
"Aku mau kita putus Al dan batalin pertunangan kita."
Ucap Kimmy lirih.
"Kenapa? Kamu baru sadar kalo perasaanmu cuma untuk Dave? "
Kimmy terperanjat dan mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia mendidih kali ini.
Ali sangat berharap Kimmy jujur dengan perasaannya kepada Dave. Dalam lubuk hatinya ia masih percaya Kimmy hanya mencintai Dave bukan dirinya.
"Gak salah denger? Perasaanmu yang cuma untuk Dave. bukan perasaanku."
Kimmy menunjuk Ali dengan kasar.
"Maksud kamu apa?"
Ali tak mengerti.
"Kamu mau terima perjodohan kita cuma takut kalau aku sama orang lain kan? Terus kamu gak bisa balikin aku ke Dave? "
Kimmy mengeluarkan argumennya.
"Loh, itu kan udah kita bahas dan udah clear. Niat awal kita tadinya begitu, sekarang kan udah berubah Kim."
Jelas Ali.
"Bohong! Kamu tetap pada niat awal kamu, Al."
Kimmy mulai menghapus air matanya yang turun ketika ia mengingat kejadian tadi.
"Aku jujur Kim. Aku sayang sama kamu."
Jawab Ali.
"Cicak!"
Umpat Kimmy.
"Hah?"
Ali menatap langit-langit dan dinding kamar Kimmy mencari hewan reptil tersebut.
"Karena kamu belum bisa ngadalin aku apalagi sok jadi buaya. -- Kamu kira bisa memperistri aku terus diluar jalan dengan mesra sama perempuan lain yang kamu suka? "
Kimmy menaikkan dagunya.
"Boro-boro mikir kaya gitu, Kim. Pacaran aja baru dua kali. Itu juga kamu tau sama Jemima kaya gimana."
Ali mengusap kasar wajahnya menahan marah yang rasanya ingin ia luapkan juga. Sebutan cicak tadi berhasil mempengaruhi emosinya.
"No debat. Kamu udah bebas sekarang jalan pegangan tangan sama gebetan kamu di kantor tanpa harus sembunyi-sembunyi. Dan bisa antar dia sampai rumah tanpa perlu sekedar berhentiin taksi untuknya. Kita putus."
Ucap Kimmy membuat Ali berpikir sejenak.
"Kamu liat kejadian di kantor tadi? kamu disana? "
Tanya Ali.
"Iya, udah gak usah makasih. Lain kali gak usah korbanin perasaan lu. Kejar cinta lu."
Ucap Kimmy tersenyum. Ali ikut tersenyum dan memeluk tubuh perempuan itu dengan erat.
"Iya, gue gak akan korbanin perasaan gue lagi dan fokus mengejar cinta gue."
Ali mengulang kalimat Kimmy yang kini berada dalam dekapannya.
"Udah sana kejar."
Kimmy mendorong tubuh Ali.
"Cinta yang aku kejar ada disini. Dan aku gak akan korbanin perasaanku lagi atas nama persahabatan atau bahkan persaudaraan. Kimberly Douglas si pencemburu, aku cinta kamu."
Ali mencium puncak kepala Kimmy berkali-kali.
"Gak usah buat aku terbang terus dijatuhin lagi abis itu. Ikhlas itu butuh proses, kalau aku berubah pikiran lagi gimana? Haha udah sana ah. "
Kimmy mendorong Ali yang belum juga melepas pelukannya.
"Ubahlah, aku tunggu disini. Karena memang kamu yang aku cinta. --Ali terkekeh -- Perempuan tadi itu jatuh karena aku buru-buru mau kesini nemuin kamu, gak sengaja nyenggol dia. Hak sepatunya nyangkut di pintu lift, dia jatuh keseleo. Aku cuma nebus kesalahan aja dengan antar dia ke depan. Kalau keliatan mesra, ya kamu tau kan pesona calon suamimu ini?? mungkin dia kesempatan. Aku gak peduli. Di Mataku cuma ada kamu."
Jelas Ali berbangga hati, Kimmy menganga mendengar penjelasannya. Perlahan bibir pria itu turun kebawah menjelajahi wajah Kimmy dan berhenti tepat di bibirnya. Ia menekan wajahnya agar semakin mendekat.
"Jadi kalian gak ada apa-apa? "
Kimmy melepaskan diri. Ali menggeleng menjawab pertanyaannya.
"Tapi aku bersyukur, aku jadi tau kamu beneran sayang sama aku."
Goda Ali.
"Emang kamu kira selama ini pura-pura? "
"Jadi kamu ke kantorku ada perlu apa? "
Tanya Ali.
