
Kapan Kita bisa tahu Masa depan? Ya. Ketika Kita sudah sampai di Masa itu, dan Kita tidak bisa mengubahnya apapun yang terjadi. Mungkin Kita boleh menyesal atas usaha apa yang kita lakukan sebelumnya, jika saja yang terjadi tidak sesuai kehendak.
Lain, kalau keadaan yang menentukan bagaimana Kita di Masa depan. Tuhan selalu punya caranya sendiri untuk menjalankan skenarionya.
***
"Yejin.. yejin.." Yeva membangunkan putranya Dan dia membuka matanya.
"Mama?" Yejin mengucek kedua matanya Dan melihat mamanya dan Sofia tengah berdiri menatapnya.
"Kau tahu? Kalian membuat kami sangat khawatir." Yeva berkacak pinggang Dan menunggu penjelasan Yejin.
"Sudahlah, Yeva. Biarkan mereka masuk dulu. Di luar sangat dingin." Sofia menyentuh pundak Yeva Dan ia mengangguk.
"Lula.. Lula.." Yejin berusaha membangunkan Lula, namun ia semakin menenggelamkan wajahnya di lengan Yejin.
"Jangan bangunkan dia." Yeva berbalik Dan berjalan masuk.
"Yejin bisakah kau menggendong Lula?" Pinta Sofia Dan Yejin mengangguk.
Yejin menggendong Lula Dan membawanya masuk.
Kau cantik sekali.. Batinnya kagum. Dari lahir Lula memang sudah cantik, bagaimana tidak? Dia sendiri anak Dari Kalula, sang penguasa lautan dan perempuan tercantik di samudera.
Saya juga tidak yakin apakah Kerinee akan menyerahkan Lula pada ibunya.
Yejin meletakkan Lula di kamarnya Dan dia berjalan ke ruang Tamu. Mamanya Dan Sofia tengah duduk Dan menunggu Yejin untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"Duduk, Yejin." Sofia mempersilahkan nya untuk duduk, Dan ia pun mengiyakannya.
Hening beberapa saat.
"Kau tahu? Kalian membuat kami sangat khawatir." Yeva buka suara Dan menatap tajam Yejin.
"Ye-"
"Jangan emosi, Yeva. Biarkan aku yang bertanya." Sofia menenangkan Yeva. Dia hampir saja memarahi Yejin, dilihat Dari cara dia berbicara dengan nada tinggi.
"What Happened? Apa yang terjadi, Yejin?"
"Kami berniat pergi ke rumah Jereni, untuk menjenguknya."
"Tapi kenapa kau tidak di rumah Jereni? Kemana kau, Yejin?" Yeva sangat penasaran.
"Kami tahu kalau sekolah pulang lebih awal."
"Kau Kan bawa ponsel. Kenapa tidak menghubungi mama? Mama bisa mengantar kalian."
"Yeva dengarkan dia dulu."
"Aku tahu, tapi mama sedang bekerja. Aku tidak Mau merepotkan kalian." Yejin terdiam seketika.
"Ceritakan saja, Yejin." Sofia mempersilahkan Yejin melanjutkan ceritanya.
"Dari awal aku yang Salah. Aku yang menyarankan untuk kami menjenguk Jereni." Yejin mengambil nafas dalam.
"Lula sudah mencoba menghubungi rumahnya namun panggilan dialihkan. Kami tetap pergi ke rumah Jereni karena Lula bilang bisa menghubungi di perjalanan."
"Kami Naik bis. Lula akan menghubungi rumah lagi, namun ponselku mati. Baterai habis Dan kami tetap melanjutkan perjalanan karena hampir sampai. Kami berpikir kalau nanti akan menghubungi kalian di rumah Jereni."
"Tapi, kami berdua ketiduran Dan bis melaju sangat jauh Dari tujuan kami. Akhirnya kami turun di halte daerah pepohonan Dan menunggu bis kembali."
"Lama kami menunggu Dan tidak Ada satupun bis yang datang. Kami menyadari kalau sepeda kami juga tertinggal di bis sebelumnya."
"Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan sampai seorang pria tua menawarkan tumpangan kepada kami. Awalnya aku menolak, namun Lula bersikeras untuk mengiyakan Dan dengan terpaksa aku menerima bantuan pria tua itu."
"Namanya Sam, dan dia bukan pria yang jahat. Ramah Dan membantu kami meminjamkan ponselnya, namun lagi-lagi rumah tidak bisa dihubungi."
"Ya. Beberapa saat pohon tumbang tepat di depan Mobil Sam. Untungnya kami tidak kenapa-kenapa Dan hanya bisa menunggu. Setelah itu ranting pohon tumbang lagi Dan membuat kabel listrik terputus itu menyebabkan listrik mati."
