Luna Rusalka

Luna Rusalka
73



Gadis itu hanya bisa berteriak dan mencoba bertahan diri ketika laki-laki biadab itu mencoba membuka pakaiannya lagi.


"Tidaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkk!"


 


"Tidaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkkk!" Lula berteriak dan terbangun dari pingsannya. Nafasnya memburu.


Mark membuka matanya. Ia melihat Lula terduduk dan matanya terbuka lebar. Ia segera memanggil dokter dan dokter datang setelahnya.


Dokter masuk ke dalam ruangan dan memeriksa Lula.


Lula masih dalam posisi duduk dan terlihat khawatir.


"Kau mendengarkan saya?"


Lula masih terdiam dan nafasnya masih tidak teratur.


"Kau dengar saya?" Dokter menyentuh pundak gadis itu dan Lula menatap dokter dan mengangguk.


"Baik, berbaring sekarang. Saya akan memeriksamu." Lula menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan dokter memeriksa keadaannya.


"Mimpi buruk?" Tanya dokter di sela pemeriksaan.


Lula mengangguk. Dia hanya menatap langit-langit dan terdiam.


"Keadaanmu membaik. Kabar bagus." Dokter tersenyum dan Lula masih terdiam.


***


"Cepat Alex!" Sofia berlari. Ia menuntun Yefy dan Alex berjalan di belakangnya.


Sofia berhenti di resepsionis dan bertanya ruangan putrinya. Ia mengangguk setelah seorang wanita memberitahunya dan dia berterimakasih kemudian.


"Lantai empat." Sofia berjalan menuju lift dan naik ke lantai empat.


***


Mark masih menunggu dokter memeriksa putrinya. Ia berdiri di dekat jendela dan berharap tidak terjadi apa-apa.


"Mark!" Sofia berlari menghampiri Mark. Yefy berjalan bersama Alex di belakang.


"Sofia."


"Bagaimana keadaan Lula?" Sofia masih mengeluarkan air matanya dan Mark memeluk istrinya itu.


"Tenang, Sofia.."


Sofia terlihat sangat khawatir. Ia melepas pelukan Mark dan mencari tahu apa yang telah terjadi.


"Apa yang terjadi, Mark?"


"Ten-"


Dokter keluar ruangan dan Mark menghampiri pria itu.


"Bagaimana keadaan putri saya?"


"Pasien sudah sadar, dan ia baik-baik saja. Kami akan memindahkannya di ruang rawat." Dokter tersenyum dan beberapa perawat mendorong tempat tidur Lula keluar ruangan.


"Lula!" Sofia berjalan di samping Lula dan wanita itu memegang tangannya.


Lula hanya terdiam dan tidak melihat mamanya.


Sofia terlihat khawatir. Ia tidak mendapatkan respon dari putrinya.


"Mark dia kenapa?" Wanita itu masih mengeluarkan air matanya. Mark mencoba menenangkan namun ia tidak bisa.


"Maaf nyonya, kami harus memeriksa pasien lagi. Mohon tunggu di luar." Perawat menghentikan Sofia ketika mereka sampai di depan ruang rawat.


"Tapi sus saya harus menemaninya." Sofia tetap ingin pergi bersama Lula namun perawat melarangnya.


"Sofia Sofia dengarkan aku." Mark memegang lengan Sofia dan menariknya dari pintu.


Yefy memeluk pinggang Alex dan bersembunyi di belakangnya. Ia terlihat sedih dan menutup matanya.


"Mark Lula tidak meresponku, tadi. Kenapa dia? Hiks." Sofia terus menangis dan Mark mencoba menenangkannya. Ia memeluk Sofia dan Sofia menangis di pelukan Mark.


---


Dokter memeriksa mata Lula dan ia berbalik. "Pasien semakin membaik."


"Kau mendengarkan saya?" Kata dokter sekali lagi.


Lula mengangguk. "Aku mengantuk." Lula menatap jendela dan menutup matanya.


"Baiklah. Istirahatlah.." Dokter tersenyum dan berjalan keluar ruangan.


Sofia menghampiri dokter diikuti Mark.


"Bagaimana keadaan putri saya, dok?"


"Pasien tengah beristirahat."


"Apa kami boleh menjenguknya?"


"Lebih baik menunggu pasien terbangun. Ia baru melakukan pengobatan dan harus istirahat maksimal." Dokter menyentuh lengan Mark dan pamit untuk pergi.


Sofia berjalan ke arah jendela kaca dan menatap putrinya yang tengah tertidur. Ia menutup matanya dan bernafas pelan.


