Luna Rusalka

Luna Rusalka
126



Jereni masih tidak tahu apa yang terjadi. Yejin tidak memberitahunya apa yang terjadi, hanya mengabari kalau mereka harus kembali sekarang.


Lantai 4 ruang VIP 1. Mereka harus naik lift dan menuju ke sana. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan. Jereni sangat gelisah. Ditambah dia melihat Lula memakai pakaian putih di bawah. Perasaannya semakin tidak karuan.


Saking gelisahnya Jereni tidak merasakan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Tapi, apakah dia benar-benar sakit? Seorang duyung biasanya memiliki penyembuhan yang cepat.


Beberapa menit dan lift berhenti, terbuka, dan mereka berdua keluar. Yejin berlari dan Jereni mengikutinya di belakang, namun tidak sengaja Jereni menabrak seorang pria berpakaian rapi dan ia langsung meminta maaf.


"Maaf, aku terburu-buru."


Pria itu hanya mengangguk dan berjalan kembali, namun berhenti dan menoleh. "Aura ini.." Dia berbalik dan berjalan masuk ke lift. Pertemuan yang singkat.


"Bagaimana keadaan Lula?" Yejin berhenti dan berdiri tepat di depan ruangan Lula.


"Dokter sedang memeriksanya."


Yejin mengangguk dan berdiri lebih dekat ke jendela yang ditutup gorden itu. Jereni hanya mengikutinya dari belakang.


"Apa yang terjadi? Kenapa jendelanya ditutup?" Jereni berjalan mendekat ke arah Yejin dan melihat ke arah jendela yang tertutup. Dia sedikit heran karena tidak biasanya begini.


"Lula telah sadar. Dokter tengah memeriksanya di dalam."


"Benarkah? Syukurlah." Mata Jereni berbinar dan Yejin hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak sabar untuk melihatnya melihatku lagi. Aku sangat merindukannya."


"Sebaiknya obati dirimu terlebih dahulu, dia tentu tidak akan merasa senang kalau melihatmu seperti i-" Yejin menoleh dan terkejut tidak melihat luka di tubuh Jereni lagi. Hanya saja tubuhnya yang kotor dan terdapat sedikit bercak darah.


"Apa?" Jereni bertanya dengan tenang.


"Bukankah kau terluka?" Yejin meraih tangan Jereni, yang jelas-jelas ia lihat bengkak tadi, namun kali ini tidak ada luka luar atau bengkak di seluruh tubuhnya.


"Ayolah, Yejin. Tidak separah itu. Tenang saja." Jereni melepaskan tangannya dan kembali ke posisi awalnya tadi.


Bagaimana tidak? Aku seorang duyung.


Gorden terbuka dan dokter keluar dari ruangan. Sofia langsung berdiri dan mendekatinya.


"Bagaimana keadaan putri kami?"


Dokter tersenyum dan melepaskan kacamata nya.


"Dia baik-baik saja. Lihatlah.." Semua orang melihat ke arah Lula yang telah membuka kedua matanya dan menatap semua orang dari dalam ruangan, tanpa bergerak.


"Dok apakah dia baik-baik saja? Pa kenapa Lula tidak bergerak?" Sofia terlihat gelisah. Dokter tersenyum dan menjelaskan keadaannya sedetail mungkin.


"Pasien baru saja tersadar setelah beberapa hari koma. Tentu kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Pasien hanya bisa melihat namun belum memiliki kemampuan untuk memberi respon secara besar, seperti melambai atau bahkan tersenyum."


"Kau dengar? Tidak akan terjadi apa-apa." Mark mencoba menenangkan Sofia. Sepertinya keadaan akan membaik, setelah Lula tersadar. Walau tidak menceritakan semua yang terjadi tanpa Lula, namun terlihat sangat jelas kalau semua orang sangat khawatir. Yejin dan Jereni bahkan tidak ke sekolah atau pulang ke rumah. Mereka hanya menunggu di sini. Yefy sendirian di rumah, dan tidak tahu apa yang ia lakukan, mengingat bocah kecil itu sekarang tumbuh menjadi lebih besar. Sofia tidak henti-hentinya menangis, dan Mark bahkan harus mengurus semuanya selagi di rumah sakit.


"Syukurlah." Sofia memeluk Mark dan Yejin berjalan mendekat. "Apakah kami boleh menjenguknya?"


