Luna Rusalka

Luna Rusalka
38



"Yejin kau ke sini jam berapa?"


"*A*ku akan segera pulang dan bersiap-siap."


"Kau belum kembali?"


"Belum, Lula. Maaf menunggu. Latihan ditambah satu jam tadi."


"Iya tidak apa. Hati-hati Yejin!"


"Ya."


Lula menutup teleponnya dan merebahkan tubuhnya di sofa. Menarik nafas dan berpikir untuk memakai baju apa, sambil memejamkan matanya.


Mama dan Yefy keluar lagi, untuk mengambil uang di ATM. Papanya bekerja dan kembali di sore hari.


"Aku akan memakai baju warna ungu saja." Lula membuka matanya dan hendak beranjak sebelum pergelangan kaki kirinya terkilir membuatnya memekik kesakitan. "Aw!"


Sontak tubuhnya terjatuh di sofa karena ia merasa sedikit sakit di pergelangan kakinya.


"Sakit sekali.. sepertinya susah untuk berjalan.." Lula memijit kakinya dan mencoba menggerakkan pergelangan kaki kirinya itu.


"Bagaimana aku bisa pergi ke rumah Jereni kalau seperti ini?" Dia berpikir keras.


"Sudahlah, tidak apa. Lagian ini cuman terkilir dan nanti akan membaik setelah aku perban. Sekarang aku harus bersiap-siap untuk pergi ke rumah Jereni. Aku sudah janji kan menemani Yejin dan kasihan jika aku tidak ikut."


Lula mengangguk dan berusaha berdiri, walau ia harus berjalan pincang atau melompat dengan kaki kanannya menuju kamar.


***


Masih di sekolah~


"Yejin, mari kembali bersama." Erynav merapikan bajunya dan hendak keluar dari aula kolam renang.


"Bukankah kau dijemput?" Yejin meraih ransel di kursi tunggu dan menyampirkannya di punggung.


"Ya. Kau bisa pergi denganku. Akan aku antar sampai rumah." Mereka berjalan bersama keluar aula dan menuju parkiran.


"Terimakasih untuk tawarannya. Tapi sebaiknya aku kembali sendiri, karena aku mengendarai sepedaku." Yejin berjalan mendahului Erynav.


"Maaf, Erynav. Aku terburu-buru."


"Yejin, tunggu!"


Yejin berhenti dan berbalik menatap Erynav.


"Apa kau tidak bisa lebih ramah denganku? Ya, aku tahu Lula digantikan, dan kau merasa tidak setuju. Tapi, kita harus bekerja sama, Yejin. Baik di kolam maupun di luar kolam. Kita harus membangun hubungan yang baik, karena partner mu sekarang aku, bukan Lula." Erynav menarik nafas dalam-dalam.


Yejin hanya menaikkan alisnya bersikap biasa saja seperti biasanya. "ok." Katanya singkat lalu berpamitan pergi.


Erynav hanya berdiri mematung. Sia-sia ia berbicara panjang lebar. Jawaban Yejin hanya seperti itu.


"Buat apa memberi penjelasan pada es batu. Sudahlah." Erynav mengendikkan bahu dan berjalan lurus ke depan.


***


"Kau rapi sekali, Jereni. Mau kemana?" Rwka menatap putrinya keluar dari kamarnya.


"Lula dan Yejin mau ke sini. Aku harus rapi dan tidak terlihat seperti orang sakit lagi." Jereni tersenyum dan berjalan menuju ruang keluarga untuk menonton tv.


"Kenapa tidak bilang? Mama belum masak, dan bersiap-siap. Kau baru kembali, dan mama belum membereskan rumah."


"Tadi ingin memberitahu mama, tapi mama sibuk."


"Ya sudah, mama akan beli makanan, kau di rumah saja ya, jangan pergi kemana-mana." Rwka mencium kening putrinya, meraih tas kecilnya, dan berjalan keluar untuk pergi.


Jereni mengangguk mengerti.


Kini hanya ada aku dan kenyataan yang membuatku berpikir lagi, "bagaimana bisa?"


Apa yang harus aku lakukan dan bagaimana caraku untuk memberitahu Lula?


Seharusnya dia sudah mengalami hal-hal itu, dan bagaimana aku bertanya memastikan?


Kalau aku hanya terdiam aku tidak akan membantu Lula. Sepanjang hidupku akan penuh penyesalan, dan dia akan terkejut ketika terjadi banyak perubahan pada dirinya.


