Mr.Snowman

Mr.Snowman
Izin dari Kimmy



Sudah hari kelima, Kimmy masih juga tak mau bicara pada Tomi. Membuat Dave kewalahan mengurusnya. Membawakan makan ke dalam kamarnya, itu juga tak di makannya bila ia tau rasa makanan yang disajikan Dave adalah masakan Tomi. Mau tak mau, Tomi memesankan makanan dari luar. Lalu Dave dengan setia mengantarnya ke kamar.


"Besok Bang Tomi wisuda. Lu masih gak mau ngomong sama dia?"


Tanya Dave.


"Kenapa sih cepet banget? "


Gerutu Kimmy yang masih tidur tengkurap.


"Cepat atau lambat dia pasti pergi, Kim. Gak jagain lu tiap waktu. Dia punya kehidupan sendiri. Kemarin lu minta dia nikah. Apa bedanya dia berlayar sama nikah? Sama sama akan jauh dari lu."


Ucap Dave menasehati.


"Lu gak tau sih gimana Kak Tomi selalu jadi pahlawan buat gue. Gue gak pernah takut selama ada dia. Sebentar lagi dia gak ada. Gue gak berani ngadepin diri gue yang gak bisa apa-apa tanpa dia."


Jawab Kimmy, tanpa disadari Tomi menguping pembicaraan keduanya. Ia terenyuh, tak pernah tau betapa sang adik sangat mengagumi dirinya.


"Ya ini waktunya buat lu dewasa Kim. Mungkin dengan cara ini, lu dibentuk jadi orang yang mandiri."


Dave memotivasi Kimmy.


"Gue mau belajar mandiri, gue janji akan belajar masak, beresin kamar, bersih-bersih rumah, cuci kaos kaki sendiri. Tapi gak perlu Kak Tomi pergi. Gue janji kok."


Ucap Kimmy melayangkan dua jarinya ke udara.


"Keras kepala."


Dave mengusap kepala Kimmy seraya meninggalkannya. Percuma bicara pada anak ini. Ia kokoh pada pendiriannya.


Tomi hendak membatalkan keberangkatannya lusa mendengar adiknya tak berhenti menangis hingga suaranya terdengar keluar kamar. Namun dicegah Marcel.


"Biar gue yang ngomong." Ucap Marcel mengetahui isi kepala Tomi.


Ia masuk ke dalam kamar adik perempuannya yang menangis sembari duduk di sudut kamar. Lampu kamarnya dibiarkan tak menyala. Kalau dibiarkan Kimmy bisa tertidur sampai pagi dengan posisi seperti itu. Kebiasaan buruknya dari kecil.


Marcel mengelus kepala Kimmy dengan lembut.


"Dek, kamu sayang Tomi?"


Tanya Marcel memulai pendekatan. Kimmy mengangguk masih tak dapat menjawab. Isak tangisnya masih terdengar.


"Lepasin Tomi. Dia udah cukup lelah urusin kita. Sampe-sampe dia gak mikirin kepentingannya sendiri."


Marcel mulai duduk menyandarkan tubuhnya di ranjang Kimmy. Ia menengadah keatas melihat bayangan kedua adiknya di masa lalu.


"Inget dulu Tomi sering dihukum gara-gara kenakalan kamu waktu di panti? Sekarang waktu yang tepat kamu berterimakasih sama dia. Kasih hadiah kecil ini buat dia."


Ucap Marcel. Kimmy sedikit tenang. Ia mulai mengangkat kepalanya.


"Tapi kan Kak Tomi janji gak akan ninggalin kita."


Jawab Kimmy terisak.


"Inilah kenapa Kakak bilang kamu belum dewasa. Karena semakin dewasa, semakin banyak kesibukan kita dan perlahan semua yang dulu dekat akan menjauh. Kamu belum ngerasain itu kan? Berarti tandanya kamu belum dewasa."


Ucap Marcel membuat Kimmy mati kutu. Ia paling tak terima dianggap masih kecil, namun kenyataannya begitu.


"Nanti kalo jauh, Kak Tomi sakit atau berantem siapa yang obatin? "


Tanya Kimmy menyeka hidungnya yang mulai mengeluarkan cairan.


"Hahaa Tomi gak akan berantem disana. Dia bakal jadi koki hebat. Sakit juga gak mungkin. Jadwal makan untuk orang lain aja dia inget, apalagi untuk dirinya sendiri. Malah bisa-bisa pas balik kesini kita gak akan bisa bedain dia sama sapi limosin. "


Ucap Marcel meyakinkan Kimmy.


Kimmy tertawa mendengar penuturan Marcel.


Ia berlari keluar dari kamarnya, ditabraknya tubuh Tomi yang sedang berdiri di dekat sofa. Sampai Tomi duduk terjatuh. Kimmy memeluk Tomi sambil menangis.


