Luna Rusalka

Luna Rusalka
143



Siang ini Kalula sampai di Moskow, Rusia. Ia hanya bersama Zedrys, Voodoohag dan Elula. Wanita itu tidak mau membawa lebih banyak beban, dan dua sudah cukup. Mereka naik pesawat dan ini pertama kalinya. Kalula tidak melewati jalur laut, karena untuk menuju Moskow, harus memakai kendaraan darat atau udara. Ia juga tidak bisa membawa Elula untuk lewat dalam laut, mengingat gadis itu hanya manusia biasa.


Untuk masalah biaya, Kalula tidak pernah merasa risau. Ia menjual mutiara-mutiaranya dan mendapatkan banyak sekali uang.


"Kau tahu jika hidup di daratan sangat menyenangkan seperti ini, aku sudah pindah kemari dari dulu." Kata Zedrys keluar dari pintu pesawat. "Makanan manusia sangat enak, dan kita tidak perlu khawatir soal uang. Kita punya mutiara berlimpah, dan tinggal menjual itu." Tambahnya merasa bangga. Fisiknya otomatis berubah menjadi manusia dengan perawakan kekar dan ia sangat menyukai itu.


"Sepertinya setelah ini usai, aku akan menetap di daratan. Aku sudah bosan dengan tubuh monsterku dan kau tahu tubuh ini terlihat sangat keren, walau aneh rasanya." Zedrys tak selesai-selesai membicarakan semua kenikmatan daratan itu.


"Apa ratu akan membiarkanmu tinggal?" Tanya voodoohag sarkasme. Yang ia rasakan adalah kebalikan dari saudaranya itu. "Tidak " Lanjutnya sambil menggerakkan tangannya.


"Kalau kau suka hidup di sini, aku lebih suka hidup di laut. Daratan sangat panas, dan walau aku menyukai makanan manusia, tetap mereka adalah makhluk yang lemah. Kau tahu aku benci yang lemah." Kata Voodoohag sambil mendorong kursi roda Elula. Ia masih belum sadarkan diri. Kalula memang membiarkan hal itu, sampai mereka benar-benar menemukan tempat yang aman.


Tiba-tiba Kalula berhenti dan membuat dua prajuritnya mendadak berhenti. Mereka hampir terjatuh dan menubruk Kalula. "Ada yang kau butuhkan, ratu?" Tanya Voodoohag sambil mendekat.


Kalula memejamkan matanya. "Tidak ada, ayo jalan!" Katanya kemudian. Ia merasa sesuatu tapi tidak mau memberitahu kedua anak buahnya itu.


***


"Tidak bisa dihubungi." Bryan meletakkan ponselnya dan melepas kacamatanya. J.c duduk di depannya sambil memainkan kursi yang berputar-putar. "Berikan nomornya, aku akan melacaknya." J.c berdiri dan berjalan menghampiri meja di belakangnya lalu membuka tas dan mengambil laptop. Ia kembali ke kursi lagi dan membuka laptop hitamnya itu.


Bryan menyodorkan ponselnya dan J.c meraihnya. Ia memasukkan nomor Matvei dan melacaknya menggunakan laptopnya. Perlu beberapa menit untuk mendapatkan hasil. Mereka harus menunggu satu persen ke seratus persen dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama.


Beberapa menit berlalu dan data menunjukkan angka 99%. Satu persen lagi dan mereka harus bersabar.


Tiiiiitttttt


"Done!" Layar menunjukkan posisi terkini Matvei.


"Kau menemukannya?" Bryan mendekat dan J.c menunjukkan layar laptopnya.


"Tagansky district?"


***


Romanov kembali ke apartemennya. Ia tidak perlu lama untuk kembali, dan hanya membutuhkan beberapa menit saja, tanpa kendaraan. Ia memang tidak bisa terbang, namun langkahnya juga tidak terlalu lamban. Untuk ukuran langkah kaki pria dewasa, ia terlalu cepat.


Apartemennya berada di lantai tujuh dan ia naik lift untuk pergi ke atas.


