Mr.Snowman

Mr.Snowman
Lebih serius



Dave mengantarkan Kimmy tepat sampai di depan kantornya. Sebelum Kimmy membuka handle pintu mobil, Dave menariknya. Mengecup dalam bibir Kimmy sekali lagi. Keduanya berpagutan lama. Dave memegang dagu Kimmy, sedang tangan perempuan itu bermain lembut di rambut belakang Dave. Sesekali Dave meremas bahu Kimmy.


"Apa habis ini, kamu pergi lagi dari hidup aku? "


Tanya Dave pelan.


"Enggak Dave. Maafin aku."


Jawab Kimmy berbisik.


"Hiduplah sama aku. Kita mulai semua dari awal."


Minta Dave.


"Iya Dave. Aku mau."


Ucap Kimmy.


Dave merengkuh Kimmy ke dalam pelukannya. Tak terkira betapa bahagia hatinya. Tak sedikitpun ada penolakan di bibir Kimmy meskipun mereka baru bertemu kembali.


Perempuan itu berpikir bahwa Dave lah orang yang tepat menjaganya, selepas beberapa kejadian berat yang menimpa mereka. Selalu Dave. Bukan suatu kebetulan, ini lah takdir mereka. Itu yang Kimmy terima dengan akal sehatnya.


Kimmy merapikan pakaian dan memulas kembali lipstik yang terhapus akibat ulah Dave. Kemudian ia keluar berbekal kecupan Dave di keningnya.


Di muka pintu, beberapa teman kerja Kimmy menyambutnya dengan kekhawatiran. Mereka telah mendengar kabar semalam dari mulut ke mulut.


"Daren gak nyangka gue. Terus lu gimana?"


"Gue denger-denger pacar lu dateng nolongin?"


"Emang lu udah punya pacar? siapa sih? "


Begitu banyak pertanyaan mendarat ditelinga Kimmy. Namun sebelum sempat ia jawab.


"Kim, ini flash disk mu ketinggalan."


Dave menghampiri Kimmy yang belum masuk ke dalam kantornya.


Flash disk yang akan ia serahkan kepada Daren malam tadi, tapi ketika di dalam mobil Dave ia pasangkan pada car kit mp3 untuk mendengarkan musik favoritnya selama perjalanan.


"Makasih Dave."


Ucap Kimmy.


"Ohh pantes diumpetin pacarnya. Tampan dan gagah."


Celetuk salah seorang teman Kimmy.


"Hmm nolak banyak cowo disini termasuk client tertampan kita. Ternyata punya yang lebih."


Ucap yang lainnya.


Dave tersenyum ramah pada teman kantor Kimmy. Tapi pikirannya melayang heran mendengar kenyataan Kimmy menolak banyak pria.


"Udah jangan gosip. Kenalin Dave, ini teman-teman kerja aku. Dan ini Dave, calon suami ku."


Dave tersentak memperkenalkannya sebagai calon suami. Rasa bahagia akhirnya dapat ia terima seharian ini.


"Calon suami? Gue kira cuma pacar. Udah gak bisa diembat dong? Aleemoongg."


Ucap Nita salah seorang teman Kimmy yang pembawaannya ceria dan humoris.


"Jangan coba-coba, Nit."


Kimmy menggamit lengan Dave menandakan tak ada yang boleh mengganggu prianya tersebut.


Selesai perkenalan Dave kembali ke dalam mobil, mengatur napasnya. Ada sesak karena bahagia yang tak terkira.


Calon suami katamu.


Dave menginjak pedal gasnya dengan penuh percaya diri, tidak pernah seperti ini sebelumnya.


Ia sampai pada kantornya. Wardhana terlihat telah lebih dahulu sampai. Dave tersenyum setiap melewati rekan sekerjanya.


"Hahaha kenapa lu? Demam? Nyengir aja daritadi."


Wardhana menepuk pundak sahabatnya.


"Jaga sikap. Buruan selesaiin semua kerjaan hari ini. Bantu gue cari cincin buat ngelamar Kim."


Bisik Dave.


"Ah ngaco lu. Baru juga ketemu lagi. Santai dikit lah. Takut banget gue embat."


Celetuk Wardhana.


"Gue sama dia itu udah gak bisa main-main. Umur hubungan kita itu enam tahun ya walaupun dua tahun jadi pacar temen gue. Tapi kalo ini kendaraan mestinya gue udah punya BPKBnya Bro. Gue juga mau jadiin dia punya gue seutuhnya."


Dave duduk di kursinya sambil menerangkan niatnya.


"Ya udah. Ayo kerja."


Wardhana sebagai teman yang baik selalu mendukung niat Dave dalam hal apapun.


...***...


Dave dan Wardhana pulang larut malam ini. Mereka berputar mall mencari perhiasan terbaik untuk melamar Kimmy.


"Dave, masih nyala tuh lampu kamarnya."


Wardhana menunjuk salah satu ruangan di rumah sewa Kimmy.


"Kok lu tau itu kamar? Lu ... "


Dave menunjuk Wardhana dengan wajah bingung.


"Kan gue bilang, gue pernah suka dia selama dua minggu. Sebelum gue tau itu Kimmy kesayangan lu."


Ucap Wardhana santai.


"Terus apa aja yang udah lu liat? Jangan bilang lu ngintipin dia."