Wanita itu membuka matanya dan berdiri tegak. "Apa yang terjadi, Mark?" Sofia berbalik dan menatap Mark serius.


Pria itu menelan ludahnya. Ia sudah bersiap untuk ini.


Alex menutup telinga Yefy dan mengajaknya pergi dari tempat itu.


"Kakak kurasa Yefy lapar, aku harus mengajaknya ke kantin." Alex menunggu jawaban Mark.


Mark menatap adiknya itu dan mengangguk. Alex segera pergi membawa Yefy.


"Mark." Sekali lagi, Sofia menegur pria itu.


"Lula terjatuh ke dalam kolam renang."


"Bagaimana bisa? Apa kalian terlalu dekat dengan kolam renang?"


"Seseorang mendorongnya."


"Siapa yang mendorong putriku dan kenapa?!"


"Sofia kejadiannya begitu cepat."


"Mark bagaimana bisa hanya dengan terjatuh ke dalam kolam renang ia menjadi seperti ini?"


"Ia tersedot ke dalam saluran air. Butuh waktu yang lama untuk mengeluarkan Lula. Terlalu banyak air di paru-parunya, Sofia."


Sofia menutup matanya dan memegang kepalanya. Ia meringis dan membuang muka.


"Apa yang aku katakan tentang jangan dekat-dekat dengan air? Mark. Berapa kali air melukai putri kita?"


"Sofia ini kecelakaan. Kejadiannya cepat sekali."


"Mengapa ia dekat-dekat dengan kolam renang?" Sofia menatap Mark tajam.


"Ia tengah berjalan."


"Untuk apa ia berjalan sangat dekat dengan kolam renang dan kenapa ada yang mendorongnya?!"


"Sofia tenangkan dirimu, ini kecelakaan dan kita tidak bisa mencegah hal itu terjadi."


"Seharusnya aku tidak mengizinkannya kemari." Sofia berbalik dan menatap Lula dari jendela kaca.


***


Yeva menatap putranya heran. Ia tidak berbicara dari tadi. Wajahnya terlihat murung dan seperti memikirkan sesuatu.


"Kau baik-baik saja, Yejin?"


Yejin tidak bergeming. Ia menatap jalanan dan tidak mendengarkan.


"Yejin?" Yeva menyentuh paha Yejin. Laki-laki itu tersadar kemudian.


"Apa?" Ia menatap mamanya dan bertanya ada apa.


"Apa yang kau pikirkan?"


Yejin menggeleng.


"Kau terlihat tidak senang."


"Terjadi sesuatu."


"Apa yang terjadi, Yejin?"


Yejin terlihat ingin menjelaskan. Namun sepertinya waktunya tidak tepat.


Yeva menunggu penjelasan putranya.


Anak itu menggeleng.


"Yejin.."


Yeva berusaha mencari tahu, namun sepertinya Yejin tidak ingin membicarakan itu sekarang. Ia memalingkan wajahnya ke kanan dan tidak menatap mamanya.


***


"Kau makan, ya Lula?" Sofia membawa semangkuk bubur. Lula hanya terdiam dan tidak mau membuka mulutnya.


Pagi yang mendung. Lula masih di rumah sakit di ibu kota. Jika keadaannya terus membaik, ia akan segera keluar dari rumah sakit.


Mark dan Yefy keluar untuk membeli sarapan. Alex masih tertidur di kursi di dalam ruangan Lula. Sofia masih berusaha membuat Lula makan.


Gadis itu terduduk dengan wajah yang murung. Tidak berbicara dan tidak melakukan apapun


"Lula kau baik-baik saja?" Sofia menyentuh lengan Lula. Gadis itu menatap Sofia dan tersenyum pucat.


"Sekarang makan, ya?"


"Aku tidak lapar." Suaranya terdengar serak dan lirih. Sofia hampir tidak mendengarnya dengan jelas. Ia khawatir keadaan Lula akan tambah buruk jika gadis itu tidak lekas makan.


"Lula, dengarkan mama. Kau mau segera kembali, kan?"


Lula mengangguk.


"Makan bubur ini. Jika kau tidak makan, kau tidak akan sembuh."


Lula menatap bubur itu dengan mata yang sayu. Ia tidak ada nafsu untuk memakannya. Ia tidak mau melakukan apapun sekarang.


Ia tidak tahu kenapa namun pikirannya buruk tentang Jereni.


"Bisakah aku menghubungi Jereni?"


Sofia terdiam dan berpikir. "Kau harus makan ini, setelah itu aku akan memberimu ponsel."


Lula sempat berpikiran untuk menolaknya. Namun ia sangat ingin menghubungi Jereni. Gadis itu mengangguk akhirnya.