"Maaf, tuan. Lift ini rusak, kami akan segera perbaiki. Anda bisa memakai tangga darurat di sebelah kanan." Kata seseorang berpakaian biru dan Romanov mengangguk mengerti. "Apa ini lama?" Ia malas untuk memakai tangga dan bertanya lalu orang itu menjawab mungkin satu dua jam lalu meminta maaf kembali.


"Hmmm terlalu lama." Batinnya. "Biasakah saya ke dalam sebentar?" Ia meminta untuk masuk ke dalam lift dan entah apa yang akan diperbuat.


"Tapi untuk apa, tuan?"


Tanpa izin, Romanov masuk dan menyentuh tombol merah di bagian paling atas. Ia menyalurkan sesuatu dari dalam tubuhnya dan voilaa! list berbunyi. Laki-laki itu tersenyum lalu orang berpakaian biru masuk dan bertanya bagaimana bisa menyala tanpa diperbaiki.


"Tidak benar-benar rusak. Hanya macet dan sekarang sudah baik-baik saja." Jawab Romanov dan pria berbaju biru itu mengangguk mengerti lalu pergi.


Ia baru saja kembali setelah memastikan Lula pulang dengan selamat dan aman di rumahnya. Semua orang berada di sana dan ia yakin untuk kali ini putrinya tidak akan menghadapi bahaya.


"Aku harus menjauhkannya dari ini." Romanov mengeluarkan Swarovski crystal dari kantung celananya dan melihat itu dengan detail. Bagaimana bisa itu berada di tangannya? Bagaimana bisa ia mengambilnya, dan untuk apa?


"Seseorang memasangnya untuk mengunjungi Lula, tapi kali ini tidak lagi. Tapi, siapa?" Romanov masih berpikir. Tidak mungkin Kalula. Ia tidak akan melakukan ini.


Tapi hanya ada satu orang yang kemungkinan besar melakukan ini. Seseorang yang menitipkan Lula kepada manusia, dan seseorang yang akan mengambil kembali Lula dengan bantuan kalung ini.


"Kerinee.." Katanya bersamaan dengan lift yang berhenti dan pintunya terbuka.


***


"Ada apa, Ratu?" Aldway berdiri di belakang Kerinee. Mereka baru saja sampai di bandara dan Kerinee tiba-tiba berhenti. Hari sudah sore dan keadaan mendung. Sebentar lagi turun hujan tapi kerinee tidak khawatir soal itu.


"Kalula.. dia sudah sampai di sini." batin kerinee merasakan aura Kalula masih ada di sini. Ia sedikit gelisah dan bagaimana bisa tujuan mereka sama? Kerinee tidak membenci Kalula, namun ia tidak mau keponakannya jatuh ke tangan Kalula, walau dia adalah ibu kandungnya sendiri.


Kerinee menjadi semakin yakin kalau keponakannya itu berada di kota ini. Hanya saja ia tidak tahu siapa yang akan lebih dulu menemukannya, karena ia yakin saat ini Lula lebih susah dihubungi. "Apakah dia tidak memakai Swarovski lagi?" Sebab komunikasinya dengan Lula mulai transparan dan itu menandakan kalau Swarovski tidak bersamanya lagi. Tapi kerusakan Swarovski juga bisa mengakibatkan sinyal pemakai dan Kerinee terganggu. Terkadang, informasi yang diberikan berbeda jauh dari yang Kerinee katakan.


"Kita harus bergegas." Kerinee bersiap untuk pergi. "Aldway! Perintahkan beberapa prajurit untuk mencari tempat berlindung dan jangan terlalu jauh dari ini. Aku mencari toilet sebentar." Kerinee berbalik, dan memerintahkan Aldway untuk segera menemukan apa yang ia inginkan.


"Baik, Ratu.."


***


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Akhirnya Matvei memiliki waktu berbicara berdua saja dengan Jereni. "apa ini?" Jereni memegangi dadanya. Detak jantungnya mulai cepat dan ia tidak tahu apa yang tengah ia rasakan.


Matvei bersandar di punggung kursi. Mereka berdua tengah berada di balkon rumah Lula. Semua orang tengah menonton TV dan Matvei berjalan sendiri menuju balkon, saat itulah Jereni ingat lalu ia mengikuti Matvei.


