
"Kau kemana hari ini?" perempuan berambut merah mengambil handuk putih di gantungan, lalu mengalungkannya di leher, sembari mengobrol dengan seseorang di telepon.
"Tidak, hanya saja aku ingin sekali menjenguk Lula di rumah sakit." Elliott. Dia sudah seperti kakak perempuan Lula. Semenjak dirinya dan Matvei baikan, ia cukup dekat dengan Lula, karena Matvei sering mengajaknya bertemu dengan gadis itu.
"Benarkah?" Elliot berjalan ke belakang rumah menuju kolam renang dan meletakkan handuk yang ia bawa tadi di kursi dan melepas baju handuknya, bersiap untuk berenang.
"Ah baiklah, nanti pukul 5 sore. Aku tunggu kau di sini, oke?" Perempuan itu tersenyum lalu mematikan telepon. Ia menatap wallpaper ponselnya dan senyumannya melebar. Fotonya bersama Matvei menghiasi wallpaper ponselnya. Mengingat hubungan mereka sudah kembali membaik, Elliott menghela nafas kasar. Penghalang hubungan mereka hanya satu, restu ayahnya Elliot. Elliot harus membuktikan kalau Matvei adalah laki-laki yang tepat untuknya.
"Ada apa pukul 5 sore?!"
Elliot terkejut, sontak menghadap sumber suara. Seorang laki-laki yang sangat ia kenal berdiri di sana sambil membawa sebuah kotak hitam besar dan terlihat sangat berat.
"Oh ayolah Alexei! Bisa tidak kau mengetuk kalau masuk? Kau membuatku terkejut." Elliott memegang dadanya dan Alexei hanya mengendikkan bahu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Alexei menegaskan. Dia laki-laki yang cukup dingin, dan jarang tersenyum.
"Aku hanya ingin menjenguk Lula di rumah sakit."
"Lula?" Alexei sedikit terkejut. Ia tahu Lula, namun ia tidak tahu kalau kakaknya juga kenal dengan gadis itu.
"Bagaimana bisa kau dekat dengannya?" laki-laki itu menjadi banyak tanya. Tidak biasanya namun kali ini cukup antusias dengan topik yang tengah mereka bicarakan.
"Uh huh. Kau tahu dia sahabatnya Yejin, dan Matvei sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri, dan belakangan ini aku juga sering bertemu dengannya. Mendengar dia sudah siuman dan aku juga tidak ada pekerjaan, jadi aku ingin menjenguknya."
"Tapi bagaimana bisa kau bertemu dengannya kalau kau juga sudah tidak bersama dengan Matvei?" Alexei ingin segera mendapatkan penjelasan. Apakah kakaknya dekat dengan Matvei lagi? Orang yang paling ia benci? Tapi kenapa harus orang itu?
"Aku dan Matvei sudah baikan."
"Sejak kapan?"
"Belum lama."
"Jadi kau kembali hanya untuk laki-laki itu? Kau tahu apa yang akan ayah lakukan jika tahu kau berhubungan dengan kepar*t itu lagi." Alexei terlihat emosi. Dia meletakkan kotak hitamnya di lantai sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras dan mengganggu.
"Aku tahu makannya aku ingin membuktikan kalau Matvei bukan seperti yang ayah pikiran. Bukan seperti yang kalian pikirkan. Dia bahkan pria terbaik yang pernah aku temui. Dia adalah hidupku dan aku tidak akan melakukan hal bodoh lainnya yang membuat kami berpisah lagi." Elliot meninggikan suaranya di akhir kalimat. Selain ayahnya, adik kandungnya sendiri tidak setuju apabila Elliott bersama dengan Matvei. Apa yang mereka tidak suka dari Matvei sebenarnya? Dia pria yang baik dan berasal dari keluarga baik-baik dan terhormat. Ya, walau dia tidak melanjutkan sekolahnya sampai perguruan tinggi, tapi dia memiliki perusahaan cukup besar dan menguasai pasar dengan bergerak di bidang obat herbal.
Matvei adalah pebisnis muda yang sukses. Apa yang dilihat ayahnya Elliott tidak sama dengan apa yang dilihat putrinya. Begitupun dengan Alexei. Padahal dia juga bekerja di perusahaan Matvei, namun terlihat jelas di matanya bahwa ia tidak menyukai kekasih dari kakak perempuannya itu.
