
Lula dan Yejin masih berdiri di depan rumah. Rumah terlihat hening dan tidak Ada tanda-tanda ada orang di sini. Listrik sudah menyala Dan kabar gembira, karena ini sudah lewat 6 sore dan langit mulai gelap.
"Itu Mobil mamaku, Lula.." Yejin menyadari sebuah Mobil sedan terparkir di halaman rumah Lula.
"Jadi mama kamu juga di sini, Yejin. Mereka pasti menghawatirkan Kita. Sebaiknya Kita masuk sekarang."
Lula melangkahkan kakinya melewati gerbang kecil di depannya, memasuki halaman rumah berumput yang masih basah. Yejin mengikutinya dari belakang dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Mereka tak banyak bicara, hanya berargumen dalam hati masing-masing dan tetap hening.
Pandangan Lula berhenti di garasi tanpa mobil di sana. Mobil mama tidak Ada? Batin Lula heran.
Apakah mama keluar mencariku? Lula berhenti dan berlari kemudian naik tangga kayu dan mengetuk pintu rumah dengan keras.
"Mama!!!" Mencoba memanggil mamanya namun tidak ada respon. Tangannya beralih ke tombol bel di kanan pintu dan memencetnya berulang kali namun tak ada yang bergeming sama sekali.
"Mama! Kau di dalam? Yefy!! Kakak pulang! Tolong siapa saja buka pintu!" Lula menggoncang pintu beberapa kali namun masih tak ada jawaban.
Yejin menghampiri Lula Dan bertanya kenapa namun Lula sibuk mencari kunci rumah di tas punggungnya. Ia tak segera menemukannya, bahkan Lula sampai menumpahkan seluruh isi yang Ada di dalam tasnya.
Ia pasti lupa untuk membawanya Dan tertinggal di kamar.
Lula menjatuhkan tas Dan berlari ke jendela depan.
"Tidak!" Lula menggerutu karena jendela dipasang anti maling Dari dalam. "Ma?!"
Ia menarik nafas kasar Dan berjalan cepat ke jendela kamarnya Dan seluruh jendela yang berada di rumahnya. Ia menepuk jidatnya, baru ingat kalau anti maling terpasang ke seluruh jendela.
Ia berjalan kembali ke pintu depan Dan menghampiri Yejin.
"Kau baik-baik saja?" Yejin bertanya khawatir.
"Biasanya aku menerobos lewat jendela." Lula bersandar di pintu dan tubuhnya mulai merosot ke bawah.
"Jadi?" Yejin masih tidak mengerti.
"Anti maling terpasang Dari dalam. Aku tidak bisa membobol jendela dan pintu terkunci. Aku tidak bawa kunci cadangan. Sepertinya mama pergi."
"Kita tunggu saja?" Yejin menyerahkan tas Lula. Barang-barang Lula sudah tidak Ada di lantai Dan sepertinya Yejin yang membereskannya.
Lula berdiri dan meraih tasnya. "Terimakasih.."
Hujan turun dengan deras dan mengenai punggung Yejin. Lula menyadari itu dan menarik tangan Yejin ke garasi dan menyuruhnya duduk di kursi yang ada di sana.
"Di sini saja, biar tidak kehujanan." Yejin mengangguk dan duduk di kursi. Lula hanya berdiri Dan bersandar pada tembok, mengingat kursinya hanya ada satu.
Yejin menyadari itu dan berdiri. "Kau saja." Ia menyuruh Lula untuk duduk di kursi itu Dan Lula menggeleng.
"Tidak, Yejin. Kau terlihat lelah."
"Begitupun denganmu, Lula. Jika kau tidak mau duduk di sini, aku juga tidak akan." Yejin berjalan menghampiri Lula Dan berdiri di samping Lula.
"Kau keras kepala sekali. Mari duduk bersama." Lula tersenyum Dan menarik Yejin untuk duduk bersama di sampingnya.
"Tapi.."
"Hari ini penuh kejutan dan sangat melelahkan.." Mata Lula mulai sayu Dan dia juga menguap.
"Tidurlah kalau kau mengantuk. Biar aku yang jaga.." Yejin meraih kepala Lula Dan menyandarkannya di pundaknya.
