Luna Rusalka

Luna Rusalka
84



Lula berlari ke lemari dan membukanya. Ia mengambil sesuatu dan berjalan ke arah Yejin, meminta laki-laki itu untuk membukanya.


Yejin yang tidak tahu apa-apa hanya menurut dan penasaran apa yang akan ia dapat kali ini.


"Gelang?" Yejin mengambil sebuah gelang berwarna hitam dan melihatnya.


Lula mengangguk. "Aku juga punya untuk diriku dan Jereni. Aku sempat membelinya ketika mama mengajakku jalan-jalan waktu itu." Lula menunjukkan dua gelang lain yang baru saja ia ambil dari meja di sampingnya.


"Aku hanya melihat itu indah jadi aku membelinya." Lula memperhatikan Yejin. Sepertinya lelaki itu terlihat biasa saja dan tidak terkesan. Memang, gelang yang Lula beli sederhana, namun Lula suka padanya.


"Terimakasih." Yejin sedikit menyunggingkan senyum tak terduga dan tanpa sepengetahuan Lula ketika gadis itu lengah.


"Simpan saja dulu, jika kau tak mau memakainya sekarang." Lula mengerti. Yejin tidak terlalu suka untuk memakai gelang atau apapun itu. Gadis itu juga tidak berharap untuk Yejin memakainya. Ia hanya ingin Yejin memilikinya.


Yejin mengangguk dan memasukkannya ke dalam kotak lagi. Mereka masih terlihat cukup canggung. Tidak tahu mau bahas apa, dan keadaan seperti ini sangat tidak menyenangkan.


Beberapa hari lalu hubungan mereka mungkin dibilang kembali dekat lagi, namun entahlah Sekarang menjadi seperti mereka bertemu pertama kali setelah berpisah selama beberapa tahun.


"Yejin.." Lula menatap Yejin dalam. Laki-laki itu memperhatikan Lula dan menunggu apa yang akan dikatakan temannya itu.


Yejin memicingkan kedua belah matanya dan perlahan berjalan mendekat ke arah Lula. Lula sontak terdiam di posisinya ketika Yejin terus mendekat dan tidak tahu apa yang akan lelaki itu lakukan.


Apa yang akan Yejin ..


Batin Lula ketika Yejin mengangkat tangannya dan hendak menyentuh leher Lula.


"Ini sudah hampir sore. Sebaiknya kita kembali. Kau harus mempersiapkan diri untuk besok." Mereka berdua dikejutkan oleh Yeva yang tiba-tiba muncul. Jantung Lula ingin copot rasanya.


Yejin menatap Lula dan Lula mengangguk. "Semangat untuk besok!!" Lula tersenyum dan memberinya semangat kecil-kecilan.


Yejin tersenyum dan bersiap untuk berdiri dan kembali. "Terimakasih, Lula. Aku akan pergi."


Lula mengangguk. "Mari aku antar ke depan."


***


Rabu, 1 Maret


"Lula kau ambil bekal ini, dan jangan lupa untuk memakannya nanti siang." Sofia menyerahkan bekal makan siang Lula, dan Lula meraihnya. Ia memasukkannya ke dalam ransel dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.


"Lula berangkat dulu." Lula berpamitan dengan mamanya dan berjalan keluar rumah kemudian. Yefy dengan Mark sudah berada di mobil terlebih dahulu, dan mereka siap untuk berangkat ke sekolah.


Lula's POV


"Kakak cepat aku sudah terlambat."


"Aku masih berjalan." Adikku itu sangat berisik sekali. Terkadang membuat telingaku parau dan aku sangat tidak suka keributan. Ini yang aku tidak suka ketika papa mengantarkan aku ke sekolah bersama bocah itu.


Tapi aku bisa apa sekarang? Aku tidak diperbolehkan lagi untuk berangkat ke sekolah sendirian.


Aku malas sekali hari ini untuk pergi ke sekolah. Jereni dan Yejin tidak berangkat. Mereka tidak di sini, dan kau tahu mereka ada dimana.


Semuanya agak sulit sebenarnya dan aku juga masih tidak mengerti. Aku bermimpi aneh lagi. Ini bukan pertama kalinya, dan aku yakin sesuatu memaksa aku untuk tahu.


Kemarin ketika Yejin kembali, mendadak kakiku sangat gatal. Aku basuh menggunakan air dan itu sembuh. Ini masih terjadi dan bagaimana aku mengatasi, hampir sama dengan waktu itu.


