasa, kaya punya sebuah arti?"


Tanya Gea saat perjalanan pulang.


"Mana? Saya belum lihat."


Jawab Marcel yang memang pada saat foto terakhir dirinya sedang melakukan transaksi membayar gaun adiknya yang dipakai entah kapan.


Kimmy tak menggubris hanya dia dan Dave yang tau perasaan masing-masing.


Gea menyodorkan hasil foto mereka tadi ke hadapan Marcel.


"Gue makin gak ngerti. Gue kira lu suka sama Kim, Al."


Ucap Marcel masih mendukung jagoannya.


"Enggak. Gue suka Kimmy sebatas teman. Sekarang jadi kaya adik."


Jawab Ali terkekeh.


Ali menggaruk hidungnya yang tak gatal, Kimmy meraih batang hidungnya dan membantunya menggaruk.


"Apa sih Kim ? orang gak gatel."


Ucap Ali risih.


"Ya terus kenapa lu garuk gak berhenti? Gue kira gatel banget."


Protes Kimmy.


"Berarti Ali lagi bohong."


Timpal Gea.


Ketiganya kini diam seribu bahasa tidak banyak bicara seperti diawal. Kimmy tertidur, kepalanya terantuk ke depan berkali-kali. Ali dan Dave dengan sigap meraih kepala itu untuk disandarkan di bahu mereka.


Ali melepaskan, membiarkan Dave yang memberi perlindungan bagi Kimmy.


"Thanks"


Bisik Dave.


"Kalo satu kali aja lu sakitin dia, gue siap rebut kapan aja."


Ucap Ali mengancam dengan suara pelan.


"Kalo gitu sebelum gue berniat sakitin, gue bakal nyerahin langsung ke tangan lu. Biar gue sadar sebelum lakuin kesalahan besar."


Ucap Dave sambil tersenyum. Ali tak meresponnya.


Kini Kimmy menyandarkan kepalanya di bahu Dave. Ali mengedarkan pandangan kearah jendela mobil di kanannya. Ia tak mampu melihat keromantisan dua orang disampingnya ini.


Bodoh banget si lu, Al. Kenapa lu korbanin cinta lu buat ba*jingan yang hancurin hidup keluarga lu. Sisi jahat Ali sedang mencercanya.


Berilah kebahagiaan pada orang lain, maka dirimu akan temukan kebahagiaan sesungguhnya Sisi baik Ali memecut prasangka jahatnya untuk segera pergi.


Setelah sampai di rumah, mereka menemukan Tomi memeluk Dayana yang mencoba menyakiti dirinya sendiri. Ia berkali-kali membenturkan kepalanya ke tembok. Dayana yang sudah hampir sembuh kembali terpuruk setelah mendengar pernyataan Tomi ingin menikahinya.


"Iya iya, aku janji gak akan nikahin kamu, Day. Tapi tolong jangan sakitin diri sendiri."


Seru Tomi. Tak terasa air mata Tomi menetes dari sudut mata saat mengatakan hal itu.


Dayana berhenti meronta setelah mendengar pernyataan itu keluar dari mulut Tomi. Entah mengapa walaupun menyakitkan namun melegakan baginya.


Tomi berdiri membalikkan badannya, ia berjalan ke dalam kamar. Dayana merasa lebih sakit ketika melihat punggung Tomi seakan selamanya ia tak akan pernah melihatnya lagi.


Kimmy berlari memeluk Dayana. Mengangkatnya dan membawa ke dalam kamar.


"Kenapa sih kalian gak sama-sama aja?"


Tanya Kimmy menangis.


"Sudah seharusnya begitu. Kami gak ditakdirkan bersama."


Ucap Dayana dengan tatapan kosong menghadap cermin.


"Siapa yang nentuin takdir? Kak Dayana sendiri?"


Kimmy mengajukan protes pertanyaan.


"Entahlah disaat seperti ini lebih baik kita menciptakan takdir itu sendiri."


Jawab Dayana.


"Egois. Kalau Kak Tomi akhirnya jadi bujang lapuk itu artinya salah Kak Dayana."


Ucap Kimmy menghardik.


"Tomi baik, tampan, masa depannya cerah. Gak ada alasan perempuan menolaknya."


Jawab Dayana.


"Emang. Tapi Kak Tomi yang akan kunci hatinya. Kak Dayana tau kan banyak perempuan yang deketin dia tapi gak ada satupun yang bisa naklukinnya?"


