Luna Rusalka

Luna Rusalka
118



"Golongan darah saya AB negatif." seorang pria tiba-tiba berdiri di belakang Mark. Perawat menoleh dan Mark berbalik. Pria dengan rambut coklat kemerahan berdiri di belakangnya dan tersenyum.


"Baik, kami akan memeriksa Tuan terlebih dahulu." perawat mengangguk lalu berjalan ke kanan.


Pria itu mengangguk dan Mark hanya melihatnya dengan bingung, siapa dia tapi pria berambut hitam itu akhirnya lega, rumah sakit telah mendapatkan dua pendonor darah dan Lula akan baik-baik saja.


"Bagaimana keadaan Lula?" Sepersekian detik kemudian Mattew datang dengan Jereni di belakangnya. Gadis itu masih menangis dan mengusapnya membuat tidak terlihat tengah menangis.


"Perawat bilang dia butuh dua pendonor darah."


"Ah apa golongan darahnya? Aku akan membantu mencari."


Mark menggeleng dan Mattew menunggu untuk Mark menjelaskan semuanya. "Sofia dan seorang pria asing tengah mendonorkan darah mereka."


"Siapa?"


"Entahlah, tiba-tiba dia datang dan bilang ingin mendonorkan darahnya. Aku akan berterima kepadanya ketika dia kembali."


Mattew mengangguk akhirnya tanpa pertanyaan lain. Dia bersandar di tembok dan mencoba untuk menenangkan Mark yang tengah berjalan mondar-mandir di sampingnya.


"Duduklah dan ambil nafas yang dalam."


"Aku tidak bisa. Ini bukan kali pertamanya dia mengalami kecelakaan."


"Aku tahu tapi kau tidak akan berpikir dengan baik jika tengah gelisah. Berdoa saja untuknya dan kau tahu? apa yang kita pikir dan katakan bisa saja menjadi nyata. Jadi, sebaiknya kau pikirkan yang baik-baik saja."


Mark berhenti dan mengangguk. Dia duduk di kursi tunggu diikuti dengan Mattew.


"Papa aku mau ke toilet sebentar." Jereni berdiri dan meminta izin papanya.


"Baiklah, jangan lama-lama."


"Ah aku tidak menyadarinya. Kau juga di sini, Jereni." Mark baru sadar kalau Jereni juga di sini. dan Jereni hanya tersenyum tipis lalu pergi setelah mendapat izin dari papanya.


"Kau tahu dia langsung khawatir begitu mendengar kabar kalau Lula kecelakaan."


"Mereka sangat dekat. Kita harus selalu berdoa mereka tetap bersama selamanya." Mark mengangguk dan Mattew mengiyakannya.


Sofia datang setelahnya dan Mark langsung berdiri. "Sudah?" Wanita itu langsung memeluk Mark dan Mark menepuk kepalanya.


"Di mana pria yang tadi?" Mark melepaskan pelukannya dan Sofia terdiam sejenak. "Pria yang mana?"


"Pria bersetelan hitam dengan rambut coklat kemerahan? Dia bilang dia akan mendonorkan darahnya?"


"Aku tidak melihatnya."


"Ada apa?"


"Mark!"


Wajah Mark berubah menjadi pucat dan dia langsung berlari ke tempat di mana perawat membawa pria itu tadi. Keadaan sepi dan dia mencoba masuk ke dalam, namun perawat keburu membuka pintu dan keluar.


"Di mana pria itu?"


"Mohon maaf, siapa?"


"Pria bersetelan hitam dan berambut coklat yang tadi mendonorkan darahnya."


"Beliau sudah pergi setelah mendonorkan darahnya."


"Ke mana?" Perawat menggelengkan kepalanya dan Mark celingukan mencari pria itu.


