Luna Rusalka

Luna Rusalka
144



"Aku meletakkan makanan di luar kamarmu. Tolong kali ini kau makan, dan jangan membuat ayahmu ini sangat khawatir." Redrik mengetuk pintu. Lagi dan lagi ia menyuruh Elliot untuk makan, alih-alih wanita itu tidak mengambil makanannya.


"Entah apa yang sebenarnya ia inginkan." Redrik menggelengkan kepalanya dan beranjak dari tempat itu. Elliott memutuskan untuk menghabiskan waktunya di kamar tamu belakang, dan perlu melewati lorong lumayan panjang untuk sampai ke sana. Keadaannya sangat mengerikan, ditambah lagi cahaya yang ada sangat minim. Terkadang Redrik bergidik ngeri, bagaimana ia harus selalu mengantar makanan yang terkadang membusuk tidak diambil.


Ia merasa sangat sedih, namun di hatinya masih ada rasa senang. Akhirnya Elliott benar-benar menjauhi Matvei. Redrik tahu kalau keluarga Matvei ikut andil dalam tewasnya nenek Elliott. Betapa keluarga Matvei menutup-nutupi kematian Leona, ibu kandung Redrik yang meninggal beberapa tahun lalu, ketika Elliott masih kecil. Elliott tidak tahu akan hal itu, dan Redrik belum memberitahunya.


Intinya laki-laki itu tidak mau Elliott berhubungan dengan Matvei dan keluarganya, sampai Redrik menemukan cara yang tepat untuk membalaskan dendamnya. Ia tidak terima, satu-satunya orang yang membesarkannya tewas begitu saja di tangan Keluarga Matvei.


***


Rasanya sangat senang, kembali ke rumah setelah sekian lama. Kurasa kecelakaanku kemarin membuat beberapa bagian tubuhku harus menyesuaikan dengan sesuatu yang baru. Seperti, nafasku yang akhir-akhir ini sering sesak, di malam hari. Aku belum memberitahu mama soal itu tapi Jereni sudah tahu. Kakiku terasa aneh ketika aku terlalu lama berdiri, dan terkadang aku merasa seolah-olah ada yang mengawasiku. Entah itu hanya firasat tapi kurasa ada hubungannya dengan aku koma selama beberapa saat.


Malam semakin larut. Baru saja mama meninggalkanku dan ia menyuruhku untuk segera tidur. Tapi kau tahu aku sama sekali tidak mengantuk. Rasanya sangat berbeda kali ini dan aku tidak tahu perubahan ini akan sementara atau bahkan permanen.


Orang-orang pergi tadi sore, dan yang paling terakhir pergi adalah Jereni. Niatnya ia menginap di sini, tapi bibi Rwka menyuruhnya untuk segera kembali. Oh iya dia juga besok tidak akan mengikuti pelajaran. Kau tahu olimpiade muai Thai dan dia baru memberitahuku tadi. Gadis itu tidak akan menemaniku di sekolah untuk beberapa hari ke depan, dan kau tahu hanya ada aku dan Yejin, dan itu berarti waktuku bersamanya akan semakin banyak.


Aku tidak masuk beberapa pekan dan sudah pasti semuanya tidak baik-baik saja. Tugas menumpuk dan ujian susulan. Otakku tidak secerdas Yejin, dan bahkan aku tidak mengingat satu pun materi yang selama ini aku pelajari.


Tingggg!


Ponselku berbunyi. Kuasa ada pesan masuk. Tapi siapa? Malam-malam begini.


_______________________________________________


Yejin♕


just now.


[] Jangan begadang.


_______________________________________________


Baru saja dia dibicarakan dan sekarang memberiku pesan tertulis. OMG! wajahku sebentar lagi memerah. Sebenarnya Yejin sangat perhatian, tapi aku tahu perhatiannya itu hanya sebatas sahabat. Dari dulu aku memiliki perasaan padanya dan apakah dia tidak menyadari itu?


tingggg!


_______________________________________________


Yejin♕


just now.


[] kau tahu kau baru kembali dari rumah sakit. tidurlah, Lula. Aku tahu kau di sana.


_______________________________________________


Benarkah dia memberiku pesan lagi? Kenapa tidak dari dulu ia memulai memberiku pesan seperti ini? Aku balas tidak ya?


^^^_______________________________________________^^^


^^^Me^^^


^^^just now.^^^


^^^[] bagaimana kau tahu, Yejin?^^^


^^^_______________________________________________^^^


_______________________________________________


Yejin♕


just now.


