
Maldives (Maladewa, Sri Lanka)
Suasana pagi hari yang cerah di Maldives. Dua pria dewasa turun dari kapal dan menapak di panggung kayu, dan langsung disambut oleh seorang pria berambut keriting dan berkulit hitam.
"Welcome to Maldives, everything we do well. Number one, visitor happiness." Pria berkulit hitam tersenyum sambil mengalungkan kalung bunga.
"Apa yang dia katakan?" pria bermanik mata abu-abu melihat rekannya dan bertanya pemasaran. "Kau yakin ini tempat yang tepat?" lanjutnya.
"Bukankah kita harus mencarinya di semua tempat? Berawal dari daratan yang dekat dengan laut."
"I'm Fahrnhya and hope you enjoy your holiday.."
Pria bermanik mata abu-abu itu melihat keindahan Maldives dan tersenyum sambil mengangguk.
"Ammm.. baiklah."
Kedua pria itu menepuk Fahrnhya dan pergi berlalu.
"Kau yakin putri di tempat ini?"
"Bagaimana tidak? Tempat ini sangat bagus."
Dua pria itu berjalan lurus ke depan sambil melihat-lihat keindahan Maldives dan sesekali ikut menari melihat beberapa wanita yang menari di depan mereka. Pertama kali mereka melihat daratan dan ternyata tidak seburuk yang mereka andaikan selama ini.
"Kita beruntung mendapatkan kesempatan ini."
"Kau benar. Tapi ingat, sekali kita tertangkap, mereka tidak akan melepaskan kita."
"Aku tidak perduli yang penting kita menikmati apa yang ada di depan kita sekarang."
Mereka melanjutkan perjalanannya dan berhenti di depan resort. Seorang wanita cantik berdiri di depan mereka dan membawa dua gelas minuman.
"Welcome.." Wanita tersebut memberikan minuman kepada dua pria itu dan mereka menerimanya.
"Apa ini?"
"Have you guys booked a place?"
"Aku tidak mengerti bahasanya. Apa katanya?"
"Tidak tau." pria bermanik coklat muda itu meminum minuman di tangannya dan nyengir.
"don't speak English?"
"Maaf nona, kami mencari seorang.."
Pria bermanik coklat muda menyenggol lengan rekannya itu.
"Mereka akan curiga."
"no? That's Russian. Baiklah.. Bahasa Rusia, ya?"
"Selamat datang.. Sudah pesan tempat? Atas nama siapa?"
"Kami tidak pesan apa-apa."
"John kita harus pergi dari sini. Ratu memberikan sinyal bukan di sini tempatnya."
"Baiklah."
"Hei tuan kalian mau ke mana?" Teriak wanita itu ketika John dan temannya pergi menjauh.
***
Perasaanku tidak enak dari tadi. Apa terjadi sesuatu di rumah? Aku langsung turun dari motorku dan memarkirnya sembarangan di halaman rumah. Berlari dengan cepat menuju rumah, melewati taman bunga yang masih baru di halaman. Mama membuatnya menjadi lebih indah, dan nenek yang menyiramnya setiap hari.
Aku naik tangga kayu di depan pintu dan mencari kunci di ranselku, ketika mendengar suara ribut di dalam rumah dan pintu yang tiba-tiba terbuka sendiri tanpa dikunci.
"Kita harus berangkat sekarang!" Terdengar suara mama dan langkah kakinya yang cepat, sampai bergetar di bawah lantai kayu rumah.
"Matvei kau jaga nenekmu, dan bilang Yejin mama dan papa.." Aku membuka pintu dan mama tiba-tiba berhenti ketika melihatku masih berdiri di depan pintu.
"Yejin?"
"Kalian mau ke mana? Apa yang terjadi?"
"Yejin.." Mama menahan papa yang hendak berbicara dan papa menghentikannya.
"Aku saja." Mama menatap papa dan pria paruh baya itu mengangguk. Perasaanku tambah tidak enak. Apa yang terjadi?
"Apa yang terjadi?"
"Lula.."
"Mama melihat di berita sebuah mobil Pajero sport hitam siang ini kecelakaan di dekat hutan Pinus dan terdapat seorang laki-laki berambut hitam yang pingsan di dalamnya, dengan seorang perempuan dengan luka kepala yang cukup parah dan tidak sadarkan diri terbaring di jalan, beberapa meter di depan mobil tersebut."
"Korbannya tidak asing dan seketika itu juga mama menelpon Sofia dan memang benar Lula yang kecelakaan."
"Lula baik-baik saja?"
"Kami tidak tahu, Yejin. Mama dan papa akan melihatnya. Kau mau ikut?"
Kegelisahanku sudah jelas. Sebaik apapun aku menyembunyikan perasaan ini, dengan sendirinya akan ketahuan juga. Srmakin hari, semuanya menjadi saling berhubungan. Seakan jiwaku dan jiwanya sudah terikat, dan jika sesuatu terjadi keduanya akan merasakannya.
