Mr.Snowman

Mr.Snowman
Negative vibe



Setelah melewati banyak minggu, ucapan Jemima tak luntur juga dari ingatan Kimmy. Rasanya ingin bertanya pada Ali, namun ia takut yang diterimanya adalah sebuah kejujuran yang menyakitkan. Ia takut Ali hanya pura-pura mencintainya karena menjaga dirinya dari perjodohan dengan orang lain.


Stop negative thinking!


Kimmy memukul-mukul kepalanya dengan kedua tangan.


Gak bisa! cinta itu gak bisa dipaksa Kim! Kalo nyatanya Ali gak ada rasa sama lu, lu harus berbesar hati.


Sisi lainnya terus menerka maksud omongan Jemima.


Kimmy mengambil tasnya dan segera menumpangi sebuah transportasi online yang sudah dipesannya dari lima belas menit yang lalu.


Pikirannya berkecamuk. Mungkinkah Ali memang menyukai teman sekantornya dan terpaksa menerima dirinya.


Satu jam berlalu, Kimmy tiba di depan bangunan tinggi yang terletak di salah satu distrik pusat bisnis ibukota. Ia menghela napas dan menghembuskannya keras.


Harus minta penjelasan sama Ali! Batinnya menguat.


Ia memilih menunggu tunangannya tersebut di salah satu coffee shop ternama yang berada di lantai satu. Tempat yang strategis berhadapan dengan lift. Ia akan leluasa melihat kedatangan Ali.


Jam menunjukkan pukul enam tepat. Kimmy mulai gelisah, sudah beberapa kali tiga pintu lift di depannya terbuka namun tak kunjung Ali muncul. Mungkinkah ia lembur? Salahnya tak memberitahu kedatangannya ke kantor Ali.


3..


2..


1..


Sebuah lift terbuka kembali.


"Ini lift terakhir, kalo dia gak ada juga. Baru gue tele--."


Kimmy berbicara pada diri sendiri. Ia tergagap saat pria yang ditunggunya keluar dari lift tengah dengan seorang perempuan bergelayut di lengannya. Satu. Ya hanya satu perempuan, bukan enam seperti waktu pertama. Ali menghentikan taksi dan membiarkan perempuan tersebut masuk. Kemudian ia berjalan kearah belakang. Parkiran motor tempat Ali menitipkan kendaraannya.


Kimmy hanya memantau dari tempat duduknya. Ia sama sekali tak mendekati atau mencoba mengambil langkah sejajar dengan Ali. Sebenarnya bisa saja ia langsung marah dengan perempuan yang sengaja bermanja dengan calon suaminya itu, tapi Kimmy menjunjung tinggi harga dirinya. Ia tak akan merendah hanya karena satu laki-laki yang tidak setia menurutnya.


Hatinya hancur, ingin menangis namun bukan ditempat ini. Ia berjalan keluar gedung dan mencari taksi. Namun tak juga ada yang kosong. Jam-jam sibuk, begitu juga pengemudi online, tak satupun yang menerima pesanannya.


Ia putuskan untuk berjalan kaki sambil mencari taksi kosong.


Kakinya menendang-nendang debu dan kerikil di sepanjang trotoar. Mendadak ingatannya kembali pada pertemuannya dengan Ali. Ia tersenyum saat pria itu menangis karena kerikil yang ditendang Kimmy mengenai matanya.


"Mulai hari itu lu deketin gue sampai gue bersikukuh nunggu Dave, lu juga yang semangatin gue walaupun hati lu sakit. Dan gue tau itu. Akhirnya sekarang gue nikmatin karma yang gue buat sendiri. Saat hati ini udah milih lu, hati lu udah dimiliki orang."


Kimmy menyapu tetesan air mata dengan tisu.


Tak terasa kini sudah separuh perjalanan ia lalui. Sebuah taksi membunyikan klaksonnya menawari tumpangan. Ia mengangguk dengan tatapan yang kosong. Lagi-lagi harus kehilangan orang yang ia cintai. Ali udah banyak berkorban. Sekarang giliran gue. Batin Kimmy.


"Mbak, udah sampai."


Ketiga kalinya sang supir memberitahukan namun Kimmy masih menatap nanar.


"Mbak, udah sampai."


Kali ini supir mencolek tangan Kimmy.


"Eh iya Pak."


Kimmy menghapus air matanya dan menyerahkan dua lembar uang kepada supir tersebut.


