Luna Rusalka

Luna Rusalka
63



Wajah Lula terlihat tidak senang. Sudah hampir setengah jam ia menunggu dan tidak ada kemajuan. Nyatanya, hanya beberapa meter mobilnya berjalan.


Ia takut kalau tidak tepat waktu.


Beberapa saat kemudian, ia melihat mobil di depannya yang putar arah dan kembali ke belakang.


Mungkin hampir sebagian kendaraan putar balik dan ayahnya mencari tahu kenapa.


Mark membuka kaca mobil dan bertanya kepada salah satu yang tengah putar balik dan mobil itu berhenti.


"Ada apa?"


"Jalanan rusak, mereka sedang memperbaiki. Sebaiknya bapak putar balik. Mobil tidak bisa lewat!"


"Ah terimakasih.."


"Kenapa?" Lula bertanya. Dia sudah gerah di sini dari tadi.


"Jalan rusak, mereka sedang memperbaikinya, dan mobil tidak bisa lewat."


"Jadi papa mau putar balik?"


"Iya, Lula. Kita tidak tahu sampai kapan jalanan akan diperbaiki."


"Tapi itu akan dua kali lipat dan kita akan kehilangan banyak waktu."


"Lula kita juga akan kehilangan waktu dengan hanya terdiam di sini.."


Lula terdiam dan berpikir kemungkinan yang akan terjadi dari kedua hal tersebut.


Mark memutar mobilnya dan berjalan berbalik ke belakang. Ia akan berusaha secepat mungkin sampai tempat perlombaan Yejin, dan membawa putrinya tepat waktu sampai sana.


Lula masih terdiam. Ponsel papanya berbunyi dan Lula mengambil itu.


"Siapa?" Mark bertanya.


"Mama." Lula mengangkat telepon mamanya dan berbicara.


"Halo mama."


"Ah sayang. Kau baik-baik saja?"


"Kami terjebak macet satu jam lebih. Jalanan diperbaiki dan kami harus putar balik. Mama aku takut kalau aku sampai sana Yejin sudah selesai."


"Tenang, Sayang. Papamu tidak akan membuatmu terlambat. Percaya padanya." Lula menatap papanya dan tersenyum.


"Iya ma aku tahu."


"Baiklah, mama meninggalkan panggangan. Hati-hati Lula. Mama menyayangimu."


"Yea."


Sofia menutup teleponnya dan Lula meletakkan teleponnya kembali ke dash board mobil.


"Ada apa?"


"Mama menanyakan kabarku saja."


***


"Kita sudah sampai, Yejin!" Erynav melihat keluar dan beberapa mobil memasuki gerbang.


"Aku sangat gugup." Erynav mengemasi tas ranselnya dan bersiap untuk turun.


"Tenang saja, Erynav." Yejin mencoba untuk membuat Erynav tenang. Ia sudah siap dan tinggal menunggu Tuan Elios, memarkirkan mobilnya.


"Kalian jangan kemana-mana jika saya tidak menyuruh kalian." Tuan Ivan menengok ke belakang.


Yejin dan Erynav mengangguk dan mereka bersiap untuk turun dari mobil.


Mobil terparkir. Tuan Ivan membuka pintu, diikuti Yejin dan Erynav. Tuan Elios juga ikut turun, untuk membawakan keperluan mereka di dalam.


"Kalian Masuk dulu, saya akan menunggu Tuan Bogdan di sini."


"Tuan Bogdan ke sini?" Erynav menata rambutnya.


"Pendamping harus mendampingi." Tuan Ivan tertawa ringan dan menyuruh Erynav dan Yejin untuk masuk ke dalam bersama Tuan Elios.


"Ayo Erynav." Yejin berjalan duluan dan Erynav menyusul.


"Aku akan menelpon mamaku sebentar, Yejin." Erynav mengambil ponselnya dan hendak menelpon mamanya. Yejin meraih telepon itu dan menaruhnya di saku jaketnya.


"Di sini terlalu berbahaya."


Erynav membulatkan matanya dan terdiam.


Itu manis sekali. Dia terlihat begitu perhatian denganku.


Wajah Erynav memerah dan ia memalingkan muka.


"Ayo." Tuan Elios berbalik dan menyuruh Yejin dan Erynav segera masuk ke dalam.


Yejin menarik lengan Erynav akhirnya dan membawanya masuk ke dalam.


***


Pukul 08.45


"Berapa lama lagi, pa?" Lula bertanya kepada papanya dan ia masih fokus menyetir.