"Kau bicara seakan tidak ada laki-laki lain selain pria itu. Orang aneh dan bahkan aku tidak yakin kalau dia adalah manusia."
"Bukan manusia? Lalu apa?! Peri? Vampir?" Elliott menatap adiknya dengan penuh amarah. Namun, ia langsung menarik nafas dan menghembuskannya agar dirinya lebih tenang sedikit. Dia bukan tipe pemarah, namun jika seseorang menyinggung tentang Matvei, dia tidak akan tinggal diam.
Elliot berbalik dan memejamkan matanya. "Pergilah urusi urusanmu dan jangan ganggu aku." Perempuan itu bersiap untuk melakukan peluncuran ke dalam kolam renang.
***
Cheoreon Kingdom👑
"Kenapa mereka belum menemukan Putri?!" Kerinee berdiri membelakangi seorang pria paruh baya dengan setelan baju zirahnya.
"Ampun, Ratu. Manusia tengah memburu mermaid di seluruh lautan. Jadi, kami harus sangat sangat waspada, dan bertindak tak kasat mata, bak hantu. Saya sudah mengirimkan pasukan ke seluruh dunia, dan ini cukup sulit mengingat banyak sekali perempuan yang seumuran dengan putri dan Putri sendiri tidak dapat kami lacak." Aldway. Panglima perang kerajaan Cheoreon, menunduk minta pengampunan karena tak kunjung ia menemukan apa yang mereka cari. Cukup sulit tanpa petunjuk apapun. Kalung kerang sudah melindungi Lula bahkan dari kerinee sendiri, yang telah memasangkan kalung itu di leher Lula.
"Semakin dekat menuju usia 17tahunnya, dan aku belum menemukan keponakanku. Kurasa kau tambah pasukannya, dan kalau sampai Minggu depan belum juga ditemukan, aku yang akan turun tangan sendiri."
"Ampun, Ratu. Sebaiknya percayakan hal ini kepada kami, saya akan menambah jumlah pasukan dan akan saya maksimalkan kekuatannya. Saya tidak mau kalau Ratu sampai turun tangan dan terjadi sesuatu pada Ratu."
"Kau meragukanku? Punya hak apa kau melarangku melakukan apa yang aku inginkan?" Kerinee berbalik dan menatap Aldway. Sorot matanya yang tajam, mengisyaratkannya bahwa ia sudah sangat jenuh dan bosan dengan apa yang ia dapatkan sekarang. Lula belum ditemukan dan ia tidak bisa hanya berdiam diri di istana.
"Maafkan saya, Ratu." Aldway menjatuhkan tubuhnya untuk berlutut di hadapan ratunya dan Kerinee hanya terdiam kemudian memalingkan muka.
"Mudah bagiku melakukan penyamaran. Bahkan, aku bisa menduplikasi wajah seseorang. Kau, kerjakan saja apa yang aku perintahkan!"
"Baik, ratu. Mohon untuk undur diri!" Aldway berdiri, membungkuk sebentar lalu pergi dari tempat itu.
"Kalula pasti sudah mulai mencari Lula."
***
"Serahkan padaku." J.c memutar kursinya dan meraih telepon lalu menelpon seseorang.
"Suruh Tuan Matvei pergi ke distrik 1, perintah langsung dari Tuan Bryan."
"Baiklah, akan saya hubungi."
J.c tersenyum lalu beranjak pergi dari ruangan Bryan.
***
"CALEB LEBIH BAIK KAU MATI SAJA?!" Aku menarik kemudi mobil untuk terakhir kalinya, dan mobil berputar tak terkendali hingga menabrak pohon di samping kanan kami. Kepala kami terbentur bagian depan mobil, aku sangat kesakitan dan tidak bisa bergerak, namun aku masih sadar.
Lula membuka kedua matanya dan sedikit terguncang. Apa yang terjadi dengannya baru saja? Dia seperti melihat dirinya dengan Caleb di dalam mobil dan terjadi sesuatu.