"Maafin Kim ya Kak. Pas pulang jangan jadi sapi."


Ucap Kimmy membuat Marcel tergelak, sedangkan Tomi tak mengerti maksud adiknya.


"Bener gue boleh berangkat?"


Tanya Tomi dengan wajah bahagia.


"Iya. Tapi gue boleh punya pacar ya."


Jawab Kimmy memberi syarat.


"Buat jagain lu? Gak usah. Ada Dave, kalo perlu apa-apa ngomong sama Marcel dan Dave. Sementara Dave gantiin gue"


Kimmy memeluk Tomi dan Marcel. Tomi merangkul Dave ikut dalam pelukan persaudaraan ini.


Menjadi bagian dari keluarga kecil mereka.


"Aku udah cantik belum?"


Tanya Kimmy yang sudah bangun dari subuh untuk mempersiapkan diri hadir di acara wisuda Tomi.


"Heeemmm"


Jawab mereka serempak. Ketiganya baru saja bangun, dan Kimmy sudah tampil maksimal dengan pakaian semi formalnya tak lupa make up minimalis ala seleb korea.


"Sebenarnya yang di wisuda kamu atau Tomi ?"


Tanya Marcel yang gemas dengan tingkah adiknya.


"Apa sih Kak Marcel sirik aja."


Balas Kimmy sambil mendorong Tomi masuk ke kamar mandi. Agar secepatnya mereka berangkat.


Sesampainya disana, Kimmy sangat sibuk merapikan pakaian Tomi agar sang Kakak terlihat sempurna. Tak disangka Dayana datang menggunakan kebaya berwarna peach menambah keanggunannya.


"Kok kamu bisa disini?"


Tanya Tomi heran, ia tak merasa mengundang Dayana. Perempuan itu hanya mengedipkan mata ke arah Kimmy.


"Kamu sebentar lagi menikah, gak pantas rasanya kamu disini."


Ucap Tomi mengusir Dayana secara halus.


"Aku masih teman Kim dan Kak Marcel. Selama mereka gak masalah aku tetap ikut."


Jawab Dayana tak terpengaruh.


Ia mengikuti setiap sesi sampai akhir. Setelahnya mereka berswafoto. Tak jarang Kimmy meminta keduanya berfoto bersama. Terlihat kecanggungan antara Tomi dan Dayana, namun mereka tetap menikmati momen-momen terakhir ini.


Dayana pulang menggunakan taksi, ia menolak diantar Marcel. Alasannya karena harus lanjut bekerja, sedangkan setelah ini Marcel berencana mentraktir ketiga orang yang sudah kelaparan ini, untuk makan sepuasnya. Sebagai bentuk perayaan kelulusan Tomi.


"Dayana tau besok lu pergi?"


Tanya Marcel.


"Enggak. Tolong jangan ada yang kasih tau. Gue minta kali ini aja."


Minta Tomi kepada Marcel dan Kimmy. Tapi matanya lebih tajam menatap Kimmy. Ia tahu adiknya berusaha paling keras menyatukan mereka.


"Iya iya iya."


Jawab Kimmy kesal, ia tahu Tomi sedang menunggu jawabannya.


Kimmy mengharapkan malam ini tidak berlalu dengan cepat. Dengan begitu ia akan memiliki waktu lebih lama dengan Tomi. Karena besok Kakak keduanya tersebut akan segera pergi dalam jangka waktu yang tak tentu.


"Gue mau tidur sama Kak Tomi."


Ucap Kimmy seraya mendorong Dave jatuh dari tempat tidur. Dave tak mengizinkannya, mereka berdua berebut tempat tidur hingga membuat Tomi terbangun.


"Apa-apaan sih udah tengah malem ribut?"


Protes Tomi yang mengantuk. Kimmy menjelaskan keinginannya dan Dave bersikukuh tak ingin pindah dari kamar Tomi.


Tomi akhirnya mengajak mereka tidur bertiga, dengan syarat Tomi harus berada ditengah-tengah. Ia tak mau Dave menyentuh Kimmy walaupun tak sengaja.


"Ini Kakak gue."


Kimmy memeluk Tomi sambil meledek Dave yang masih terlihat kesal.


Mereka terus saling mengejek hingga tertidur.


"Aaaaaaaaarrggghhh"


Teriak Kimmy begitu tau dirinya bukan lagi memeluk Tomi melainkan Dave.


"Lu tidurnya pindah-pindah bukan salah gue."


Ucap Dave sambil beranjak dari tempat tidur. Ia sebenarnya telah sadar saat Kimmy tidur berpindah tempat ke tengah mereka dan memeluknya. Selama itu pula Dave terus memandangi wajah Kimmy yang semakin mempesona ketika tertidur.


"Ada apa?"


Tanya Tomi yang baru bangun melewatkan kejadian tadi.