"Tidak lama lagi, Lula. Duduk dengan tenang." Mark mencoba menenangkan Lula dan ia mengangguk.


Lula menatap luar jendela dan melihat pepohonan di samping kanannya.


Mark mengendarai mobilnya dengan cepat. Tempat yang mereka tuju masih cukup jauh dan pria itu tidak mau mengecewakan putrinya.


Yejin sedang apa ya? Lula sama sekali tidak menelpon Yejin. Dia sengaja tidak mengabari Yejin kalau dia akan datang.


Apakah Yejin memikirkanku? Atau dia masih kesal denganku?


Lula menggeleng dan mencoba untuk tidak memikirkan hal ini sekarang. Tapi pikirannya terus tertuju pada laki-laki itu.


***


Yejin dan Erynav sudah berganti pakaian memakai baju renang. Mereka bersiap di samping kolam. Lima menit lagi perlombaan akan dimulai dan Yejin terlihat gugup.


Apakah Lula benar-benar tidak datang kemari? Yejin menatap air kolam renang dan melihat dirinya berdiri di sana dari pantulannya di air.


Mengapa aku memikirkan hal ini? Fokus Yejin, kau harus fokus di perlombaan kali ini.


"Yejin?"


Pikirannya masih terbayang bayang dengan Lula. Ia segera mungkin menepuk jidatnya dan menoleh karena Erynav memanggilnya.


"Kita harus turun ke bawah, untuk beradaptasi di air."


Yejin mengangguk dan turun ke kolam renang berukuran lebih kecil dari kolam renang utamanya, untuk melakukan adaptasi.


Mereka bersiap untuk ronde pertama. Ronde pertama, masih berenang satu persatu setiap kelompok.


Tidak ada yang akan keluar setelah ronde itu. Di perlombaan ini, skor tertinggi berdasarkan kecepatan waktu yang ditempuh masing-masing peserta.


Gaya yang dipakai ditentukan dari panitia, untuk laki-laki memakai gaya kupu-kupu dan perempuan memakai gaya bebas.


Yejin menarik nafasnya pelan dan menghembuskannya santai. Ia harus setenang mungkin di perlombaan ini.


Seluruh peserta masih melakukan adaptasi dan beberapa saat kemudian wasit membunyikan peluit.


Peserta perempuan naik dan bersiap di titik peluncuran.


Peluit dibunyikan dan Peserta perempuan meluncur, melakukan gaya renang bebas ke ujung sana dan kembali ke titik awal, menolak menggunakan kaki mereka dan titik akhir ke ujung sana lagi untuk memencet tombol waktu untuk membuatnya berhenti.


Erynav perenang yang cepat. Ia lebih dulu untuk sampai di ujung daripada peserta lainnya. Melakukan tolakan dengan kaki, dan berenang kembali ke titik awal, untuk melakukan tolakan akhir dan berenang secepatnya ke ujung timer.


Yejin menunggu Erynav memencet tombol waktu dan dia bersiap.


***


Lula terlihat gelisah. Ini pukul 9 lebih lima menit dan mereka belum sampai.


"Tinggal berbelok dan kita akan sampai." Mark terus membuat Lula tenang dan Lula tersenyum.


"Iya, aku percaya papa."


Mark membelokkan mobilnya ke kanan dan gerbang sudah terlihat di sebelah kiri.


Waktu terus berjalan dan Lula tidak sabar sampai di sana.


Semoga aku tidak terlambat.


Mobil Mark masuk gerbang dan ia mencari tempat untuk parkir.


Beberapa saat mencarinya, akhirnya ketemu di parkiran paling ujung.


"Bawa barang-barangmu dan kita turun." Mark mematikan mesin mobil dan mengambil ponselnya.


Lula mengangguk. Ia mengambil tas ranselnya dan membuka mobil untuk keluar. Ia sungguh tidak sabar.


Papanya sudah menunggu di luar dan mengajak Lula masuk ke gedung.


"Pasti sudah mulai." Lula berjalan di samping papanya dan mereka sedikit berlari masuk ke dalam.


"Sudah mulai?" Tanya Mark kepada salah satu petugas di sana.


"Iya, pak."


"Terimakasih." Mark menarik lengan Lula dan mereka masuk ke dalam.


Lula khawatir. Ia tidak mau terlambat dan terus berdoa agar masih sempat melihat Yejin berenang.


Di dalam ramai, dan Lula tidak melihat dimana Yejin berada.