Dia berjalan ke kanan dan melihat ke lorong. Di sana sepi. Hanya ada dua jalan untuk keluar dari tempat itu. Pertama, lewat depan ruangan Lula, dan kedua lewat lorong itu. Mark mencoba mencari pria itu ke lorong. Dia percaya bahwa siapapun yang telah membantunya, dia harus segera berterima kasih. Jika tidak nasib baik akan susah kembali padanya.


Mark menyusuri lorong, tapi tidak ada seorang pun di sana.


"Pak?" Mark menyentuh pundak seorang pria bersetelan hitam dan ternyata bukan dia orangnya.


"Ke mana dia?" Mark berhenti di tempatnya sekarang dan berpikir harus mencari ke mana lagi.


Sebelum dia memutuskan untuk berjalan lagi, Sofia memanggilnya dan Mark berbalik.


"Mark!"


"Sudahlah tidak apa, jika tuhan berkehendak, suatu hari kita pasti akan menemukannya."


"Tapi aku harus berterima kasih padanya. Dia tidak mengenal kita, namun dia mendonorkan darahnya untuk putri kita."


"Jika sudah takdir kita pasti akan bertemu dengannya lagi, aku yakin. Sekarang kita harus kembali, Lula pasti membutuhkan kita."


Setelah berpikir cukup lama Mark akhirnya mengangguk dan mereka berdua kembali ke ruangan Lula.


Mereka tidak tahu kalau di balik tembok tempat mereka tadi, seorang pria berambut coklat kemerahan dengan setelah hitam, berdiri dan mendengarkan seluruh percakapan Mark dan Sofia.


"Aku akan melakukan apapun demi putriku.."


***


Seorang laki-laki berdiri di balik pintu sebuah ruangan. Dia sengaja berdiri di tempat itu untuk membuktikan sesuatu, dan apa yang akan ia saksikan setelah ini, laki-laki itu akan meyakinkan diri sendiri bahwa semua yang ia duga selama ini memang benar adanya.


"Ekor ini sangat menganggu. Kenapa harus muncul di saat aku tengah bekerja?" laki-laki berambut pirang mencoba mengeringkan ekornya menggunakan kipas angin.


"Dugaanku memang benar." laki-laki di luar ruangan mengambil sesuatu di saku celana dan mengeluarkannya.


"Kau kena, sekarang, Matvei!" Laki-laki itu mengambil gambar laki-laki lain yang berada di ruangan menggunakan ponselnya, lalu berlalu pergi dari tempat itu.


***


Elliot tengah duduk di balkon rumahnya sambil minum teh. Sore yang cerah dan dia menikmati itu.


Perempuan itu terus saja memandangi ponselnya berharap kalau Matvei menelponnya, mengabari bahwa laki-laki itu sudah memaafkannya. Setelah apa yang terjadi di restoran Tempo hari, sampai sekarang mereka tidak saling berhubungan lagi.


Apa dia sudah menyerah denganku?


Elliot telah menjelaskan semua alasan dia pergi dan sekarang dia memutuskan untuk kembali. Kuliahnya memang belum selesai dan dia akan melanjutkan di sini, mengingat papa dan mamanya telah cerai beberapa bulan lalu, membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan memutuskan untuk pindah kuliah sepihak.


Terjadi pertengkaran hebat di antara dia dan papanya, dan pria tua itu berjanji tidak akan bertemu dengannya lagi sampai Elliot membuktikan semua yang dianggapnya itu benar. Matvei hidup Elliot. Sudah cukup selama dua tahun terakhir dia tersiksa. Apalagi, sejak saat pertama dia pergi tanpa berpamitan dengan Matvei, laki-laki itu sudah membencinya hingga sekarang.


Elliot tidak tahu harus apa. Hubungannya dengan papanya tidak dalam keadaan baik. Apalagi Elliot berjanji dia akan membuktikan kalau anggapan papanya tentang Matvei itu salah, dan Elliot akan membuktikan kalau Matvei memang pantas untuk Elliot. Namun, sampai sekarang dia masih belum bisa berbaikan dengan Matvei.


