
Jika aku tertimpa pot besar itu, seharusnya terjadi cedera berat. Namun, punggungku hanya pegal-pegal dan sebelumnya bukankah kakiku sakit?
Author's POV
Lula melihat pergelangan kakinya, perban sudah terlepas dan dia tidak merasa sakit lagi.
"Sudahlah.. Aku harus bersih-bersih, dan.. memberitahu kepada semua orang agar tidak memberi tahukan kejadian ini pada mama."
Lula mengangguk dan menyalakan air shower untuk mandi.
***
"Mana Lula?" Yeva mengeluarkan kepalanya dari dalam mobil dan menatap Rwka berjalan mendekat sendirian.
"Bukankah sudah di sini?" Rwka membuka pintu mobil dan tidak melihat siapapun kecuali Yeva di depan.
"Tidak."
"Dia juga tidak ada di kolam renang."
"Jadi, mereka kemana?" Yeva mematikan mesin mobil dan turun untuk mencari dimana Lula.
"Mungkin masih di dalam." Rwka berjalan duluan dan masuk ke dalam rumah lagi. Mereka berlari mencari di sekeliling rumah dan tidak mendapatkan keberadaan Lula, Jereni, maupun Yejin.
"Di kamar Jereni. Kita belum ke sana." Rwka berjalan dengan cepat dan melihat Yejin berdiri di Luar kamar Jereni.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Yeva bertanya kepada Yejin.
"Berdiri."
"Dimana Lula?"
"Di dalam."
Rwka membuka pintu dan hanya melihat Jereni yang tengah duduk di sisi tempat tidur nya.
"Dimana Lula?" Yeva gelisah dan berdiri di ambang pintu.
Pintu kamar mandi terbuka dan Lula keluar. Dia berhenti, dan terkejut melihat semua orang di sini dan menghawatirkannya.
***
Sofia berkali-kali menelpon Rwka maupun Yeva, namun tidak ada yang mengangkatnya. Pikirannya kacau dan hatinya tambah gelisah.
Dia berpikiran aneh-aneh dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
***
"Kau baik-baik saja?" Rwka mendekati Lula. Dia hanya terdiam dan masih berdiri di depan kamar mandi.
Lula mengangguk.
"Apa yang terjadi?" Lula tertegun. Dia berpikir sejenak. Mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan.
"Bibi,"
Yeva dan Rwka menunggu penjelasan Lula. Yejin hanya berdiri di ambang pintu, dan Jereni duduk di tempat tidur.
"Kalian semua, Bibi, Jereni, Yejin. Aku mohon untuk tidak memberitahu kejadian ini pada orang tuaku. Termasuk mama. Dia akan melarang ku berbuat apapun ketika dia tahu hal ini. Jadi, kumohon untuk tidak memberitahu nya. Lagian, aku baik-baik saja sekarang. Tidak ada cidera serius." Lula meyakinkan semua orang. Dia berharap sekali tidak ada dari mereka yang memberitahu mamanya.
"Tapi Lula, mamamu,-"
"Bibi kumohon. Aku tidak mau kau juga kena masalah." Lula berjalan untuk meletakkan handuknya. Kemudian dia berjalan menghampiri Yejin.
"Terimakasih telah mencariku." Lula meraih kedua tangan Yejin dan menggenggam nya. Dia menatap mata Yejin berusaha memberitahu kalau dia sangat menyayangi Yejin.
Deg deg deg ..
Lula terdiam dan memperhatikan sesuatu. Dia tertawa ringan. "Jantungmu berdetak kencang." Yejin membulatkan matanya dan melepaskan tangan Lula.
"Aku hidup, apa alasan jantungku untuk tidak berdetak?" Lula menggelengkan kepalanya dan duduk di tempat tidur.
"Aku baik-baik saja, jadi jika kalian ingin melakukan sesuatu, silahkan."
"Kita makan malam." Rwka berjalan keluar kamar dengan tergesa. "Aku tunggu di meja makan." Dia berbalik dan memberi instruksi kepada Jereni dan Lula untuk segera berdiri.
"Kau baik-baik saja, Jereni?" Lula menatap Jereni serius.
Jereni hanya mengangguk dan beranjak untuk berdiri.
"Sebentar." Lula menarik tangan Jereni, dan ia duduk kembali. "Ada apa, Lula?"
"Kau aneh sekali hari ini. Apa kau masih sakit?" Jereni terdiam dan berpikir apa yang harus ia katakan.
