Luna Rusalka

Luna Rusalka
90



"Perpustakaan sebesar ini hanya tersedia 3 buku tentang pengendali elemen? Sepertinya mereka malas untuk mencari." Lula keluar dari tempat itu dan berjalan bersama Yejin sambil marah-marah.


"Seharusnya ada banyak. Aku mendapatkan informasi dari internet dan itu lebih dari 3!"


"Mungkin sudah tidak ada. Hilang, atau dipinjam dan tidak dikembalikan?" Yejin berjalan sejajar dengan Lula. Mereka mengambil sepeda Yejin terlebih dahulu dan pergi untuk kembali.


"Tetap saja, Yejin."


"Maaf Yejin kau menunggu terlalu lama, dan aku tidak mendapatkan buku itu." Lula berdiri menatap Yejin dan Yejin tersenyum tipis.


"Santai saja."


Lula mengangguk dan ia naik ke bagian belakang sepeda Yejin untuk membonceng. Ia berdiri di sesuatu yang terkait di sisi kanan dan kiri ban belakang sepeda Yejin.


Mereka berlalu dan mencari halte bis terdekat, untuk kembali ke rumah masing-masing. Rumah Yejin dekat dari sini, jadi ia tidak perlu naik taksi ataupun bis, dan Lula akan naik taksi untuk sampai ke rumahnya.


***


Apa ini?


Batin Matvei sambil mengendarai motornya. Ia baru saja kembali dari tempat Bryan dan hendak pergi ke rumahnya.


Perasaan aneh ketika aku dekat dengan Jereni, dan kurasa itu bukan rasa suka terhadapnya.


Laki-laki itu terus memikirkan Jereni dan tak kunjung berhenti.


Sesuatu yang hilang dari diriku, kupikir itu telah kembali, namun aku tidak tahu apa itu.


Aku sangat lelah hari ini. Pekerjaan yang belum stabil, karena Bryan masih tidak ikhlas kalau aku melepaskan setengah makhluk itu. Kurasa ia terpaksa, dan aku harus lebih berhati-hati lagi mulai sekarang.


Matvei memarkirkan sepeda motornya ketika ia sampai di depan rumah. Melepas helm dan turun kemudian berjalan ke depan pintu rumah.


Ia membuka pintu rumah dengan kunci yang ia ambil di tempat dimana ia menemukannya tadi, dan memasukinya.


"Mama?" Matvei memanggil mamanya, namun sepertinya ia belum kembali.


"Yejin?" Tidak ada siapa-siapa di rumah ini. Matvei tersenyum dan melepaskan jaket dan ranselnya lalu meletakkan di sofa ruang tamu.


"Sudah lama, ya? Semenjak aku tidak berenang lagi." Laki-laki itu berjalan ke kolam renang sambil melepas seragamnya. Ia hanya menyisakan celana pendek dan langsung melompat ke dalam kolam renang.


Matvei menutup matanya, dan kakinya berubah menjadi ekor hijau tua kehitaman. Ekor panjang dan sangat menakjubkan, dengan anakan ekor di samping kanan kiri pinggangnya.


Ia membuka matanya, mencoba beradaptasi dengan insang di lehernya dan berenang ke ujung kolam renang. Membuat gerakan berputar kecil dan ia merasa seluruh beban dalam hidupnya terangkat.


Kepalanya muncul dalam permukaan dan ia bernafas normal menggunakan paru-paru.


*Satu rahasia dan hanya aku yang tahu.


Kau tahu kenapa aku punya akses laut dengan bebas? Karena aku adalah bagian dari laut, dan aku bisa membuat penjaga laut melakukan apapun yang aku suruh. Itulah sebabnya penjaga laut hanya memperbolehkan aku dan orang-orang di pihakku yang boleh mengambil hasil laut tanpa izin dan klaim dari pemerintah.


Usiaku 18 tahun, dan aku sudah tahu hal ini sejak satu tahun lalu, ketika Yejin menyuruhku untuk terjun ke dasar laut, dan aku mendapati kakiku berubah menjadi ekor.


Dia tidak tahu, karena ekor itu hilang ketika ia berhasil menemukan aku kembali. Namun ini tidak hilang untuk selamanya. Aku masih dapat berubah menjadi ekor sesuka hatiku, atau ketika setengah badanku terkena air.


Sebenarnya, ini menjadi aneh jika aku yang memiliki ekor. Terkadang sangat gatal, jika tidak terkena air begitu lama. Tapi aku tidak merutuki nasib. Aku memiliki kemampuan dan itu membuatku terbantu. Membuatku merasa berbeda dari yang lain.