Tanya Kimmy.


"Ya karena dia masih punya kamu. Adik yang harus dia jaga."


"Iya itu cuma salah satu alasannya. Alasan lain, karena dia cuma cinta sama Kak Dayana. Sampe saat ini, satu rupiah pun uang hasil ngebandnya gak pernah disentuh. Dia kumpulin untuk bisa minta restu dari orang tua Kakak. Lihat ini wish list nya selama tiga tahun belakangan ini gak pernah berubah."


Ucap Kimmy sambil membuka laci dan menyodorkan tiga buah rekening koran dengan beberapa lembar kertas dengan tulisan tangan Tomi yang sengaja ditempel di setiap lembaran tersebut. Ia menemukannya selepas membereskan kamar Tomi beberapa bulan yang lalu.


(Rekening koran 1)


24.000.0000


note: Mini Cafe with Ms. D


(Rekening koran 2)


36.000.000


note: Mini Cafe with Ms. D


(Rekening koran 3)


41.000.000


note: Mini Cafe with Ms. D


Married With Ms. D 2 years later.


Dayana memeluk kertas-kertas itu lekat. Air matanya sudah turun deras membasahi wajahnya yang kian memerah.


"Kenapa dari dulu dia bilang alasannya kamu dan Marcel?"


Tanya Dayana terisak.


"Karena dia gak mau Kak Dayana terbeban. Dia mau buktiin ke orang tua Kakak, bahwa dia mampu bekerja keras untuk bahagiain Kak Dayana."


Ucap Kimmy lirih. Ia tahu betul perjuangan sang Kakak. Namun sama sekali tak mau mengusik ruang pribadinya.


Dayana kini terduduk lemas di lantai. Ia menyesali tindakan bodohnya.


"Bangun Kak. Temui Kak Tomi."


Minta Kimmy.


Dengan penuh kekuatan Dayana bangkit dari duduknya. Ia meraih handle pintu dan berlari ke kamar Tomi.


"Tom, maafin aku."


Ucap Dayana sambil membuka pintu kamar Tomi perlahan, namun pria itu tidak berada disana.


"Emm, Tomi langsung berangkat lagi tadi. Dia cuma ninggalin kertas ini."


Ucap Marcel sambil memberikan sepucuk kertas kepada Dayana.


Jangan menangis lagi, Day. Aku tak akan mengganggu hidupmu lagi. Kau tak perlu merasa kotor dengan dirimu. Aku semakin merasa bersalah. Lupakan masa lalumu, sama seperti aku akan belajar melupakanmu. Ketika kita bertemu kembali, aku ingin hidupmu sudah lebih baik dari hari ini.


Salam untuk adik kecilku. Sampaikan maaf padanya aku tak sempat berpamitan.


Dayana menangisi kepergian Tomi dengan pilu. Ia tak salah tadi adalah saat terakhirnya melihat pria itu begitu dekat. Esok mereka adalah orang asing yang tak mempunyai kisah masa lalu bersama.


Kimmy pun tak kalah sedih. Ia menangis terisak.


"Dek, kenapa kamu jadi ikut nangis?"


Tanya Gea dengan lembut.


"Kak Tomi lupa ninggalin uang jajannya untuk aku."


Jawab Kimmy masih menangis.


"Astaga gue kira kenapa."


Ucap Marcel menepuk dahi.


"Besok Kak Marcel double uang sakunya."


Bujuk Marcel agar Kimmy berhenti menangis.


"Lain Kak. Aku pengen ngerasain gaji Kak Tomi selama kerja di laut."


Jawab Kimmy masih menangis.


"Apa bedanya sih sama-sama uang. Emang kalo kerja di laut uangnya asin gitu?"


Tanya Ali ikut gemas melihat Kimmy.


Kimmy masuk ke dalam kamar Tomi. Tidur diatas kasurnya. Memeluk guling yang digunakan Tomi semalam.


"Kak lu bego banget sih. Sabar sebentar gitu. Gue pasti bisa bujuk Kak Dayana. Lu selalu ngeremehin gue. Jahat."


Ucap Kimmy sambil memukuli guling Tomi seolah sedang berbicara dengan sang Kakak.


"Gue bersumpah Dave, sekali aja lu lepasin dia lagi. Selamanya dia punya gue."


Ucap Ali pada Dave yang sedang mengintip Kimmy dari celah kamar Tomi.


"Gak akan."


Jawab Dave.