Elliot tinggal sendirian setelah kembali, di rumahnya yang dulu. Papanya tinggal di rumahnya di luar kota, dan mamanya menikah lagi. Secepat itu? Elliot tidak tahu apa yang terjadi di antara kedua orang tuanya dan dia berharap mereka kembali seperti dahulu, namu rasanya sangat tidak mungkin mengingat mamanya juga sudah menikah lagi.


Elliot bersandar di punggung kursi dan memejamkan matanya sampai bel rumahnya berdering dan ia membuka matanya.


***


"Ke mana lagi kita akan mencari putri, Ratu?" Voodoohag bersandar di tembok karena ia terlalu lelah. Seharian mencari Lula dan tidak tahu arah mereka pergi. Kalula semakin lemah setiap detiknya. Namun, ia tidak memberitahu kedua anak buahnya. Ia terlalu takut kalau mereka akan berkhianat dan menyerang Kalula di saat dia sedang dalam keadaan lemah.


"Tutup mulutmu dan kita cari saja anak itu!" Tidak dapat dipungkiri bahwa tujuan Kalula mencari putrinya tidak semata-mata ingin hidup dengannya saja, namun bagaimanapun juga Lula adalah jimat yang terus membuat Kalula bertahan hidup dan memberinya kekuatan yang maha dahsyat.


Namun, belakangan ini Kalula menjadi melemah. Kekuatannya mulai hilang dan ia tahu pasti hal ini akan terjadi. Jadi, untuk mengantisipasi ia akan kehilangan kekuatan dan mati, wanita itu secepatnya harus menemukan Lula dan menjadikannya kekuatan Vreton Kingdom, kerajaan bawah lautnya. Dengan cara pertukaran jiwa atau kalau tidak bisa jiwanya bisa masuk ke dalam raga Lula ketika tubuh Kalula mati. Seingga ia mmbisa kembali seperti semula dan masa bodoh tentang hubungan ibu dan anak.


Awalnya Kalula mengharapkan keterlibatan Lula dalam kehidupannya karena memang dia adalah putrinya. Namun, mengingat siapa ayah kandung Lula, Kalula jadi tidak bersemangat ditambah lagi kegelapan telah melahapnya hampir 100 persen. Ia tidak bisa berpikir jernih lagi, dan pikirannya dipenuhi oleh pikiran jahat.


Dadaku semakin sakit setiap aku melangkah. Apa kami begitu dekat? Atau sesuatu terjadi padanya?


Kalula tidak bisa menghindari rasa sakitnya. Wanita itu berhenti dan membuat kedua anak buahnya juga berhenti.


"Anda membutuhkan sesuatu?" Zedrys bertanya karena melihat Ratunya tiba-tiba berhenti.


"Kita tidak bisa hanya seperti ini. Terus berjalan dan tidak tahu harus ke mana."


"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Ratu?"


"Putriku hampir 17 tahun. Seharusnya tidak sulit mencarinya di daratan. Hanya saja, dia memiliki sesuatu yang membuatnya seakan tidak ada di manapun tempat di dunia ini dan apapun yang terjadi, kita harus segera menemukannya sebelum usianya tepat 17 tahun. Jika sampai 17 tahun kita belum menemukannya dan dia sama sekali belum menyentuh air laut, berakhirlah sudah." Kalula terlalu bersemangat dan menimbulkan genangan air di sekitarnya berombak.


"Putriku memiliki tanda lahir di punggung bagian kanan. Seharusnya ini menjadi alibi untukku menemukannya."


"Jadi, apa yang harus kami lakukan?"


Kalula menarik nafas dalam-dalam. "Bawakan kepadaku setiap gadis berusia belum genap 17 tahun. Kita mulai di kota ini. Seharusnya ini akan mudah. Lakukan apapun, dan bawa para gadis kepadaku, sehingga aku dapat memeriksanya!"


"Baik, Ratu."