Ia berjalan melewati garasi rumahnya terpampang motor Ali tengah ada disitu.


"Oty Kim.. "


Miracle menyambut Kimmy dengan sebuah pelukan.


"Kamu darimana? Ali udah dua jam nunggu kamu disini."


Gea menarik putrinya dari gendongan Kimmy.


Diam, tak menjawab apapun. Bajunya berantakan, make up-nya luntur. Terlebih maskara yang membentuk mata panda ketika ia menangis tadi.


"Al, Kakak masuk kamar dulu."


Ali hanya mengangguk dan tersenyum kearah Gea. Ia sama tak dapat berbicara seperti Kimmy. Melihat wanitanya seaneh itu dengan rambut lepek tak beraturan, satu sepatunya ditenteng. Karena tendangan terakhirnya terlalu kencang, sepatu kirinya hilang bersamaan kerikil yang ditendangnya. Belum lagi make up seperti kena bogem mentah di mata dan pipi.


"Aku bingung mau nanya yang mana duluan. Kamu kenapa atau kamu darimana?"


Tanya Ali gusar sambil mengusap wajahnya kasar.


"Nanti aja. Aku mau mandi."


Kimmy menyahut tanpa melihat lawan bicaranya. Matanya masih menatap kosong ruangan di depannya.


"Kamu abis di hipnotis ya?"


Tanya Ali khawatir.


"Gak juga."


Kimmy berjalan ke kamar mandi. Dan menangis di bawah kucuran airnya. Ia belum siap dengan perpisahan ini, tapi lebih cepat lebih baik. Sebelum banyak merusak rencana yang akan dibuat kedepannya oleh Marcel, Tomi dan Lena.


Selesai mandi, ia berdiam di kamar, tak menemui Ali sedikitpun. Hatinya belum benar-benar siap. Ali yang tak sabar ingin mengetahui keadaan kekasihnya, akhirnya memutuskan menyusul Kimmy ke kamar. Perempuan itu sedang dalam posisi tengkurap seperti memandangi sesuatu.


"Kim.. "


Ali menyentuh tangan Kimmy. Perempuan itu segera menyeka air matanya.


"Aku mau kita putus Al dan batalin perjodohan ini."


Ucap Kimmy lirih.


"Kenapa? Kamu baru sadar kalo perasaanmu cuma untuk Dave? "


Kimmy terperanjat dan mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia mendidih kali ini.


...***...


Ditempat lain, setelah kunjungan Ibundanya siang tadi, Dave tak dapat tidur tenang. Selama dua tahun, baru hari ini Anne menyempatkan diri menjenguk anak semata wayangnya.


"Ni Mami kesini cuma bawa hot news buat kamu."


Anne mengeluarkan ponselnya dari tas keluaran brand ternama di paris.


"Kimmy sama Ali udah tunangan. Haha itu artinya gak ada orang yang benar-benar tulus di sekitar kita Dave. Semuanya hanya menunggu kesempatan."


Anne menunjukkan foto-foto pesta pertunangan Ali dengan Kimmy yang diabadikan oleh Jemima.


Hati Dave seperti terhunus bilah pedang bermata dua. Tapi ia tetap harus menunjukkan wajah sedingin biasanya agar Anne tak serta merta menggunakan kelemahannya untuk melumpuhkan niatnya.


"Mami kesini cuma buat hal gak penting kaya gini? Bukan mau liat dan kasih semangat Dave? "


Tanya Dave.


"Ya tentu, tapi kan sekalian sampaikan berita penting ini."


Jawab Anne masih mencari letak kekecewaan Dave.


"Mi, ini berita baik untuk Dave. Dari awal Dave memilih kesini, Dave udah serahin Kimmy ke Ali. Dan Ali berhasil. Dave ikut senang Mi."


Dave menguatkan dirinya dari dalam.


Tekad pulang untuk melamar Kimmy pupus sudah, tapi ia tetap pada tujuannya yang lain.


"Kim, ini maksud sumpahmu hari itu?"


"Al, lu pantas terima hadiah untuk kebaikkan lu."


Dave memejamkan matanya yang terasa berat. Mengantuk namun terasa ada yang ingin melompat dari dalamnya. Air mata itu akhirnya turun tanpa perlu diperintah.


Jangan lupa Like, Comment, Dan Votenya ya Readers.


Author laff you all💕