Luna Rusalka

Luna Rusalka
9



Air tenang ini tak pernah menyakitiku. Gelembung yang aku keluarkan bersamaan dengan udara dari hidung dan mulutku, tak pernah sesekali menggangguku.


Tenang dan damai ketika aku berada di air. Menahan nafasku begitu lama dan itu sama sekali tidak membuatku tertekan. Aku bukan ikan, tapi aku mampu hidup di air. Jika saja, apa yang aku pikirkan?


Aku berenang kembali ke permukaan dan melihat jam dinding. Dua puluh menit? aku berada di air selama dua puluh menit? itu tak masuk akal.


Aku memang tidak bisa bernafas di air, namun aku bisa berada di air begitu lama dan itu bukan sesuatu yang masuk akal. Kupikir awalnya berkat latihan tahan nafas yang rutin dengan Tuan Bogdan.


Terkadang sepuluh sampai lima belas menit. Bahkan aku tidak merasa kehabisan oksigen di dalam air dan aku bisa bertahan di dalamnya.


Pikiranku menjadi jelas ketika berada di dalam air dan itu membuat pikiranku mampu menembus dimensi lain, dan terkadang pendengaranku menjadi sangat jelas dan aku bisa menciptakan pusaran air di dalam kolam renang.


Sudahlah, kalau berlama-lama di air imajinasi ku menjadi liar dan tidak karuan. Aku mencari sisi terpendek dan mulai menaikinya. agak susah untuk naik karena aku hanya memakai pakaian biasa dan itu terasa berat di atas.


shh.. sh..


Aku mendengar sesuatu dari dalam kolam renang. Piranha? Apa ada piranha? ck.


Aku berbalik dan menatap air yang tenang. Sangat tenang sehingga rasanya aku ingin menyentuhnya tanpa menyentuhnya.


Tanganku mulai bergerak terangkat ke depan, kulemaskan jari-jari ku dan mulai membuat gerakan kecil dengan jari. Secara mendadak, air yang tadinya tenang mulai bergerak layaknya seseorang mengibaskan dengan tangannya di dalam air.


Tunggu! Apa tadi? Semakin tanganku bergerak, semakin air itu terombang-ambing mengikuti arah gerakan ku.


Kuyakinkan diri jika ini hanya imajinasi, namun sepertinya kali ini sesuatu yang benar-benar terjadi. Apa aku..


"Lula apa yang sedang kau lakukan!"


Mama mengejutkan ku sontak aku berbalik namun kakiku terpeleset dan aku tercebur ke dalam air. Kejadiannya begitu cepat dan kepalaku sempat terbentur sisi kolam renang hingga menimbulkan bunyi yang kuat.


"Lula!" Mama berteriak dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena dia tidak bisa berenang dan tidak suka berenang. "Oh tuhan! apa yang harus aku lakukan!" Teriak mama pilu.


Aku terus saja tenggelam seakan ada sesuatu yang mendorongku dari atas, namun aku sama sekali tidak merasakan apa-apa. Bahkan, tanpa bernapaspun aku dapat bertahan di dalam air.


Semuanya menjadi jelas lagi, dan aku mampu menggerakkan tubuhku. Kudorong kakiku ke atas dan berusaha merai permukaan, memberitahu kepada mama kalau aku tidak kenapa kenapa.


Kudengar suara khawatir mama karena aku tak kunjung kembali ke permukaan.


"Mama! Lula baik-baik saja.." Tubuhku kembali ke permukaan dan mama berterima kasih kepada Tuhan aku tidak kenapa-kenapa.


"Kau membuat mama sangat sangat khawatir Lula!"


"Pak Bogdan melatihku dengan baik, aku bisa beradaptasi di dalam air apapun keadaannya. Jadi, jangan khawatirkan Lula lagi mama." Kataku sambil berusaha keluar dari kolam renang dan dibantu oleh mama.


"Mama sangat khawatir." Mama memelukku dan aku hanya cekikikan karena baju mama jadi basah kuyup karena aku basah.


"Mandi dan bersiap-siap." Kata mama lalu masuk ke dalam rumah.


"Baik mama."