"Hampir Satu jam kami menunggu Dan petugas datang untuk memperbaiki kerusakan, dan menyisihkan pohon yang menutupi jalan itu. Akhirnya kami bisa kembali jalan, Dan Sam mengantar kami sampai di perbatasan."
Sofia Dan Yeva masih mendengarkan.
"Rumah dikunci dan Lula tidak membawa kunci cadangan. Akhirnya kami duduk di garasi Dan ketiduran." Yejin mengakhiri ceritanya dengan nafas lega.
"A-" Lagi-lagi Yeva ingin memarahi Yejin namun Sofia mencegahnya.
"Syukurlah kalian tidak kenapa-kenapa. Kami sangat khawatir. Yang penting sekarang kau Dan Lula baik-baik saja." Sofia menyentuh lengan Yejin.
"Sebaiknya kalian menginap di sini. Di luar hujan deras. Dikhawatirkan jalanan licin, ini sudah malam juga.."
"Tapi apakah tidak merepotkan?" Yeva sepertinya khawatir kalau Sofia akan direpotkannya. Dia juga jarang menginap di rumah saudara ataupun temannya. Dia tidak suka.
"Kau tidak kasihan dengan Yejin? Sepertinya dia sakit. Lihatlah hidungnya yang merah." Sofia tertawa Dan Yejin hanya tersenyum kecu sambil mengalihkan pandangannya.
"Tapi-"
"Sudahlah Yeva. Yejin, sebaiknya kau Mandi Dan aku akan mengambilkan baju ganti untukmu." Sofia beranjak Dan pergi berlalu.
***
Ada apa ini? *Batin Jereni bingung. Pasalnya ia mendengar suara gaduh di atas air Dan Lagi-lagi mimpi ini.
Dia sudah lelah. Mimpinya seakan merampas aktivitas dia di dunia nyata. Bagaimana tidak? Dia tidak nafsu makan Dan hanya berbaring seharian di tempat tidur, Dan ini sudah lebih Dari Satu minggu semenjak dia mendapatkan mimpi itu.
Sepertinya seseorang ingin menunjukkan sebuah kebenaran.
Dia mencoba keluar Dari persembunyiannya Dan melihat semua orang dengan ekornya berjalan di air Dan naik ke permukaan, seperti tengah di kendalikan.
Mata merah, mulut terbuka lebar Dan berbaris, kecuali seorang pria yang familiar yang tengah menatapnya Dari kejauhan.
Pria itu berlari Dan membawa Jereni masuk rumah. Dia ingat, wajahnya sangat mirip dengan perempuan yang bersama pria itu. Hanya saja ekor mereka yang agak beda.
Pasti pria itu mengira kalau dia adalah adiknya itu. Kali ini Jereni tidak mencoba kabur. Dia penasaran apa yang akan dilakulan pria itu.
"Kita harus bersembunyi sampai peperangan berakhir!"
"Kenapa mereka?"
"Mereka dibawah kendali Ratu."
"Kenapa Kita tidak seperti mereka?"
"Kau lupa ya? Kita bukan duyung seutuhnya. Ada darah manusia di tubuh Kita.." Pria itu duduk di kursi sambil merebahkan tubuhnya di punggung kursi.
"Apa yang Kita lakukan sekarang?"
"Duduk saja. Kita tidak akan terdeteksi." Pria itu menutup matanya Dan Jereni sangat bingung Dan tidak tahu apa maksudnya.
Kali ini, Jereni tidak akan bersembunyi. Sepertinya pria itu mengira bahwa Jereni adalah adiknya.
Aku akan mengikutinya. Ya. Seseorang mencoba menunjukkanku sesuatu, aku akan mengikuti permainannya.
"Oh iya, kak. Kepalaku terbentur dan sepertinya aku melupakan beberapa Hal."
Pria itu membuka matanya Dan menatap Jereni.
"Sebenarnya apa yang akan Kita lakukan Dan apa yang terjadi?"
"Kita tidak bisa melupakan apa yang telah Kalula lakukan kepada Kita. Kita menderita karenanya. Dia harus merasakan apa yang ibu Kita rasakan juga!" Pria itu berdiri Dan membelakangi Jereni.
"Aku sudah sampai di titik ini, Dan tidak akan membiarkan Kita kalah. Aku akan membalas perbuatannya bahkan sampai ke keturunannya. Jika aku tidak bisa menyingkirkan Kalula, maka aku aka menyingkirkan semua keturunannya, biarkan dia merasakan betapa tersiksanya kehilangan*."