"Soal ucapan Jemima waktu itu. Aku kepikiran."
Jawab Kimmy.
"Ini bukan soal aku, ini soal Dave. Nanti kamu akan tau sendiri. Bukan hak ku jelasin mendahului Dave."
Ali membenamkan wajahnya kembali ke wajah Kimmy. Keduanya kembali bermesraan.
"Jadi kita gak jadi putus? "
Tanya Kimmy, Ali tersenyum.
"Never."
Ali memeluk Kimmy erat dalam dekapannya. Kebahagiaan menyelimuti keduanya. Bahkan banyak mimpi yang mereka rajut setelah kesalahpahaman kecil yang menyebabkan pertengkaran itu.
...***...
Di sebuah rumah bergaya industrial tepat di tengah kota, seseorang terus menyibukkan dirinya dengan persiapan rutinitas hariannya.
Ia menciptakan kemakmuran bagi keluarganya yang selama ini menuntut kekayaan darinya. Tak ada lagi kelaparan atau sekedar mengutang seliter beras di warung langganan tempat orangtuanya menumpuk hutang.
"Say, umur lu tuh udah hampir kepala tiga. Mau nunggu apa lagi? Lu mau abisin sisa umur lu dengan predikat janda kembang? "
Tanya Raymond hairstylist yang menata rambut Dayana, wanita tersebut hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bupati kota itu lu tolak, dokter Joe lu gantung, Pengusaha tambang batu bara juga lu tolak. Mau lu yang kaya gimana? "
Tanya nya lagi penasaran.
"Iya Day, kamu udah terlalu fokus bahagiain kami sampe lupa kebahagiaan mu sendiri. Apa kamu masih mencintai Tomi? "
Bu Tri, ibunda Dayana masuk ke dalam kamar anaknya dan ikut menimpali.
"Apa sih Bu? Belum ketemu yang cocok aja."
Jawab Dayana.
"Ah kamu gak usah bohong. Kemarin pas ibu beresin lemari mu, ibu gak sengaja nemuin foto Tomi kamu tempel di pintu dalam lemari. Kalau kamu masih cinta sama dia, ngomonglah Day. Ibu dukung."
Wajah Dayana merona merah malu mendapati rahasianya terbongkar.
"Tomi siapa? Kok gue gak pernah tau shay? "
Tanya Raymond.
"Uh ibu si Raymond yang bibirnya comel ini jadi tau kan. Bahaya tau."
Dayana mengancam Raymond dengan tatapannya.
"Ih cantik tapi jahara. Kita kan best friend Day. Lagian jangan coba-coba panggil gue dengan nama itu. Gue Mona. Ray.. Mo.. Na.. "
Raymond menarik rambut Dayana kasar hingga perempuan itu kesakitan sekaligus terkekeh.
"Day, kamu belum jawab pertanyaan ibu."
Ucap Bu Tri. Dayana terhenyak memikirkan kalimat apa yang pas untuk menjawab pertanyaan ibu apakah dirinya masih mencintai Tomi?
"Dayana cinta atau gak, udah gak pengaruh bu. Jalan kami udah beda."
Jawab Dayana.
"Ibu sama Bapak akan temui Tomi. Kamu terlalu banyak korbanin diri kamu untuk kami. Sekarang saatnya kami membalas. Walaupun harus berlutut di hadapan Tomi. "
Pak Roy yang sedari tadi mendengar percakapan itu, ikut menimpali.
"Buk, Pak, emang udah kewajiban Dayana balas budi ke Bapak sama Ibu. Bapak ibu gak berhutang apapun sama Dayana. Justru Dayana yang berterimakasih sudah dibesarkan dan dididik dari kecil. Dayana sayang kalian. "
Dayana menghapus air matanya dan memeluk kedua orangtuanya bergantian.
"Uh jadi ikut nangis kan. Ini mata suka sensitif. "
Raymond memecah tawa ditengah keharuan.
"Tapi kamu pantas bahagia. Tomi memang pasangan yang pantas untuk kamu. Maafin Bapak terlambat menyadarinya. "
Pak Roy membelai rambut anaknya.
"Itu dulu Pak, biarin Dayana buka lembar baru. Doakan aja anakmu ini Pak, Bu"
Dayana meminta restu dalam melangkah mencari sandaran hidupnya.
Bapak pasti bantu nak. Dihatimu cuma ada anak laki-laki itu. Bapak akan berikan yang terbaik karena selama ini kau sudah cukup bapak susahkan dengan tanggungjawab yang seharusnya bapak pikul namun malah bapak letakkan dipunggungmu.
Jangan lupa LIKE, COMMENT, & VOTEnya ya Readers 💕