Aku yakin memang ada yang aneh dengan aku. Apa aku dan bagaimana ini terjadi, mungkin semuanya sudah diatur. Hanya aku tidak lebih pintar sedikit untuk langsung tahu.


"Kakak sudah sampai."


"Ah iya?"


Aku sampai tidak fokus. Aku merasa tidak bersemangat sekarang. "Baiklah baiklah. Papa aku masuk dulu, ya?" Papa mengangguk dan aku berpamitan dengan papa.


"Kakakkkkk!!"


Author's POV


Lula berlari sambil tertawa keras. Ia mencubit pipi Yefy dan adiknya sedang kesakitan sekarang. Ini hiburan bagi Lula, dan ia sedikit terhibur dengan itu. Pagi yang suntuk, dan sangat membosankan.


***


Yejin's POV


Aku terus memikirkan hal ini dari semalam. Apa yang aku lihat di leher Lula, seperti apa yang aku lihat di leher Matvei, dulu. Sesuatu yang membuat Matvei hampir tewas di tengah badai di dekat pantai.


Jika sesuatu tidak berbisik aku harus apa, aku tidak bisa membayangkan yang akan terjadi dengan Matvei, dan mama yang akan menangisi hal itu seumur hidupnya.


Garis-garis itu, terlihat sama dan kurasa aku harus memastikan sesuatu.


Aku memang tidak terlalu dekat dengan Matvei. Tapi, mama membuatku berjanji untuk menjaganya. Menjaga Matvei, untuk selalu terhindar dari bahaya.


Kau tahu kenapa tidak Matvei yang seharusnya menjagaku? Mengingat dia mungkin lebih tua dan berpengalaman dariku, atau ia memiliki kekuatan yang jauh lebih besar.


Matvei berbeda dari kami. Dia membutuhkan sesuatu yang tidak ia miliki, sedangkan aku memilikinya. Itulah kenapa kami terlihat sangat berbeda satu sama lain.


Aku tidak mau apa yang terjadi dengan Matvei, terjadi juga dengan Lula, dan bahkan sampai sekarang aku masih tidak tahu penyebabnya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ketika Matvei melewati masa-masa itu. Masa yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Masa ketika..


"Yejin."


"Aku tidak pernah bosan berkata ini, kepadamu." Tuan Bogdan menepuk pahaku, ketika mobil yang kami tumpangi sudah sampai di depan stadion.


"Fokus dan jangan pikirkan apapun yang dapat mempengaruhi konsentrasimu. Terlalu banyak yang kau pikirkan, akan semakin memperlambat kecepatan dan kau akan hilang konsentrasi."


"Aku tahu banyak yang tengah ada di dalam pikiranmu. Semua orang tidak bisa terhindar dari apapun yang membuat mereka memikirkan hal itu."


"Namun untuk kali ini saja, buatlah dirimu tidak memikirkan hal itu. Yejin, kutahu ini sangat sulit. Tapi kau harus memfokuskan pada satu hal. Kau harus fokus pada pertandingan ini, dan aku yakin kau pasti bisa." Dia memang selalu tahu, apa yang terjadi padaku.


***


"Yejin sudah sampai belum, ya?" Lula duduk sendirian di dalam kelas. Semua orang keluar untuk istirahat dan ia memakan bekal makan siangnya di kelas, sendirian.


Gadis itu menatap jendela di kanannya dan melihat pemandangan di luar. Orang-orang berjalan, dan ada juga yang berlari. Ada yang duduk, dan ia juga melihat ada yang tiduran di taman bersama teman-teman mereka.


Lula suka memperhatikan orang lain, di waktu senggang. Apa yang mereka lakukan dan bagaimana.


"Lula kau dipanggil Pak Bogdan."


Seseorang membuat Lula terkejut. Setidaknya untuk beberapa kali dalam pekan ini. Ia sontak menoleh ke arahnya dan menatap gadis di sampingnya itu.


"Kenapa?"


Gadis itu mengendikkan bahu. "Aku hanya mendapatkan perintah."


"Baiklah, terimakasih."


Gadis itu mengangguk dan pergi keluar.


"Apa yang terjadi." Lula beranjak dari duduknya dan berjalan untuk bertemu Pak Bogdan di ruangannya.