_______________________________________________


_______________________________________________


Yejin♕


just now.


[] tidur, Lula.


_______________________________________________


^^^_______________________________________________^^^


^^^Me^^^


^^^just now^^^


^^^[] baik, Yejin.^^^


^^^_______________________________________________^^^


Baru saja aku mematikan ponselku dan meletakkannya di meja, sesuatu menggelitikku. Sesuatu hinggap di rambutku dan aku tidak berani berbalik. Ya Tuhan aku takut sekali.. Apa ini, dan bagaimana ia akan hilang?


Otomatis buku kudukku berdiri dan keringat panas dingin membanjiri bajuku. Tubuhku bergetar dan aku takut sekali!


Beberapa saat ku membeku dan menutup mata, akhirnya aku memberikan dari untuk berbalik. Dalam hitungan ketiga, aku akan berbalik. Aku menutup mata dan mulai menghitung.


1


2


3


Aku berbalik. Membuka mataku perlahan, dan ketika kedua mataku benar-benar sudah terbuka, aku tidak melihat apapun. Tapi Demi Tuhan, aku masih merasakan sesuatu di kepalaku. Mu.gkin itu hanya cicak atau semacamnya, kenapa aku harus takut?


Aku mencoba untuk meraih menggunakan tangan kananku dan mengambilnya. Bentuknya kecil dan seperti ada bulu-bulu kasar. sekejap aku berpikir kalau itu ulat, dan kau tahu aku sama sekali tidak takut. Lalu aku meletakkannya di tempat tidur, baru aku bisa melihat benda apa itu.


Madam Ywfena.


Aku tahu punya siapa ini dan bagaimana ia bisa lepas? Lalu aku meraihnya dan beranjak dari tempat tidur. Berjalan ke pintu dan keluar kamar menuju kamar Yefy. Ini Madam Ywfena. Tarantula betina tak beracun Yefy. Ia membelinya di toko hewan dan kau tahu Madam Ywfena sangat terlatih! Yefy bisa mengendalikan gerakannya dan dia makan apapun yang diberikan oleh Yefy.


Tapi, kali ini terlihat berbeda. Tubuhnya agak membesar di bagian perutnya dan warnanya sedikit gelap. Apa efek cahaya dan kau tahu dia betina, jadi mungkin tengah hamil. Aku tidak memperdulikannya. Yang penting aku membawanya ke kamar Yefy.


Tokk tokk


Aku tahu kamarnya tidak pernah dikunci, tapi Yefy tidak pernah suka siapapun masuk tanpa mengetuk pintu. Tidak ada jawaban dan aku mengetuknya pelan sekali lagi. Pasti bocah itu mengira kalau aku mama jadi ia pura-pura tertidur.


"Yefy, ini aku Lula."


"Masuk!" sautnya dari dalam. Lalu kudengar suara tembak-tembakan di komputer menandakan ia tengah bermain game. Itulah sebabnya ia selalu telat bangun.


"Mama pasti akan memarahimu, kalau ia tahu selarut ini kau belum tidur." Aku menutup pintu dan berjalan ke tempat tidur single bed Yefy, lalu duduk di sana.


"Ia juga akan memarahimu. Baru keluar dari rumah sakit, tapi malam-malam keluyuran. Ada apa?" Tanya Yefy to the point. Ia masih sibuk dengan gamenya dan aku menggeleng.


"Tinggal aku beritahu kalau Madam Fwefena mu lepas dan hampir menggigitku." Aku menunjukkan tarantula kecil itu dan Yefy mengerutkan alisnya. Ia menoleh ke kanan dan melihat Madam Ywefena tengah tertidur pulas di akuarium yang ia buat sendiri. Lalu siapa ini? Aku menatapnya, dan keenam matanya memerah seakan siap untuk menggigitku.


"Whistling Tarantula! Kakak LEPASKAN ITU!" Yefy berteriak dan teriakannya menyebabkan tarantula di tanganku memberontak. Aku tidak tahu harus berbuat apa, tapi berani sumpah tubuhku mendadak kaku dan tidak bisa digerakkan. Tanpa kusadari, tarantula itu menggigit pergelangan tanganku dan sontak membuatku membanting tarantula itu, merasakan sengatannya yang amat sakit dan pedih. Untuk sesaat pandanganku kabar dan tubuhku ambruk.


"Bagaimana bisa ada di sini? Jenis ini hidup di Australia dan jarang bertahan lama hidup di dataran Rusia." Seorang memakai pakaian putih duduk di sampingku. Apa yang terjadi?