Jereni menatap tv tanpa melihatnya. Dia tidak fokus dan masih memikirkan apakah dia ...


"Siapa aku?"


"Apa aku hanya manusia biasa sekarang?" Jereni berpikir keras. Bagaimana kalau dia hanya manusia biasa, dan ingin membuktikan pada Lula siapa mereka sebenarnya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk tahu siapa sebenarnya aku?"


***


Ting tong


Yejin memencet bel rumah Lula dan tidak ada respon dari dalam rumah.


Ting tong


Sekali lagi, dan masih sama.


krieetttt..


Pintu terbuka dan Lula berdiri di sana.


"Maaf, Yejin. Aku mengambil tas tadi."


"Di mana bibi Yeva?" Lula melihat tidak ada mobil yang terparkir di halamannya. Dia juga tidak melihat bibi Yeva.


"Sedang ke supermarket sebentar, membeli buah tangan. Sebaiknya kita keluar dulu, menunggu di depan." Yejin tersenyum.


Lula menutup pintu dan berbalik. "Ayo." Ia berjalan sedikit pincang dan Yejin menyadari itu.


"Kau kenapa Lula?"


"Terkilir tadi." Lula berhenti dan menatap Yejin mencoba menjelaskan.


"Apa sebaiknya kita tunda saja? Kau tidak terlihat baik-baik saja.."


"Tidak, Yejin. Jereni sudah menunggu. Kasihan kalau kita tidak ke sana."


"Kita ke rumah sakit dulu. Kau harus diobati."


"Tidak. Ini sudah sore. sebentar lagi malam. Lagian hanya terkilir dan sudah aku perban. Nanti juga sembuh sendiri."


"Tapi, Lula-"


"Yejin aku tidak apa. Sebaiknya kita ke depan."


Yejin mengangguk.


"Aku akan membantu mu." Lula mengangguk dan Yejin menuntun Lula untuk berjalan.


Mereka berjalan ke depan dan menunggu Yeva, mamanya Yejin.


***


Di rumah Erynav~


Erynav terduduk sambil mendengarkan musik dan memakan camilan ketika sebuah telepon mengejutkannya.


Ia berdiri dan mengambil telepon rumahnya lalu duduk kembali.


"Halo?"


"Saya Ivan. Apa kau di sana , Erynav?"


"Iya, Tuan Ivan. Ini saya. Ada apa?"


"Maaf saya hanya bisa menghubungi kamu. Ponsel saya hilang, jadi nomor Yejin juga hilang, tapi saya masih menyimpan catatan nomor kamu."


"Saya mengingatkan kalau besok latihan dari pagi. Biar siangnya kalian bisa istirahat, mengingat 5 hari lagi kalian akan pergi ke turnamen."


"Oh baiklah, Tuan Ivan."


"Beritahu Yejin, saya tidak bisa menghubungi nya sekarang."


"Iya, akan saya beritahu. Terimakasih informasinya,"


"Baiklah, sampai jumpa."


Erynav menutup teleponnya dan segera menghubungi Yejin.


***


Yejin dan Lula masih di perjalanan dan jarak rumah Lula dengan Jereni cukup jauh, sehingga membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai di sana.


Rwka terus mengajak bicara Lula, sedangkan Yejin hanya menatap ke luar jendela yang gerimis.


"Kau tidak membawa jaket?" Yejin teringat sesuatu. Udara memang dingin dan Lula hanya memakai kaos pendek tanpa jaket.


"Tidak. Aku lupa.." Lula tersenyum tipis.


Yejin mengambil sesuatu di belakang tempat duduk dan menyerahkan sebuah jaket untuk Lula.


"Pakai ini. Udara dingin."


"Tidak usah, aku--" Tiba-tiba Lula merasa sangat dingin dan dia sungguh kedinginan sekarang. Menjalar ke seluruh tubuh dan membuatnya memeluk diri sendiri seketika.


"Sudah kubilang." Lula mengangguk dan menerima jaket dari Yejin dan memakainya.


"Terimakasih.."


"Apa mamamu tahu kau pergi Lula?" Rwka melihat Lula dari spion di atas kepalanya.


"Iya bibi. Aku sudah izin, dan diperbolehkan."


Rwka tersenyum dan mengangguk. "Kemanapun kau pergi, jauh maupun dekat kau harus izin. Mamamu sangat menghawatirkan mu."


"Iya, bibi."