Lula masih melebarkan kedua matanya dan menghadap langit-langit rumah sakit. Yejin yang tengah berada di dekatnya sampai terkejut, merasakan pergerakan Lula yang spontan dan tiba-tiba.
"Lula kau baik-baik saja?" Yejin memegang tangan Lula dan gadis itu menatap sahabatnya.
"Caleb. Aku bermimpi kami berada di mobil yang sama dan aku mencoba membanting stir, membuat mobil kami menabrak pohon dan aww!" Pekik Lula kesakitan. Kepalanya mendadak sakit.
"Lula apakah itu sakit?"
Lula menggeleng. Dia terus memegangi kepalanya namun dia berkata kalau tidak sakit? Yejin langsung memencet tombol di samping tempat tidur untuk memanggil dokter. Namun, sebelum tangan Yejin menyentuh tombol itu, Lula menahannya. Sehingga posisi mereka saling berhadapan, dengan Yejin sedikit menunduk dan Lula yang terbaring di bawahnya.
"Kubilang tidak perlu."
Yejin menatap Lula dan ia melihat sesuatu di matanya. Pandangan yang penuh dengan rasa yakin akan sesuatu. Tapi, entahlah Yejin bukan cenayang yang mampu mengetahui hal-hal seperti itu.
Keyakinanku akan dirimu tidak akan pernah rusak, Yejin. Kau adalah segalanya bagiku, hidup dan matiku. Tapi kalau memang kau tidak memiliki perasaan yang sama, aku akan mundur.
Lula memejamkan matanya, dan Yejin menarik tubuhnya dan kembali pada posisi semula, duduk di kursi samping Lula. Tidak ada percakapan setelah kejadian itu, namun Yejin baru saja menyadari satu hal.
"Satu hal yang tidak kumengerti, Lula."
Lula membuka kedua matanya. Berharap pikirannya baik-baik saja. Dia menunggu Yejin berbicara.
"Kau mendapatkan kesusahan dan aku selalu tidak ada di sana untuk membantumu."
Lula menatap Yejin terkejut. Apa maksudnya dirinya dan Yejin tidak berjodoh? Apa itu sebuah kode, memberitahu secara tidak langsung kalau Yejin menolak Lula sebelum Lula mengungkapkan perasaannya?
"Apa maksudmu?"
Yejin tertegun, dan Lula membelalakkan matanya. Lagi. Mereka baru menyadarinya, kalau Lula sudah bisa bicara.
"Oh Lula syukurlah kau .."
"Aku tidak sadar, Yejin." Lula tersenyum dan menatap Yejin bahagia. Akhirnya dia bisa bicara lagi, dan entahlah tidak ada rasa sakit.
"Apa masih sakit untuk berbicara?"
Lula menggeleng. Dia lalu meraih tangan Yejin dan menggenggamnya. "Tidak peduli kau ada atau tidak ketika aku membutuhkan bantuan, tapi satu hal yang paling penting, Yejin. Aku tidak mau kehilanganmu lagi, dan aku mau kau selalu ada di sisiku. Aku tidak mau kita berdua merusak persahabatan kita lagi."
Yejin terdiam. Persahabatan saja? Yejin berharap kalau Lula menganggapnya lebih dari sebuah persahabatan. Mengingat janji yang telah ia utarakan di depan Sofia, bahwasanya ia akan menjaga Lula selamanya, dan itu berarti dia hanya akan memilih Lula sebagai pasangan hidupnya. Tapi, apakah Lula juga berpikiran seperti ini? Apakah itu artinya cintanya juga bertepuk sebelah tangan?
"Maafkan aku, Lula." Yejin membalas memegang tangan Lula dengan tangan yang satunya. "Aku yang selama ini merusak persahabatan kita. Dan aku akan bertanggung jawab atas persahabatan ini mulai sekarang dan seterusnya, bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
Persahabatan? Jadi hanya ini yang dipikirkan Yejin saja? Batin Lula kacau. Benar saja kalau Yejin hanya menganggap hubungan mereka sebagai suatu persahabatan.
Lula melepas tangan Yejin, dan menutup matanya. "Yejin, aku pusing sekali. Bisakah kau panggilkan dokter?"
"Ya baiklah." Yejin memencet tombolnya, dan dokter segera datang.