
"Kau sudah siap?" Yeva mengemasi barang Yejin dan laki-laki itu mengangguk.
"Akan aku bawa." Bogrof meraih koper Yejin dan membawanya ke bagasi. Yejin berada selama tiga hari di Italy, tidak termasuk perjalanan pulang pergi. Ia harus menghadiri konferensi, hadir di rapat, menjelajahi museum, dan jalan-jalan.
"Ayo, Yejin." Yeva berjalan keluar rumah diikuti Yejin di belakangnya.
Yejin's POV
Aku tidak menyangka akan pergi ke Italy tanpa Lula dan tidak hadir di hari ulang tahunnya untuk sekadar memberikan selamat.
Hari ini, 11 Maret adalah ulang tahun Lula dan aku sama sekali tidak memberinya hadiah. Aku tidak sempat untuk membeli sesuatu. Belakangan ini sangat sibuk, dan tidak ada waktu untuk menyiapkan hadiah ulang tahun.
Aku juga tidak tahu apa yang harus aku berikan untuk Lula. Sehingga, aku hanya memberinya amplot berisi surat yang aku titipkan kepada Matvei tadi siang. Bukan sesuatu yang menakjubkan, hanya ucapan selamat ulang tahun singkat. Kuharap Lula mengerti.
"Kau hati-hati di sana." Mama menoleh ke belakang. Mobil sudah melaju dan kami dalam perjalanan ke bandara.
"Jangan lepas dari rombongan. Mama tidak mau kau hilang dan terjadi sesuatu yang tidak baik." Mama terlalu menghawatirkan aku. Aku sudah besar dan tidak seharusnya ia bersikap seperti itu.
"Yejin, nikmati liburannya, dan jangan pikirkan apapun selama kau di sana." Mama tersenyum dan aku melihatnya dari kaca spion mobil.
Aku hanya mengangguk dan mencoba menikmati perjalanan. Ini sulit bagiku, namun aku harus melakukannya.
Aku tidak mengerti dengan diriku yang sekarang. Terlalu terikat, dan selalu terbayang bayang Lula. Kemana Yejin yang dulu? Yejin yang tidak terikat dan tidak terbawa perasaan seperti sekarang ini.
Mencoba sekeras apapun seperti dulu, nyatanya aku tidak bisa. Sekali lagi, gadis itu mampu mengubahku dan membuatku mabuk dengan segala yang ia miliki. Jika aku mulai untuk memikirkannya, aku tidak dapat berhenti dan mengendalikan diri.
Apa ini? Dadaku terasa sedikit sakit, seperti beberapa jarum yang menusuk dan perlahan menjadi sangat sakit. Aku mencoba bergeser dan menahannya untuk beberapa saat.
Pikiranku kacau seketika dan tertuju pada Lula. Apakah dia sudah kembali? Apakah dia baik-baik saja, sekarang? Apa aku perlu tahu keadaanya?
Aku akan mencoba menghubungi Matvei.
***
Lula's POV
Semua orang terlihat bahagia. Mama dan papa tengah memanggang ayam dan Yefy bermain bersama si kembar Berry dan Beck. Jereni Tengah berbincang bersama Kak Matvei, dan semua orang berada di sini, bersenang-senang di hari ulang tahunku.
Seharusnya aku merasa bahagia, namun sesuatu membuatku sedikit murung dan aku tidak yakin sepenuhnya itu hanya karena Yejin tidak datang. Lagian, aku yang menyuruhnya untuk pergi, dan seharusnya aku menikmati pesta ulang tahunku dengan senang hati.
Tapi memang hati ini tidak bisa dibohongi. Semua orang tengah bahagia. Sedangkan aku, menyendiri menjauh dari mereka dan berjalan ke dekat kolam ikan.
Aku suka melihat kolam ikan di rumahku. Tidak terlalu besar memang, namun aku merasa nyaman di sana, dan ketika aku sedih, aku pasti akan kemari. Merenung, atau bercerita dengan ikan-ikan di sana.
Terkadang aku merasa ikan di kolam itu mengerti dan bahkan mereka mendekati aku dan terdiam di bawah mendengarkan cerita-ceritaku.
Aku duduk di kursi panjang yang menghadap ke kolam dan menikmati keindahan kolam ikan yang menakjubkan itu.
"Aku mencarimu kemana-mana, dan ternyata kau berada di sini." Jereni datang beberapa menit kemudian. Dia tersenyum dan aku menyuruhnya duduk di sampingku.
"Duduk di sini, aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu." Jereni mengangguk dan duduk di sampingku.
"Kau lihat ikan-ikan itu?"
Jereni mengangguk. "Mereka sangat cantik."
"Ya dan lihatlah!" Aku mencoba untuk menyentuh air kolam dan menepuknya sedikit. Perlahan ikan-ikan yang menyebar di kolam mendekat ke arahku. Aku sering melakukan ini. Mereka tidak takut ketika aku mendekat, namun justru mendekati aku ketika aku menepuk air kolam.