Tanya Dave.


"Di bilang gue cuma natapin atap rumahnya doang deg-degan. Ya kan selagi gue natap rumahnya, gak sengaja tau kebiasaannya. Kalo dia tidur ruangan itu selalu gelap."


Jawab Wardhana.


Ucap Dave penuh ancaman.


"Iya, iya, udah ah gue masuk. Tuh suara kran kamar mandinya bunyi . Dia lagi mandi berarti."


Wardhana berlari setelah melihat Dave dengan wajah garangnya.


Astaga pawang buaya. Dia sampe tau semua kegiatan Kimmy. GILA!


Gerutu Dave.


Dave mengetuk pintu rumah Kimmy, namun tak kunjung dibukakan. Ia menunggu sekitar tiga puluh menit, kemudian pintu terbuka.


Aroma sabun di tubuh Kimmy tercium olehnya, belum lagi rambut Kimmy masih berbalut handuk.


"Maaf Dave aku habis mandi."


Ucap Kimmy.


Si gila itu benar-benar tau Kimmy mandi? Padahal gak kedengeran suara kran. Dasar iblis gimana caranya dia tau.


Dave bertanya dalam kepalanya.


"Dave.. "


Kimmy memanggil Dave untuk ketiga kalinya. Pria ini tersadar dari lamunannya.


"Kim, aku mau periksa isi rumahmu sebentar."


Dave berjalan memeriksa semua sudut. Mengira Wardhana menyembunyikan kamera pengintai di rumah Kimmy.


"Ada apa Dave?"


Tanya Kimmy saat Dave memasuki kamar mandinya.


Dave tak menjawab. Ia masih menelusuri ruang yang lain. Termasuk kamar Kimmy namun tak di temukan apapun.


Kimmy yang mulai kesal dengan sikap Dave memeluk pria itu agar berhenti melakukan hal yang aneh menurutnya.


"Wardhana tau kamu belum tidur, tau kamu lagi mandi. Si gila itu buat aku berpikir dia masang kamera pengintai disini."


Jawaban dari mulut Dave yang sedari tadi ditunggu Kimmy.


"Haha, kamu tu overthinking. Aku suka liat dia merhatiin aku dari terasnya. Nah saat itu pasti aku matiin lampu kamar. Jadi dia pikir aku tidur. Terus soal aku mandi, ni aku nyalain kran ya. terus kita keluar."


Kimmy menyalakan kran kamar mandinya dan berjalan ke teras sambil menarik Dave.


"Kenapa? "


Tanya Dave masih tak paham.


"Suara mesin air segini kencengnya kamu gak bisa denger?"


Kimmy menunjuk sebuah lubang air yang ditutup .


"Jadi maksud kamu, Wardhana tau kamu mandi karena suara bising ini?"


Tanya Dave.


"Iya."


Kimmy tersenyum menjawab Dave.


Mereka kembali ke dalam dan mematikan kran yang tadi Kimmy nyalakan.


"Besok aku panggil orang untuk perbaikin mesin air. Biar Wardhana gak tau kamu lagi mandi."


Ucap Dave.


"Haha gak usah. Itu gak bermasalah. Cuma berbunyi doang. Yang penting airnya keluar. Lagi juga ini urusan pemilik sewa rumah ini. Katanya sebelum ada yang rusak, gak perlu diganti."


Jelas Kimmy.


"Ya itu karena dia gak mau rugi. Udahlah besok aku suruh orang ganti. Aku yang tanggung."


Dave bersikeras.


"Hahaha cuma karena Wardhana?"


Kimmy tertawa tak percaya.


"Iya dia itu biang dari segala buaya. Saat dia tau kamu mandi, pasti otaknya traveling."


Ucap Dave.


"Ha ha ha... sejak kapan kamu seoverthinking ini sih Dave?"


Tanya Kimmy.


"Sejak kamu bilang ke orang lain, aku calon suamimu."


Jawab Dave.


Kimmy menutup mulutnya. Ia teringat akan perkataannya pagi tadi. Ia padahal sengaja mengatakan hal tersebut untuk membuat beberapa laki-laki teman sekerjanya yang masih mengejarnya untuk berhenti. Dan kebetulan mereka ada disana ketika Dave datang.


"Maaf Dave tadi itu.."


Kimmy merasa tak enak hati.


"*Gak usah minta maaf, kamu gak perlu ngerasa bohongin orang lain selanjutnya. Karena aku mau kepastia*n---


Kimberly Douglas, maukah kamu menjadi calon istriku? "


Dave mengeluarkan cincin yang ia pilih bersama Wardhana.


Kimmy makin tak karuan hatinya. Ada haru dan bahagia bersamaan. Ia mengingat banyak hal, mulai dari kisahnya dengan Dave dari awal perkenalan sampai banyak hal yang mereka korbankan, ia juga teringat cinta Ali dan pengorbanannya. Ini lah waktu yang tepat menuai hasil perjuangan cinta mereka.


"Iya Dave, aku mau."


Kimmy mengulurkan jemarinya.


Dengan kelembutan Dave memasangkan cincin di jari perempuan yang sangat ia cintai tersebut. Setelahnya, ia memeluk Kimmy dengan penuh cinta. Begitupun Kimmy, ia membalas pelukan Dave dengan erat.


jangan lupa like, comment dan votenya yah 💕