"Kami baru saja melakukan beberapa pemeriksaan. Sebaiknya, pasien dibiarkan istirahat. Dia baru saja sadar setelah beberapa hari koma, dan tubuhnya perlu menyesuaikan. Suster akan mengawasinya dan saya akan terus memantau."


"Baiklah, terimakasih dok."


Dokter mengangguk dan tersenyum. Lalu ia pergi dari sana. Semuanya menjadi sedikit tenang. Lula tersadar, itulah intinya.


"Paman bibi, apa kalian telah melaporkan kejadian ini ke polisi?" Jereni merapikan sedikit pakaiannya dan berjalan mendekati Sofia dan Mark.


"Ya, dan mereka telah menyelidikinya." Mark terlihat pasrah, dan sepertinya tidak puas dengan Jawaban itu.


"Tapi kenapa Caleb masih berkeliaran di luar sana?"


"Hasil sementara, polisi menganggap murni kecelakaan. Jadi, kami tidak bisa menuntut Caleb."


"Bagaimana bisa? Bukankah jelas-jelas?" Jereni merasa sangat kecewa.


"Ini sementara, Jereni. Polisi hanya mendapatkan informasi dari pihak Caleb, dan mereka belum mewawancarai Lula. Jadi, kami masih belum tahu kejadian yang sebenarnya."


"Masih ada kesempatan." Jereni menyatukan kedua tangannya.


"Ngomong-ngomong apa yang terjadi denganmu?" Sofia meraih lengan Jereni dan melihat perempuan itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Apa yang terjadi denganmu?"


"Aku sempat terjatuh dan tubuhku berguling-guling di tanah, jadi ini terlihat kotor. Tapi aku baik-baik saja."


"Tidak Jereni, kau harus memeriksakan dirimu. Ayo aku akan bawa kamu ke dokter."


Jereni menoleh ke arah Yejin, berniat meminta pertolongan. Sorot matanya ingin sekali Yejin menarik tangannya atau hanya sekadar berkata kalau Jereni baik-baik saja, namun alih-alih Yejin hanya terdiam dan melihat. Seperti pukulan yang keras, kali ini Yejin tidak membantu.


"Kau, kali ini aku tidak akan menolongmu."


"awas kau!" bisik Jereni sambil mengangkat kepalan tangannya.


***


"J.c aku kembali untuk melihat hasil sementara. Apa yang kau dapat?" Bryan meletakkan jasnya di sofa ruang kerjanya.


"Kau tahu membicarakan ini di sini sangat berbahaya?"


"Hahaha kau lupa atau memang tidak tahu? Ruangan ini dibuat kedap suara. Sekeras apapun suara dari dalam tidak akan terdengar."


"Baiklah terserah kau saja." J.c membuka laptopnya dan duduk di sofa. Bryan merapikan kemejanya dan duduk di depan J.c.


"Aku telah memasang perekam di tubuhnya dan ini hasil rekaman kemarin." J.c memutar rekaman Matvei dan Bryan fokus mendengarkan.


"Aku harus segera merendamnya. Tidak tahu lagi bagaimana mengatasi ini, sepertinya aku harus hidup di laut, tchh."


[*suara berisik, seperti orang-orang tengah berbicara]


"Kau baik-baik saja, bung?" [suara pria lain]


"Ya. Hanya gatal sedikit. Alergi." [suara Matvei]


"Baiklah, obati itu dan datang ke distrik 3." [masih pria yang tadi]


"Ya. Aku akan menyusul."


"Aku ingat siapa diriku, tapi kenapa ada sesuatu yang kurang? Sesuatu yang masih belum aku ingat. Sesuatu seperti.. apa yang terjadi di masa lalu, ketika aku masih hidup di laut*."


"Tapi masa bodoh, kakiku sangat gatal."


"Tunggu! Ulangi yang sebelumnya."


"Tapi masa bodoh, kakiku sangat gatal."


"Bukan, yang sebelumnya lagi."


"Yang mana?"


"Sebelum ini."


"Aku ingat siapa diriku, tapi kenapa ada sesuatu yang kurang? Sesuatu yang masih belum aku ingat. Sesuatu seperti.. apa yang terjadi di masa lalu, ketika aku masih hidup di laut."