Sebenarnya Lula ingin menceritakan kejadian-kejadian aneh yang menimpanya. Namun, ia mengurungkan niatnya dan memilih untuk diam.
Lelah dan mengantuk, Lula akhirnya memejamkan matanya Dan tertidur.
***
Kali ini Yeva yang menyetir. Sofia menatap jendela dan memangku Yefy yang tertidur. Perjalanan Dari rumah Nyonya Rwka cukup jauh. Mereka hanya terdiam tanpa berbicara satu sama lain, mengingat langit sudah gelap dan Yeva harus fokus di jalanan.
Sofia terus memikirkan keadaan putrinya. Ia berharap sekarang putrinya sudah berada di rumah dan tidak kenapa-kenapa. Walau Lula bukan putri kandungnya, namun ia sangat menyayangi Lula sebagai putri kandungnya sendiri.
Ia tersenyum ketika mengingat masa lalu dimana ia dan Mark, suaminya menemukan Lula di depan pintu rumahnya. Seakan seseorang memang sengaja memberikan Lula kepadanya Dan Mark. Tuhan memang adil.
"Kau sudah tenang, Sofia." Yeva menyadari Sofia yang tersenyum dari pantulannya di kaca mobil.
Sofia mengedipkan matanya dan menurunkan sudut bibirnya, kemudian menoleh menatap Yeva dan menarik nafas dalam-dalam.
"Aku terus berdoa, semoga Lula sudah berada di rumah Dan Yejin juga.."
"Kita harus tenang. Jika Kita tenang, Kita bisa berpikir dengan jernih."
Beberapa menit berlalu Dan mereka sampai di depan rumah Sofia. Melihat gerbang depan terbuka, Sofia yakin kalau Lula sudah kembali. Pasalnya, dia sudah menutup gerbangnya tadi ketika pergi dari rumah.
Hujan mulai reda dan Sofia turun untuk membuka gerbang lebih lebar, agar Mobil bisa masuk.
Yeva memarkirkan mobil Sofia di samping mobilnya Dan membuka pintu untuk keluar.
Sofia berlari ke pintu depan Dan mengetuk pintu. "Lula?! Mama pulang. Kau di dalam??" Tidak Ada jawaban Dan ia membunyikan bel namun masih tidak Ada jawaban.
Sofia berbalik dan mengambil tas di Mobil. "Yeva, tolong aku untuk mengendong Yefy.." Yeva mengangguk dan meraih Yefy yang tertidur pulas di dalam Mobil.
Dengan cepat, Sofia membuka kunci pintu Dan memasukinya.
"Lula??" Sofia mencari keberadaan Lula di seluruh ruangan namun tidak menemukannya. Ia kembali khawatir dan mengacak rambut.
"Bagaimana?" Yeva bertanya Dan masih mengendong Yefy.
"Tidak Ada.. Oh maaf.." Sofia meraih Yefy Dan berjalan ke kamar, untuk meletakkan Yefi di tempat tidur. Menyelimutinya, Dan berjalan keluar kamar menghampiri Yeva.
"Coba kau cek di garasi, sepeda Lula Ada atau tidak. Mungkin dia sedang keluar.." Sofia mengangguk Dan berlari keluar rumah. Dia berbelok ke kiri Dan berjalan dengan cepat menuju garasi.
Sofia tidak melihat sepeda milik Lula, namun ia menemukan Lula Dan Yejin tertidur di kursi yang berada di garasi. Ia tersenyum dan bersyukur Lula ada di sini sekarang.
"Bagaimana?" Yeva berhenti tepat di samping Sofia. Sofia tidak bergeming, ia hanya menatap putrinya Dan sahabat Masa kecil putrinya itu. Yeva menoleh Dan mendapati Yejin tertidur di kursi dengan Lula yang bersandar di pundaknya.
"Apa yang mereka lakukan? Kenapa tidak masuk rumah saja?" Yeva tertawa ringan.
"Lula pasti lupa untuk membawa kunci cadangan. Tadi hujan dan mereka pasti berteduh di sini, Dan tertidur karena mereka kelelahan." Sofia menggelengkan kepalanya Dan berjalan menghampiri Lula Dan Yejin.