
Marcel dan Tomi sedang duduk di teras. Kimmy merasa inilah kesempatan untuk merundingkan pernyataan Kenny padanya.
"Kak, aku mau ngomong serius."
Ucap Kimmy yang duduk diantara keduanya.
Belum sempat bicara ke inti, lampu motor Dave menyorot wajah mereka bertiga. Ia datang memenuhi panggilan Tomi yang mengajaknya mengisi acara musik malam nanti. Kemudian Dave duduk bergabung dengan ketiga bersaudara itu.
"Jadi mau ngomong apa tadi Dek? Lanjutin."
Minta Marcel.
"Kak Kenny yang asdos itu, dia bilang suka ke aku, sampe sekarang belum aku jawab . Karena mau nunggu pendapat kalian. Menurut kalian, aku terima atau enggak? "
Jelas Kimmy dan langsung bertanya.
"ENGGAK!"
Teriak Marcel, Tomi, dan Dave serempak.
"Dengerin dulu, Kak. Aku belum pernah pacaran. Masa kalian tega banget? Lagian Kak Kenny kan baik. Kalian juga udah kenal."
Ucap Kimmy memelas.
"Kamu suka sama dia?"
Tanya Marcel mulai serius.
"Enggak. Tapi kan nanti lama-lama suka."
Jawab Kimmy polos.
"ENGGAK TETAP ENGGAK!"
Seru Dave seorang diri. membuat Marcel, Tomi dan Kimmy saling melirik.
"Lu tuh kenapa sih? Gue nanya sama Kakak-kakak gue."
Jawab Kimmy melawan.
"Semenjak lu bilang ke Dave 'Selamat datang di keluarga baru' , Dave itu bagian dari kita. Dia Kakak lu juga."
Ucap Tomi mencontoh gaya Kimmy yang melompat mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi wajah gembira khas Kimmy.
"Hm."
Ucap Dave menyetujui perkataan Tomi.
"Dan itu juga berarti, kakak beradik gak ada perasaan lain selain saling menjaga dan membela. Artinyaaaa Dave gak boleh pacaran sama Kimmy. "
Ucap Marcel dengan penekanan pada kalimatnya. ketika melihat reaksi penolakan Dave sedikit membuatnya berpikir laki-laki itu sedang merasakan cemburu pada adiknya.
"Iya udah tau."
Tutur Kimmy sambil masuk ke dalam kamar. Bosan dengan ucapan Marcel.
Sementara Dave baru mengetahui peraturan seperti itu, ia mulai gentar dengan niatnya mendekati Kimmy dengan tujuan lain. Dave merasa berat kehilangan keluarga ini. Keluarga yang menerimanya dengan tangan terbuka. Antara menjaga perasaannya yang menyiksa atau menjaga hubungan kekeluargaan ini.
"Gimana Dave?"
Tanya Marcel menunggu jawaban dari Dave.
"Iya Kak."
Jawab Dave terpaksa.
Ucap Tomi menepuk bahu Dave.
Kimmy mengurung diri di kamar seharian setelah mendapat hasil yang tak memuaskan dari para Kakak. Ia bingung harus menjawab bagaimana pada Kenny.
"Dek, sini keluar."
Marcel mengetuk pintu kamar adiknya tiba makan malam. Ia merasa kuatir. Kimmy patuh, tau kan tabiat kakaknya bila dicueki?
Di meja makan Marcel berusaha bertukar pikiran dengan adik kecilnya itu.
"Memang kamu rasa pacaran itu apa?"
Tanya Marcel.
"Ya dijagain, dilindungin. Ada yang nanyain udah makan apa belum kaya cerita temen-temen aku yang udah pernah punya pacar."
Jawab Kimmy.
"Kalo menurut kamu begitu, cuma mau dijaga dilindungi udah kami lakuin dari kamu kecil, soal ditanya makan atau belum, Tomi gak pake nanya, dia siapin makan buat kamu."
Jawab Marcel mematahkan pendapat Kimmy.
"Ih males ngomong sama Kak Marcel yang jomblo sampe tua."
Ucap Kimmy merajuk pada Kakak pertamanya. Wajah Marcel seketika memerah. Sedangkan Tomi tertawa terbahak-bahak. Dan Dave, dia hanya bisa menahan tawa, tak enak hati dengan Marcel.