Jereni hanya diam saja dan terlihat melamun. "Hai, lihatlah!"
"Mereka menyukaimu, Lula." Jereni menatapku dan aku mengangguk.
"Ini tempat favoritku di rumah ini."
Jereni masih terdiam dan tidak biasanya dia seperti ini. "Kau kenapa, Jereni?" Dia terlihat aneh dan seperti ingin mengatakan sesuatu kepadaku, namun ia menunda itu.
Ia menggeleng. "Lanjutkan saja, Lula."
"Aku selalu kemari, dan para ikan ini selalu mendekati aku dan seakan aku adalah bagian dari mereka." Jereni menatapku tanpa ekspresi.
"Memang benar." Katanya tanpa mengalihkan pandangannya dariku.
"Apa?" Aku tidak mengerti apa yang dikatakannya.
"Lula. Mungkin inilah saatnya. Aku harus memberitahumu sebuah kebenaran."
***
"Kau mau lagi, Matvei?" Sofia menawari Matvei yang tengah berdiri di dekat Jereni. Mereka menjadi lebih dekat dari sebelumnya, dan selalu bersama dari tadi.
"Sudah cukup, bibi." Teriak Matvei dan Sofia mengangguk.
Jereni bersama Cael dan mereka tengah makan sesuatu. Matvei melihat itu biasa saja, namun desiran hebat mengacaukan hatinya ketika melihat Jereni bersama laki-laki lain.
Apa aku mulai menyukainya? Batinnya.
"Tidak mungkin."
Drrttt.. drrt...
Telepon Matvei berdering di saku celananya. Laki-laki itu mengambilnya dan melihat Yejin menelpon.
"Yejin?"
"Bagaimana keadaan di sana?"
"Ramai dan sedikit panas. Pesta barbeque dan semuanya terlihat bersenang-senang. Kau sudah sampai di bandara?"
"Belum. Bisakah kau beritahu aku bagaimana keadaan Lula?"
"Tidak biasanya kau menelponku dan sekarang aku tahu mengapa."
"Mana Lula?"
"Sebentar." Matvei menoleh ke arah Jereni dan tidak melihat gadis itu di sana. Ia mencarinya ke seluruh taman dan menemukan Jereni tengah duduk bersama Lula di dekat kolam.
"Lula tengah duduk bersama Jereni di tengah kolam."
"Baiklah, itu saja. Terimakasih."
"Sama-sama." Yejin menutup teleponnya dan Matvei hanya mengendikkan bahu, lalu kembali ke pesta lagi.
***
"Kebenaran apa?"
"Aku akan menceritakan sebuah kisah terlebih dahulu." Jereni mengalihkan pandangannya dari Lula ke kolam ikan.
"Baiklah, ceritakan padaku." Lula terlihat antusias dan bersiap mendengarkan.
"Sudah sangat lama. Namun kau tahu? Ini terasa baru kemarin terjadi."
Lula mendengarkan dengan saksama.
"Hampir tidak ada yang membahasnya lagi, karena kita hidup di zaman yang sudah modern."
"Manusia setengah ikan. Aku biasa menyebutnya putri duyung atau mermaid, dan mereka menguasai seluruh lautan."
"Setiap lautan terdapat pemimpin, namun hanya satu yang menjadi Moana. Penguasa seluruh samudera, dan penguasa seluruh lautan di muka bumi ini."
"Terdapat dua jenis putri duyung. Putri duyung asli, yang memang keturunan duyung asli, dan The Halfer. Tercipta dari perkawinan antara manusia dan duyung. Populasinya sangat sedikit dan bahkan hampir punah karena mereka diburu oleh manusia."
"Dan dari mereka dikelompokkan menjadi tiga bagian. Keturunan bangsawan, biasanya mereka menjadi pemimpin klan. Kedua, duyung prajurit yang berasal dari duyung biasa dan dilatih menjadi perwira perang. Ketiga, duyung biasa. Mereka tinggal seperti layaknya rakyat dan mengabdi pada kerajaan."
"Untuk penguasa seluruh lautan, atau Moana, dia keturunan asli duyung bangsawan, atau leluhurnya adalah orang pertama yang menjadi pemimpin ketika mereka pertama kali menghuni lautan."
"Sang Moana memimpin kerajaannya hanya bersama adik perempuannya. Putri kerajaan."
"Sang Moana bernama .."
Jereni mengambil nafas. "Ia bernama Kalula, dan adik perempuannya bersama Kerinee."
"Kalula adalah duyung yang sangat lembut, baik hati, dan penuh dengan cinta dalam memimpin kerajaan. Walau memiliki hati selembut buku angsa, ia tak lepas dari sikap tegas dan bijaksana dalam memimpin kerajaan. Rakyat makmur dan semuanya hidup dengan tenang."
"Sampai suatu hari, beberapa manusia berlayar di lautan. Tak sengaja beberapa duyung yang tengah berada di permukaan terjerat jaring yang digunakan manusia, lalu mereka menangkapnya. Tapi, paus orca memberitahu Kalula sehingga sang pemimpin mampu melepaskan rakyatnya tanpa luka dengan kekuatannya yang sangat ajaib."