Matvei menutup matanya dan merasakan hembusan angin menerpa wajahnya. Hujan mulai turun dan suasana semakin sejuk. Balkon berdekatan dengan hutan jadi depan mereka hanya pepohonan yang rimbun dan menyejukkan. Cocok untuk bersantai di kala pikiran tengah suntuk.


Matvei membuka matanya. Sebenarnya tidak ada yang ingin ia bicarakan. Matvei selalu ingin bertemu Jereni ketika dirinya lelah dan sedang tidak baik-baik saja.


"Dia selalu saja begini. Meminta untuk bertemu, tapi ketika kami sudah bertemu, dia tidak mengatakan satu katapun. Dia seperti ini, dan memintaku untuk menemaninya tanpa membicarakan apapun. Sebenarnya apa yang ia inginkan?" Batin Jereni lelah dengan sikap Matvei yang ini. Setelah pertemuan pertama mereka dua tahun lalu, Matvei sering melakukan ini dan Jereni masih tidak tahu kenapa. Meminta untuk ditemani, tapi bahkan mereka tidak saling bicara.


"Sebenarnya kau kenapa?" Jereni lelah dengan semua yang Matvei lakukan. Ia hanya ingin tahu alasannya. Ia tidak mau terus begini dan malah membuat perasaan aneh dalam dirinya muncul.


"Tidak apa-apa." Kata Matvei sambil masih melihat hujan yang turun di depannya.


"Mungkin kemarin-kemarin aku hanya diam. Tapi, kali ini aku ingin tahu kenapa. Kenapa kau selalu memintaku untuk bertemu, tapi setelah kita bertemu kau hanya diam seperti ini. Tidak ada yang kita bicarakan sampai kau memutuskan untuk pergi. Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, kak Matvei?" Jereni mengatur nafasnya yang memburu. Ia mantap mengatakan ini dan berharap Matvei memberitahu apa alasannya.


"Aku hanya ingin bertemu, Jereni. bukan berarti kita harus membicarakan sesuatu."


Jereni mengernyitkan alisnya tidak tau lagi bagaimana membuat Matvei mengatakan apapun alasan yang mendasarinya melakukan semua itu.


"Tapi kenapa harus aku? Kenapa kau tidak meminta kak Elliot untuk melakukan apapun yang kau minta?" Apapun yang baru saja Jereni katakan, ia bersumpah tidak berniat menyinggung Matvei. Ia memiliki firasat hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Keduanya terdiam. Matvei sedikit membelalakkan matanya lalu menatap Jereni.


"Kau ingin tahu alasannya?" Katanya memelankan suaranya, dengan nada rendah.


Jereni tak bergeming. Tapi, bagaimana lagi untuk membuat Matvei bicara?


"Ketika aku dalam masalah atau apapun yang mengganggu pikiran dan hatiku, kau adalah orang pertama yang ingin aku temui. Bukan Elliott, Yejin, ayahku, atau bahkan ibuku. Aku tidak tahu kenapa tapi ketika aku berada di dekatmu, rasanya sangat berbeda. Seakan kau memberiku energi dan kekuatan yang tidak bisa mereka berikan kepadaku. Kau tahu ketika kita pertama kali bertemu? Seakan sesuatu yang telah lama hilang dan kosong dalam diriku, seakan telah kembali. Sesuatu yang selama ini aku cari-cari dan bahkan aku tidak menemukannya dalam diri Elliott. Sesuatu ini, kurasa tidak hanya sekadar cinta, Jereni. Tapi lebih dari itu. Sebuah ikatan yang telah lama longgar, kurasa aku merasakannya semakin kuat. Perasaan yang lebih dari perasaan seorang kekasih untuk kekasihnya." Matvei terdiam. Apa yang baru saja dikatakannya sungguh membuat Jereni membeku. Apa dia baru aja mengungkapkan perasaannya kepada Jereni?


Matvei beranjak dan berjalan masuk ke dalam rumah. Jereni Masih terdiam mematung berusaha mencerna apapun yang baru saja laki-laki di depannya katakan.