Memangnya apa yang aku lakukan? Aku tidak ingat apapun, sebelum aku ada di kolam renang. Aku hanya tahu kalau entah bagaimana aku bisa berada di kolam renang.
"Mengapa kau tenggelam?"
Lula tidak mengerti kenapa Jereni bertanya seperti ini. Dia tahu kalau Jereni sadar waktu itu. Dia pastinya tahu juga, kalau Lula berusaha menyelamatkan Jereni dari pot besar itu.
"A-"
"Kenapa kalian lama sekali?" Rwka datang tiba-tiba dan berdiri di ambang pintu menyilakan kedua tangannya di depan dada.
"Baik bibi." Lula berdiri dan menarik tangan Jereni. "Ayo, Jereni!"
***
"Mama kenapa?" Yefy berjalan mendekati mamanya sambil memakan ice cream.
"Mama khawatir dengan kakakmu,"
"Kenapa dengan kakak?"
Beberapa kali menelpon, tapi tidak diangkat sama sekali.
Drtttt.. drtttt...
Ponsel nya berbunyi.
"Yeva?" Dia tersenyum karena Yeva menelpon balik.
***
"Astaga,"
"Kenapa?"
"Sofia menelepon ku dari tadi. Pasti khawatir dengan Lula." Yeva menunjukkan layar ponselnya kepada semua orang.
"Dia juga menghubungiku." Rwka melihat ponselnya dan Sofia juga menelepon beberapa kali.
"Bibi, jangan beritahu mama." Sekali lagi, Lula memohon untuk menyembunyikan hal ini. Yeva mengangguk. Lekas dia menelpon balik Sofia.
"Hei Yeva. Aku menghubungi mu dari tadi."
"Maaf Sofia, ponselku tidak kupegang. Itu tergeletak di meja. Apa apa?"
"Apa Lula baik-baik saja? Perasaanku kacau dari tadi."
Yeva menatap Lula. Lula menggeleng dan Yeva mengangguk.
"Dia baik-baik saja. Kami sedang makan malam. Apa kau sudah makan?"
"Apa aku bisa berbicara dengan Lula?"
"Iya, sebentar."
Yeva menyerahkan ponselnya kepada Lula. "Bicaralah dengan mamamu."
"Mama aku baik-baik saja. Kau jangan khawatirkan aku."
"Oh syukurlah. Mama sangat khawatir, Lula. Perasaanku tidak karuan dari tadi."
"Mama ambil nafas yang panjang dan minum air putih saja. Aku baik-baik saja. Habis makan malam di sini aku akan kembali."
"Baiklah, Lula."
"Mama sudah makan malam?"
"Baru saja mama akan menyiapkannya."
"Aku pulang-"
"Sudah dulu ya, Lula. Papamu pulang. Mama harus pergi*."
"Baiklah. Sampai jumpa."
Lula mematikan telepon dan menyerahkannya pada Yeva.
***
"Terimakasih sudah ke sini." Rwka tersenyum.
"Besok aku akan pergi ke sekolah." Jereni tersenyum dan terlihat senang, mengetahui besok sudah pergi ke sekolah.
"Aku akan menunggu kamu di sekolah." Lula tertawa dan melambai kemudian masuk mobil.
"Ayo Yejin."
"Sampai jumpa." Yeva pamit dan menyalakan mesin mobil.
Mobil melaju di malam yang semakin gelap.
***
Aku masih tak habis pikir. Apa yang aku lakukan tadi, yang membuat Lula tenggelam? Aku tahu dia mencoba menyelamatkan aku, tapi mengapa aku ada di kolam renang?
Jelas sekali aku tidak suka berenang.
Jereni duduk melamun. Memikirkan bagaimana caranya dia memberitahu kepada Lula.
"Apa aku harus menyembunyikan hal ini?"
"Tapi, jika dia tidak tahu apapun, dia akan terkejut ketika usianya 17 tahun.."
Jereni tak ambil pusing. "Sebaiknya aku memikirkan hal ini besok. Lagian, masih punya dua tahun, "
***
"Mama aku pulang." Lula mengetuk pintu dan pintu terbuka seketika.
"Mama kakak pulang!" Yefy membuka pintu dan berteriak memanggil mamanya.
"Sebentar Yefy!" Teriak Sofia dari belakang.
"Awas kakak mau masuk."
"Kakak Yejin kemana?"
"Sudah pu-"
"Lula bisakah kita bicara sebentar?"