"Manusia itu kabur di hari pertama, karena Kalula menakuti mereka. Rakyat duyung seharusnya tenang."
"Namun, hari kedua, manusia datang dan lebih banyak dari sebelumnya. Mereka memburu para duyung, karena berpikir itu adalah sebuah ancaman. Dengan membawa pasukan yang banyak, mereka menyerang lautan. Namun, Kalula masih sanggup untuk menghabisi mereka."
"Setengah dari manusia itu, tewas tenggelam, namun setengahnya berhasil menjerat beberapa duyung dan mereka membawanya ke daratan."
"Kalula tidak bisa menyelamatkan rakyatnya yang tertangkap. Kekuatannya akan melemah di daratan dan jika ia tertangkap, ia tidak bisa melepaskan diri, kecuali ada seorang manusia yang melepaskannya. Manusia semakin banyak memburu duyung. Namun semenjak hari itu, Kalula menjadi lebih kuat dan para manusia itu tidak lagi mendapatkan tangkapan."
"Beberapa hari dan para manusia itu tidak datang. Kalula merasa aman dan terbebas dari ancaman. Ia dan seluruh rakyat di kerajaannya melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Hingga suatu hari, manusia datang sangat banyak. Di siang hari, dan Kalula menjadi kewalahan. Banyak prajuritnya yang mati dibunuh, dan manusia itu menjadi lebih kuat. Kalula berjuang sendirian, karena adiknya, Kerinee tengah mengalami masa pemulihan setelah ia terkena tombak beracun yang dibuat oleh manusia."
"Singkat cerita, Kalula tertangkap dan penghuni lautan bersedih karena itu. Manusia tidak langsung membunuh Kalula, karena ia bisa menjadi alat untuk memecahkan segala permasalahan di darat. Kalula di sandera untuk beberapa hari, dan kekuatannya terus melemah. Manusia terus mengambil darahnya untuk dijadikan obat dan sisiknya dapat berubah menjadi emas yang memiliki nilai jual tinggi."
"Sampai pada titik terlemah Kalula, seorang pria dengan surai tinggi semampai, dan berkulit putih, datang. Membuka kurungan Kalula dan membawanya pergi. Hari itu sudah malam, dan semua orang tertidur. Pria itu membawa Kalula ke pantai dan melepaskan pemimpin samudera itu ke laut. Kalula bertekad sebelum ia dibebaskan. Barang siapa manusia yang melepaskannya, baik laki-laki atau perempuan, ia akan memberinya separuh dari kekayaanya di lautan."
"Dan setelah kejadian itu, Kalula kembali ke lautan. Seluruh penghuni laut bersyukur atas kembalinya Kalula dan mereka lebih berhati-hati lagi dengan manusia."
"Kalula belum menepati janjinya, sehingga ia terus mencari pria itu dan akan memberikan apa-apa yang sudah ia janjikan."
"Singkatnya, Kalula menemukan si pria dan mereka saling berhubungan baik, yang pada awalnya si pria agak menjauh, namun mereka akhirnya berteman baik. Ia mengubah kebenciannya kepada manusia. Tidak semua manusia berhati busuk dan memburu makhluk sepertinya. Masih ada manusia baik dan Kalula tahu itu."
"Setiap malam keduanya bertemu untuk saling mengasihi kabar atau bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing."
"Beberapa hari bahkan bukan berlaku dan benih-benih cinta mulai muncul di antara keduanya. Mereka menjadi lebih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Bahkan, suatu hari si pria membawa Kalula ke daratan, dengan penyamaran tentunya, agar para manusia lain tidak mengenalinya."
"Awalnya Kalula tidak mau, namun kekasihnya itu berjanji ia akan baik-baik saja. Ia hanya akan menunjukkan bahwa tidak semua manusia jahat dan daratan itu adalah tempat yang indah, tidak seperti yang Kalula bayangkan selama ini."
"Mereka menjadi lebih sering bersama di daratan, dengan penyamaran yang tidak orang ketahui."
Jereni berhenti untuk menghela nafas dan melanjutkan ceritanya kemudian.
Lula terdiam fokus mendengarkan dan ia sangat penasaran yang akan terjadi selanjutnya.
"Kau pasti bertanya-tanya bagaimana sikap rakyat duyung dan pemimpin lainnya? Mereka menerima itu. Kalula menanamkan rasa tidak benci semua duyung hanya kepada kekasihnya. Beberapa bulan terakhir berjalan dengan lancar. Hingga pada suatu hari, dimana kejadian buruk terjadi. Kejadian yang akan mengubah zaman menjadi berbeda dan mengubah Kalula juga." Lagi-lagi Jereni berhenti. Bukan untuk mengambil nafas, namun ia mengingat seluruh kejadian dan bagaimana ia dan Bryan membuat semua ini terjadi.
---
Lanjut next chapter💜