Namun, sampai saat ini aku masih belum menemukan jati diriku yang sebenarnya. Siapa aku dan bagaimana aku mendapatkan ekor ini*.


Krekkk krieet


Pintu depan terlihat terbuka dan Matvei membelalakkan matanya.


"Itu pasti Yejin." Ia cepat-cepat untuk naik ke atas dan mengeringkan ekornya, dengan kain.


Terdengar suara langkah kaki dan ekor Matvei masih belum kering. Ekornya harus hilang sebelum ada orang yang melihatnya.


-


Yejin mengambil kunci cadangan di tas ranselnya dan hendak membuka pintu, namun itu terlihat tidak dikunci.


"Tidak dikunci?" Ia masuk dan pintu itu menimbulkan suara yang cukup keras.


Ia melihat jaket dan tas Matvei di sofa dan menaikkan alisnya tidak perduli. "Kemana dia?" Ia mencari Matvei dan tidak menemukannya. Ia mendengar suara air di kolam renang dan ia berjalan ke sana.


Ia melebarkan matanya ketika sampai di sana, dan tidak melihat siapapun di kolam renang.


"Kurasa aku tadi mendengar sesuatu di sini."


"Mencariku?" Suara serak itu terdengar di belakang Yejin. Laki-laki itu berbalik dan melihat Matvei berdiri di belakangnya.


Yejin terdiam untuk sesaat. "Tidak." Ia lalu pergi ke atas, ke kamarnya.


Matvei bernafas lega.


***


2 Days Later


Senin, 7 Maret


"Lula!"


Gadis yang dipanggil Lula itu menoleh ke belakang dan sedikit terkejut.


"Kau mengejutkan aku, Jereni!" Jereni tersenyum dan duduk di samping Lula. "Aku terlalu pagi atau semua orang yang kesiangan?"


Lula mengendikkan bahu. "Ini masih sangat pagi."


"Kau kenapa?" Jereni merasa Lula berbeda hari ini. Dia terlihat murung dan menjadi sedikit bicara.


Lula menggelengkan kepalanya.


"Baiklah jika kau tidak mau memberitahu aku apa yang terjadi." Jereni menyatukan kedua tangannya dan membuat ekspresi datar.


"Aku akan menggelitikimu!" Jereni tersenyum dan mencubit kecil pinggang Lula membuat sahabatnya itu tertawa sambil melepaskan diri dari Jereni.


"Berhenti, Jereni! Berhenti!!"


"Sampai kau mau bicara." Jereni terus menggelitiki Lula dan ia masih tertawa.


"Baiklah baiklah. Tapi hentikan dulu aku sangat geli!" Lula mencoba melepaskan diri dan Jereni mengangkat tangannya. "Okey."


Jereni menatap Lula dan Lula terlihat sangat malas untuk membicarakan hal ini.


"Hari ini aku akan memberikan keputusan kepada Tuan Bogdan."


"Tentang apa?" Sepertinya Jereni melupakan sesuatu.


"Pergi ke Italy." Mereka berdua terdiam sejenak.


"Jadi apakah kau akan pergi?" Tanya Jereni menyelidik. Jantungnya berdegup kencang menunggu jawaban Lula. Jika Lula pergi maka semua rencananya akan gagal, dan tidak ada kesempatan sebaik itu selamanya.


Lula menggelengkan kepalanya. "Tidak."


Jereni mengangkat alisnya dan merasa sangat senang. Dia tidak jahat, hanya saja dia ingin memberikan kejutan, karena hari dimana Lula pergi ke Italy, adalah hari ulang tahunnya. Dia pasti melupakan itu.


"Kurasa itu lebih baik."


"Kau tidak senang jika aku pergi?"


"Biasa saja. Tapi bukankah itu lebih baik dari pada sesuatu yang buruk terjadi lagi terhadapmu? Seperti di ibu kota waktu itu."


"Tidak ada yang tahu hal itu akan terjadi, Jereni!"


"Memang. Tapi semua orang tahu kalau hal itu tidak lain sebab ke sengajaan."


"Apa maksudmu?"


"Kau sengaja di dorong oleh seseorang."


"Kata siapa? Aku terpeleset waktu itu."


"Erynav yang melihatnya sendiri, Lula. Dia bilang kepada Tuan Bogdan dan tak sengaja aku dengar."


Lula benar-benar tidak tahu dan siapa yang berani mendorongnya? Bukankah ia hanya terpeleset dan kemudian terjatuh?