***


Kami di sini. Semuanya. Duduk di satu meja makan yang besar. Dua keluarga dan ini yang mama sebut kejutan? Dia hanya ingin membuatku canggung dan itu sangat tidak menyenangkan.


"Sudah lama ya?" Kata ayahku memulai percakapan.


"Ya. Kau yang selalu bisa memulai pembicaraan ketika kita canggung seperti ini." Kata Paman Bogrov. Dia, pria berambut hitam dan masih terlihat tampan di usianya yang sekarang ini. Ayahnya Yejin.


"Kita tak seharusnya canggung setiap pertama kali bertemu, sampai anak-anak kita masih kecil bahkan sampai sekarang ini." Seorang wanita, Bibi Yeva namanya tertawa renyah membuat semua orang ikut tertawa kecuali aku dan Yejin yang dari tadi terus saja saling menatap.


Oh ayolah aku juga tidak tahu ini! Kataku dalam hati setiap kali Yejin menatapku. Kurasa dia tidak menyukainya dan apa salahku? Aku sama sekali tidak tahu hal ini.


"Jangan begitu, kita semua ini saudara. Oh ayolah silahkan dinikmati. Lula sendiri yang membantuku tadi." Mama menyenggol lenganku. Kesal. Dia hanya membuatku malu.


"Oh iya? Waw kau sudah dewasa sekarang ya. Suka masak dan cantik, memang cocok dengan Yejin. Benarkan Yejin?" Kata Bibi Yeva dan menyenggol lengan Yejin.


Yejin hanya tersenyum dan terus menatapku yang cemberut dari tadi. Tidak suka kalau bahas bahas seperti ini. Lagian Yejin bukan tipeku. #kesal


Aku tidak perduli dengan yang mereka bicarakan. Aku hanya tersenyum kalau mereka menegurku dan melanjutkan makanku. Mama pasti sengaja memasakan makanan kesukaanku agar aku tetap makan. Dia tahu aku akan kesal dan kalau aku kesal aku tidak akan makan. Tapi kalau masalah makanan kesukaanku aku tak bisa menolaknya. Masakan mama yang terbaik.


Makan beberapa menit dan aku merasakan gatal yang teramat di kakiku. Aku menggaruk dan terus menggaruk. Tak kunjung sembuh alih-alih tambah gatal dan membuatku kesal hingga tanganku membentur bagian bawah meja dengan keras.


"Kau baik-baik saja?" Tanya mama melihatku terus saja kesal dari tadi. Semua orang kini menatapku tak terkecuali Yejin yang tengah berbicara dengan ayahku. Mereka sangat akrab sekali dan aku kesal.


"Lula Mau ke kamar mandi." Kataku akhirnya. Biarlah, kugaruk di kamar mandi saja. Kalau di meja makan hanya akan membuatku malu.


Apa yang terjadi sebenarnya? Sangat gatal sekali dan setiap aku berjalan semakin gatal dan aku berlari sajalah daripada ini menyiksaku.


Aku menutup keras pintu dan terus menggaruk kakiku. Saking kasarnya aku menggaruk sampai berdarah dan itu sakit sekali.


Mataku memandang seluruh ruang di sini mencoba mencari sesuatu yang bisa memulihkan kakiku dan aku melihat air mengalir di wastafel. Mama sepertinya lupa untuk mematikannya.


Air? Apa air bisa menyembuhkan gatalku ya? Akan kucoba.


Author's POV


Lula mengambil air menggunakan kedua tangannya dan mengguyurkan nya di kedua kaki Lula dan seketika gatalnya hilang. Dia tidak berpikiran jauh dan menganggap itu hal yang biasa. Terkadang gatal bisa disembuhkan dengan air.


Air. Apa aku bisa melakukan itu lagi? Batin Lula sambil menatap air wastafel yang menyala di depannya.


Perlahan dia mengangkat tangannya dan membuat gerakan kecil seperti yang ia lakukan di kolam renang tadi. Secara ajaib, beberapa tetes air mulai mengudara dan diikuti lainnya, berputar-putar di udara mengikuti gerakan tangan Lula.


Dia terus memainkan air tersebut dan-


"Lula!"