"Nah yang ini."


"Bisa kau perlambat?"


"Sebentar."


"A k u i n g a t s i a p a d i r i k u, t a p i k e n a p a a d a s e s u a t u y a n g k u r a n g? S e s u a a t u y a n g m a s i h b e l u m a k u i n g a t. S e s u a t u s e p e r t i.. a p a y a n g t e r j a d i d i m a s a l a l u, k e t i k a a k u m a s i h h i d u p d i l a u t."


"Ya aku sudah mendengarnya. Tapi kau tahu ada yang lebih menarik lagi. Sebentar."


J.c mempercepat rekamannya dan mencari detik dimana ia mendengar sesuatu.


"Tapi apa kau yakin dia yang kau cari?" J.c menghentikan rekamannya dan bertanya sebelum ia melanjutkan. Pasalnya, banyak duyung yang telah mereka tangkap, dan kenapa Matvei mau bekerja sama, sedangkan dia adalah duyung juga. Melihat klan mereka ditangkap lalu dibunuh, apakah tidak membuat laki-laki itu bersedih? Apa sebenarnya yang Matvei inginkan? Jabatan yang lebih tinggi, atau agar penyamarannya tidak ketahuan.


"Semua duyung yang kita tangkap tidak bisa mengubah ekor mereka menjadi kaki. Lalu, apa yang terjadi pada Matvei? Bahkan dia bisa berkeliaran di daratan dan melakukan penyamaran dengan sempurna. Beberapa tahun dan kita hanya dibodohi olehnya."


"Aku yakin dia jenis yang aku cari, dan jika aku bisa menangkapnya sebelum bulan purnama ketiga dimulai bulan purnama pertama ketika lolongan serigala terdengar begitu keras, aku akan menjadi setara dengan pemimpin mereka."


Terdengar tidak masuk akal. Tapi J.c melakukan apapun untuk mencari informasi. "Kau tahu ketika pertama kali kau bilang tentang hal ini, aku sama sekali tidak percaya." Pikiran J.c kembali ke masa lalu. Dia mengingat semuanya ketika pertama kali Bryan bercerita tentang duyung dan lainnya, J.c tidak percaya. Setelah hari itu, setiap hari J.c mendengar ambisi Bryan seakan hanya bualan semata. J.c tidak peduli tetapi ia tetap mendengarkan bualan itu. J.c laki-laki yang realistis. Dia tidak percaya legenda atau apapun itu, tapi ketika Bryan tidak sengaja menangkap duyung untuk pertama kali, J.c percaya kalau bualan bualan yang Bryan katakan, benar adanya.


"Aku akan melanjutkan perjalanan kakekku. Dia terlalu berambisi, sampai ia meninggalkan kami dengan ambisinya itu, tanpa memperoleh yang ia inginkan. Pria itu, punya rencana. Hanya saja, terlalu tergesa-gesa, dan entahlah." Bryan cukup dekat dengan kakeknya. Dulu, ketika ia masih kecil. Semua orang tidak mempercayai kakeknya, tapi Bryan, dia selalu berada di sampingnya. Semua rencana yang kakeknya buat, dia tahu dan bahkan ia sampai memiliki perusahaan besar seperti ini, berkat ide ide dari kakeknya sendiri. Namun, karena kakeknya terlalu tergesa-gesa, ia tewas ketika tengah berlayar di laut. Entah bagaimana, ia lenyap begitu saja.


[btw, perusahaan Bryan legal, hanya saja pihak luar tidak tahu kalau yang mereka produksi adalah berasal mermaid, untuk dijadikan obat.]


"Tunjukkan padaku."


"Sesuatu yang menarik itu."


"Baiklah, here we go."


J.c memencet tombolnya dan rekaman itu kembali berputar.


"............."


***


hai readers terluvv🖤


maaf ya author jaranggg bangett up, sekali up, jedanya lamaaaa.. huhu karena emang lagi kehabisan ide sama sibuk banget nih 😣, tugas kuliah juga lagi numpuk. lah pokoknya pikiran lagi nggak karuan, tapi author akan berusaha keras untuk nulis cerita walau maaf yah kalian pasti bosen, tapi beginilah memang ceritanya akan berlanjut, tapi jangan khawatir, chapter berikutnya akan menarik, jadi staytune yaww🖤🦋