Baru hari ini, Tomi dapat tertawa selepas itu lagi, sebelumnya beberapa hari kebelakang ia murung. Memikirkan Dayana yang menerima lamaran pria yang dijodohkan oleh orangtuanya.
Bobi namanya, pria berusia tiga puluh delapan tahun tapi sudah kawin cerai lima kali. Dari ceritanya ia selalu menyalahkan mantan-mantan istrinya yang matrealistis. Bu Tri, ibunda Dayana yang penyakit jantungnya sedang kambuh memanfaatkan situasi ini untuk membuat anaknya mau menerima lamaran dari bos pemilik club malam itu. Dayana yang akhirnya setuju, menghubungi Tomi pada malam ketika keduanya resmi bertunangan.
Tomi tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya diam dan berdoa yang terbaik untuk perempuan yang dicintainya tersebut. Hati Dayana sebetulnya juga tersiksa dengan perjodohan ini, ia akan menikah dengan laki-laki yang tak ia cintai. Sedang mimpinya menikah dengan Tomi hanya tinggal mimpi.
Begitu juga dengan Marcel, Kakak pertamanya ini baru merasakan patah hati. Jangankan diajak ngomong seenak tadi. Beberapa hari pulang larut dengan keadaan setengah mabuk. Gea tak lagi menemuinya di ruang kantornya, tak ada lagi pesan singkat dari perempuan itu yang sekedar mengajaknya makan siang atau pulang bareng. Marcel merasa kehilangan. Kehilangan perhatian Gea.
Ryo sahabatnya semakin gencar mendekati perempuan berkacamata itu. Apalagi semenjak Gea pulang dari rumah Marcel setelah makan sore itu, ia makin merasa yakin membuka hatinya untuk Ryo. Walaupun sebenarnya ia juga terpaksa. Ryo sama sekali bukan tipikalnya. Laki-laki yang usianya sama dengan Marcel itu memiliki tabiat buruk. Ia sering tak setia, itulah alasannya masih belum menikah sampai saat ini.
Kisahnya berakhir sama, perempuan-perempuan yang sekarang menjadi mantan pacarnya memutuskan pria ini karena ketahuan selingkuh.
Tapi tidak dengan Gea, ia berkata pada Marcel "Kalo gue bisa dapetin Gea, gue bakal jadi cowo setia Cel." Sebulat itu tekad Ryo mempertahankan Gea. Ia sengaja berbicara hal tersebut pada Marcel karena dirinya tau Marcel dan Gea sama-sama mencintai namun Marcel terlalu banyak pertimbangan.
Beberapa hari ini..
Gea terlihat tak pernah menengok ke arah Marcel sama sekali. Ia mencoba menutup rapat-rapat perasaannya dari pria yang tak pernah menghargai perjuangannya itu.
Sedang Marcel selalu berusaha mengambil perhatian Gea, dengan berpura-pura lewat di depannya, berharap Gea sekali saja memanggil namanya. Namun perempuan tersebut tak menghiraukan. Menganggap Marcel tak ada. Walaupun menyiksa, ia sedang bersusah payah menutup kenangannya selama sepuluh tahun menjadi penggila Marcel yang baru disadarinya suatu kebodohan.
"Kak Kenny maaf, aku gak bisa nerima perasaan Kak Ken."
Ucap Kimmy pada Kenny di lorong kampus.
Dave dan Renata mencuri dengar perkataan Kim, membuat reaksi berbeda. Dave senang bukan main. Sedangkan Renata merasa iba pada laki-laki yanh kini menjadi temannya tersebut.
"Gak apa Kim. Kita temenan aja."
Jawab Kenny sambil tersenyum, ia menghargai keputusan Kimmy.
Kimmy menunduk memberi hormat, ia bangga dengan sikap Kenny yang berlapang dada.
"Udah jangan dibolak-balik terus bukunya. Ayo makan."
Ucap Renata pada Kenny yang daritadi tak fokus membaca buku. Renata tau asisten Dosen ini sedang patah hati.
Renata menyeretnya dari ruang perpustakaan. Menemani pria ini sampai benar-benar move on dari Kimmy. Tak jarang Renata membawakannya makan siang, menelponnya setiap malam. Bukan karena ia suka, namun bentuk solidaritas pada teman adu mulutnya itu.