Aku mengangguk. Mama dan papa keluar rumah dan aku mengikutinya dari belakang. Semoga Lula baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu hal yang lebih buruk dengannya.
***
"Papa ayo cepat aku sangat khawatir." Jereni duduk dengan gelisah di mobil. Dia mendengar kabar Lula kecelakaan beberapa menit lalu, dari Yefy dan segera sepulang sekolah ia langsung meminta papanya mengantar ke rumah sakit.
Air matanya mengalir deras sedari tadi dan ia sungguh tidak duduk dengan tenang. "Jereni, tenanglah! semuanya akan baik-baik saja. Berdoalah dan duduk dengan tenang." Mattew mencoba menenangkan putrinya dan perempuan itu duduk dengan tenang.
"Lula apa yang terjadi denganmu lagi.." Jereni menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya dan ia menangis sesenggukan.
***
"Kau sudah terbangun, nona." Suara perempuan di kananku. Perempuan berbaju putih dan bertopi aneh. Dia perawat, dan tengah menyuntikkan sesuai di kabel infus.
"Apa yang kau rasakan?" Perawat itu memencet tombol hijau di kanan tempat tidur dan bunyi beep muncul setelahnya.
Tiba-tiba kepalaku sakit dan aku menyentuhnya. Perban melingkar indah di sana dan kurasa aku sangat lemas. Tubuhku dingin seketika dan aku tidak punya kemampuan untuk berbicara.
"Kau baik-baik saja?" Pandanganku kabur sekali lagi dan aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.
"Nona?" Suster mengibaskan tangan kanannya di depan mata Lula yang terbuka, namun dia tidak menjawab dan bergerak. "Nona?" Dokter belum sampai dan suster gelisah. Dia berjalan keluar untuk memanggil dokter segera.
"Bagaimana keadaan putri saya?" Sofia mencegat suster di depan pintu dengan wajah yang penuh dengan air mata.
"Maaf nyonya, pasien tidak sadarkan diri setelah sadar beberapa saat yang lalu."
"Lula!" Sofia mencoba masuk namun suster mencegahnya dan Mark mencoba meraih istrinya itu. "Tenanglah, Sofia.."
Dokter berjalan dari ujung kiri dan langsung masuk ke dalam ruangan diikuti suster di belakangnya dan menutup pintu.
Sofia masih menangis histeris. Dia langsung kembali dari rumah nenek setelah mendengar kabar bahwa putrinya kecelakaan. Mark menjemputnya dan mereka berdua langsung menuju ke rumah sakit tempat Lula dirawat.
Caleb masih belum sadarkan diri dan dirawat di ruangan yang berbeda. Mark sangat marah, karena ia menitipkan putrinya ke Caleb, namun lelaki itu tidak menjaganya dengan benar hingga mereka berdua kecelakaan.
Di dalam, dokter langsung memeriksa Lula. Melihat ke dalam matanya, dan mencoba memeriksa detak jantungnya.
"Apa yang telah terjadi?"
"Pasien sudah sadar untuk beberapa saat, dan tiba-tiba dia tidak sadarkan diri lagi."
"Sudah periksa tekanan darahnya?"
"Sudah, dokter. Tekanan darahnya rendah karena dia kehabisan darah. Darah terus mengalir dari kepalanya dan kami belum mentransfer darah. Rumah sakit kehabisan darah AB negatif."
"Sudah hubungi bagian Bank Darah Rumah Sakit?"
"Sudah. Mereka tengah mencarikan golongan darah AB minus dari rumah sakit lain, dan belum menemukannya."
"Sudah kabari keluarga pasien kalau ia membutuhkan darah segera?"
"Belum, dok."
"Segera beritahu!"
"Baik, dok." Suster berjalan keluar ruangan dan berdiri di depan Sofia dan Mark.
"Maaf, tuan dan nyonya. Pasien membutuhkan dua pendonor darah golongan AB negatif. Rumah sakit kehabisan golongan darah tersebut dan masih mengusahakannya. Untuk berjaga-jaga, apakah di antara tuan dan nyonya dengan golongan darah AB negatif?"
"AB negatif? Saya sus, ambil darah saya." Sofia langsung bersemangat dan suster mengangguk.
"Baik, nyonya. Silahkan masuk ke dalam ruangan di ujung sana, rekan saya akan segera menyusul.
Sofia mengangguk dan Mark menyentuh tangan Sofia, memberinya kekuatan. Setelah itu, Sofia berlari dan suster masih membutuhkan satu pendonor lagi.
"Maaf, tuan. Tapi kami butuh satu lagi."
"Segera saya Carikan." Mark membuka ponselnya dan mencari nomor seseorang dan langsung menelponnya.
"Golongan darah saya AB negatif."
***